SATU
Malam Kliwon mulai menampakkan dirinya ketika surya tenggelam di barat. Kesunyian mulai menyelimuti keseluruhan lapangan kosong di tanah Madura ini. Angin dingin mulai menyibak menusuk tulang setiap makhluk hidup, sangking dinginnya tidak ada satupun yang berani menampakkan diri. Di jurusan sebelah utara nampak sebuah mulut gua yang separuhnya di tutupi oleh batu besar hingga menyisakan sebuah rongga kecil. Kelihatannya tidak ada satupun orang yang pernah menginjakkan kakinya di tempat ini. Karena letaknya yang memang jauh di dalam sebuah hutan angker yang disebut sebagai Hutan Atap Setan. Namun seketika sekelebat sinar terang melesat keluar dan sampai ke permukaan tanah berumput itu, benda yang melesat itu rupanya sebuah kobaran api kecil yang berubah membesar ketika memakan rerumputan kering itu. Keadaan yang tadinya gulita kini berubah menjadi sedikit terang, hingga nampaklah lima sosok tubuh manusia yang duduk membatu, kira-kira letaknya lima belas kaki dari mulut gua itu. Kelimanya rupanya adalah dara rupawan berpakaian ringkas merah darah. Ketika api itu semakin membesar satu dari kelima orang ini membuka matanya yang sebelumnya terpejam.
"Buka mata kalian, Guru akan keluar, " perintahnya.
Maka keempat temannya membuka kedua kelopak matanya. Serempak mereka bangkit berdiri dan kini mereka menatap kobaran api yang kian membesar itu, hawa panas tidak mempengaruhi mereka untuk berkedip, semakin kuat tatapan mereka semakin mengecil kobaran api tersebut. Setelah beberapa saat, api itu mengecil dan semakin mengecil, di balik kobaran itu kini berdiri tegap seorang perempuan berpakaian hitam panjang, rambutnya hitam panjang sekali hingga menyentuh tanah, namun kecantikan rupanya tidak bisa dinikmati karena tertutup oleh potongan kedok tipis berbentuk tengkorak. Mengetahui siapa yang berdiri di depan mereka, maka kelima perempuan tadi menjura hormat dan disambut oleh anggukkan kepala perempuan bertopeng.
“Murid-muridku, sekarang adalah waktu yang tepat untuk hal yang telah kita rancang lima belas tahun ini, sekarang umur kalian sudah matang, sudah mencapai dua puluh lima tahun. Maka sudah saatnya kalian berkelana ke dunia luar," kata perempuan bertopeng.
“Guru, apakah sudah cukup keahlian kami untuk bisa melaksanakan tugas ?," tanya salah satu muridnya.
“Arimbi, dengan beberapa ilmu kanuraga yang aku turunkan kepada kalian, maka aku sudah yakin kalian bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik, " jawab perempuan bertopeng ini.
“Lima belas tahun kita sudah merancang apa yang kita cita-citakan, sudah cukup bagi kita untuk mendekam di dalam gua ini. Sudah saatnya dunia takluk di tangan kita !," serunya.
Mendengar seruan itu kelima muridnya mulai mengangkat pandangannya,
“Kami siap Guru, semua tugas ini akan kami laksanakan dengan baik,” ujar mereka berbarengan.
“Bagus, kenakan cadar ini di setiap perjalanan kalian," perempuan bertopeng ini kemudian membagikan cadar yang dia pegang di tangan kanannya. Maka kini kelima muridnya sudah serempak menutup sebagian wajah cantiknya.
“Sekarang sudah waktunya kalian kulepaskan murid-muridku, jangan pulang kalau tugas kalian tidak selesai. Pergilah," perintah perempuan bertopeng ini. Kelima muridnya menjura hormat, dan mundur 3 langkah kemudian merapatkan barisan. Seketika tubuh mereka menghilang dari pandangan, dan diiringi oleh kekehan seram dari mulut Ratu Tengkorak Hitam.
***
Sebuah bangunan tinggi yang terletak di kaki Bukit Tunggul itu adalah perguruan silat bernama Tapak Biksu Muda, sebagian besar yang berada di sana adalah biksu berkemampuan tinggi dan dikenal oleh berbagai kalangan baik dari golongan putih maupun hitam. Pemimpin perguruan ini adalah Biksu Brahma Sito dengan dua belas muridnya, namun dari kejauhan tampak beberapa mata mengintai mereka yang kala itu tengah melakukan ibadah di halaman depan. Brahma Sito menyadari akan pengintaian ini maka dia sengaja mempercepat ibadah itu dan memberikan isyarat kepada muridnya untuk melihat sekeliling. Salah seorang biksu mendekat dan berbisik tipis,
“Ketua beberapa manusia mengintai kita dari jurusan tenggara," bisiknya.
Karena penasaran, Brahma Sito bangkit berdiri dan memalingkan pandangan ke arah tenggara. Walaupun usianya sudah senja namun pandangannya setajam penglihatan elang, nampaklah lima orang perempuan bercadar dari balik sebuah pohon beringin yang tak jauh dari tempat mereka beribadah.
"Siapa orang-orang ini ? Aku tidak pernah melihat mereka ?," batinnya.
“Wirayuda segera dekati orang-orang itu, aku tidak suka diperhatikan seperti ini, " perintah Brahma Sito. Baru mengambil beberapa langkah, sebuah benda berkilau melesat cepat sekali dan
" Breerttt…, " sebuah kelewang kecil bergerigi tajam membabat putus urat leher Wirayuda. Dia tumbang ke tanah, dan ini menggegerkan seantero tempat. Ketika mereka sibuk mengusung mayat Wirayuda, di hadapan mereka kini muncul lima orang perempuan berpakaian merah darah dengan cadar tipis menutupi sebagian wajah mereka. Brahma Sito coba mengenali mereka, belum sudah matanya melihat bentuk wajah perempuan-perempuan itu, sebuah bentakkan terdengar,
“Apa yang kau lihat biksu tua bangka ?," yang membentak adalah perempuan paling tengah.
“Siapa kalian ini ?," tanya Brahma Sito .
Perempuan paling depan yaitu Arimbi maju ke muka sembari bertolak pinggang, dengan nada suara membentak dia menjawab, " Kami 5 Iblis Dari Madura, utusan dari Guru kami Ratu Tengkorak Hitam, " jawab Arimbi.
Brahma Sito tersentak mundur mengetahui siapa sebenarnya perempuan-perempuan ini. Dari malang melintang dia di dunia persilatan dia sangat mengenal siapa itu Suti Rao atau orang orang bisa mengenalnya dengan Ratu Tengkorak Hitam dari Madura, dara ganas berhati serigala yang sedari dulu memiliki cita cita untuk meluluh lantakan seluruh perguruan silat guna tunduk di bawah kekuasaannya.
Arimbi membentak keras memecah lamunan Brahma Sito,
“Ha..ha..ha… agaknya kau sudah bisa membaca apa tujuan kami kemari, kau tentu juga sudah tahu siapa itu Ratu Tengkorak Hitam. Maka dari itu segera bubarkan perguruan picisan ini, dan tunduklah di bawah lutut kami kemudian masuk menjadi anggota dari Kerajaan Bukit Tengkorak, " perintah Arimbi sembari menunjuk wajah Brahma Sito.
Melihat ketua mereka diperlakukan demikian, maka salah satu dari anggota perguruan maju ke muka dan hendak lepaskan pukulan sekeras karang ke arah bahu Arimbi. Secepat kilat perempuan ini mundur selangkah dan balas mengirimkan tendangan kaki kanan. Dua serangan beradu menimbulkan bunyi menggidikkan, murid Brahma Sito keluarkan jeritan keras menyambut ruas jarinya remuk dihantam tendangan Arimbi. Sesuatu melesat di udara dan disusul oleh teriakan seram dari mulut pria malang ini, sepasang kelewang bergerigi menancap di kedua matanya hingga menembus masuk. Darah mengalir deras, tidak pernah murid murid Tapak Biksu Muda menyaksikan pemandangan seseram ini. Salah satu dari perempuan-perempuan itu yakni Seruni memecah keadaan dengan bentakannya,
“Siapa yang berani membangkang harus siap menebus dengan kematian !,".
Suasana sehening di perkuburan, belum pernah mereka bertemu dengan perempuan-perempuan seganas murid-murid Ratu Tengkorak Hitam ini, kalau murid tertua saja dengan mudah di buat seperti ini apalagi mereka yang kepandaiannya masih belum sempurna.
“Aku beri waktu sampai hitungan ketiga. Kalau masih membangkang, siap-siap perguruan ini akan berubah menjadi debu…" ancaman dari mulut Arimbi terpotong oleh sebuah kilatan cahaya putih yang membentuk puluhan jarum yang terhubung antar satu sama lain.
Dara ini tersentak mundur diikuti oleh keempat kawannya dan dalam satu hembusan muncul sebuah pusaran angin kecil namun beraliran deras hingga memutuskan benang halus yang menyambungkan jarum itu.
“Rupanya mati adalah jawaban atas ajakan kami," bentak Arimbi
"Jangan terlewat takabur betina iblis !," Brahma Sito membentak keras dan mengisyaratkan murid-muridnya untuk menyerang.
Pertarungan hebat lima melawan sebelas berlangsung menegangkan satu per satu nyawa murid Tapak Biksu Muda berhasil di renggut oleh murid-murid Ratu Tengkorak Hitam. Brahma Sito tidak menyadari bahwa hanya tinggal dia yang tersisa, mungkin sudah saatnya dia keluarkan jurus pamungkasnya yaitu Seribu Murka Dewa. Arimbi keluarkan keringat dingin ketika dia melihat gerakan jurus ini, namun Brahma Sito tidak sengaja melihat ke belakang dan nampaklah olehnya pemandangan mengerikan, semua muridnya telah tergelimpang di tanah mati bersimbah darah ada yang kepalanya putus, matanya tercongkel hingga membuat Brahma Sito larut dalam kesedihan. Tanpa di sadari, Larapati sudah mengirimkan sebuah serangan maut berupa pukulan aneh. Tangannya mengepak keras laksana batu namun berangsur berubah menghitam legam menandakan bahwa pukulan ini mengandung hawa racun jahat. Tidak ayal lagi, kepala Brahma Sito rengkah di hantam pukulan mematikan bernama El-maut Berburu Nyawa. Tubuh biksu itu terhuyung ke tanah dengan paras menghitam karena racun pukulan itu telah masuk ke peredaran darahnya, tak lebih dari sekejap mata keseluruhan tubuh Brahma Sito sudah menjadi hitam legam bagai arang.
DUA
Usai kabar kehancuran Perguruan Biksu Muda tersebar ke seluruh jagat, di saat itulah jagat raya diselimuti ketegangan mencekam atas kemunculan lima dara ganas dari pulau Madura ini. Tiga hari kemunculannya tanah Madura sudah berhasil diambil alih oleh begundal-begundal Suti Rao. Kini iblis nyata benar benar sudah muncul menghantui seluruh manusia baik dari golongan putih maupun hitam tidak luput dari ketakutan, meski hanya berwujud sebagai gadis muda dengan paras tertutup cadar tipis namun keganasan dan ketinggian ilmu mereka sebanding dengan serigala lapar. Semua orang tahu siapa itu Suti Rao atau Ratu Tengkorak Hitam yang telah malang buana di Jagat Persilatan dan menjadi raja di atas raja dua puluh lima tahun silam, sekarang murid-muridnya muncul meneruskan sepak terjangnya yaitu menyatukan seluruh jagat persilatan di bawah genggaman tangannya.
Di kaki Gunung Merapi nampak kerumunan orang bersenjata sedang berkumpul di sebuah apel. Yang duduk paling muka adalah tokoh golongan putih bernama Raden Unggul Praksa Bumi dan sering dijuluki sebagai Malaikat Sabit Akhirat, selainnya hadir beberapa tokoh tokoh penting dari berbagai pelosok daerah yaitu Pendekar Rencong Sakti dari Aceh, lalu Dewi Tangan Besi dari Tenggarong, dan tentu saja hadir satu tokoh penting yang mana mendapat amanah menjaga sebuah kalung pemberian Kanjeng Ratu Kidul yaitu Suri Gundahla. Dari golongan hitam juga nampak hadir namun mereka semua kompak duduk di barisan kiri dan hanya ada beberapa orang di antaranya Si Bayangan Hitam, Pembunuh Muka Bopeng, Betina Berkapak Setan dan Pendekar Seribu Racun.
“Bukan mustahil bahwa jagat persilatan akan hancur menjadi abu apabila iblis iblis betina itu dibiarkan merajalela,” membuka mulut Suri Gundahla.
“Aku memang berasal dari golongan hitam, tapi kejahatan dari cecunguk-cecunguk ini sudah melampaui batas kewajaran, bagaimanapun mereka tidak bisa dibiarkan, melawan atau mati," menimpali Betina Berkapak Setan. Suasana semakin memanas ketika sudah masuk ke dalam inti pembicaraan,
"Aku berharap dengan adanya apel ini bisa membuahkan hasil baik untuk kita bersatu melawan kejahatan ini. Bagaimanapun bukan waktunya bagi golongan hitam dan golongan putih beradu ilmu. Kita musti bersatu padu, " nasihat Raden Unggul Praksa Bumi.
“Tapi bagaimana cara yang tepat untuk kita menyerang, sedangkan kita sudah tahu kunyuk kunyuk ini tidak bisa dianggap remeh. Menurut kabar hampir lima orang tokoh silat nomor satu di Pulau Madura sudah tumbang di tangan mereka,” memotong Dewi Tangan Besi.
Pendekar Seribu Racun menukas pernyataan itu " Jangan melebih-lebihkan kabar nona muda. Kemunculan mereka baru beberapa hari belakangan ini mana mungkin bisa secepat itu merobohkan tokoh tokoh silat ternama, hik...hik...hik…,"
Ejekannya disambut oleh tatapan dingin yang di bersitkan oleh pandangan Dewi Tangan Besi.
“Pantang bagiku melebih lebihkan cerita ataupun menguranginya, jangan coba mencari masalah dengan aku. Aku tidak mau perutmu hancur sia-sia karena ketajaman lidahmu !," Dewi Tangan Besi membentak keras. Yang dibentak tertawa mengekeh dan menghampiri yang tadi membentak. Dewi Tangan Besi putar badan dan kini berpapasan dengan tubuh pendek Pendekar Seribu Racun,
“Kau lihat jari-jari ini, di dalamnya mengandung racun mematikan yang siap membakar dan melumerkan mulutmu itu…,"
" Plakk….," tamparan sekeras besi dilayangkan Dewi Tangan Besi hingga nampak beberapa gigi Pendekar Seribu Racun lepas. Pipi itu membiru menandakan tenaga dalam perempuan ini bukan isapan jempol belaka. Hal ini membakar amarah Pendekar Seribu Racun, dia tarik sebuah benda kecil dari balik saku celananya jarum ! Namun anehnya ukuran jarum itu sama seperti ukuran jari kelingking bayi dan di ujungnya dilumuri oleh cairan hijau kental berbau sebusuk bangkai.
“Sekali jarum ini menancap di tanganmu, maka kau bisa menikmati hidup dengan tangan buntung perempuan edan," ancam Pendekar Seribu Racun. Melihat akan terjadi pertarungan segera pendekar lain mencoba menahan keduanya, namun siapa yang tidak mengenal Dewi Tangan Besi ? Sekali saja dia menggoyangkan badannya maka yang menahan akan mental sejauh 3 kaki.
“Bicaramu terlampau takabur manusia kontet hina dina !," caci Dewi Tangan Besi. Dia angkat kedua tangannya dan menyilangkannya ke muka, nampak tangan itu berangsur berubah menjadi merah menyala laksana bara api ! " Pukulan Dari Neraka ".
Pendekar Seribu Racun mencoba memasang muka sombongnya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya dia sudah sangat ketakutan sedari dia ditampar tadi. Dia tahu betul siapa perempuan di hadapannya ini, malang buana dia di Jagat Persilatan ini sudah hampir delapan kali dia mendengar kehebatan Dewi Tangan Besi membasmi segala bentuk kejahatan dan siapa juga tidak takut kepada jurus andalannya itu Pukulan Seribu Neraka ! Sekali pukul tak mustahil bahwa tubuh akan terbakar hebat dan pukulan itu sangat ampuh untuk mematahkan tulang dada dan menghancurkan daging lalu memutuskan urat.
" Hentikan !," terdengar Raden Unggul Praksa Bumi membentak keras.
Mengetahui siapa adanya yang memerintah maka Dewi Tangan Besi batalkan serangan dengan sangat terpaksa padahal dari tadi ingin sekali memecahkan kepala pendekar bermulut perempuan itu.
"Hentikan tindakan bodoh kalian, Dewi Tangan Besi aku menghormati nama besarmu tapi kau salah tempat kalau ingin mengamuk di sini. Pendekar Seribu Racun sebaiknya kau kunci mulutmu atau ku hancur remukkan mulut kotormu itu !," Raden Unggul Praksa Bumi marah sekali.
Tampak Pendekar Seribu Racun menangis terisak-isak seperti anak kecil. Belum sempat pria tua ini ingin membuka mulut terdengar suitan keras dari jurusan tenggara. Suara ini seperti segerombolan kelelawar mengamuk hingga memekakkan telinga semua orang, semakin lama suitan ini semakin keras hingga gendang telinga Pembunuh Muka Bopeng pecah berdarah. Kaki gunung seolah bergetar hebat dan menimbulkan goyahan laksana gempa. Dari jurusan tenggara nampak melesat beberapa tubuh manusia berpakaian merah, langkahnya cepat sekali laksana angin dan kini di hadapan pendekar pendekar itu sudah berdiri orang yang tadi di bahas, siapa lagi kalau bukan Lima Iblis dari Madura ! Arimbi memberi isyarat agar keempat kawannya hentikan serangan. Meskipun mereka tampak tidak melakukan apa-apa, tapi sebenarnya mereka sedang melancarkan sebuah ilmu aneh yang bisa menghasilkan pekikan sekeras letusan merapi namun mulut si penyerang tampak biasa saja tanpa melakukan apapun. Inilah kepandaian sihir yang diturunkan oleh Ratu Tengkorak Hitam yaitu Pekikkan Akhirat, butuh sekitar delapan tahun dia habiskan untuk menyempurnakannya.
TIGA
Raden Unggul Praksa Bumi sudah bisa menakar sampai mana kehebatan betina-betina ini. Siapapun tidak bisa menganggap remeh kelihaian mereka, terutama dari serangan sihir yang tadi mereka lancarkan itu cukup untuk membunuh sekitar sepuluh orang apabila mereka lancarkan terus menerus. Nama Ratu Tengkorak Hitam memang sudah menjadi momok menakutkan di Jagat Persilatan dan kini murid muridnya muncul di hadapan mereka, meskipun tingkat kepandaian mereka masih berada di bawah sang guru tapi tidak mustahil salah satu di antara tamu-tamu apel itu akan menemui ajalnya dia tangan Lima Iblis dari Madura. Arimbi maju selangkah dengan bertolak pinggang sembari menatap tajam ke arah Raden Unggul Praksa Bumi.
“Hmm… rupanya ini orang yang dari tadi membicarakan kami. Ha...ha...ha… punya kepandaian apa kalian hingga berani merancang rencana untuk menghancurkan kami,” Arimbi tertawa gelak diikuti oleh keempat kawannya.
“Bicaramu terlalu takabur betina iblis ! Seluruh jagat persilatan akan bersatu menggempur dan mencincang tubuh kalian !,” bentak Pendekar Rencong Sakti. Tanpa pikir panjang dia maju ke muka sembari menarik keluar senjatanya yaitu rencong pusaka yang katanya merupakan salah satu senjata paling masyur di negeri Aceh sana.
“Ah rupanya Pendekar Rencong Sakti, terhadapku tak usah banyak tingkah. Segera jatuhkan senjata bututmu itu dan segera masuk menjadi bagian dari anggota…," ajakan Arimbi di tukas keras oleh Pendekar Rencong Sakti. "Tutup mulutmu serigala betina ! Segera kerahkan ilmu simpananmu biar segera pula ku pecahkan kepala penuh dosamu itu !," Arimbi mengekeh panjang kemudian meludah ke tanah
“Tua bangka bodoh ! Dikasih hati minta jantung. Suntini segera bereskan manusia dogol ini dalam dua jurus, " perintah Arimbi. Suntini yang berdiri 3 langkah di belakang Arimbi maju ke muka dan berpapasan dengan Pendekar Rencong Sakti,
"Bagus, sekarang ini pasti adik dari begundal bermulut sampah ini. Ayo maju biar segera ku patahkan batang lehermu,"
“Ha...ha...ha… mulutmu memang besar !," Suntini menyahut keras.
Dia menyuit keras maka Arimbi dan ketiga kawan lainnya mundur ke belakang, memulai serangan Pendekar Rencong Sakti membuat suatu kuda-kuda dan kini siap lancarkan jurus aneh bernama Delapan Sabda Singa, dari jauh Arimbi tahu betul serangan lawan ini. Apabila Suntini salah ambil gerakan maka tidak ayal dalam satu langkahpun tangan atau lehernya akan patah oleh serangan ini ! Maka melalui susupan suara Arimbi memberikan perintah agar Suntini segera lepaskan ilmu andalan mereka dan tidak lupa memasang ilmu meringankan tubuh. Mendengar perintah itu, Suntini batalkan serangan awal dan segera ambil sepasang kelewang bergerigi dari balik saku yang menggantung di pinggangnya, dia silangkan kedua tangannya dan kini siap menyerang.
“Sampaikan salamku pada penghuni neraka perempuan iblis !,"
Pendekar Rencong Sakti kebutkan serangannya yaitu pukulan buas dan dibarengi dengan tendangan sekeras batu. Dengan ilmu meringankan tubuh Suntini segera hindari serangan itu dan melesat ke samping, Pendekar Rencong Sakti tidak menyangka lawan bisa menghindari ilmu simpanannya ini dan ketika dia memutar badan nampaklah dua buah kelewang datang hendak membabat putus lehernya. Karena tidak ada lagi jalan lain untuk selamatkan nyawanya, terpaksa dia balas serangan itu dengan pukulan tadi.
Terdengar Pendekar Rencong Sakti menjerit sekeras petir ketika dua kelewang tajam itu amblas masuk ke dalam pergelangan tangannya dan memotong urat-urat di tangannya. Kalang kabut kini dia keluarkan senjata pusakanya yaitu sebuah rencong bergagang bundar namun berujung tajam. Dengan satu tangan sudah lumpuh, maka Pendekar Rencong Sakti sebatkan rencong itu memburu tubuh lawan dengan buasnya, yang di serang tidak terlihat panik sama sekali meskipun lawan sudah memburunya dengan ganas. Suntini mundur sebanyak empat langkah dan melesat maju kirimkan serangan berantai mematikan yaitu Empat Serigala Berebut Bangkai dan Cakar Kematian. Serangan rencong memang buas namun Suntini kirim balasan yang lebih buas lagi, tak sampai lama Pendekar Rencong Sakti harus putus nyawanya ketika Suntini memotong putus nadi lehernya dengan cakaran setajam sembilu itu. Raden Unggul Praksa Bumi bukan main kagetnya ! Pendekar Rencong Sakti yang namanya sudah besar di kalangan pendekar golongan putih bisa di tumbangkan oleh perempuan muda itu dalam tiga jurus saja. Nyatalah bahwa ilmu kepandaian mereka sangat tinggi, setidaknya sekitar 3 tingkat di bawah gurunya Ratu Tengkorak Hitam.
“Siapa lagi yang mau minta mampus segera unjukkan diri !,” Arimbi membentak keras. Tidak ada jawaban maka Arimbi lanjut berbicara
“Jadi menyambung pembicaraanku yang tadi terputus, di sini kedatangan kami adalah untuk mengajak kalian untuk menjadi bagian dari Kerajaan Bukit Tengkorak. Mengingat kalian memiliki nama yang besar di Jagat Persilatan, maka niscaya Ratu Tengkorak Hitam akan memberikan jabatan tinggi untuk kalian,”
Mendengarnya tentu pendekar-pendekar itu tidak terima atas ajakkan itu apalagi memandang nama besar mereka dan hinaan yang Arimbi sampaikan sudah cukup membuat mereka naik pitam. Di antara mereka Pembunuh Muka Bopeng yang paling terbakar emosi, tanpa pikir panjang dia segera melompat ke udara dan menukik bagaikan seekor garuda dengan mendahulukan tendangan kaki kiri yang mengandung tenaga dalam tinggi. Yang di serang segera menghindar dan memecah barisan, Arimbi sudah membaca serangan ini dengan angkuh dia berbicara
“Kalau cuma andalkan serangan Garuda Sakti Hujamkan Cakar jangan mencari nama di sini manusia buruk rupa !,”
Pembunuh Muka Bopeng menimpali “Awas kaki !,”
Dengan cepat dia lepaskan rantai berkarat yang melilit di pinggangnya kemudian laksana angin rantai itu melesat dan tahu-tahu sudah menjirat kaki kiri Arimbi. Perempuan ini tersungkur ke tanah, dia merasakan kakinya seperti di tikam oleh puluhan belati. Rupanya di sisi rantai itu terdapat duri yang melengkung tajam dan di lumuri racun jahat yang sepadan dengan racun kalajengking. Sambil mengekeh Pembunuh Muka Bopeng berseru,
“Kenapa diam betina dajjal ? Racun di duri rantai itu sudah masuk dan menjalar ke dalam aliran darahmu. Aku tidak mau kau mati lebih cepat jadi kubiarkan racun itu bekerja secara perlahan menghancurkan isi tubuhmu dan membunuhmu di hari ke tujuh,” tanpa di sadarinya delapan buah kelewang tajam melesat dari belakang dan keempat murid Ratu Tengkorak Hitam telah menyerang secara pengecut !
“Crasss...,” tepat sasaran leher Pembunuh Muka Bopeng terbabat putus di makan ujung kelewang-kelewang itu. Melihat pemimpin kelompoknya sudah sekarat, dan musuh hendak mengeroyok mereka dengan cepat Larapati lemparkan sebuah botol kaca sebesar ibu jari anak kecil dan ketika botol itu pecah mengepul asap pekat tebal mengandung racun jahat. Lama asap racun itu menutupi pandangan dan mengintai Raden Unggul Praksa Bumi dan lainnya dengan kematian dan akhirnya sekitar sepuluh menit kemudian asap itu hilang begitupun dengan kelima perempuan iblis dari Madura itu.
***
Di pinggir sungai berair deras itu nampak Arimbi dan kawan-kawan sedang beristirahat usai perjalanan yang melelahkan. Kini malam mulai membayangkan kegelapan dengan udara sedingin es yang menusuk-nusuk tulang sumsum, kelima dara ini sedang memutar otak masing-masing bagaimana cara menyelamatkan nyawa Arimbi ? Sedangkan saja menurut Pembunuh Muka Bopeng racun dari senjatanya sudah masuk dan bekerja secara perlahan di peredaran darah Arimbi. Lambat laun Arimbi benar-benar akan meregang nyawa sekarang saja keadaannya sudah sangat menyedihkan ! Luka di kakinya mulai mengelupas dan membusuk, daging di luka itu nampak menghitam dan mengeluarkan nanah busuk. Arimbi yang mencoba untuk mengeluarkan racun ganas itu sedari tadi membentengi tubuhnya dengan Ajian Penolak Racun yang diajarkan oleh Ratu Tengkorak Hitam. Namun bagaimanapun racun itu sangat ganas hingga ajian ini tidak mempan untuk menahan racun itu beredar.
“Bagaimana ini lukanya semakin parah ?,” tanya Suntini panik.
“Apakah kita harus pulang ke gua dan meminta bantuan guru ?,” Seruni mengusul.
“Ku pikir jangan, guru jangan sampai tahu mengenai hal ini,” menjawab Arimbi dengan nafas yang tertahan.
“Satu-satunya cara adalah memotong kaki itu agar racunnya tidak menyebar ke bagian lain,” kata Larapati
“Tidak ! Aku tidak setuju !,” menyahut Nilamsari dengan keras.
Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata tampak mengintai mereka dari balik kegelapan malam. Namun Arimbi yang ilmu kepandaiannya dua tingkat di atas kawan-kawannya sudah mulai merasakan kehadiran orang lain di sekitar sana. Namun secara aneh suara lantangnya menghilang mungkin ini akibat dari racun yang sudah menjalar ke urat-urat sarafnya ?.
EMPAT
Nyatalah bahwa bagian dalam tubuh Arimbi mulai kehilangan fungsinya dan rasa sakit mulai merambat keluar. Ingin sekali rasanya dia menjerit keras seolah tidak lagi tahan akan rasa sakit ini. Di lain sisi, Larapati mulai menyadari adanya pengintaian terhadap mereka dari balik semak-semak di jurusan timur. Tanpa pikir panjang dia ambil beberapa pasang kelewang dari kantung yang menggantung di pinggangnya lalu dia lemparkan ke muka. Dari balik semak-semak itu terdengar dua jeritan tinggi merobek langit dan memecah keheningan malam. Memang benar adanya di balik semak-semak itu terdapat dua orang berpakaian hitam pekat menyatu dengan suasana, namun satunya sudah meregang nyawa akibat serangan Larapati tadi. Geram akan kematian kawannya maka yang tersisa beranjak keluar dengan paras penuh kemarahan. Terdengar orang ini menyuit keras dan dari beberapa jurusan tampak berkelebat bayangan-bayangan yang kemudian mengepung Larapati dan kawan-kawan.
“Ini dia kunyuk-kunyuk yang dicari semua orang,” seru irang yang tadi keluar dari semak belukar. Tubuhnya tinggi berisi serta berjubah hitam dengan jumbai di ujungnya. Di kepalanya terdapat ikat kepala berwarna loreng layaknya bulu harimau.
“ Siapa kalian ?,” tanya Larapati.
Manusia berjubah mengekeh tinggi ! Suaranya kuat sekali hingga menggetarkan daun-daun pohon sekitar, nyatalah bahwa manusia ini adalah orang berkepandaian tinggi.
“Setan ! Lekas terangkan siapa kalian !,” kini Suntini yang membentak
“Perempuan dajjal berhati iblis ! Kami adalah Harimau Sakti dari Gunung Gede. Sedangkan aku sendiri adalah Ki Belang,” jawab manusia berjubah ini dan dialah Ki Belang dari Gunung Gede.
Benar dugaan Larapati bahwa dialah yang disebut sebagai penunggu Gunung Gede yang dibicarakan gurunya beberapa waktu sebelum mereka turun gunung. Menurut sang guru, tokoh golongan putih satu ini adalah sekian dari banyaknya tokoh silat yang harus mereka ajak menjadi anggota Kerajaan Tengkorak Hitam, ataupun kalau membangkang harus mereka bikin mampus ! Karena tak kunjung Arimbi berseru lantang maka Larapati mengambil alih.
“Ah, rupanya ini Ki Belang yang orang-orang bicarakan. Aku salah terhadapmu, ku pikir kau ini benar-benar memiliki kulit belang tapi ternyata kau lebih gagah dari dugaanku. Ketahuilah bahwa Kerajaan Tengkorak Hitam akan memberikan kedudukan yang tinggi terhadapmu, setidaknya Ratu Tengkorak Hitam akan menganugerahkan kedudukan menteri...,” belum sempat Larapati selesai bicara Ki Belang langsung meludah ke depan dan tepat kena muka Larapati.
“Setan alas ! Mampus adalah pilihan terbaik !,” bentaknya.
Ki Belang sunggingkan senyum sinis, sekali dia menjentikkan tangan nampak puluhan anak buahnya maju ke muka menyerang Larapati dan kawan-kawannya. Terjadilah pertempuran hebat di pinggir sungai itu ! Ki Belang segera memperhatikan jalannya pertarungan dan menangkap satu tubuh perempuan yang terduduk lemas di balik pohon,
“Kiranya ini salah satu dari mereka, walaupun dia terkulai lemah tapi aku merasakan aliran ilmu yang lebih tinggi dari empat lainnya,” batin Ki Belang.
Dengan sekali hentakan kaki, tampak tubuhnya berkelebat cepat dan kini sudah sampai di hadapan Arimbi yang di sembunyikan di balik pohon sekitar sepuluh kaki dari medan pertempuran.
“Agaknya kau pemimpin dari kelompokmu, ha...ha...ha... Bagus nampaknya keadaanmu sudah sekarat. Bersiaplah untuk berjumpa dengan setan di neraka betina iblis !,” nampak kuku tangan Ki Belang berubah menghitam legam dan meruncing laksana kuku seekor harimau. Dengan gerakan cepat dia kirimkan serangan Jari Pencabut Sukma ! Arimbi hanya bisa pasrah akan apa yang menimpanya. Jari-jari itu sampai di batang leher Arimbi dan mencengkeram leher mulus itu hingga masuk menembus daginya. Darah bercucuran deras, sedang Ki Belang semakin keraskan cekikkannya, Arimbi mencoba meronta dan melawan tapi sekujur tubuhnya sudah lumpuh dan suaranya benar-benar sudah hilang.
Seruni yang bertarung di dekat pohon itu melihat Arimbi sudah mencapai batas umurnya, sebentar lagi kakaknya seperguruannya itu akan menemui ajal. Lekas dia terjang serangan musuh, dan lepaskan puluhan kelewang tajam ke arah Ki Belang. Namun lainnya kelewang ini dinamakan Kelewang Sejuta Maut yang mana di ujungnya dibaluri oleh campuran racun kalajengking dan ular sendok. Terdengar Ki Belang menjerit keras, puluhan kelewang itu sudah sampai di tujuannya yaitu punggung dan leher Ki Belang ! Mengetahui adanya racun ganas yang masuk ke dalam aliran darahnya maka pria tua ini menjadi kalang kabut. Leher Arimbi yang masih dalam cengkeramannya benar-benar dia hancurkan hingga urat leher Arimbi putus dan ketika dia lepaskan cengkeramannya nampak leher Arimbi hampir lepas dari badan. Sedangkan Ki Belang terhuyung-huyung dan akhirnya rebah ke tanah dengan tubuh membiru.
“Astaga ! Ketua sudah tewas !,” seru salah satu anak buah Ki Belang.
Makin marahlah pasukan yang tadi dibawa oleh Ki Belang !
“Nyawa kalian tak akan lepas dari jeratan neraka betina dajjal !,” membentak pria tadi. Dia memegang komando dan ketika terdengar suitannya yang merobek langit malam kala itu, maka kawan-kawannya berpencar ke empat penjuru membentuk suatu formasi yang saling menyambung dan mengurung keempat murid Ratu Tengkorak Hitam itu. Setiap satu barisan sudah memegang senjata yaitu celurit besar namun berujung kecil dan setajam pisau yang baru di asa.
“Empat Penjuru Penghantar Maut,” berkata Seruni membaca formasi itu.
Tak berlangsung lama, Empat murid Ratu Tengkorak Hitam yang tersisa sudah tergempur hebat oleh kepungan ini. Sekali mereka coba gerakkan tangan untuk menyerang sekali itu juga satu celurit memburu. Hingga Suntini bertindak nekat ! Dia menerjang ke depan dan robohlah pertahanan sebelah timur ! Namun bagaimanapun celurit-celurit masih memburu ganas ke tubuh Suntin dan berhasil merobek cadar yang menutupi parasnya hingga tanggal. Suntini kini berhasil keluar barisan dengan wajah terbuka lebar, semua pasukan Ki Belang kaget bukan kepalang ! Siapa sangka perempuan sejahat itu memiliki paras secantik ini. Rupanya memang didikan Ratu Tengkorak Hitam benar-benar sudah membutakan hati kecil perempuan-perempuan ini, tetapi mengingat kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan maka hilanglah rasa iba akan kecantikan itu. Tapi terlambat akibat rasa iba tadi pertahanan menjadi renggang dan bobollah barisan di sebelah utara di bantai oleh Larapati menyusul barisan di selatan dan barat. Mata siapapun tidak akan sanggup melihat pemandangan ini ! Puluhan mayat manusia bergelimpangan di pinggir sungai itu mati dengan mengenaskan akibat keganasan murid-murid Ratu Tengkorak Hitam.
Keempatnya segera menghampiri mayat Arimbi. Sungguh malang nasib murid Ratu Tengkorak Hitam yang paling pandai ini, dia harus menemui ajalnya dengan cara demikian, tampak Larapati menyeka air mata yang hendak turun. Karena bagaimanapun Arimbi adalah saudara seperguruan yang paling dekat dengan dia, kalap akibat kematian Arimbi, Larapati mendekati jenazah Ki Belang yang berada 3 kaki di depan mayat Arimbi. Penuh kemarahan dia tendang tubuh Ki Belang hingga mental masuk ke dalam sungai dan hanyut.
LIMA
Di balik kemegahan candi besar itu nampak puluhan orang yang berkumpul. Jumlahnya ada sekitar lima puluh orang lebih, mereka duduk di sebuah kursi kayu saling berhadapan satu sama lain namun di pisahkan satu barisan dengan yang satunya berdasarkan pakaian yang mereka kenakan. Di barisan kanan terdapat sekitar dua puluh lima orang berpakaian putih nyatalah mereka dari golongan putih. Di sana tampak sosok yang sudah tidak asing lagi antara lain Dewi Tangan Besi, Suri Gundahla, dan beberapa tokoh lainnya. Sedang di barisan satunya terdapat sekitar dua puluh empat orang berpakaian hitam lekat dan ini tak lain adalah golongan hitam nampak di antaranya Pendekar Seribu Racun, dan Betina Berkapak Setan. Apel kedua sedang dilaksanakan, mereka sengaja mencari tempat yang agak jauh dari jangkauan penduduk untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan apabila murid-murid Ratu Tengkorak Hitam muncul ! Raden Unggul Praksa Bumi tetap menjadi pemimpin apel ini, dengan penuh wibawa dia mengajak tokoh-tokoh silat yang hadir untuk bersatu dalam menumpas sepak terjang dari Ratu Tengkorak Hitam dan murid-muridnya.
“Aku dengar mereka akan segera melakukan peresmian Kerajaan Tengkorak Hitam pada hari ke delapan bulan tujuh,” menyeru Si Gagak Emas.
“Ini artinya akan dilaksanakan sepuluh hari di muka,” menjawab Betina Berkapak Setan
“Untuk sekali ini kita harus menyingkirkan permusuhan. Iblis betina ini tidak bisa kita biarkan berkeliaran di jagat persilatan. Kalau tetap dibiarkan aku yakin satu atau dua tahun ke depan dunia benar-benar akan kiamat,” menengahi Raden Unggul Praksa Bumi.
Semua yang hadir mengangguk secara berbarengan. Memang untuk sekarang ini perdebatan antar dua golongan harus disingkirkan kalau memang mereka ingin mengakhiri keganasan dari Lima Iblis dari Madura dan tentu saja gurunya Ratu Tengkorak Hitam. Namun sekarang menjadi tanda tanya besar bagaimana caranya ? Sedangkan Ratu Tengkorak Hitam bukanlah tokoh baru di Jagat Persilatan, setidaknya sudah hampir lima puluh tahun dia malang melintang di jagat ini sepak terjang serta ilmunya juga bukan sembarang ! Sudah hampir empat kali dia hendak di bunuh oleh tokoh-tokoh silat golongan putih dan hitam tetapi dia kebal. Terakhir kali terdengar kabar bahwa dia sedang menyempurnakan ilmu kanuraganya di Pulau Rakata kabar itu saja melayang tiga puluh tahun silam. Sekarang melihat kepandaian murid-muridnya saja setinggi ini, apalagi sang guru, setidaknya ilmunya sudah meningkat sekitar sepuluh kali tingkatan dibanding bertahun-tahun silam.
Kemudian nampak seorang tokoh golongan putih mengusulkan, tampangnya gagah sekali laksana seorang putra keraton, rambutnya sebatas bahu dan di kuncir ke belakang, sedang pakaiannya hanya selembar baju kumel berwarna putih dan celana hitam panjang, di lihat dari tampangnya usianya bisa di pastikan sekitar dua puluh lima tahun. Namun ketika dia membuka suara semua orang bgai di gelitik urat gelinya, suaranya sangat lucu seperti suara anak umur tiga tahun.
“Aku mendengar kabar yang melayang bahwa peresmian kerajaan itu satu bulan di muka. Kita tidak punya waktu lebih lama lagi. Namun guruku pernah berpesan bahwasanya Ratu Tengkorak Hitam bisa di tekan ilmu kesaktiannya ketika seseorang berhasil menanggalkan topeng turunan setan yang menutupi parasnya,” tersentaklah Raden Unggul Praksa Bumi !
Dari mana dia tahu bahwa kelemahan Ratu Tengkorak Hitam berada di topeng keramat yang sewaktu mudanya selalu dia kenakan menutupi separuh wajahnya. Malang melintang dunia berputar, hanya ada satu orang yang mengetahui kelemahan perempuan itu, ialah Sri Sukma Ningrum yang tak lain adalah kakak seperguruan dari Suti Rao sendiri.
“Pemuda, siapa nama gurumu itu ?,” tanya Raden Unggul Praksa Bumi.
“Guruku tidak ingin memberitahu pada siapapun namanya, namun setiap orang menyebutnya dengan Dewi Kencana Sulung,” jawab sang pemuda dengan suara lucunya.
Dengan buas Raden Unggul Praksa Bumi menanyai pemuda itu kembali !
“ Sekarang dimana dia bersemayam ? Apakah dia masih bernyawa atau sudah...,” pemuda yang di tanyai membentak pelan kepada yang menanya.
“Apa pedulimu wahai ketua apel ? Ada hubungan apa kau dengan guruku ?,”
Wajah pria tua ini memerah ketika dia mengingat apa yang terjadi tiga puluh tahun silam !
***
Saat itu tubuh yang kini sudah mencapai hari senja masih sangat segar bugar dan namanya sangat masyur sebagai pendekar bergelar Malaikat Sabit Akhirat ini. Dia pernah menaruh hati dengan pendekar bernama Dewi Kencana Sulung, namun karena sikap perempuan itu yang sangat menentang hubungan percintaan membuatnya memutar otak hingga melakukan hal gila ! Dia melakukan hubungan percintaan dengan saudara seperguruan Dewi Kencana Sulung yaitu Dewi Kencana Bungsu dengan tabiat untuk mendekati sang kakak. Namun bagaimanapun bangkai disimpan pasti kelak tercium pula baunya ! Dewi Kencana Bungsu sudah mengetahui niat jelek pria yang dia sukai itu tapi malah menyalahkan sang kakak atas tuduhan merebut kekasihnya. Akibatnya dalam sejarah Dunia Persilatan pernah tercatat peristiwa pertarungan tiga hari tiga malam yang mana kedua kakak adik inilah yang menjadi pemerannya. Sang gurupun juga harus meregang nyawa akibat di permalukan oleh muridnya sendiri. Merasa dosanya sudah banyak maka Dewi Kencana Sulung menghilang dari jagat persilatan dan berdiam di tempat terpencil di Tanah Pasundan. Sedangkan sang adik menghilang ke Pulau Rakata untuk menuntut ilmu guna membalas sakit hati yang dia rasakan, lama kelamaan iblis mulai merasuki raga Dewi Kencana Bungsu hingga mulai timbul keinginan untuk menaklukan seisi jagat untuk tunduk kepadanya. Dan dia memasung namanya menjadi nama baru Ratu Tengkorak Hitam.
Pemuda berpakaian kumel tadi memecah lamunan Raden Unggul Praksa Bumi, dengan tatapan tajam dia menyeringai pria tua ini. Namun Raden Unggul Praksa Bumi sudah berjanji pada dirinya untuk tidak membuka cerita ini bahkan pada anak cucunya sekalipun maka dia alihkan pandangan. Selang beberapa saat salah seorang di antara mereka menangkap sesuatu melesat di udara cepat sekali ! Nampaklah benda itu adalah gulungan kertas kecil yang di ikat oleh tiga helai rambut hitam panjang. Tepat sepucuk surat ini terjatuh tepat di hadapan Raden Unggul Praksa Bumi, penuh heran dia ambil dan melepaskan helaian rambut yang mengikat surat itu kemudian membukanya.
“Wusss....,” asap tebal menyambar keluar, warnanya hitam pekat dan berbau busuk bangkai.
Segera para pendekar itu tutup jalan nafas, mengetahui bahwa bau busuk ini mengandung hawa racun ganas !. Asap hilang sirna namun kini di hadapan mereka tegak berdiri empat sosok tubuh perempuan bercadar dan gemparlah semua orang mengetahui bahwa yang datang adalah Lima Iblis dari Madura yang kini hanya tinggal empat orang lepas kematian Arimbi.
“Hik...hik...hik... Rupanya Pembunuh Muka Bopeng tidak salah pilih mangsa, mana itu pemimpin kelompok kalian yang bermulut sekotor sampah itu ? Sudah sampaikah dia ke liang neraka ?,” mengoceh Pendekar Seribu Racun. “Banci busuk ! Nyawamu tak akan bertahan lama !,” membentak Larapati.
Tangannya di angkat tinggi sekali dan kini berubahlah tangan mulus itu menjadi berwarna merah darah menggidikkan !
“Pukulan Kelabang Merah !,” menyeru Pendekar Seribu Racun. Mengetahui betaoa ganas dan mematikannya ilmu ini , segera dia melesat pergi dari sana.
“Mau kemana kau betina jadi-jadian ?,” Larapati memburu ganas dan sampai satu titik dia lepaskan pukulan itu. Sinar merah darah melesat cepat terbawa angin dan disusul oleh jeritan kematian Pendekar Seribu Racun, tubuhnya rebah di tanah dengan kulit mengelupas memerah. Gemparlah seantero tempat itu apalagi bagi pendekar yang takaran ilmunya masih di bawah keempat murid Ratu Tengkorak itu, Pendekar Seribu Racun yang takaran ilmunya sekitar setengah lebih tinggi dibanding perempuan bercadar yang tadi melepaskan pukulan saja bisa dihabisi dalam satu jurus, nampaklah berapa tinggi kemampuan mereka. Larapati maju tiga langkah dan berseru,
“Saudara-saudara sekalian ! Datangnya kami kemari bukan untuk mencari perang, namun kami hanya ingin menyampaikan mandat dari guru kami bahwasanya Kerajaan Tengkorak Hitam akan memberikan kedudukan yang tinggi bagi kalian yang hadir di sini. Namun jika kalian menolak itu artinya kalian hendak mengundang ajal untuk segera menjemput,” suara Larapati yang serak tampak menggetarkan hati seluruh orang.
“Kalian masih saja bermimpi di siang bolong ! Tapi terima dulu hadiahku ini,” menukas seirang perempuan berpakaian ungu dengan rambut mekar.
Tampak dia lepaskan sebuah pukulan mengandung tenaga dalam tinggi dan melesatlah selarik sinar berwarna ungu kehitaman, yang di serang kirim serangan balasan berupa tiga buah kelewang yang nampak memancarkan sinar perak ketika terkena sinar matahari. Aneh ! Sinar itu serta merta hilang ketika berpapasan dengan kelewang perak itu.
“Kentut busuk ! Kesabaranku sudah habis !,” kertak perempuan berpakaian ungu. Dia kemudian cabut dua buah pasang kapak yang sedari tadi menggantung di pinggangnya. Kapak itu berwarna hitam dengan bercak merah di beberapa sisi. Nyatalah bahwa dia adalah Luh Jelantik atau Betina Berkapak Setan dari Dewata. Dia melompat setinggi tiga belas tombak dan menukik ke bawah laksana elang.
“Mundur !,” perintah Larapati pada ketiga kawannya.
“Mau lari kemana hah ?,”
Larapati tinggal di tempat dan menyambut serangan Luh Jelantik. Dia melepaskan kain biru panjang yang melilit di pinggangnya dan meletakkannya di tanah. Tampak mulut Larapati komat-kamit membaca sesuatu dan lama kelamaan kain itu mengeras laksana besi dan bergerak sendiri ! Benarlah bahwa saat itu Larapati menggunakan ilmu sihir yang di turunkan oleh sang guru. Baru lima jurus berlangsung Luh Jelantik sudah kewalahan ! Serangan kain itu buas sekali dan bisa berubah bentuk, di jurus ketujuh dia menjerit keras, ujung kain yang itu berubah menjadi tajam laksana mata pisau dan merobek kulit betisnya hingga luka besar.
“Kalau dibiarkan pastinya iblis betina itu menang ! Mari saudara-saudara kita berebut pahala !,” menyeru pemuda berpakaian putih tadi.
Seruan itu membakar semangat seluruh orang dan majulah mereka membantu Luh Jelantik.
Kini keadaan berbalik, dua puluh jurus berlalu keempat murid Ratu Tengkorak Hitam tergempur hebat. Nyali mereka kecut sudah mengetahui semua pendekar bersatu memburu kematian mereka. Mencapai jurus ke dua puluh satu, Larapati terpekik keras ! Rambutnya terpotong oleh golok salah satu pendekar hingga sebatas bahu.
“Bagaimana ini ? Semakin lama kita bertahan maka tak kan lama lagi tenaga kita habis,” mengeluh Seruni dengan ilmu menyusupkan suara.
“Kak Lara, bagaimana ini ?,” tanya Suntini
Tak lama setelahnya terpekiklah Nilamsari, bajunya robek tersambar kapak milik Luh Jelantik. Di tengah ketegangan itu terdengar sebuah suitan keras merobek langit, salah satu mata menangkap kehadiran sosok bayangan berwarna hitam melesat dari jurusan utara dan kemudian mendarat di sebuah ranting pohon besar. Kini suasana menjadi lebih gempar dari biasanya, siapapun yang ada pasti akan mengucurkan keringat dingin ! Bagaimana tidak ? Yang tadi berkelebat datang adalah Ratu Tengkorak Hitam ! Tatapannya tajam penuh kebengisan, sekali dia lepaskan Pukulan Kelabang Merah menderu keras sepuluh pekikan kematian. Sepuluh pendekar rebah dengan tubuh memerah dan mengelupas hingga menyisakan daging. Melihat hal ini lumerlah nyali beberapa tokoh yang kepandaiannya belum sempurna. Dengan seribu langkah yang mereka ambil namun Ratu Tengkorak Hitam lebih cepat kirim serangan kematian kepada mereka dan terdengarlah pekikkan menggidikkan dan bertambahlah mayat yang bergelimpangan di atas lantai candi itu. Segeralah keempat murid perempuan bertopeng ini haturkan hormat ketika orang-orang yang tadi menyerang mundur dari barisan.
“Kenapa diam ?,” Ratu Tengkorak Hitam membentak nyaring.
Suasana di selimuti ketegangan, namun Raden Unggul Praksa Bumi malah terpesona atas tubuh Ratu Tengkorak Hitam yang masih tampak muda seperti tiga puluh tahun silam. Namun, lamunannya terpecahkan tatkala bentakan menyayat hatinya,
“Rupanya kau masih bernyawa bajingan tengik perusak hati perempuan !,” Ratu Tengkorak Hitam menunjuk Raden Unggul Praksa Bumi.
“Suti.. Kau...,” terbata-bata pria tua itu berkata
Ratu Tengkorak Hitam melesat turun dan diikuti oleh keempat muridnya yang bangkit berdiri.
“Untuk sekarang aku ingin menanyakan apa jawaban kalian mengenai berita yang berhembus belakangan ini ? Apa jawaban kalian mengenai ajakan dari murid-muridku,” menanya Ratu Tengkorak Hitam dengan bertolak pinggang.
“Sebagai tokoh silat yang telah masyur namanya, kami menghormatimu sebagai pendekar sakti berkepandaian tinggi. Tapi menyaksikan kejahatan yang kalian sebarkan sudah cukup membuat kami enggan dan tidak sudi untuk memasuki kerajaan yang kau sebutkan itu,” menimpali Raden Unggul Praksa Bumi.
Ratu Tengkorak Hitam mengekeh tinggi, lalu telunjuknya diangkat dan menunjuk pria tua itu dengan tatapan garang Ratu Tengkorak Hitam.
“Tikus tua renta terlalu banyak omong ! Waktumu sudah senja, selagi aku juga tidak sudi memiliki anggota bau tahi kucing seperti kau. Tapi karena kelancanganmu, maka terimalah dulu hadiahku ini !,”
Tanpa melirik pada murid-muridnya Ratu Tengkorak Hitam maju menyerang. Yang diserang bukan main kagetnya ! Benar dugaannya bahwa perempuan ini sudah menyempurnakan kepandaiannya, sekali gerakkan saja sudah dapat di hitung bahwa kehebatannya sekitar lima tingkat lebih tinggi dari tiga puluh tahun silam.
“Aku tidak bisa terus menerus hidup dalam kesalahan seperti ini. Mungkin sudah saatnya aku menerima azab atas kebejatanku selama ini,” membantin Raden Unggul Praksa Bumi.
Di jurus ke tiga puluh lima, Raden Unggul Praksa Bumi benar-benar sudahi serangan dan membiarkan lawannya mencabut nyawanya.
“Ah, sudah siap rupanya engkau untuk mampus !,” berseru Ratu Tengkorak Hitam.
Perempuan bertopeng ini kirimkan serangan berantai berupa Pukulan Kelabang Merah disusul dengan tendangan dasyat bernama Seribu Batu Pemecah Ombak dan diakhiri dengan lemparan sekitar tiga puluh kelewang tajam. Tak ayal, Raden Unggul Praksa Bumi terima serangan itu dengan lapang dada dan akhirnya nyawanya lepas juga.
Nama Malaikat Sabit Akhirat sebagai orang yang merajai Jagat Persilatan di tanah Jawa ini tinggal nama dan kenangan. Nyawanya sudah putus di tangan Suti Rao atau Ratu Tengkorak Hitam.
“Siapa lagi yang berani membangkang, akan menemui nasib yang sama dengan tua bangka ini !,” mengancam Ratu Tengkorak Hitam.
Tiba-tiba berkelebat sesosok pemuda berpakaian putih kumel menghadang Ratu Tengkorak Hitam.
“Hai perempuan aneh, namamu sudah dikenal oleh seluruh penghuni jagat persilatan ini sebagai penjahat kelas satu,” berkata sang pemuda.
“Pemuda dogol ! Kalau sudah tahu siapa aku, jangan coba-coba jual mulut dan jual tingkah atau nasibmu tidak akan jauh berbeda dari tua bangka itu.” Menimpali Ratu Tengkorak Hitam sembari menunjuk jenazah Raden Unggul Praksa Bumi.
“Mengatakan orang pemuda dogol, dianya saja lebih dogol lagi. Hi...hi..hi.. Mimpi di siang bolong mau menaklukkan jagat persilatan. Aku berani bertaruh bahwa rencanamu itu hanya isapan jempol belaka perempuan jelek !,” mengejek pemuda tersebut.
“Keparat ! Siapa kau ?,” bentakan itu keras sekali hingga menggetarkan jiwa siapapun yang mendengarnya.
“Namaku tidak penting, tapi kau tentu tidak akan lupa pada saudarimu Dewi Kencana Sulung,”
“Ah.. Rupanya kau adalah murid dari perempuan jalang bernama Suci Permani itu,” menimpali Ratu Tengkorak Hitam sembari tertawa mengekeh.
“Dendamku terhadap gurumu belum habis ! Tapi melalui kematian muridnya sudah cukup meredakan separuh amarahku,” Ratu Tengkorak Hitam kemudian menoleh pada Seruni dan Nilamsari.
Kedua muridnya itu langsung berkelebat menyerang ! Namun lima jurus berlalu keduanya sudah terdesak hebat. Nyatalah bahwa kepandaian pemuda itu sudah sangat sempurna apalagi ketika dia melancarkan serangan Naga Mengamuk yang tentunya diturunkan dari Dewi Kencana Sulung. Kalau kedua muridnya tidak segera di tarik mundur maka salah satu atau bahkan keduanya akan menemui kematian saat itu juga.
Maka Ratu Tengkorak Hitam melesat ke depan dan mengimbangi serangan berupa hembusan asap hitam beracun yang menyelimuti seantero tempat. Tebal asap itu hampir lima tombak dan warnanya pekat sekali hingga membutakan pandangan. Sekitar sepuluh saat ke depan barulah asap itu habis dan rupanya Ratu Tengkorak Hitam dan keempat muridnya sudah pergi meninggalkan tempat.
ENAM
Hari berlalu semakin cepat, hari berganti minggu, kemudian berganti bulan. Sekarang hari ke delapan bulan ke tujuh sudah sampai. Di Gua Tengkorak kediaman 5 Iblis Dari Madura nampak di pasangi beberapa hiasan baru yaitu beberapa puluh kursi yang dibuat dengan rangkaian tengkorak manusia, entah darimana tengkorak-tengkorak ini di dapatkan ? Mungkinkah ini adalah korban-korban dari keganasan Ratu Tengkorak Hitam selama ini ? Di mulut gua melintang rangkaian bendera berwarna merah darah sedang di sisi kiri dan kananya di pajang tengkorak-tengkorak manusia yang memutih laksana salju dan di jalin oleh benang tipis. Belum sampai puncak hari beberapa tokoh persilatan sudah hadir memenuhi undangan yang mereka dapat. Dengan perasaan tidak enak mereka duduk di atas kursi yang disediakan.
“Gusti Allah, berdosakah aku menduduki kepala saudaraku sendiri,” membatin salah satu daro sekian banyaknya tamu undangan.
Di beberapa pohon tampak di gantung beberapa pasang mayat yang keadaan tubuhnya sudah membusuk penuh belatung. Melihat dari pemandangan ini saja sudah dapat dilihat seberapa ganas dan kejamnya Ratu Tengkorak Hitam ! Bisa di bayangkan bagaimana keadaan jagat persilatan bila rencana pendirian Kerajaan Tengkorak Hitam benar-benar terjadi.
Kini matahari sudah mencapai puncaknya, tamu undangan sudah memenuhi tempat, nampak di antara mereka tokoh-tokoh yang sudah tidak asing lagi seperti Dewi Tangan Besi, Betina Berkapak Setan, Suri Gundahla, Si Gagak Emas, dan pemuda berpakaian putih kumel yang belum diketahui namanya itu. Tiba-tiba dari jurusan selatan melesat sesosok tubuh berpakaian kuning panjang, kepalanya ditutupi oleh sebuah tudung bambu yang menutupi keseluruhan wajahnya, hanya dagunya yang tampak sedikit kerutan-kerutan menandakan bahwa orang ini sudah berusia lanjut, sosok berbaju kuning ini duduk di sudut kiri sembari memperhatikan sekeliling.
Di dalam gua nampak Ratu Tengkorak Hitam beserta keempat muridnya tengah melakukan rapat kecil. Mereka duduk melingkar dan usai rapat itu dilanjutkan dengan rapalan mantra yang keluar dari mulut perempuan bertopeng ini. Terdengar sedikit gemuruh di sekitar gua itu dan tak lama berselang muncul puluhan bayangan hitam yang menyembur keluar dari lubang kecil di topeng Ratu Tengkorak Hitam. Lama kelamaan berubah menjadi wujud makhluk bertubuh hitam legam berbulu lebat dengan mata merah menyala. Rupanya benar topeng itu menyimpan sebuah kekuatan ghaib yang bisa memanggil siluman-siluman seperti ini tentunya makhluk menyeramkan ini adalah kaki tangannya perempuan berhati serigala ini.
Dari mulut gua terdengar gong di pukul sekali, namun suaranya menggema lama sekali. Usai suara gong itu hilang dari dalam mulut gua keluar empat tubuh perempuan bercadar dan berjubah merah panjang menandu tubuh perempuan lainnya namun satu ini berjubah hitam panjang dan bertopeng yang tak lain adalah Ratu Tengkorak Hitam. Di belakangnya memyusul beberapa sosok makhluk hitam yang nampak samar-samar ketika terpapar sinar matahari. Tandu di turunkan dan Ratu Tengkorak Hitam bangkit berdiri dan kemudian berbicara lantang.
“Terima kasih, saudara-saudara sekalian ! Aku Ratu Tengkorak Hitam menghaturkan banyak terima kasih atas kehadiran kalian memenuhi undanganku. Perlu diketahui bahwa maksud berdirinya kerajaan ini memiliki tekad yang bulat yaitu menyatukan seluruh jagat persilatan untuk merangkul menjadi satu hingga tidak ada lagi perbedaan antar dua golongan. Kita akan menjadi satu...,”
Belum sempat pidato itu selesai, dari salah satu tamu undangan berdiri seorang perempuan berpakaian ringkas putih dengan kedua tangannya di tutupi oleh sepasang sarung tangan yang berwarna putih pula.
“Pimpinan kerajaan durjana ! Sudahlah engkau bersilat lidah dengan seribu kemanisan. Kau kira kami ini orok yang baru lahir hah ? Keganasan dan kejahatanmu sudah tersebar kemana-mana dan ketahuilah bahwa kedatangan kami kemari bukan karena hendak masuk bergabung malahan hendak menghancur leburkan kerajaan bau nerakamu ini !,” berucap Dewi Tangan Besi.
“ Dewi Tangan Besi ! Nama besarmu memang sudah ku dengar belakangan ini. Tapi terhadapku tak usah kau banyak mulut. Karena kelancanganmu hari ini juga kau harus terima mampus,” menimpali Ratu Tengkorak Hitam.
Dengan sekali perintah Larapati melompat ke depan menghadang Dewi Tangan Besi
“Lagi lagi bertemu denganmu !,” membentak Dewi Tangan Besi.
Kedua lengannya berubah memutih laksana besi rupanya telah di kerahkan tenaga dalamnya hingga dalam tiga jurus saja Larapati benar-benar sudah terpaksa mundur kalau memang dia ingin nyawanya tetap selamat.
“Serang,” perintah Ratu Tengkorak Hitam. Namun tidak ada serangan dari ketiga murid lainnya.
Ketika dia menoleh ke belakang...
“Buk....,” satu pukulan menderu keras ke mukanya hingga perempuan ini tersungkur ke tanah.
Yang memukul adalah si jubah kuning yang mukanya masih belum kelihatan, sedang di belakangnya nampak pemuda berpakaian putih kumel itu.
“Joko, bereskan ketiga perempuan itu. Bawa ke belakang,” kata si jubah kuning.
Pemuda yang rupanya bernama Joko itu segera laksanakan perintah. Dia membopong satu per satu tubuh murid Ratu Tengkorak Hitam yang tertotok urat besarnya. Di udara tampak Larapati melesat hendak menyerang Joko, namun dengan cepat si jubah kuning melepaskan totokkan hingga tubuh Larapati terdiam laksana batu.
“Siapa kau manusia hina dina ?,” hardik Ratu Tengkorak Hitam.
Lantas si jubah kuning membuka penutup wajahnya dan kini nampaklah paras seorang nenek-nenek yang tak asing bagi Ratu Tengkorak Hitam.
“Bagus...bagus... Datang juga kau kemari. Apa kau mau menuntut balas atas kematian lakimu yang bermental perempuan itu huh ?,” menghardik Ratu Tengkorak Hitam.
Perempuan berjubah kuning itu tak lain adalah Dewi Kencana Sulung kakak seperguruan Suti Rao alias Ratu Tengkorak Hitam.
“Suti adikku, sadarkah kau akan perbuatan durjana kau ini ? Bertaubatlah sebelum azab datang kepadamu,” nasihat Dewi Kencana Sulung.
Sedang yang dinasihati mengekeh setinggi langit. Gua dibelakangnya tampak bergetar, sungguh sukar dijajaki dimana ketinggian ilmu perempuan berhati iblis ini.
“Mulutmu besar dan mudah sekali berucap. Pernahkah kau berpikir bahwa kau harus bertobat pula menjadi jalang busuk itu ?,” Suti Rao benar-benar sidah diluar kendali.
Tanpa aba-aba dia menyerang kakak seperguruannya itu dengan buas laksana singa, setiap ilmu yang dia kerahkan mengandung tenaga dalam teramat tinggi. Hal ini membuat orang-orang yang menyaksikan jadi tegang dibikinnya, dua wanita ini memang sudah lama dikenal sebagai Sepasang Singa Betina namun berbeda jalur, satu dsri putih satunya dari hitam. Bukan main hebatnya setiap ilmu yang saling beradu menimbulan suara gaduh di seantero tempat.
Memasuki jurus ke lima puluh dua, keduanya benar-benar sudah mandi keringat apalagi ketika keduanya telah mengeluarkan ilmu tingkat tinggi yang sukar untuk diimbangi. Dengan serangan tipuan, Dewi Kencana Sulung berhasil menendang tubuh Suti Rao hingga mental delapan tombak.
“Nenek tua ! Aku belum kalah ! Bersiaplah menerima takdirmu, mati..,” membentak Ratu tengkorak Hitam.
Dia duduk bersila di tanah sembari merapalkan ajian. Semua yang menyaksikan tersentak kaget melihat muncul sekumpulan asap hitam tebal dari sebuah lubang di topeng Suti Rao. Asap ini semakin lama semakin banyak dan berubah menjadi wujud makhluk hitam besar bermata merah menyala dan bertaring. Ini adalah ilmu simpanan Ratu Tengkorak Hitam yang paling tinggi yaitu Memanggil Roh Memutus Jiwa. Bukan hanya Dewi Kencana Sulung yang kena serang tapi semua yang hadirpun mulai berjuang mati-matian agar tidak mati mengenaskan di tangan makhluk yang bisa dikatakan siluman itu. Pertempuan lama terjadi kini matahari sudah sampai di ufuk barat dan sebentar lagi akan tenggelam.
Semakin banyak jiwa tumbang di tangan siluman-siluman itu hingga kini jumlahnya hanya 3 banding 20. Di keadaan tertekan itu nampak satu sosok melesat di udara dia adalah Joko murid Dewi Kencana Sulung. Dia berkelabat menyerang Ratu Tengkorak Hitam, namun perempuan ini hanya mengekeh dia kira bisa membunuh pemuda itu dalam satu jurus saja. Tapi tebakannya meleset ! Serangan pemuda itu hanya tipuan belaka, tangan kanannya bergerak cepat ke arah wajah Suti Rao dan
“Ahhhhh...,” Suti Rao menjerit keras sembari menutupi sebagian wajahnya. Topeng yang menutupi wajahnya kini tanggal !. Akibatnya seluruh siluman hitam tadi menggeliat ke tanah dan berubah menjadi asap kembali lalu terhisap ke dalam lubang tempat tadi mereka keluar.
Ketika telapak tangan itu di turunkan kini nampaklah muka perempuan ini seutuhnya. Bagian yang sebelumnya di tutupi topeng sangat mengerikan sekali. Wajah itu tidak memiliki kulit hanya daging yang membusuk dan sudah nampak tukang-tukang tengkoraknya.
“Ratu Tengkorak Hitam, ternyata mukamu jelek juga ya. Ku kira topeng ini fungsinya untuk menutupi kecantikanmu, tapi...,”
“ Tutup mulutmu !,” karena sumber kekuatannya sudah di rampas, sekarang keadaannya Ratu Tengkorak hitam sudah kehabisan tenaga dan ilmu, maka dia mencoba mengambil seribu langkah. Namun baru dua langkah saja, sesosok perempuan menyambarkan pukulan keras, dialah Dewi Tangan Besi yang lancarkan jurus pamungkasnya yaitu Pukulan Sembilan Dewa. Meski hanya sekali Suti Rao terkena pukul, namun rasanya dia di hujani pukulan sebanyak sembilan kaki. Dia terpental ke tanah, tulang-tulangnya patas dan jantungnya berhenti berdetak, di saat itulah Ratu Tengkorak hitam menemui ajalnya. Dewi Kencan Sulung menghampiri mayat sang adik dan menyeka air mata yang hendak turun.
“Sudahlah nek, dia sudah menemui batunya,” tampak Dewi Tangan Besi menyentuh pundak nenek tua itu. Dia mengangguk, dan berbicara di depan banyak orang,
“Saudara-saudara sekalian, aku atas nama Ratu Tengkorak Hitam memohon kesudian saudara-saudara sekalian untuk memaafkan segala dosa perbuatan adikku selama ini. Biarlah aku membawanya pergi dan menguburkannya secara layak. Begitupun ketiga muridnya biar aku yang menggemblengnya dan menuntun mereka kembali ke jalan yang benar,”
Meski masih ada hasrat ingin mencincang tubuh Ratu Tengkorak Hitam dan ketiga muridnya, namun melihat kesungguhan ucapan ini luluh juga akhirnya. Semua yang di sana menyunggingkan senyum dan mengangguk.
“Terima kasih, aku pamit undur diri,”
Dewi Kencana Sulung membopong mayat saudarinya itu lalu tubuhnya berkelebat ke sebuah kereta kuda, di sana sudah ada tubuh ketiga murid Suti Rao dan Joko yang menunggang kuda. Merekapun meninggalkan tempat itu menyusul dengan tenggelamnya sang surya.