Sudah genap sebulan, sejak ia pindak ke kelas ini aku masih belum dapat mengenalnya dengan baik. Tidak seperti temanku kebanyakan, ia cenderung lebih pendiam dari yang lain. Tatapannya begitu tajam setiap kali ia memasuki kelas, membuat aku dan temanku yang lain agak ragu untuk mengajaknya ikut bermain.
Sebagai ketua kelas, aku tak bisa diam saja melihat salah satu anggota di kelas ini seakan terasingkan di wilayahnya sendiri. 'Bukankah itu sangat menyakitkan saat kamu hanya bisa mematung di tengah kebahagiaan teman-temanmu?' aku melangkah mendekati dirinya yang sedang mematung di sudut belakang kelas, kebetulan tidak ada guru yang masuk ke kelas untuk mengajar.
"Hai!" sapa ku yang masih sedikit takut. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun untuk menjawab sapaan ku dan memalingkan wajahnya. Tapi itu tidak membuatku menyerah untuk tetap berkomunikasi dengannya. Setidaknya ada satu fakta yang harus ku tau tentangnya.
"Boleh gak aku kenalan?" tanyaku yang masih memancingnya, tapi yang ku dapat masih sama, dia masih membisu.
"Ne...ssa," eja ku sambil membaca nama yang tertera di sampul buku tulisnya. "Pergi!" ucapnya dingin. Aku terdiam dengan penuh tanda tanya, 'bagaimana bisa ia se apatis ini?'.
Aku menyerah dan kembali ke tempat semula. Duduk sambil berfikir tenang untuk mencari cara lain yang bisa membuat ia luluh dan bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. "Al," sahut felly teman sebangku ku, ia mendekatkan wajahnya ke telingaku dan membisikkan kepadaku tentang ide cemerlangnya.
****
Bel terakhir telah berdering, semua siswa serempak keluar dari kelas masing-masing, kecuali aku dan Felly yang masih sibuk menata rencana sebaik mungkin.
Aku dan Felly berjalan mendekat ke sudut kelas tepat di tempat Nessa duduk. Mencari sesuatu yang mungkin saja tertinggal disana, setidaknya itu dapat membantu ku mengetahui sedikit saja tentang kepribadian nya yang sangat tertutup.
"kamu nemuin sesuatu, Fell?" tanya ku yang mulai berada di ambang keputus asaan karena belum juga menemukan apapun disekitar mejanya. "Huh, aku juga gak nemuin apapun, selain tertutup dia juga bukan orang yang ceroboh" Keluh Felly yang sama putus adanya.
"Yaudah yuk, kita pulang aja Fel mungkin lain waktu kita bisa luangin waktu lagi buat cari tau tentang ini" Ajak ku sambil berjalan perlahan kembali ke tempat ku duduk untuk mengambil, meninggalkan Felly yang masih terpaku dengan ukiran-ukiran kecil yang terdapat di salah satu sisi meja Nessa.
"Kenapa Fel, ada yang aneh disana?" tanyaku sedikit penasaran. "Aah, enggak..enggak, ayo kita pulang aja" Jawab felly agak terbata. Bruuk... "Aduh" rintih Felly yang tak sengaja jatuh sehingga tak sengaja menjatuhkan meja Nesa. "Fel, hati-hati dong" Ucapku sambil membantunya berdiri.
"Makasih, eh ra liat deh, itu dompet Nesa?" Kata Felly.
Aku memungut dompet tersebut yang terlanjur Jatuh di atas lantai. Dompet hitam bergambar tengkorak dengan kartu pelajar yang tertera nama Nesa didalamnya, tak salah lagi satu- satunya pemilik dompet tersebut adalah Nesa si misterius itu.
"Ada alamatnya nih, sekalian balikin yuk" Ajak ku. "Hmm, kok sore-sore gini feeling aku malah gak enak ya ra, yakin nih kita anterin hari ini?" Tanya Felly sedikit ragu. "Ini kesempatan bagus fel, siapa tau kalo kita anterin dompet ini ke rumahnya, kita bisa aja ketemu sama orang tua Nesa, terus bisa tanya-tanya sedikit kenapa Nesa bisa se-tertutup ini, dari situ kan kita bisa tau gimana tipe temen yang dia mau" Jelas ku yang masih sangat ingin mengantarkan dompet itu ke rumah Nesa. "Iya sih kamu bener ra, sebagai temen sekelasnya aku juga gak tega kalo akrab sama semua temen dikelas kecuali dia, aku maunya kita semua bisa akrab satu sama lain dan jadi keluarga yang selalu ada di kelas,bisa saling curhat, ketawa bareng, main bareng, kompaklah pokoknya, impian aku banget itu" Curhat fely yang seperti nya terbawa suasana.
"Uluulu sweet banget tiba-tiba, yaudah yuk!!" Seru ku sambil berjalan keluar dari kelas bersama Felly.
*******
Di jalan...
Aku dan Felly turun dari angkutan umum yang membawa kami ke alamat yang tertera di kartu pelajar milik Nesa.
Tempat dimana semuanya terlihat sangat asing bagiku, aku belum pernah pergi ke tempat ini sebelumnya. Meski jaraknya yang terbilang tidak terlalu jauh dari sekolah, tapi tempat ini benar-benar terlihat baru bagiku.
Aku dan Felly terus berjalan menyusuri komplek ini, mencari rumah dengan nomor 88 milik Nesa. ‘angka yang cantik’ gumamku dalam hati. Melihat ke kanan dan ke kiri, dari yang ku amati semua warna rumah yang ada di sekitar sini terlihat serempak berwarna hitam,ditambah dengan satu pohon di halaman depan masing-masing rumah, tapi anehnya semua pohon itu terlihat kering seolah tidak ada yang merawatnya.
Lingkungan ini juga terlihat begitu sepi tak berpenghuni. Hanya ada hembusan angin yang sedari tadi menemaniku dan juga Felly. Bahkan suara daun kering yang sudah berjatuhan ke tanah pun dapat terdengar saat berterbangan terbawa bersama hembusan angin itu. Tempat ini begitu tenang dan sunyi.
“shuut ra, kamu sadar gak sih kalo aku perhatikan semua pintu depan rumah di sekitar ini ada sticker tengkorak yang sama persis kayak di dompet Nesa, aneh gak sih?. Apa iya mereka belinya janjian atau ketua rt nya sengaja custom-in biar serempak gitu anggotanya?” bisik Felly.
“haha ya kali” jawabku yang sedikit terkekeh dengan pertanyaan aneh milik Felly. Aku kembali memandang sekitar ku dan memerhatikan apa yang baru saja Felly ucapkan untuk mengecek kembali kebenarannya. Namun yang ku dapati, ucapan Felly sepenuhnya benar dan bukan sekedar gurau nya saja. ‘ada yang aneh,kenapa ya?’ gumamku lagi.
Kaki ku dan Felly berhenti bersama di depan rumah yang tepat dengan nomor 88 sesuai dengan apa yang sedari tadi kami cari. Dengan sedikit rasa takut, aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah milik Nesa. Tanpa harus menunggu lama, seseorang dari balik pintu itu membukakan pintunya. Meski hanya sebesar 45 derajat saja.
Terlihat seperti masih sebaya dengan ku dan Felly, tapi entah mengapa penampilannnya begitu berbeda dengan apa yang biasanya terlihat di ruang kelas. “Nes...dompet kamu tertinggal” ucap ku sambil memberikannya ke perempuan yang ku yakini sebagai Nesa itu. Tanpa mengucpkan apapun ia mengambil dompet tersebut dari tanganku dengan cepat.
Sekilas, aku melihat kuku-kuku panjang berwarna hitam dari tangan perempuan itu. Sontak aku terkejut, aku kembali memerhatikan wajahnya yang sedikit tirus dan bibirnya yang super hitam. ‘jika ini Nesa, mana mungkin wajahnya seperti itu. Yang ku kenal selama ini Nesa adalah gadis berwajah imut dengan bibir tipis nya yang berwarna merah muda dan kuku-kuku di kedua tangannya yang selalu terlihat pendek,bersih dan terawat. Dia adalah gadis cantik yang hanya saja terlalu tertup dan terlihat misterius dihadapan semua orang’ gumamku sambil membandingkan.
Meski kini pipinya yang chubby seperti tenggelam dalam garis tirus yang ada di wajahnya. Tapi aku sangat ingat kalau wajah ini benar-benar Nessa si misterius itu. “Ne..s, aku boleh tanya” ucapku memberanikan diri untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat ini.
“sebaiknya kalian pulang” jawabnya ketus. Langit terlihat semakin gelap, sebentar lagi matahari akan tenggelam dan menyerahkan tugasnya kepada sang rembulan, mungkin sebaiknya aku menurutinya tapi hati ini seakan menolak dan ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.
Dari balik badanku, Felly mengenggam tanganku erat seperti tau bahwa aku tak akan menyerah untuk mendapatkan informasinya langsung dari Nesa. “ra, ayo mendingan kita pulang, aku rasa ucapan Nesa benar-benar serius kali ini,aku mohon” bisik Felly pelan dengan wajahnya yang terlihat ketakutan.
Aku menurutinya dan segera pamit dari rumah Nesa. Felly berjalan dengan langkah yang sangat tergesah. “ Taraaa.. Dharmaarsya, aku serius kita harus beneran sampai di jalan besar tadi dan segera meninggalkan komplek ini sebelum malam, aku beneran takut, feeling aku dah gak enak dari tadi” ucap Felly sambil menarik tanganku untuk menyamakan langkahku dengannya.
“aaaargh...” jeritan yang nyaring terdengar jelas dari beberapa rumah yang sudah berada jauh dibelakang aku dan Felly. Aku merinding mendengarnya dan segera lari bersama Felly, untungnya rumah Nesa tidak berada terlalu dalam di komplek ini sehingga aku dan Felly dengan cepat dapat menemukan jalan besar dan segera menaiki angkutan umum yang ada disana.
“huh, untung kita gak terlambat” ucap Felly lega setelah duduk di dalam angkutan umum. Tak menunggu waktu lama angkutan umum yang kami naiki menancapkan gasnya dan pergi meninggalkan komplek aneh itu. Dari balik kaca angkutan itu aku melihat seseorang dari kejauhan yang terlihat seperti monster dengan kuku hitam panjangnya dan cairan segar berwarna merah yang memenuhi sekeliling mulutnya.
‘apa mungkin setelah malam tiba semua penghuni tempat itu....’ pikiranku mulai terbang, membayangkan apa yang sebenarnya terjadi setelah semua kejadian itu terangkai di memori ku.