"Baiklah Anak-anak sebelum kita pulang, ibu ada sedikit pengumuman untuk rencana perpisahan sekolah kita."
"ASYIIIIIK.KAPAN BU, KAPAN?"
Seluruh murid kelas XII AK bersorak gembira mendengar pengumuman dari wali kelas mereka di depan.
"Insyaallah, perpisahan sekolah kita akan di adakan di Yogyakarta. Jadi ..."
"HOREEE, JADI DONG KITA LIBURAN DISANA?"
"TUNGGU SEBENTAR ANAK-ANAK, KEBERANGKATAN KITA BULAN DEPAN. TAPI, MEMBAYAR BIAYA TRANSPORTASI NYA KALAU BISA SECEPATNYA."
"INI, ADA SURAT EDARANNYA. KALIAN SERAHKAN KEPADA ORANGTUA MASING-MASING YA."
"PAK YUSBAR, SILAHKAN BAGIKAN SURAT EDARANNYA?"
"BAIK, BU SRI."
Seorang pria bermuka Arab campur Indonesia itu berjalan menghampiri kami satu per satu, beliau adalah guru olahraga di sekolah ini. Walaupun beliau sudah tua tapi paras nya masih terlihat gagah apalagi dengan wajah seperti aktor Bollywood siapa yang tidak terkesima dengan nya.
"SEMUANYA SUDAH, JIKA SUDAH KEBAGIAN SEMUANYA. IBU HANYA MENGINGATKAN PALING LAMBAT PEMBAYARAN TRANSPORTASINYA SATU MINGGU SEBELUM KEBERANGKATAN YA, BIAR IBU BISA MENGECEK BERAPA BANYAK JOK YANG AKAN DI KOSONGKAN."
"SIAP, BU."
"SEBELUMNYA ADA PERTANYAAN?"
Seorang siswi mengangkat tangannya dengan percaya diri. Sudah kuduga dia pasti yang akan bertanya. gumamku dalam hati.
"BU, INI TERMASUK MAKAN DAN TEMPAT TINGGAL GAK?"
"IYA BETUL, ITU TERMASUK MAKAN DAN TEMPAT TINGGAL. UNTUK MAKAN BERAT 2X SEHARI SELEBIHNYA, ITU TANGGUNG JAWAB KALIAN."
"BU, BU, BOLEH BAWA PACAR KAN?"
"BOLEH, SAYANG. BAWA SELINGKUHAN JUGA BOLEH." Ujar Bu Sri ketawa garing.
Seketika seluruh kelas pecah dengan gurauan Bu Sri. Beliau adalah guru produktif jurusan akuntansi, Sikap tegas dan dingin selalu terpancar kuat darinya, dia salah satu guru killer disini. Tapi, semenjak kami berinjak ke kelas XII, Bu Sri yang di pandang dengan guru killer ini mendadak menjadi ramah dan murah senyum. Sesekali dia juga suka melemparkan gurauan walaupun sedikit garing.
"ADA PERTANYAAN LAIN."
"JIKA TIDAK ADA, IBU AKHIRI KEGIATAN HARI INI. WASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH."
"WA'ALAIKUMSALAM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH."
Disaat guru-guru keluar dari kelas, tidak lama kemudian suara bel sekolah berbunyi menandakan waktu pulang telah tiba. Kami tidak banyak belajar hari ini, karena UN sudah terlaksana tinggal tunggu hasil yang seperti biasa bikin hati Dag Dig Dug.
"KAWAN-KAWAN, NANTI KITA PAKAI SERAGAM GRUP YUK KESANA NYA. KAPAN LAGI BIG STAR BISA KUMPUL, NANTI SETELAH LULUS SEKOLAH PASTI KALIAN SIBUK SENDIRI?"
Seorang siswi dengan lantang membuka percakapan di depan kelas, dialah Cici salah satu siswi kesayangan Bu Sri. Berbadan seperti gitar spanyol, berkulit sawo matang seperti Angelina Jolie. Setiap tahun ke tahun pasti dia yang paling ribet, paling cerewet dan bawel, paling centil, paling pintar, paling populer, dan tentu paling ngangenin.
"SIAP, CI. JADI GAK SABAR HARI-1?"
"APA PERLU KITA BIKIN LAGI SERAGAM UNTUK BIG STAR?" Ujar Cici sambil mengambil ponselnya dari saku bajunya.
Big Star. Ya itu adalah nama grup persatuan jurusan kami. Setiap jurusan di sekolah ini pasti ada nama julukan masing-masing dan nama Big Star adalah nama julukan jurusan kami. nama ini di ambil dari mantan pacar Cici, Eh maksud nya mantan gebetan karena tidak berhasil menaklukkan hatinya. Dia pakai nama panggilan mantannya jadi julukan jurusan kami untuk mengenang si doi yang tidak bisa dia taklukkan, dipikir-pikir lebay juga tapi aku tidak ambil pusing.
"Tapi Ci, apa tidak terlalu mendadak pesannya waktu kita hanya satu bulan loh." Ujar sahabat dekatnya sambil berjalan menghampirinya di depan.
"Maka dari itu, aku mau pesan sekarang juga ke Pak Zia?"
"Sudahlah, yang ada saja. Jangan terlalu di paksa, kasian Pak Zia." Ucapku sambil melirik kearah jendela, karena kalau lihat kearahnya imanku tidak kuat. Dia terlalu WOW.
"Ih, Ahmad kok bilang begitu. Kalau tidak mau ikutan ya sudah, sana keluar." Ujarnya dengan tatapan mata tajam kepadaku.
"Kita sampai kapan disini, ini udah sore. Apa kita mau menginap disini." Ujarku dengan ketus kepadanya.
"Oh iya, jurusan lain udah pada kosong loh." Jawab seorang siswi yang menegok dari jendela kelas.
"Ya udah, kita lanjut di grup whatsapp saja."
Kami segera meninggalkan kelas dan berjalan beriringan menuju gerbang sekolah.
"Ahmad, kamu bujuk Husni dan Isep dong biar pada ikut. Jadi, kita semua kompak?" Ujarnya sambil menggandeng tanganku.
"Malas."
"Ih, setiap aku butuh bantuan pasti jawabanmu itu malas dan malas." Ujarnya dengan nada kesal sambil mencubit tanganku yang dia gandeng.
"Sudahlah ci, biar aku yang bujuk Husni kalau isep biar mantannya yang bujuk." Ujar seorang siswi memeluk Cici dari belakang.
"Ih, kok Ayu yang harus bujuk Isep. Tidak, Tidak, Tidak, dia itu hanya mantan pacar yang terpaksa. Aku tidak mau membujuk cengceleng dosaku."
"Yu, kau jahat sekali anggap Isep seperti cengceleng dosamu. PFFFT." Ucap sahabatnya dengan tertawa kecil.
"Ya memang dia adalah cengceleng dosaku." Ujarnya sambil berjalan sendiri kedepan meninggalkan kami.
"Aku duluan, bye."
"Bye, Ahmad hati-hati dijalan ya." Ujar seluruh teman jurusanku sambil melambaikan tangannya.
Inilah hidupku, memasuki jurusan yang sekelas di penuhi dengan gadis-gadis. Apa aku salah mengambil jurusan ya, sudahlah.
***
Pagi sekali setelah menunaikan ibadah sholat subuh, aku segera berjalan ke ruang tengah disana ada Mamah yang sedang duduk santai sambil menonton acara televisi kesayangannya ISLAM ITU INDAH.
"Mah."
"Apa?"
"Sekolah Ahmad jadinya liburan diluar untuk perpisahan sekolah."
"Bukannya waktu itu kamu bilang akan ada pensi sekolah, kenapa sekarang jadi liburan keluar?"
"Ahmad tidak tahu, ini surat edarannya." Jawabku sambil menyerahkan selembar kertas yang ku pegang kepada Mamah.
"Hmmm, tulisannya kecil-kecil betul Mamah tidak bisa baca?" Ujarnya sambil terus menerawang tulisan yang ada di dalam surat edaran tersebut.
"Sini, biar Ahmad bacakan tapi intinya saja ya."
"Untuk biaya transportasi total keseluruhan sebesar Rp. 720.000,00. Di bayar paling lambat tanggal 17 berarti satu minggu sebelum keberangkatan, dan dilarang membawa hewan peliharaan. Tunggu, kok dilarang bawa hewan peliharaan sih."
"Ada lagi?" Tanya Mamah dengan raut wajah serius.
"Oh ya, menginap dua hari tiga malam disana."
"Selebihnya, tidak penting." Ujarku sambil meletakkan surat tersebut di lemari belakang.
"Tadi kamu bilang biaya keseluruhan nya berapa?"
"Kalau di ratakan tujuh ratusan, Mah."
"Lumayan tinggi juga ya, berarti satu jutaan dong untuk kehidupan kamu disana."
"Emm, Mamah akan ikut kan?"
"Tidak tahu, lihat situasi dan kondisi nya dulu ya."
Sudah kuduga pasti jawabannya masih klise, kalau Mamah ikut itu sudah jadi keajaiban karena mungkin do'a ku di kabulkan.
"Kamu coba telepon Bapa mu, bilang kalau biaya transportasi satu jutaan. Jangan bilang tujuh ratus?"
"Baik, nanti malam Ahmad telepon Bapa."
DRRRT DRRRT DRRRT DRRRT DRRRT DRRRT DRRRT DRRRT.
"Eh, tunggu kok tumben Aa ada telepon pagi-pagi begini."
"Cepat kamu angkat, barangkali ada yang penting."
"Iya Mah."
Aku segera mengangkat telepon saudaraku, aneh sih mendapat telepon dari kakakku. Pasalnya dia selalu bangun sore hari, karena dia selalu bergadang hanya untuk nonton tv sepak bola. Alhasil dia baru bangun tidur jam setengah dua sore.
"HALLO, A ..."