Aku mempunyai sebuah hobi yang tidak biasa, dan hobi itu membuatku suka mengumpulkan atau mengoleksi benda-benda yang menurutku menarik dan cantik. Aku menaruh benda-benda itu di dalam toples, dan memajangnya di ruangan bawah tanah rumahku. Aku tidak pernah memamerkan koleksi-koleksiku pada siapapun, karena takut mereka tidak akan menyukainya.
Sebenarnya, tidak hanya dalam toples saja, aku kadang memajangnya langsung dalam sebuah etalase, atau memasukkannya ke dalam pigura jika itu berbentuk lembaran. Dulu, orang tuaku sangat tidak suka dengan koleksi-koleksiku begitu mereka tahu hobiku. Mereka memarahiku, membentakku, bahkan mengancamku. Aku tidak suka itu. Mereka benar-benar jahat. Apa salahnya jika aku hobi mengoleksi benda-benda ini? Benda-benda ini cantik, kok. Dan aku menyimpannya dengan rapi, tidak kubiarkan berceceran di mana-mana. Aku tidak mengerti pikiran orang tuaku itu. Untunglah, setelah aku membujuk mereka, akhirnya mereka membiarkanku mengoleksi benda-benda itu.
Aku ingat, koleksi pertamaku adalah sebuah foto yang kuambil ada usia enam tahun. Aku memajangnya di salah satu pigura berwarna perak. Hasil fotoku saat itu buruk sekali, tapi aku tetap menyukainya.
Tapi, terkadang aku merasa sedih karena aku sulit sekali menemukan orang yang memiliki hobi yang sama. Aku ingin seperti orang-orang, yang bebas memamerkan koleksi mereka kepada orang lain, lalu saat bertemu orang dengan hobi yang sama, mereka akan bertukar barang koleksi mereka.
Huh, menyebalkan sekali.
Saat sekolah menengah, aku memiliki sahabat karib. Karena kupikir dia dapat kupercaya, aku menceritakan tentang hobiku yang aneh. Dia bilang, aku tidak perlu menyembunyikan hobiku, jangan pedulikan orang berkata apa. Kalau itu memang membuatku senang, maka teruskanlah.
Aku terharu sekali dengan ucapannya. Maka kuputuskan untuk mengajaknya ke rumah dan melihat-lihat koleksiku. Siapa tahu, dia tertarik dengan koleksiku. Saat diajak begitu, dia sangat antusias. Aku tertawa melihat wajah lucunya.
Suatu sore, sepulang sekolah, dia berkunjung ke rumahku. Aku menyediakan teh lemon dan biskuit kecil. Dia bilang, rumahku hangat, menyenangkan datang berkunjung ke rumahku. Aku tersenyum Bahagia. Dia memang sahabat yang terbaik.
Lalu, setelah mengobrol sedikit, aku mengajaknya ke ruang bawah tanah. Saat menuruni satu per satu anak tangga, dia sempat berkata, kalau sebaiknya aku memindahkan barang-barang koleksiku ke atas, agar banyak orang yang melihatnya. Aku mengangguk sekilas.
Pintu bawah tanah yang berwarna cokelat tua berdiri kokoh. Aku membukanya, agak berat. Pintunya berderit saat aku membukanya. Sepertinya aku harus meminyakinya setelah ini.
Saat pintu terbuka, sahabatku itu bukannya masuk, malah berdiri bagai patung di ambang pintu. Aku menariknya masuk, tapi dia tidak mau, dia justru berusaha untuk berlari ke atas. Lho, dia kenapa, sih? Aku berteriak menyuruhnya berhenti, bahaya menaiki tangga dengan berlari. Benar saja, tiba-tiba kakinya terpleset dan dia jatuh, dia langsung tak sadarkan diri. Huh, dia bandel sekali.
Saat dia siuman, dia mengucapkan terima kasih karena telah merawatnya, lalu dia mengatakan kalau koleksiku benar-benar bagus, dan hobiku unik. Haha, aku berterima kasih padanya. Sungguh, dia benar-benar sahabat yang baik.
Kini, aku telah memasuki dunia karir. Kadang, aku tidak punya waktu untuk mengurus koleksi-koleksiku, aku ingin menambah koleksiku, tapi aku benar-benar tidak punya waktu! Pekerjaanku menumpuk bagai bukit.
Tapi, bosku sedang berhati baik akhir-akhir ini. Dia memberikan cuti beberapa hari pada karyawannya, termasuk diriku. Akhirnya aku bisa bersantai sejenak. Ah, aku lupa. Kalau hari ini kekasihku akan datang. Katanya dia penasaran dengan hobiku. Hihi, aku senang sekali, setelah sekian lama, ada orang yang tertarik dengan hobiku.
Aku membersihkan debu-debu yang menempel di barang-barangku. Mengelapnya hingga bersinar, membersihkan sarang laba-laba yang menggantung di langit-langit ruangan, atau di sudut-sudut lemari. Lihatlah, setelah beberapa tahun, akhirnya ruangan ini bersih kembali.
Kini, aku hanya tinggal menyiapkan diriku. Aku mandi dengan cepat dan memakai gaun terbaik. Aku memandang pantulan diriku di cermin, cantik.
Ting... tong...
Oh! Dia sudah datang. Dengan wajah berseri, aku membukakan pintu rumah. Dia memandangku dengan senyum yang sangat tampan.
"Hai, manis." Sapanya sambil mencium bibirku sekilas.
"Kau tak perlu melakukan itu!" jeritku sambil merona.
Dia terkekeh kecil.
Aku menyuruhnya masuk dan menyuguhkan minuman hangat padanya.
"Kau suka?" tanyaku.
Dia mengangguk.
Dia menanyaiku macam-macam. Kabarku, kabar pekerjaanku, dan bagaimana kehidupanku akhir-akhir ini. Aku menjawab semuanya baik-baik saja.
Setelah perbincangan kecil kami, dia menanyaiku tentang koleksiku. Ya Tuhan, aku hampir saja lupa karena keasyikan mengobrol dengannya. Aku mengajaknya ke ruang bawah tanah. Pintunya sudah diganti dengan pintu yang lebih bagus dua tahun lalu.
Pintu terbuka lebar tanpa perlu ada bunyi berderit. Aku tersenyum memamerkan koleksi-koleksiku.
"Sayang?" panggilku saat melihatnya berdiri kaku. "Kau baik-baik saja?"
Tubuhnya gemetar. Apa dia sakit? Aku takut dia kenapa-kenapa.
"Ka... kau..." dia tergagap.
"Ini koleksiku. Apa kau tidak suka?" tanyaku sedih.
"Ke... kenapa kau... mengoleksi ini?"
"Karena... aku suka. Mereka terlihat cantik dan indah," aku menunduk sedih. Sepertinya dia tidak menyukainya.
Tiba-tiba aku merasakan belaian di pipiku. Aku mengangkat wajahku.
"Jangan sedih begitu. Aku menyukainya," ucapnya.
"Lalu kenapa kau gemetaran?"
"Karena aku tak percaya, ada seseorang yang mempunyai hobi yang sama denganku. Dan aku lebih tak percaya lagi, kalau orang itu adalah kekasihku sendiri."
Aku tercengang. Dia memiliki hobi yang sama? Sungguh? Aku tersenyum Bahagia lalu memeluknya.
Akhirnya aku menemukan seseorang yang suka mengoleksi organ-organ tubuh manusia sepertiku. Aku tidak sendirian! Hobiku tidak aneh!
Dia melepaskan pelukanku, lalu berjalan melihat koleksi-koleksiku. Dia mengamati rak yang penuh dengan toples-toples berisi bola mata, gigi, telinga, dan beberapa lainnya.
"Berapa banyak bola mata yang kau koleksi?"
"Hanya sedikit, sekitar tiga atau lima pasang,"
"Kau payah," ledeknya. "Aku ada sekitar lima belas pasang di rumah, dengan warna-warna yang indah."
"Benarkah?"
Dia mengangguk. Lalu kembali menelusuri ruangan ini. Melihat beberapa foto yang kupajang, salah satunya adalah foto tubuh orang tuaku yang sedang kuambil organ-organnya.
"Ini siapa?"
"Papa dan mama,"
"Lalu ini?"
Dia menunjuk salah satu foto usang yang berada di bingkai perak.
"Itu foto anjingku yang telah mati terlindas mobil."
Dia ber'oh' pelan.
Kami menghabiskan waktu di ruangan itu dengan mengobrol seputar koleksi kami. Dia benar-benar hebat, bisa mengoleksi ratusan jari manusia, dan belasan otak manusia yang diawetkan. Kapan-kapan, aku mau mampir ke rumahnya. Dia bahkan menawarkan untuk bertukar beberapa koleksi padaku. Aku menyetujuinya. Ah, dia benar-benar kekasih terbaik.
~ Tamat ~