Empat orang remaja telah menelusuri jalan setapak menuju rumah tua dekat laut. Suara deburan ombak terdengar sayup-sayup. Kalia, Aksa, Mirza, dan Gavin sedang melihat peta menuju tempat entah itu apa. Yang ditemukan Kalia di dalam botol.
" Apakah benar ini rumah yang disebutkan di dalam peta?" Tanya kalia pada temanya.
" Mungkin iya karena tidak ada rumah lain selain ini dan coba lihat ini sudah jalan buntu" ucap Gavin yang merupakan salah satu teman yang menurut mereka paling pintar walaupun sedikit culun.
" Kalau begitu ayo kita coba masuk" ucap Aksa yang segera melangkah menuju rumah tersebut, kemudian mencoba mengetuk pintunya. Namun tidak ada sahutan sama sekali, akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba membuka pintu tersebut.
" Pintunya tidak dikunci, ayo masuk!" Ucap kalia.
Mereka masuk ke dalam rumah, terlihat hanya ada satu tempat tidur, satu meja yang di atasnya ada setumpuk buku, dan satu almari yang tidak terlalu besar.
" Apakah hanya ada satu ruangan ini? ohh bagaimana kita memecahkan peta ini kalau di sini tidak ada petunjuk apapun" keluh kalia.
" Coba buka almari itu mungkin ada petunjuknya" ucap Mirza. Lalu mereka mendekati almari itu dan mendapatkan satu botol berisi kertas. Mereka membuka botol itu dan membuka kertas itu ternyata ada tulisannya.
" WAKTU MALAM, MATAHARI BERSEMBUNYI DI BALIK BULAN" baca Aksa dengan lantang.
" Hahh maksutnya bagaimana?? Apa kita harus menggu malam hari gitu" tanya Kania.
Sedangkan yang lainnya tengah berfikir sambil melihat sekelilingnya, namun tidak ada yang menarik dari tempat ini.
" Coba kalian geser almari itu, aku mau lihat ada apa di bawah sana" ucap Gavin.
" Jangan bilang ada ruangan disitu?" Tebak Mirza.
" Mungkin" jawab Gavin. Mereka berusaha menggeser almari itu bersama-sama. Akhirnya mereka berhasil melakukannya, terlihat ada pintu kecil menempel di lantai yang berwarna kuning.
" Yaampun ada pintu" girang Kania.
" Berarti yang dimaksud matahari itu pintu ini karena berwarna kuning, bulannya almari karena menutupi pintu ini, dan waktu malam berarti sesuatu yang gelap. Di bawah almari ini memang gelap, terlihat dari bentuk almarinya. " ucap Mirza takjub.
" Kalau begitu, ayo turun" ajak Aksa.
" Tunggu! Kalian sudah membawa peralatan seperti petunjuk peta itu kan?" Tanya Gavin pada temannya.
" Iya sudah, hanya tali, batu, senter, dan lilin. Itu saja kan?" Tanya Kania.
" Iya hanya itu" jawab Gavin.
" Mmm a..aku ti..tidak bawa apa-apa" ucap Mirza gugup.
" Sama aku juga" ucap Aksa.
" Hahh kalian ini, Nant kalaui kita membutuhkannya bagaiman?" Kania tidak habis pikir dengan pemikiran temannya ini.
" Aku pikir itu tidak penting jadi aku tidak membawa itu semua" jawab Aksa diangguki Mirza.
"Hufhh terus bagaimana ini?" Tanya Kania tidak bersemangat.
" Soal itu nanti kita pikirkan, sekarang ayo cepat masuk" ajak Gavin. Mereka satu persatu memasuki ruangan itu melalui tangga yang menjulang kebawah.
" Sepertinya tangga ini terbuat dari batu, siapa orang yang begitu pintar membuat tangga dari batu agar tidak cepat rusak" guman Gavin pelan.
Semakin menuruni tangga semakin menyempit pula cahaya yang masuk sehingga menganggu penglihatan mereka. Namun mereka tetap berusaha untuk menuruni anak tangga dengan hati-hati, akhirnya setelah beberapa menit mereka sampai di dasar tangga itu.
" Akhirnya samapi juga " ucap Kania.
" Apakah itu lorong?" Tunjuk Aksa.
" Sepertinya iya, terlihat sangat gelap, kita kali ini harus menggunakan senter untuk menerangi jalan" ucap Mirza yang melihat ke arah lorong itu.
" Tapi kita hanya punya dua senter bagaimana bisa kita melewati bersama?" Tanya Kania tidak yakin akan hal itu.
" satu orang di depan membawa senter dan yang lain mengikuti dari belakang, jika ada sesuatu yang membahayakan maka harus memberi tahu yang lain. Hitung-hitung untuk menghemat penerangan" jelas mirza
" Hmm tapi nanti kalau ada yang tertinggal bagaimana? Kalaupun kita berpegangan tangan kemungkinan besar bisa terlepas." Bingung Aksa.
" Kita punya tali kan? Gunakan saja itu. Jadi kalau ada yang tertinggal kita bisa tahu" saran Gavin.
" Bukan ide yang buruk, baiklah " ucap Kania lalu mengeluarkan tali dan mengikatnya pada salah satu tangannya begitupun yang lain.
Perlahan mereka memasuki terowongan yang gelap itu dengan hati-hati. Sesekali pengendali jalan memberitahukan kalau mereka harus berhati-hati.
Entah sudah berapa lama mereka berjalan menyusuri lorong itu, sesekali mereka berhenti untuk istirahat lalu melanjutkan perjalanan kembali. Persediaan minuman dan makanan terus menipis, mereka tidak yakain akan bisa bertahan di dalam terowongan ini yang seperti tidak ada ujungnya.
Semakin ke dalam ruangan semakin menyempit meharuskan mereka untuk merangkak agar bisa melewatinya. Tiba-tiba tali yang mereka ikat ditangan ada yang menarik, sontak mereka menoleh ke belakang.
" Ada apa? Siapa yang menarik ini?" Tanya Mirza yang memang berada paling depan.
" Aku yang menariknya, aku sudah tidak sanggup untuk melanjutkan ini. Hufhh aku tidak yakin kalau terowongan ini akan ada ujungnya, terbukti kita sudah berjam-jam bahkan seperti sudah seharian penuh tidak mendapatkan titik terangnya." Ternyata yang menarik talinya adalah Aksa yang berada paling belakang.
" Tapi kalau kita kembali berarti sia-sia kita perjanjian di sini. tidak, kita tidak boleh begini, kita. walaupun tidak kunjung mendapatkan titik terang, bukan berarti tidak ada jalan keluar." Ucap Kania meyakinkan Aksa.
" Hmm aku akan menunggu kalian di sini saja sampai kalian kembali" ucap Aksa lesu.
" Begini saja, ambil senter ini!" suruh Gavin yang memang berada di depan Aksa.
" Kenapa?" Tanya Aksa mengerutkan dahinya.
" Kalau kita dalam satu jam tidak kembali, kamu boleh kembali ke tempat semula. gunakan senter ini untuk menerangi jalan" jawab Gavin dengan tenang.
" Baiklah, kalian hati-hati" tutur Aksa sambil melepas tali di tangannya.
Kalia, Mirza, dan Gavin melanjutkan perjalanan. Sekitar satu jam mereka telah meniggalkan Aksa dan sudah dipastikan dia kembali ke tempat semula.
Mereka telah sampai di ujung lorong, namun anehnya tidak ada petunjuk apapun di sana hanya ada empat dinding yang berdiri membentuk ruangan. Perlahan mereka menelusuri tempat kecil itu, akhirnya mereka menemukan sebuah surat lagi di dalam botol yang bertuliskan **EMPAT TITIK MEMBENTUK PERSEGI**.
" Maksudnya apaan ini? Kita harus menemukan setiap titik satu persatu atau kita membuat titiknya sendiri?" Tanya kalia yang sedikit linglung. Ditengah kebingungan mereka tanpa sadar atap yang runcing perlahan turun siap untuk membunuh siapa saja yang berada di bawahnya.
" Astaga lihat ke atas! Jika kita tidak pergi dari sini kita akan mati." Ucap Mirza sambil menerangi atap yang semakin lama semakin turun.
" Kita harus bagaimana? Pintu, iya pintu. Kita kembali saja" saran kalia. Tanpa pikir panjang mereka segera lari mendekati pintu yang mereka lalui saat masuk.
Namun sialnya pintu tidak bisa di buka. Mereka panik, sedangan atap sudah semakin dekat.
" Hiks..kita akan tamat di sini hiks..hiks" tangis kalia pecah.
" Empat titik membentuk persegi" guman Gavin pelan sambil terus berpikir. Lalu perlahan Gavin melihat sekelilingnya dan entah kenapa dia langsung berteriak.
" cari setiap sudut di ruangan ini! setiap orang harus menempati sudut yang berbeda. CEPAT" teriak Gavin. Tanpa pikir panjang mereka langsung berlari, entah kemana kaki mereka melangkah yang mereka pikirkan hanya sudut di ruangan itu.
" Siall" teriak Gavin yang di dengar oleh temannya.
" Ada apa" tanya Mirza yang ikut berteriak setalah menemukan salah satu sudut di ruangan itu.
" Kita kekurangan satu orang untuk membuka jalan keluar ini Akhhh" Gavin mengacak rambutnya kesal.
" Apakah kalian merindukanku?" Tiba-tiba sebuah suara menggema, mereka serempak melihat ke asal suara tersebut.
" AKSA" teriak mereka girang. Sedangkan Aksa bingung melihat kepanikan temannya.
" Cepat cari sudut ruangan yang belum ditempati agar kita tidak mati di sini" ucap Mirza. Aksa mengerti, lalu langsung mencari sudut ruangan yang belum di tempati.Alhasil perlahan lubang terbuka lebar ditengah ruangan itu. Mereka ragu untuk memasukinya sedangkan mereka harus sedikit membungkuk karena atap semakin mendekati mereka.
Entah mengapa penerangan mereka tiba-tiba mati. Satun lilin dinyalakan untuk menerangi kegelapan. Mereka harus berhemat lilin karena hanya kalia dan Gavin yang membawa itu.
Terlihat Gavin sedang mencari sesuatu di dalam tas nya, ternyata dia mengambil batu lalu dilempar ke dalam lubang itu. Terdengar batu menghantam sesuatu lalu menggelinding menandakan itu sebuah tempat yang miring atau sebuah perosotan. Mereka lega akan hal itu.
Karena jarak antara atap dan lantai hanya tiga jengkal tangan, mengharuskan mereka merangkak untuk mendekati lubang itu. Satu persatu mereka memasuki lubang itu. setitik cahaya terlihat dengan jelas, mereka dengan semangat menyambutnya.
Semua menikmati perjalanan itu, karena ternyata itu sebuah perosotan yang mungkin akan digemari anak-anak. Begitupun mereka saat ini.
Perosotan itu berakhir di pinggir laut yang terlihat indah, mereka berpikir ini sudah tujuan terakhir peta itu. Terlihat ada perahu yang tidak terlalu besar. Mereka menaiki perahu tersebut. Tidak ada yang aneh hanya perahu biasa.
Mereka memasuki ruang pengendali perahu tersebut dan menemukan sebuah kotak yang berbentuk seperti tempat penyimpanan harta karun bajak laut.
" apakah di sini ada barang yang berharga? tapi tidak mungkin di perahu yang seperti ini ada bend yang berharga." Ucap Aksa lalu membuka peti itu.
" Surat lagi? Ohh.. aku pikir ini sudah berakhir" ucap kalia.
" Coba buka dan baca" ucap Mirza.
" Baiklah, aku baca. PIKIRAN DAPAT MENGENDALIKAN SEGALANYA " baca Aksa dengan lantang.
" Sudahlah ayo lupakan itu dan nikmati pemandangan laut yang indah." Ucap kalia. Mereka setuju akan hal itu berbeda denagn Gavin yang masih curiga akan pesan itu.
Saat mereka ingin turun dari perahu itu, tiba-tiba angin berhembus sangat kuat. Mereka langsung berpegangan pada pinggir perahu tersebut, barang-barang yang ada di perahu berterbangan dan salah satu mengenai tangan kalia yang berhasil merobek daging di lengan itu alhasil darah mengalir dengan deras.
Semua terkejut, namun tidak bisa berbuat apapun. Karena jika mereka melepas pegangan, mereka akan terhempas oleh angindan terbang entah kemana. kaliya sebisa mungkin menahan perih itu. Gavin sedang memikirkan cara untuk menghentikan semua ini.
" Bagaimana cara untuk keluar dari ini" teriak Aksa frustasi. Mirza tidak melepas pandangannya dari kalia karena khawatir dengannya. Gavin mencoba untuk tenang dan memfokuskan pikirannya.
" BERHENTI" teriak Gavin, tiba-tiba angin berangsur-angsur menghilang.
" Tunjukkan jalan" ucapnya lagi. Perlahan perahu itu bergerak perlahan. Mereka akhirnya bisa bernafas lega. Kalia segera mengobati tangannya yang terluka.
Perahu perlahan menelusuri laut, tidak lama perahu berhenti. Mereka semua terkejut, karena mereka berhenti di pinggir laut dekat rumah tua yang menjadi awal perjalanan mereka. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mereka hanya memutari rumah itu.
" Akhh hanya membuang waktu" teriak Aksa kesal.
Mereka segera kembali untuk istirahat dan mengisi perut mereka karena sudah hampir seharian tidak makan atau minum. Lalu petanya?? Entah mengapa mereka lupa dengan keberadaan peta itu.
*** SELESAI***