Aku bersenandung kecil sembari menata rambutku. Dengan perlahan ku sematkan bando pita pemberian pangeran terhebatku.
Dengan langkah cepat aku keluar dari ruangan nyamanku. Menuruni tangga.
Bunda telah berduduk cantik di sofa ruang tengah. Kak Rey juga sedang duduk dengan fokus mata pada benda pipih di tangannya. Aku menghampiri mereka. Duduk di samping Bunda yang tengah tersenyum padaku.
"Kita berangkat sekarang?" Tanyaku masih dengan senyum mengembang.
Ayah mengajak kami makan malam bersama hari ini. Tak seperti biasanya ia yang selalu seolah menjadi seseorang yang paling sibuk di dunia. Sering pulang pergi ke luar negri dan luar kota. Hanya untuk sekedar urusan pekerjaannya. Kami bahkan keluarganya saja harus meminta atau bahkan memohon izin agar dapat meluangkan waktu bersama ayah. Begitu mahal waktu yang kita punya meski hanya sekedar berkumpul bersama.
Kami semua berkumpul, ada aku, kakak, dan juga bunda. Tinggal ayah. Katanya ia masih di jalan. Ku harap Tuhan selalu menjaganya di dalam keadaaan apapun dan dimanapun.
"Bunda ayah kenapa lama sekali? Ini sudah jam berapa?" Aku bertanya sedikit panik serta kesal. Takut bila hari ini kamu terpaksa harus makan malam tanpanya lagi seperti waktu lalu.
Lalu, kemudian ada sebuah tangan menutup mataku dari belakang. Aku sedikut terkejut dan kemudian meraba halus punggung tangan itu. Hingga aku tahu! Ini adalah tangan pahlawanku!
"Ayah!!" Seruku yang mampu menebak dengan sangat apik.
Ayah melepaskan tangannya dari mataku. Seulas senyum yang ku rindukan kembali ku lihat. Ku lirik sekilas kak Rey yang masih asik dengan gadgetnya. Dan bunda yang telah berdiri di samping ayah dan memeluknya. Menyematkan kecupan kecil di pipinya sebagai tanda kerinduan yang begitu besar.
Kami semua kembali duduk di kursi masing-masing. Makan malam yang di hiasi canda tawa yang begitu indah. Hal terlangka yang pernah aku dapatkan adalah merasakan kami semua berkumpul bersama seperti ini. Teringat, kami yang ingin berkumpul bersama walau untuk sekedar sarapan pagi, atau malam saja sulit. Dan hanya rasa syukur yang dapat aku panjatkan pada Tuhan yang masih memberi kesempatan pada kami.
"Yah, besok adalah ulang tahunnya Aleta, ayah akan datang kan? Ku harap ayah datang dan tidak mengulang kesalahan yang sama. Aku tidak ingin Aleta menjadi sedih karena hal ini. Aku harap ayah tidak kembali berjanji." Kak Rey bertanya kepada ayah, seketika membuat suasana menjadi tegang.
"Kami hanya ingin waktu ayah!" Lanjut kak Rey lagi.
Ayah mengulas senyum menatap kak Rey, Sikapnya sudah biasa bagi ayah, aku dan juga bunda. Walau sebenarnya ia sangat menyangi ayah. Sama sepertiku dan juga bunda.
"Tentu ayah akan datang! tapi tidak on time yaa?" Ada raut penyesalan di wajahnya. Menyadari itu, aku segera tersenyum kepada ayah dan mengisyaratkan bahwa _ku tau ayah sibuk, tidak papa yah_ kami kembali melanjutkan makan malam itu.
"Ayah, apa hari ini ayah akan langsung pergi? Atau sekali ini saja menginaplah di rumah?" Bunda kembali berucap di sela acara makan malam kami. Ia memang tak banyak bicara malam ini. Dalam kalimatnya aku dan kak Rey bagitu paham bunda membutuhkan harapan yang begitu besar. Tanpa aku sadari aku dan kak Rey menghentikan makan kami. Menatap ayah dan bunda bergantian. Seolah kami sedang menunggu sebuah keputusan dari jawaban ayah.
"Ouhh ayah sangat lelah sekali! Mungkin ide yang bagus, Bila ayah malam ini tidur di sebuah kasur empuk dan merasakan hangatnya istana sederhana bersamaan keluarga kecilku." Mendengar jawaban ayah, bunda langsung berdiri. Memeluk pundak ayah dari belakang. Sungguh keharmonisan yang akan selalu aku harapakan dan rindukan.
Setelah makan malam itu selesai, Kami tidak langsung pulang kerumah. Ayah mengajak kami semua mampir ke sebuah mall. Kami berbelanja baju dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Bunda terus saja menempel dengan ayah. Sungguh, aku merasa terabaikan disini.
Akhir dari perjalanan kami malam ini adalah toko musik yang biasa kami datangi. Semua keluarga ku sangat menyukai musik termasuk kak Rey. Aku dan kak Rey hanya selisih 1 tahun. Dia berumur 15 dan aku 14 tahun.
Ehh besok 14 maksudnya.
Ayah menggandeng tanganku menyelinap di balik-balik lorong yang begitu banyak. Seolah labirin. Aku melihat berbagai CD yang menarik. Hingga langkah kami terhenti saat ayah dengan yakin melepaskan genggamannya dan mengambil sebuah CD lagu-lagu lama yang ia suka i.
Ayah menatapku dan tersenyum. Ia menunduk dan berjongkok di hadapan ku menyamakan tinggi tubuh kami. Membiarkan mata kami saling bertatap. Sesuatu yang tak aku sadari sedari tadi. Tak seperti biasanya. Tatapnnya begitu dalam dan sendu. Namun senyum masih saja menghiasi bibirnya. Padahal aku tahu, kami semua sedang berbahagia di sini.
Aku membalas tatapannya juga senyumnya.
"Ini," Ucapnya memberikan CD itu padaku. Aku menerimanya dengan anggukan kepala.
"Tapi aku tidak suka lagu-lagu ini yah, aku suka lagu pop yang sekarang!" Balasku memberikan kembali CD itu ke tangannya.
"Dengarkan ayah. Jika kamu rindu ayah, putar CD ini supaya rindunya bisa sampai dan cepat pergi." Aku hanya memandangnya. Kemudian mengangguk kembali. Sesuatu terjadi padaku. Firasat aneh entah apa itu tiba-tiba saja menyelinap di dalam hatiku.
"Aku selalu merindukan ayah! Tapi ayah kan akan pulang." Ucapku polos. Ayah hanya tersenyum kemudian mencium pipiku serta keningku lembut.
"Aku sudah besar ayah." Gerutu ku.
Ayah kembali bangkit dan menggandeng tanganku keluar dari lorong labirin itu. Membiarkan langkah kami menggema di lantai.
Malam ini kebahagiaan seolah tercipta hanya untukku dan keluargaku. Makan, berbelanja, dan membeli berbagai aksesoris musik serta CD.
Aku menggandeng erat tangan ayah. Ada sesuatu rasa takut yang menyelinap di benakku. Bahkan sempat aku merasakan sesak di dadaku. Tapi itu semua tak akan mampu menghilangkan rasa bahagiaku malam ini. Entah apa yang membuatku takut. Aku tetap merasakan merasakan bulir-bulir kebahagiaan yang perlahan akan menimbulkan sebuah bekas rindu yang mendalam yang kelak dan akan sulit ku tembus.
Hari sudah malam. Kami segera pulang. Bunda dan kak Rey sudah menunggu kami sambil memakan cemilan di sebuah meja depan toko.
Kami pun segara pulang ke rumah. Tak ada canda tawa tambahan malam ini. Karena begitu lelah aku dan kak Ray langsung memutuskan untuk beranjak ke kamar masing-masing untuk tidur.
Ke esokan harinya.
Karena terlalu lelah dan pulang larut malam, aku bangun kesiangan. Pukul 08.00 pagi aku terganggu dengan aroma menyengat yang begitu lezat dari arah dapur.
Aku segera berlari menuruni anak tangga dengan kakiku yang telanjang. Ku tapakkan kakiku di dapur. Melihat malaikat cantik yang sedang terfokus membuat sesuatu.
"Bunda buat apa?" Tanyaku polos.
"Astaga! Aleta, kau mengangetkan bunda!" Serunya dengan nada terkejut tanpa menjawab pertanyaanku.
"Kau ini sangat buruk sekali! Sudah bangun telat, Sana cuci mukamu dulu!" Bunda mengomeliku seperti biasanya. Sembari mendorong-dorong kecil tubuhku.
"Ayah mana bunda?" Tanya ku lagi tak menanggapi perintah bunda tadi.
"Ayahmu kan sudah berangkat pagi-pagi tadi. Kenapa Al?" ucap bunda balik bertanya padaku.
"Ayah memang sibuk ya bun? Aku seneng kok meskipun ayah mungkin gak akan ikut ngerayain ulang tahunnya Aleta. Tapi ayah tadi ke kamar Aleta. Ayah nyium pipi Aleta dan bisikin selamat ulang tahun buat Aleta. Aleta bangun waktu itu. Cuman,, Aleta ngantuk jadi tidur lagi deh." Aku berkata panjang lebar.
Bunda menatapku dan Tersenyum tulus padaku. kemudian tangan lembutnya menyentuhkan pipiku.
"Bukankah ayahmu itu sangat mencintaimu?" Ucapnya sembari membelai lembut rambutku yang masih kusut.
"Sudah. Kau mandi sana!" Perintahnya lagi dan langsung kembali terfokus pada sebuah kue yang sedang di hiasnya.
"Tadi di suruh cuci muka, sekarang di suruh mandi..." Gerutuku sambil menaiki tangga dengan menghentak-hentakkan kakiku di lantai.
Aku langsung menyambar handuk dan segera mandi dengan secepat mungkin. Kue buatan bunda benar-benar membuat perutku demo pagi-pagi. Dan aku ingin langsung melahapnya.
Aku menyisir rambutku dengan bersenandung. Kemudian aku mengambil bando kecil di atas meja. Bando yang kemaren aku baru beli bersama ayah dan bunda. Dan kak Rey juga hehe. Oohh pandanganku langsung tertangkap pada sebuah kotak kado di atas meja. Untukku?
"Mungkin dari ayah. Apa aku buka sekarang? Tapi akan lebih baik aku membukanya saat ayah pulang. Siapa tahu keajaiban Tuhan, ayah pulang dan ikut merayakan hari ulang Tahunku." Aku bermonolog sendiri sendiri.
Aku kembali meletakkan kotak itu di meja. Karena terlalu bersemangat untuk menyelesaikan dadanku dan untuk segera turun kebawah, aku tidak sengaja menyenggol kotak itu dan kotak itupun terjatuh. Sehingga mau tidak mau aku jarus membuka dan melihat isi kotak itu.
Ada sebuah surat di dalamnya.
Rasa penasaran ku langsung tertuju pada surat itu. Bukan pada inti dari kado itu sendiri. Yaitu sebuah kalung indah yang tersemat di dalam wadah transparan berbentuk segitiga. Sungguh cantik nan mempesona.
✿ Dear Princess
Maafkan ayah yang sering sekali membuat mu kecewa. Ayah hanya ingin selalu melihatmu tersenyum. Ayah juga ingin melihat puteri ayah menjadi seorang wanita yang paling kuat yang dapat menjadi pribadi dewasa dalam mengahadapi dan menerima setiap kenyataan hidup. Ayah berdoa, segala cita-cita mu terkabul dan sukses!
Happy Birthday Princess...
Love
Ayah ✿
Tak terasa aku menitikkan air mataku. Menatap nanar surat ucapan selamat ulang tahun di tangnku.
Tiba-tiba aku mendengar benda jatuh dan teriakan bunda dari bawah. Aku segera menjatuhkan kotak itu dan surat begitu saja di atas lantai. Segera berlari keluar menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
Aku telah melihat bunda yang terduduk lemas di atas lantai. Bahkan kue warna blue sky itupun hancur tak lagi berbentuk di atas lantai.
Aku segera menghampiri bunda dan bertanya.
"Bunda apa yang terjadi?" Kataku panik serta bingung yang bergabung menjadi satu.
"Ayahmu Al, ayahmu!" Isak bunda sembari menjawab pertanyaanku.
Kak Rey juga baru sampai dan menatap bingung aku juga bunda.
Deg!
Aku seketika merasakan sesuatu merasuk kedalam dadaku. Seperti nyeri yang entah dari mana dan mengapa aku tidak tahu.
"Apa.. apa yang terjadi? Ayah baik-baik saja kan bunda?" Tanyaku yang seolah meyakinkan diriku sendiri bahwa ayah benar-benar baik-baik saja.
"Ayahmu kecelakaan Al, kecelakaan tunggal." Terang bunda yang mampu membuatku sontak terdiam mambisu.
Rasa nyeri tiba-tiba saja aku rasakan di dadaku. Entah darimana akupun tidak tahu. Tubuhku rasanya begitu lemas. mata tak mampu lagi ku tahan.
Aku juga malihat kak Rey, yang biasanya angkuh dan cuek. Dia yang mendengar ucapan bunda langsung duduk lemas di lantai. Sembari memegangi dadanya yang mungkin terasa sesak.
Air mata tak mampu lagi di tahannya.
"Ayah," Gumamnya yang masih dapat ku dengar.
Kami bertinga duduk pada posisi yang sama. Kami sama-sama diam membisu membiarkan isakan tangis pecah memenuhi sudut ruangan rumah kami. Rumah yang selalu ayah sebut sebagai istana sederhana.
Sore itu jasad ayah dikebumikan. Tangisku tak dapat lagi ku kendalikan. Bahkan aku telah terlupa hari ini adalah hari bahagiaku. Air mata membanjiri seisi hatiku. Kesedihan amat terasa dalam benakku. Aku memegang dadaku yang kembali terasa sesak dan nyeri.
Terlebih melihat tubuh kaku yang terbaring tenang di atas keranda. Melihat beberapa orang membopong tubuh yang dulu sangat aku banggakan, dan aku kagumi.
Mataku beralih pada wanita kuat yang kini menjadi rapuh di sampingku. Membiarkan kerudungnya itu tidak lagi tertata. Namun wajah cantiknya tidak mengurang sedikitpun.
Wajah sembab itu masih terlihat sama beberapa saat yang lalu. Wajah pusatnya sungguh menunjukkan bahwa ia sedang terluka mendalam.
kak Rey yang masih setia memayungiku pun sesekali menghapus air matanya yang melewati di pipinya.
Setelah pemakaman ayah. Kami langsung pulang karena cuaca yang telah mendung.
Aku berdiri di sudut ruang dekat dengan jendela kaca besar di kamarku. Di bawah sana masih terdengar lalu lalang suara pihak-pihak yang ikut berbelasungkawa.
Tatapanku nanar sesaat melihat sebuah kado yang masih tergelak di lantai berwarna cream itu.
Ku ambil kotak itu beserta isi serta surat nya.
Menjatuhkan pantatku pada sebuah kasur empuk milikku.
"Apa hadiah ulang tahunku saat ini ayah? Apakah kepergian mu adalah jawabnnya?" Aku bermonolog pada diriku sendiri. Meletakkan benda segitiga dan menjauhkannya.
Aku kembali terisak saat membaca surat ucapan dan harapan ayah untuk ulang tahunku.
"Apa ini ya? CD, baju, makan malam harmonis, canda tawa, kado... Aku tak apa bila tidak mendapatkannya. Asal ayah tetap bersamaku, bunda, juga kak Rey di sini." Aku kembali bermonolog sendiri.
Aku bangkit dari dudukku dan membuka kota berisi CD-CD yang ayah berikan padaku semalam.
Ku dekati alat musik tradisional itu dan mutar isi CD itu. Mendengar alunan musik klasik itu menjadikanku rindu akan seseorang. Seseorang yang beberapa saat yang lalu benar-benar meninggalkan ku jauh.
Bukankah seorang ayah adalah pangeran untuk putrinya? Lalu apa jadinya sang princess tanpa pangeran di sampingnya?
_Ayah! aku berlari mengejar bayangan itu. Terus berlari. Berlari di sebuah padang rumput yang seolah tak bertepi.
Bayangan itu semakin menjauh. Namun kakiku terasa makin sakit. Aku tetap berlari. hingga kakiku rasanya tak mampu lagi menopang tubuhku. Aku terjatuh begitu saja. Aku menangis terisak seorang diri. Hingga sebuah tangan tampak dari pelupuk mataku. Aku menengadah. Melihat siapa pemilik tangan itu.
"Kamu haru kembali Aleta! bunda dan kak Rey sangat membutuhkan dirimu. Jadilah penganti ayah untuk mengobati lara hati kedua orang yang ayah dan dirimu sayangi."
Ucapnya yang kemudian pergi begitu saja seolah tanpa jejak sedikitpun.
Meninggalkan aku sendiri bersama tangisku. _
Aku terbangun. Waktu menunjukkan pukul 19.43 ku pandangi sekitar. Dan aku hanya bermimpi. Tiba-tiba tangisku kembali pecah. Aku teringat ayah dan pesannya dalam mimpiku.
Jika aku sedih lalu siapa yang akan menguatkan bunda dan kak Rey?
Sudah cukup. Terlalu banyak air mata hari ini. Dan aku harap semua akan menjadi lebih kuat dan menjadi baik.
Aku bangkit dan segera mengambil air wudhu. Menuntaskan panggilan atasku. mengadukan hancurnya hatiku pada nya. Membiarkan aku berserah diri hanya padanya. Mengadukan betapa sakitnya hatiku menerima kenyataan ini. Dan memohon kuatkanlah aku serta keluarga ku yang di tinggalkan.
Tiada yang pergi dengan kekal kecuali pergi pada-Nya.
karena Ia kita ada karena-Nya pun kita tiada.