Aku terus berlari sejauh mungkin. Suaraku tak mampu lagi mendampingi tangisku. Pakaianku terkoyak, hijab sebagai penutup mahkotaku tak lagi bertengger secara benar di kepalaku.
Aku tidak tau berada dimana, sungguh tempat ini begitu asing. Sepi dan dingin yang kurasa, hanya ada pepohonan dan semak di tepi jalan.
Tangisku terus luruh tanpa kumau. Memori yang mengerikan kemarin terus berputar di kepalaku. Kaki telanjangku mulai memberontak untuk lari, selangkangku terasa nyeri dan kebas. Aku butuh istirahat. Tapi lagi-lagi, aku mendengar suara derap kaki mendekat dan teriakan iblis itu memanggil namaku. Rasa takut menggeranyangi hatiku, aku tak ingin iblis itu menemukanku. Tidak untuk kedua kalinya. Secepat kilat aku bersembunyi di belakang semak dekat pohon. Ya Allah… selamatkan hamba !!.
“Oh shitt… kita kehilangan dia ! Lu gila Rando… ini diluar rencana kita, kenapa lu sampai memerkosa Bunga?” ujar Romi frustasi kepada Rando.
“Tutup mulut lu!! Sekarang yang gua mau Bunga.., cuma itu! “ bentak si iblis Rando. Cowok biadab yang aku benci.
Mereka hanya berjarak beberapa meter dari tempat persembunyianku, dengan tubuh bergetar aku meringkuk diantara semak-semak. Sekuat tenaga ku tutup mulutku dengan kedua tanganku. Aku benar-benar takut melihat iblis itu. Ya Allah… selamatkan hamba !!. teriakku dalam hati berulang kali.
Iblis itu terlihat benar-benar berantakan sekarang. Dadanya naik turun menahan amarah yang menggebu. Rahangnya mengeras begitu kokoh. Mata elangnya menyala memindai seluruh arah penjuru.
“Ayo kita harus menemukan Bunga secepatnya !” kata Romi.
Dengan frustasi kulihat mereka berlari menjauh. Aku bernafas lega, mereka tak menyadari keberadaanku. Terima kasih Allah, Engkau menyelamatkanku. Susah payah aku keluar dari semak-semak. Jalanan ini begitu sepi, tak terlihat satupun kendaraan yang berlalu lalang.
***
“ Kita harus memberitahukan ini kepada ayah dan bunda, Bunga!” ujar mbak Kinan mengelus puncak kepalaku.
“ Enggak mbak .. Bunga nggak mau ngeliat ayah dan bunda menanggung malu karena aku..”
“ Apapun nanti yang terjadi, kita hadapin bersama-sama Bunga!! “ mbak Kinan memelukku erat, seakan menyalurkan kekuatan agar aku dapat menghadapi semua beban ini.
Tanpa kusadari air mataku mulai luruh. Isakan yang kutahan mulai terdengar di telingaku. Dadaku terasa sesak mengingat kejadian yang menghancurkan seluruh hidupku.
“Bunga pengen pergi jauh mbak.. Bunga nggak mau iblis itu nemuin Bunga lagi” isakku dalam tangis.
“Akan mbak usahin ngomong sama ayah bunda.. kamu tenang aja!” tenang mbak Kinan.
***
Aku bersyukur memiliki kakak seperti mbak Kinan, ia mengurusi segala keperluanku untuk pindah. Ia juga yang meyakinkan ayah dan bunda untuk mengizinkanku pindah kuliah, entah apa alasan jitu mbak Kinan yang terpenting sekarang ayah dan bunda merestuiku untuk pindah.
Dan disinilah aku sekarang, di kota makam “Proklamator” yang begitu terkenal. Blitar. Ya walaupun kota ini masih sangat kecil aku senang bisa bermukim disini. Merantau di kota yang mungkin tidak pernah terpikirkan dalam benak siapapun adalah strategi mbak Kinan untuk menyembunyikanku. Ia tahu betul apa yang kurasakan, maka dari itu sebagai kakak ia merasa benar-benar bertanggung jawab penuh untuk melindungiku.
Ya melindungiku dari iblis biadab yang sangat ku benci. Aku berdoa terus menerus agar iblis itu mendapatkan karma yang setimpal atas perbuatannya kepadaku.
Aku benar-benar merasa kotor dan jijik atas tubuhku yang sudah ia sentuh. Harga diriku benar-benar dibuang. Ia melakukannya layaknya aku seorang jalang. Aku benci mengingat itu, raut wajahnya yang sangat puas dan bahagia karena telah merenggut kesucianku terus berputar dalam otakku.
Ya Allah maafkan hamba menjadi makhluk pendendam seperti ini. Setiap malam aku terus bermimpi buruk tentang kejadian itu. Aku sempat merasa down, dan ingin mengakhiri hidupku. Tapi mbak Kinan terus menguatkanku untuk menjadi wanita yang tegar.
Soal mbak Kinan ia akan tetap tinggal di Bogor, karena keluarga kecilnya yang tak bisa ia tinggal. Aku memaklumi itu dan akan ku pastikan diriku aman disini. Aku mendaftar sebagai mahasiswi baru di salah satu universitas swasta di Blitar. Ya perlu kalian ketahui, kuliahku sebelumnya sudah semester 3 disalah satu Universitas di bogor. Walaupun aku harus mengulang kembali semester awal, tidak ada sama sekali penyesalan yang terlintas dalam benakku. Karena aku menyadari ini semua demi kebahagiaan dalam hidupku.
bSudah dua minggu aku disini, menjalani hidup baruku sebagai anak rantauan yang menempuh pendidikan sebagai mahasiswi baru. Aku mengisi waktu luangku untuk bekerja part time di salah satu rumah makan dan menjadi guru bimbel untuk anak sekolah dasar. Itung-itung buat nambah uang saku. Bukannya uang saku yang diberikan bunda kurang, hanya saja aku ingin lebih mandiri dengan uang hasil jerih payahku sendiri.
Akupun juga menemui banyak macam orang disini, rata-rata penduduk asli Blitar lebih ramah dan sikap kepedulian terhadap sesama sangatlah tinggi. Bisa dilihat dari teman satu kos ku, Lila namanya. Ia tergabung dalam komunitas “Peduli Sesama” yang bergerak memberikan sedekah bagi orang yang membutuhkan.
Setiap hari jumat mereka selalu turun di lapangan untuk mencari kaum dhuafa dan membagi-bagikan makanan dan minuman gratis. Lila tipe orang yang sederhana dan ulet, maka dari itu aku sangatlah cocok dengannya.
Nilai plus lagi dari Lila dia tipe orang yang apa adanya, nggak neko-neko. Setelah dua minggu juga akhirnya aku dapat tamu bulanan, aku sempat khawatir karena aku telat. Aku takut jika aku hamil dan mengandung anak iblis itu. Maklum masa itu masa subur-susburnya rahimku. Untunglah Allah masih melindungi dan menjagaku.
Beberapa bulan telah kulewati tak terasa aku sudah berganti semester empat, yang berarti aku sudah dua tahun di kota ini. Walaupun aku sudah merasa damai disini ada sepercik ketakutan dalam diriku yang muncul lagi.
Pasalnya menurut cerita mbak Kinan, Rando dengan giat terus menyambangi rumah bunda untuk menanyakan keberadaanku. Untung mbak Kinan sudah siaga mewanti-wanti bunda untuk diam jikalau ada yang bertanya tentang diriku. Bukan hanya bunda, mbak Kinanpun juga terus di terror lewat DM atupun via wathsap . Bahkan kata mbak Kinan Rando juga pernah datang ke kantornya. Iblis itu pantas disebut psycho. Apa belum cukup ia telah merusakku? Apa belum cukup ia telah mengambil hak suamiku kelak? Allah mengapa makhluk sepertinya masih Engkau biarkan bernafas di bumi ini?.
“Wooii.. nglamun aja lu!” teriak Lila tepat di telingaku. Aku tersenyum memandangnya.
“Mikirin apa sih?” tanyanya lagi sambil meraih tempat duduk tepat di sebelahku. Kami sekarang berada di teras kos-kosan, biasa cari angin malam untuk menghilangkan penat di dada.
“Aku cuma takut La..” jawabku lesu.
“Takut kenapa?”
“Kamu ingat cerita masa laluku?”
“Orang itu lagi yang ngebuat kamu takut?”.
Aku menganggukkan kepalaku, membenarkan pertanyaan yang dilontarkan Lila.
“Elu nggak usah mikirin manusia bejat kayak dia.. nggak pantes tau! Yang terpenting elu udah damai disini, hidup tenang tanpa gangguan,”
“Tapi.. akhir-akhir ini firasatku buruk La.. Aku takut” lirihku pasrah. Ku tangkupkan kedua tanganku di wajah frustasi. Semua ini sungguh berat untukku. Lila memelukku erat.
“Ingat innallaha maana, sesungguhnya Allah bersama prasangka hamba-Nya.. Kalo elu terus berpikiran yang enggak-enggak bisa aja di ijabahin sama Allah lho…berpikir positif aja dan jangan lupa terus berdoa dijauhkan dari orang-orang yang berniat jahat ama elu!” nasehat Lila kepadaku.
Hatiku terasa sedikit tenang. Apa yang dikatakan Lila benar, aku masih mempunyai Allah SWT Dzat yang Maha Perkasa, yang terpenting aku sudah berikhtiyar dengan cara kabur dari iblis itu. Aku hanya tinggal berdoa memasrahkan segalanya kepada Allah.
***
Setelah pulang mengajar bimbel, kuputuskan untuk mampir ke kedai tempat Lila bekerja. Lumayan cari gratisan. Hehehe
“Assalamualaikum La.. aku mampir ke kedai kamu ya..” izinku kepadanya setelah nada sambung di seberang tersambung.
……
“Hehe tau aja kamu, aku cari gratisan.. “
…..
“Hehe oke, sepuluh menit lagi aku nyampek kok.. iya bye… waalaikumsalam”. Segera kututup smartphone ku dan memasukkannya ke dalam totte bag ku.
Karena aku tak fokus pada jalanan, aku tak sengaja menabrak seseorang di depanku.
“Maaf…maaf.. aku nggak sengaja” kataku spontan.
Aku menegakkan badan untuk melihat orang yang telah ku tabrak. Bak tersambar petir, tubuhku menegang seketika. Darahku seakan berhenti mengalir dan dadaku kembali terasa sesak. Romi.
Ia juga terlihat sama terkejutnya sepertiku.
“Bunga..”
seakan kesadaranku kembali meraih, setelah Romi memanggil namaku. Dengan sekejap kupaksakan kakiku untuk berjalan mundur dan lari darinya.
“Bunga.. ! “ teriaknya memanggilku lagi. Ia mengejar tepat di belakangku. Aku panik bukan main.
Secepat mungkin aku berlari tanpa arah. AKU HARUS KABUR, kalimat itu yang terus berputar dalam kepalaku. Ia tak seharusnya bertemu denganku, ia seharusnya tak melihatku, ia .. ia .. ia seharusnya tak ada disini. Allah selamatkan hamba lagi!. Aku terus berlari sampai aku melihat ada masjid di seberang jalan.
Kuputuskan untuk lari kesana, Aku harus berlindung di rumah Allah. Tempat yang paling aman untuk hamba-Nya. Kulihat Romi berhenti tepat di depan masjid. Ia kebingungan mencariku.” Inna Ana Amanna ya Allah”, dzikirku dalam hati tiada henti. Ku beranikan untuk melihat lagi dari jendela, dan Alhamdulillah Romi sudah pergi. Akupun bernafas lega.
***
“Kenapa lu nggak datang?” Tanya Lila yang baru pulang bekerja.
“Lil… aku harus pindah kos-kos an, aku harus pergi darisini, bahkan aku harus pindah ke luar kota lagi!” tuturku tanpa jeda. Aku terlihat sangat frustasi.
“Ada apa sih Nga?”
“Dia disini, dia ketemu sama aku.. bahkan dia..dia tadi mengejarku!” jawabku bergetar. Keringat dingin mengucur dari ubun-ubunku.
“Dia siapa maksud kamu?”
“Romi...”
“Romi sahabatnya, Rando?” tanya Lila kaget. Aku hanya bisa menganggukan kepalaku. Lila terdiam begitu saja, ia seperti berpikir sesuatu.
“Elu besok nggak usah masuk kuliah ataupun kerja .. Elu di kos-kos an aja dulu, soal absensi biar gua yang urus .. Terus kalo ada orang yang izin ma bu kos buat nemuin elu, elu tinggal sembunyi aja seakan emang elu lagi nggak ada di kos… gimana?”
“Oke setuju… makasih ya La.. kamu mau ngebantuin aku..”
***
Sudah tiga hari berlalu, Lila terus membantuku mencari informasi tentang Rando ataupun Romi. Dari informasi yang didapat Lila, kata bos tempat bekerjaku di rumah makan memang ada dua orang laki-laki yang sedang mencariku. Aku yakin sekali kalau itu Rando dan Romi. Untung saja data pribadi karyawan disana sangat privasi jadi tidak mungkin mereka dapat mengetahui alamat tinggalku.
Kemarin aku juga menghubungi mbak Kinan, menceritakan apa yang terjadi disini. Mbak Kinanpun tak menyangka hal itu. Blitar itu kota kecil, buat apa seorang Romi datang ke kota ini?, tanya mbak Kinan terus menerus. Aku tidak bisa berharap banyak kepada mbak Kinan, karena menurut cerita mbak Kinan orang suruhan Rando selalu mengawasi pergerakan mbak Kinan.
Sebenarnya mbak Kinan belum mengetahui motif dan siapa tuan yang selalu mengawasinya. Tetapi dapat ditebak bukan, siapa lagi yang sampai bisa melakukan hal semacam itu kalau bukan Rando. Ia anak orang kaya, apapun pasti bisa ia lakukan.
***
Sudah seminggu berlalu aku hanya berdiam diri di kos. Rasa bosan mulai mengahantuiku, bagaimana tidak aku hanya bisa rebahan santuy tanpa melakukan hal produktif lainnya. Ini benar-benar bukan diriku. Tanggungan tugasku mulai menumpuk karena seminggu ini aku absen karena sakit. Lila yang mengatur semuanya, ia bilang kalau aku sedang sakit tipus sehingga menurut anjuran dari dokter aku harus banyak beristirahat untuk masa penyembuhan. Berkat kepiawaiannya berakting Lila kepala jurusanku memercayainya dan memberikan izin untukku. Thanks Lil!
“Assalamualaikum La.. ini aku cuma mau ngomong kunci kamar kos aku titipin Nita ya..dia tadi nggak sekolah katanya lagi males..” Ujarku kepada Lila di seberang telepon. Nita adalah penghuni kamar kos di sebelahku, statusnya masih menjadi seorang siswi di salah satu SMA di Blitar.
“Lah.. emang elu mau kemana?”
“Ke swalayan bentar..beli Roti gua laper,”
“Nunggu gue aja.. entar gue beliin pulang kuliah”
“Pulang kuliah kamu kan masih entar siang.. aku nggak bisa nunggu selama itu kali!!”
“Tapi ati-ati ya lu..”
“Siap.. ya udah ya ..assalamualaikum..”
“waalaikumsalam..”
***
Jarak antara swalayan dengan kos tidak terlalu jauh, hanya melewati tiga petak rumah saja. Akupun pergi hanya berjalan kaki. Seperti biasa hijab wajibku selalu bertengger manis di kepalaku. Akupun hanya memakai setelan baju muslim dan bawahan rok panjang. Sebagai seorang muslim menutup aurat adalah hal wajib yang harus ditaati. Karena memang kedua orang tuaku adalah seorang yang agamis, maka dari itu sejak kecil aku dan mbak Kinan sudah dididik tentang ajaran islam.
Selama dalam perjalanan tidak ada hal aneh yang terjadi, ku pikir semuanya aman dan baik-baik saja, sampai ada seseorang menarik tanganku dan..
“Aku menemukanmu..”
aku membeku seketika.
Aku begitu mengenali pemilik suara ini, suara laknat yang ku benci. Pemilik suara yang selama ini kuhindari. Pemilik suara yang selalu kusumpahi agar menerima karma yang setimpal. Pemilik suara yang sudah menghancurkan hidupku.
“Akhirnya aku menemukanmu Bunga..” aku jijik mendengar namaku disebut olehnya.
Tiba-tiba memori kelamku yang dulu muncul kembali. Bagaikan runtutan film yang ditayangkan lagi masih teringat sangat jelas bagaimana ia merebut kesucianku, bagaimana suara kepuasannya yang sangat menjijikan di telingaku menggema di seluruh ruangan, bagaimana saat itu ia memperlakukanku layaknya seorang jalang, menamparku berulang kali karena aku terus memberontak. Hingga aku tak mampu lagi berteriak dan air mataku kering. Iblis. Aku memberontak agar bisa lepas dari tangan kekarnya yang mencengkeramku erat.
“Lepas!! “ teriakku tanpa mau menatap wajah iblis itu.
“Aku menemukanmu setelah dua tahun sayang..”, aku tersulut emosi karena ia dengan berani memanggilku seperti itu.
“Lepasin aku.. iblis seperti kamu tak berhak menyentuhku!” teriakku berani menatap tajam kearahnya.
“Nggak.. aku udah nunggu momen ini.., aku akan membawamu dan mempertanggung jawabkan semuanya!” jawabnya tegas. Rahang kokoh itu mulai mengeras.
“Aku nggak butuh pertanggung jawabanmu, lelaki biadab sepertimu tak akan pernah menjadi imamku.. Apa belum puas kamu menghancurkan hidupku? Hah!” teriakku emosi.
“Maka dari itu maafin aku.. aku mohon beri aku kesempatan untuk yang kedua kali,”
“Kamu dengar baik-baik ya,.. ngasih kesempatan kedua untuk iblis biadab seperti kamu hanya akan terjadi dalam mimpimu saja.. Selamanya aku bersumpah akan tetap membencimu!”
“Aku akan ngejelasin semuanya ke kamu setelah kamu ikut sama aku” pintanya.
“Enggak , lepasin aku bajingan!”berontakku mati-matian.
Rando terus menyeretku ke arah mobil hitam yang terpakir di pinggir jalan. Aku terus meronta-ronta, dan tangisku tak dapat ku tahan lagi. Iblis ini membuat lukaku semakin menganga lebar.
***
Aku menangis dalam diam pada akhirnya. Aku menyerah semua perlawananku berujung sia-sia tadi, tidak ada tenaga lagi yang tersisa untukku saat ini. Aku lelah setiap memikirkan rando, ia membuat level kebencianku semakin naik. Apalagi melihat dia berada di sebelahku adalah kesalahan terbesarku nomor dua.
Kalian tahu, kesalahanku yang pertama adalah mengenal iblis seperti Rando, dan semobil dengannya adalah mimpi terburukku. Ya Allah mengapa engkau memberiku takdir serumit ini?. Rando terus mencuri pandang dari kaca spion. Aku benar-benar muak dengannya.
Mobil Rando masuk ke dalam rumah mewah yang kuyakini adalah rumahnya. Ia membawaku ke rumahnya? Apa ia masih berpikir bahwa aku hanya seorang jalang?. Dasar picik. Aku wanita terhormat yang tak bisa seenak jidatnya di bawa ke rumah seorang pria yang bukan muhrimku. Aku masih berkilat dengan pikiranku. Entah sejak kapan mobil Rando sudah berhenti dan ia berada di sampingku untuk membukakan pintu mobilnya.
“Ayo turun..” pintanya. Aku hanya diam.
Menegakkan kepalaku agar tampak angkuh, mengacuhkan Rando yang masih setia menungguku. Dia menghela nafas kasar.
“Sayang.. kamu sudah pulang nak! Dimana dia sayang?”.
Aku mendengar suara ramah dari seorang wanita. Refleks aku menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya yang kuyakini sebaya dengan bundaku berdiri di samping Rando. Dia menatapku lembut. Ku lihat ada semburat kebahagiaan yang muncul di wajahnya.
“Bunga.. ayo turun nak!” pintanya kepadaku.
Dengan segera ku lepas sealtbelt dan keluar dari mobil Rando. Tiba-tiba ia memelukku erat, entah mengapa hatiku merasa hangat.
“Ayo masuk sayang..” ia menuntunku masuk ke dalam rumah. Aku hanya bisa tersenyum canggung kepadanya. Apa ia mamanya Rando?
***
“Kamu mau minum apa nak?”
“Enggak usah tante..” tolakku halus.
“Green tea mah.. itu minuman kesukaannya, kalo udah minum mungkin ia bisa lebih sedikit tenang..” jawab Rando menyelaku.
Ia menatapku lekat, segera aku menunduk untuk mengalihkan pandanganku. Darimana ia tahu minuman kesukaanku? batinku. Wanita ramah yang sekarang kuketahui adalah mama Rando, meminta seorang pelayan membuatkan minuman untukku.
“Papa dimana ma?”
“Ada di ruang kerja.. sekalian kamu bilangin Bunga sudah datang..” tutur mama Rando.
Rando hanya mengangguk dan melenggang pergi. Darimana mama Rando mengetahui namaku?
“Nak, bagaimana kabarmu? “
“Alhamdulillah baik tante..” jawabku memberikan senyum kepada beliau.
“Akhirnya kamu ketemu sayang.. sudah dua tahun ini Rando kelimpungan mencari kamu nak..” ucap mama Rando lagi. Aku hanya diam, bingung menanggapi pernyataan beliau. Ya, dia mengejarku layaknya psikopat tante!.
Mama Rando sangat welcome kepadaku. Ia menceritakan semua hal lucu tentang Rando semasa kecilnya. Aku hanya bisa menampilkan senyuman palsu, untuk menghargai mama Rando yang sangat antusias bercerita. Maaf aku benar-benar tak tertarik.
Hingga selang beberapa menit kemudian, papa Rando dan Rando turun dari tangga. Beliau juga sangat ramah seperti istrinya. Keluarga ini benar-benar hangat menyambutku. Papa Rando ternyata teman ayahku sewaktu masih duduk di bangku SMA. Walaupun tidak sekelas menurut papa Rando beliau sering bertemu dengan ayahku ketika rapat OSIS. Beliaupun menceritakan bagaimana ayahku saat dulu. Aku tertawa dan sangat menikmati celotehan papa Rando. Bukan hanya senyuman palsu tetapi tawa tulus dari hatiku.
Ya apapun yang tidak bersangkutan dengan Rando adalah kenangan terindah, apalagi ini cerita tentang ayahku sendiri. Rando terus menatapku, aku tahu itu dari ekor mataku. Entah apa yang ia pikirkan, itu bukan urusanku. Tidak terasa sudah memasuki waktu dzuhur. Papa Rando mengajakku untuk salat berjamaah. Akhirnya kamipun berjamaah di ruang salat. Terasa damai dan sejuk.
***
“Nak.. sebentar lagi orang tua kamu akan datang..” ujar mama Rando setelah aku selesai membantu beliau menyiapkan makan siang.
Aku terkejut, ayah bunda kesini untuk apa?. Aku tersenyum dan hanya mengangguk.
Hingga selang beberapa menit kemudian seorang pelayan datang dan memberitahukan kedatangan orang tuaku. Aku senang bukan main, segera aku menyusul ke ruang tamu untuk menemui orang tuaku. Ku peluk bunda yang sudah duduk di sofa. Aku benar-benar rindu. Tak lupa akupun juga memeluk ayah yang berada di sebelah bunda. Aku juga melihat mbak Kinan bersama si kecil di single sofa. Semua keluargaku kesini untuk apa?.
Papa Rando tertawa melihat kelakuanku yang seperti anak kecil. Hingga mengalirlah pembicaraan ringan antara keluargaku dan keluarga Rando. Posisiku sekarang berada di tengah kedua orang tuaku. Papa Rando berada di ujung sofa yang berhadapan dengan kami, disusul dengan mama Rando dan terakhir Rando sendiri yang berada di pinggir sofa dekat dengan mbak Kinan.
“Dra.. aku mewakili anakku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada kamu sekeluarga, terutama Bunga..” ujar papa Rando serius.
“Kepada Bunga yang sudah banyak melewati kesulitan karena kelakuan putraku, Rando”.
Semua hening, menyimak dan mencerna kata perkata yang diucapkan oleh papa Rando.
“Apalagi baru kemarin, aku mengetahui bahwa anakku telah memerkosa Bunga ..”
“Apa??” tanya ayah kaget. Aku sontak menundukkan kepalaku dalam-dalam.
“Benar nak?” tanya ayah. Tiba-tiba air mataku turun tak terkendali. Aku menangis.
“Apa itu benar nak??” tanya ayahku sekali lagi.
“Jawab ayahmu nak..”pinta bundaku lembut. Menggeggam tanganku erat seakan memberi kekuatan untukku.
“Maafin Bunga nggak cerita ke ayah bunda.. Bunga nggak mau kalian menanggung malu karena Bunga..” isakku dalam pelukan bunda. Ayah menghela nafas berat, aku tahu beliau begitu kecewa kepadaku saat ini.
“Ini semua salah saya Om, Tante.. saya dengan bejatnya memerkosa Bunga dua tahun yang lalu..” ungkap Rando penuh penyesalan.
“Saya yang telah merusak Bunga Om.. maafkan saya!! selama ini saya sudah mencari Bunga kemana-mana tapi tetap tidak ada hasil”
“Om dan Tante juga sepakat menyembunyikan Bunga dari saya, padahal niat saya tulus ingin menebus kesalahan saya dengan menikahi Bunga, wanita yang sangat saya cintai!”
“Untung setelah saya menceritakan semua kepada papa saya, lewat koneksi yang dimiliki papa di setiap kota, akhirnya saya mendapatkan petunjuk bahwa Bunga selama ini berada di kota Blitar.. Akhirnya saya nekat kesana bersama teman saya Romi..”
“Saya sangat mencintai Bunga Om.. tolong beri saya kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya..” pinta Rando tulus.
Ayah hanya diam. Aku menangis keras, beban ini begitu berat.
“Kamu janji bisa menjaga Bunga?” kata ayah pada akhirnya.
“Janji Om..” ucap rando penuh keyakinan.
Akhirnya dengan segala pertimbangan, ayah memutuskan untuk menikahkanku dengan Rando.
Aku semakin menangis tersedu-sedu.
“Bunga nggak mau yah…” kataku jujur.
Tetapi ayah tetap pada pendiriannya. Menurut beliau apabila pernikahan tidak segera dilangsungakan dosa perzinahan yang telah dilakukan akan semakin banyak, dan ini hanya jalan satu-satunya untukku. Duniaku seakan runtuh dalam sekejap.
***
Dua minggu kemudian, ijab qabul telah diucapkan. Dan aku sah menjadi istri dari seorang Rando, lelaki yang begitu aku benci. Lelaki yang telah kusebut sebagai iblis. Lelaki yang tak pernah kuharapkan untuk menjadi imamku. Kata bunda, aku harus ikhlas. Semua kajadian ini adalah takdir Allah dan surgaku sekarang ada pada suamiku yakni Rando. Allah lebih kuatkanlah hamba untuk menjalani keehidupan setelah ini.
END