Mundur tiga langkah dari tempatmu berada saat ini! Atau aku akan membuatmu tertidur dengan kepala terputus.
---
Malam itu, aku sedang berjalan bersama nona Muda. Aku diperintahkan untuk menjemput Nona Lisaa yang katanya sedang mabuk-mabukan dengan para Yakuza. Sudah kewajibanku untuk melayaninya, meskipun dia agak sedikit tidak normal.
Namaku adalah Kawaii Miku. Seorang gadis berusia 18 tahun. Sesuai namaku, aku adalah seorang gadis imut, cantik, dan pengertian ... mungkin. Yang pasti adalah, aku bekerja untuk Tuan Hanazaka—ayah dari Nona Lisaa. Beliau telah banyak membantu hidupku. Maka dari itu, aku pun berniat membalas budinya. Lagipula, ibu dan ayahku juga bekerja di sana. Jadi, sekalian saja.
"Nona Lisaa, ayo kita beristirahat dulu. Sa-saya tidak ingin melihat nona terluka nantinya," bujukku, mengajak nona muda agar mau duduk sejenak. Aku khawatir karena sedari tadi dia menyebut kata 'bunuh' berulang kali.
"Haa? Ha? Hahaha ... apa itu istirahat? Bunuh semua bunuh! Dia, dia, dia, semua akan kubunuh hahaha!" ungkapnya dengan gaya bicara orang mabuk.
"No-Nona? Hm ...." Aku memposisikan gadis sebayaku itu duduk bersandar di tembok gang kecil. "Tunggu di sini sebentar, sa-saya akan menelepon Tuan Hanazaka." Dengan sigap, aku mengeluarkan ponsel dengan case berwarna merah muda milikku dan menekan nomor Tuan Hanazaka.
"Ayolah, Tuan. Angkat teleponnya," gumamku panik. Namun, sayangnya, panggilanku gagal. Tak peduli berapa kali aku mencoba, tetap saja gagal. Sepertinya, ponsel Tuan Hanazaka tidak aktif. "Arghh ... bagaimana ini?!" tanyaku pada diri sendiri seraya mengacak-ngacak rambut.
Tap ... tap ... tap ...
Pada saat yang bersamaan, aku mendengar suara-suara dari balik kegelapan. Didengar dari suaranya, mungkin itu adalah suara langkah kaki yang menginjak genangan air. Beberapa saat yang lalu, Tokyo memang diguyur hujan.
Dari balik kegelapan, muncullah sekumpulan pria bertato dan mengenakan jaket hitam. Sontak, hal itu pun membuatku terkejut. "Si-siapa kalian?!" tanyaku gemetar ketakutan.
"Hei, gadis kecil! Serahkan Nona Lisaa itu kepada kami!" ucap salah seorang pria du barisan depan.
Aku menengok ke arah Lisaa dan kemudian kembali menatap mereka. "Apa maksud kalian? Sudah tentu, aku tak akan pernah menyerahkan Nona Lisaa kepada siapapun!" bantahku geram.
Setelah mendengar penolakan seriusku, mereka mereka terdiam sesaat. "Hmm ... tidak mau, ya. Baiklah kalau begitu, kami terpaksa menyakitimu hahaha .... Majulah kalian!" Pria itu memerintahkan sebagian anak buahnha untuk maju dan menangkapku. Namun, hal itu tak akan bisa membuatku beranjak dari sini. Nona Lisaa adalah putri sematawayang dari seorang pria yang telah berjasa kepadaku. Aku tak akan pernah mengkhiatinya.
Benar saja, mereka berhasil menangkapku dengan mudah. "Lepaskan aku!" Dengan segenap tenaga, aku berusaha melepaskan diri dari mereka. Namun ternyata, hal itu sia-sia saja. Badanku yang mungil ini tidak berdaya melawan mereka. "Haah ... hah ... hah ...." Aku menghela napas karena kelelahan.
"Hei, lupakan saja dia! Cepat bawa Lisaa dan kita akan segera pergi!" perintahnya lagi.
"Baik, Bos!" sahut kedua anak buah yang tadi sedang memegang tanganku.
Bruk!
Mereka melepaskanku begitu saja dan beralih kepada Nona Lisaa. "Hah ... hah ... hah ... a-aku ... ti-tidak ... a-kan ... menyerah ... begitu saja!" Aku kembali bangkit meski badanku masih terasa sangat sakit.
"Haaarrggghh!" Aku melesatkan sebuah tendangan ke arah punggung kedua pria tadi.
Bruk!
Alhasil, mereka pun jatuh tersungkur di tanah. "Hah, aku berhasil ...," ucapku lirih.
Di sisi lain, pria yang dipanggil bos tadu terlihat sangat kesal. "Gerghhh ...." Tiba-tiba, dia berjalan mendekatiku dan merangkul tubuhku dari belakang.
"Haaah?!" Tentu, hal itu membuatku kaget.
Aku merasakan tangannya bergerak-gerak di area perutku. Kemudian, aku juga merasakan mulut seseorang sedang berada dekat di telingaku. "Hei ... jangan menghalangi kami, atau aku akan melakukan hal-hal buruk kepadamu," bisiknya mengancamku.
Aku menolehkan kepalaku ke samping dan melirik ke belakang. "Apa maksudmu? Lepas—ARGHH ...." Aku berteriak kencang saat merasakan tangannya mulai menyisir bagian bawah dan atas tubuhku.
"Sudah kubilang bukan ... jangan pernah menghalangi kami. Atau aku akan melakukan hal buruk kepadamu ...," bisiknya sekali lagi dengan tangan yang mulai bermain kencang. Pipiku mulai memerah, tetapi bukan karena bertemu dengan orang yang kusukai. Namun ... dilecehkan.
Aku hanya bisa pasrah melihat kedua anak buah pria ini mulai mendekati Nona Lisaa yang berada dalam keadaan tidak sadar. Maafkan aku ibu, ayah, Tuan Hanazaka, aku tidak bisa melindungi Nona Lisaa.
"Kumohon, hen-tikan ...!" Aku memohon sekali lagi, berharap dia bisa sadar.
"Hei, tentu saja tidak. Lagipula, ternyata tubuhmu ini enak juga, ya. Baiklah, sudah sejauh ini, sayang kalau tidak dilanjutkan." Pria itu membuka resleting celananya. Perasaanku tidak enak.
"Aku mohon, jangan lakukan itu! Kumohon!" Aku memegang tangannya erat, masih berusaha mempertahankan harga diriku ini.
"Diamlah!" Pria itu semakin beringas, dia memainkan satu tangannya dengan sangat kuat.
"AAARGHH! HENTIKAN!" teriakku kencang.
Sriet!
Atensiku dan pria bertato ini teralihkan kepada suara pisau memotong sesuatu. "Ha?!" Betapa terkejutnya kami berdua, saat melihat Nona Lisaa tengah memotong-motong kaki kedua pria tadi.
"Nona Lisaa?" panggilku.
Sesaat setelah kupanggil namanya, gadis bermarga Hanazaka ini berdiri. Dia menatapku dan pria bod*h ini. "Mundur tiga langkah dari tempatmu berada saat ini! Atau aku akan membuatmu tertidur dengan kepala terputus," ancamnya dengan suara tegas.
"He? Siapa yang kau maksud? Aku?" Dia menatap Lisaa dengan tatapan merendahkan. "Bwahahaha ... hei, gadis kecil sepertimu tak akan bisa menbunuhku hahahaha ...," ujarnya meremehkan dengan tawa puas.
"Oh, ya? Benarkah? Kalau begitu, aku menantangmu bertarung satu lawan satu, bagaimana?" tawar Lisaa, mengajak pria itu untuk bertarung.
"Hm, baiklah." Laki-laki tersebut menutup celananya lagi dan melepaskanku.
"Haahh ... hahh ... hahh ...." Beruntung, dia masih belum melakukan hal-hal aneh yang berlebihan kepadaku. Ta-tapi tunggu dulu, Nona Lisaa. "Nona! Jangan—" Aku hendak memperingatkannya, akan tetapi, tiba-tiba dia menyahut. "Stttt ... tenang saja. Pria ini hanya pandai membual, sama sekali tidak bisa bertarung," ucap Lisaa memancing amarah besar pria bertato itu.
"Grrrrr ... aku akan membunuhmu sekarang juga!" Pria itu melesat maju menyerang Lisaa. Namun, Lisaa berhasil mengelak dengan sempurna. Entah bagaimana caranya dia bisa berada di belakang pria tersebut.
Jleb!
Dengan senyuman sinis, Lisaa menancapkan pisau tajam di punggung pria yang tadi melecehkanku. "ARGHHH!" teriaknya kesakitan.
Brakk!
Kali ini, Lisaa menendang pria itu hinga terjatuh. "Haarghh!" Gadis itu kemudian menginjak-nginjak tubuh laki-laki tak beretika tersebut berkali-kali. "Aarghh sakittt! Hen-tikan! Aku mohon hentikan!" Dia memohon kepada Lisaa seperti aku memohon kepadanya agar berhenti tadi.
Seketika, Lisaa pun menghentikan injakan kakinya. "Hah ... hah ... hah ... hah ... ampuni saya, Nona. Saya, tidak akan mengulangi ini lagi. Saya minta maaf!" Akhirnya, Lisaa berhasil membuat pria itu bertekuk lutut dan meminta maaf.
"Hm, baguslah, kalau kamu telah menyadari perbuatanmu." Lisaa tersenyum. "Tapi, aku tetap akan memenggal kepalamu hihi .... Hyaakkh!"
Jleb!
Lisaa menusuk bagian leher pria tadi dengan menggunakan pisau. "ARGHHH!" Teriakan kesakitan pun terdengar di telingaku dan Lisaa. "Hihi ... 'I'am a Queen!' Jika kamu ingin mengingat nama orang yang membuatmu meregang nyawa, maka catatlah nama ini di dalam ingatanmu. Queen, I'am a Queen haha! Sayonara, Baaaakaa!"
Jleb!
Lisaa memisahkan kepala pria itu hingga terputus dari tubuhnya.
-Tamat-