Nirmala memandang pasangan yang duduk di sampingnya dengan tatapan nanar. Mereka terlihat begitu bahagia dan saling mencintai. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, mengingat kisah cintanya yang tidak beruntung.
"Eeeehm.." Dehem seorang pria yang duduk di sisi lain tempatnya duduk.
Nirmala menoleh dan mendengus kesal. Pria itu lagi. Yang setiap hari entah kenapa selalu menunggu bis di halte yang sama dengannya juga naik bis yang sama, tapi tidak pernah jelas dimana dia turun. Apesnya, pria itu selalu mengusiknya.
"Mupeng banget muka kamu. Kangen pacaran..??" Ejek pria itu dengan wajah konyol.
"Mereka yang pamer kemesraan di tempat umum. Bukan salah mataku yang melihat mereka." Sahut Nirmala kesal.
"Ngeles. Pengen juga tidak apa-apa." Cibir pria itu.
"Dan apa urusannya denganmu..??" Sahut Nirmala sewot.
"Tidak ada." Jawab pria itu cuek sambil mengedikkan bahunya.
"Pulang kerja..??" Tanya pria itu.
Nirmala membuang napas kasar dan melirik pria itu sejenak. Dia memilih untuk tidak menjawab. Toh pria itu pasti tahu jawabannya karena mereka selalu bertemu di jam yang sama.
"Hei.." Panggil pria itu lagi namun diabaikan oleh Nirmala.
"Ngomong-ngomong sampai sekarang kamu belum menjawab pertanyaanku. Siapa namamu..??" Tanya pria itu lagi.
Nirmala tetap diam. Selama empat bulan, setiap hari senin sampai jumat di jam yang sama, pria itu selalu duduk di sampingnya dan menanyakan pertanyaan yang sama.
"Apa kamu tidak bosan terus menanyakannya..??" Tanya Nirmala ketus.
"Habisnya kamu tidak pernah jawab." Jawab pria itu.
"Harusnya kamu sadar diri. Itu artinya aku tidak mau diganggu." Kata Nirmala.
"Jadi kamu merasa terganggu..??" Tanya pria itu.
"Menurutmu..??" Jawab Nirmala dingin.
Pria itu tertawa pelan, membuat Nirmala menoleh dan menatap keheranan.
"Apanya yang lucu..??" Tanya Nirmala sedikit tersinggung.
"Kamu. Aku hanya tanya nama, tapi kamu menanggapi seperti aku menanyakan nomer pin ATM beserta kartunya." Jawab pria itu sembari tergelak.
"Ciiiiihh.. menyebalkan." Sungut Nirmala dengan wajah cemberut.
Nirmala berdiri saat melihat bis yang ditunggunya mulai mendekat. Seperti biasa, pria itu juga ikut berdiri dan masuk ke dalam bis yang sama.
Bis itu ternyata penuh. Nirmala beruntung masih mendapat satu kursi yang ada di dekat koridor bis. Di sebelahnya duduk seorang nenek yang tampak tertidur dengan kepala bersandar pada jendela. Nirmala berusaha duduk setenang mungkin karena tidak ingin mengganggu nenek itu dari tidur lelapnya.
Orang-orang yang tidak mendapatkan kursi tampak berdiri berdesakan. Aneka macam bau, terutama bau badan manusia, bercampur aduk dalam udara yang sama. Nirmala tampak berusaha mengatur napasnya. Meski sering berada dalam situasi seperti ini, tetap saja dia tidak terbiasa dengan campuran aroma yang seringkali terasa memualkan di penciumannya.
Pria itu berdiri di samping kursi Nirmala. Kedua tangannya tampak menggenggam erat pada sandaran kursi Nirmala juga di kursi depannya. Seakan menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Entah kenapa Nirmala merasa pria itu tengah berusaha melindungi dia agar tidak terhimpit oleh desakan manusia di sekitarnya.
"Jangan banyak bicara. Aku tidak ingin mengganggu tidur nenek ini." Kata Nirmala bahkan sebelum pria itu membuka mulutnya.
Terdengar suara pria itu menghela napas panjang. Nirmala tersenyum tipis saat melihat pria itu menurutinya.
Bis yang dinaiki Nirmala mulai mendekati halte tujuan. Nirmala berdiri dan membelah desakan manusia menuju pintu keluar. Pria itu menempel di belakangnya, seakan melindungi dari siapapun orang yang akan dilewati Nirmala.
Setelah berhasil turun, Nirmala menoleh ke arah pintu bis. Dilihatnya pria itu berdiri disana dan tersenyum ke arahnya. Entah kenapa hati Nirmala berdesir melihat senyum pria tanpa nama itu. Ralat. Nirmala yang selama ini tidak ingin tahu siapa nama pria itu.
*****
"Kamu pernah nonton film Spongebob The Movie..??" Tanya pria itu. Nirmala menoleh dan menatap pria itu dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa..??" Tanya pria itu kebingungan.
"Sejauh ini orang yang kukenal masih menonton Spongebob rata-rata seusia kedua keponakanku. Antara lima sampai 10 tahun." Jawab Nirmala sambil memutar kepalanya. Pria itu terkekeh mendengar jawaban Nirmala.
"Itulah kesalahan orang dewasa di negeri kita. Asal kamu tahu saja, Spongebob sebenarnya untuk usia tiga belas tahun ke atas. Artinya aku boleh menonton film itu, sebaliknya kedua keponakanmu dan teman-temannya belum boleh menonton tanpa didampingi orang dewasa." Kata Pria itu.
"Kenapa bisa begitu..?? Bukankah itu hanya film kartun biasa..??" Tanya Nirmala keheranan.
"Sepertinya kamu memang tidak pernah menonton Spongebob." Cibir pria itu.
"Sesekali kamu ikutlah menonton bersama keponakanmu. Kamu akan lihat di setiap seri ada beberapa adegan yang memang tidak layak ditonton anak-anak." Lanjutnya.
"Aku tidak ada waktu untuk menonton tayangan tidak berguna seperti itu." Sahut Nirmala ketus.
"Tayangan Itu sangat berguna, terutama untuk orang-orang seperti kita." Kata pria itu lagi. Dahi Nirmala berkerut karena tidak mengerti.
"Spongebob itu lucu, bisa membuat kita rileks setelah seharian merasakan stress di tempat kerja." Lanjut pria itu.
"Masih ada banyak cara untuk menghilangkan stress. Dan Spongebob tidak masuk dalam daftar pilihanku." Kata Nirmala dingin.
"Terserah kamu saja. Aku hanya memberitahu." Kata pria itu santai.
"Memang apa yang kamu lakukan untuk menghilangkan stress..??" Tanya pria itu penasaran.
Nirmala terdiam dan kembali menatap pria itu, seolah menimbang apakah akan menjawabnya atau tidak.
"Makan makanan berkuah panas dan pedas. Semakin stress semakin pedas." Kata Nirmala setelah memutuskan untuk menjawab. Dilihatnya pria itu bergidik menatapnya.
"Kamu ga takut pencernaanmu bakal bermasalah..??!!" Seru pria itu.
"Selama ini tidak pernah ada masalah." Sahut Nirmala.
"Tapi suatu saat pasti akan bermasalah. Carilah cara lain untuk menghilangkan stress tanpa menyiksa dirimu." Kata pria itu tegas.
Nirmala mencebik. Kenapa pria itu marah padanya..??
"Lebih baik menonton tayangan tidak berguna seperti spongebob daripada menyiksa diri dengan makanan pedas." Kata pria itu sembari menatapnya tajam.
Nirmala menggaruk kepalanya melihat reaksi pria itu. Dia merasa seperti anak kecil yang sedang dimarahi ayahnya karena ketahuan memakan permen tanpa ijin.
"Hei.. kamu mau kemana..??" Tanya pria itu saat melihat Nirmala berdiri.
"Bis ku sudah datang." Jawab Nirmala.
"Tapi itu bukan bis yang biasa kamu tumpangi." Kata pria itu lagi.
"Aku perlu pergi ke suatu tempat." Sahut Nirmala sambil merapikan tali tas di bahunya.
"Kemana..??" Tanya pria itu penasaran.
"Aku tidak merasa perlu untuk memberitahumu." Jawab Nirmala.
"Tunggu..!!" Seru pria itu.
"Apa lagi..??" Sahut Nirmala.
"Siapa namamu..??" Pria itu kembali bertanya untuk kesekian kalinya.
"Aku harus segera pergi." Kata Nirmala tanpa menjawab pertanyaan Pria itu.
Pria itu hanya terdiam dan terus menatap Nirmala yang mulai menaiki bis. Nirmala duduk di salah satu kursi di dekat jendela. Dilihatnya pria itu masih menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ditebak. Lagi-lagi Nirmala merasa aneh. Karena dia merasa enggan melepas pandangannya dari pria itu. Rasanya dia ingin melompat turun dari bis dan menghabiskan waktu lebih banyak bersama pria itu dengan duduk di dalam bis yang sama, meski kadang duduk berjauhan.
*****
Nirmala keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Dia melihat kedua keponakannya yang tengah asik menonton TV sambil terus tertawa keras.
"Dek, habis ini tolong bantuin ibu siapin makan malam ya. Ibu tadi telat masak karena Ningrum sedang keluar sama kakakmu. Mereka titipin anak-anak kesini, jadi ibu jaga dulu." Kata ibu Nirmala yang terlihat sibuk di dapur.
"Memang mas Irwan sama mbak Ningrum kemana, bu..??" Tanya Nirmala sambil berjalan mendekati ibunya.
"Katanya sich ke dokter kandungan. Ningrum sudah tiga minggu telat menstruasi." Jawab ibu Nirmala.
"Mbak Ningrum hamil lagi..??" Tanya Nirmala lagi.
"Mungkin. Tapi belum tahu juga." Jawab ibu Nirmala.
"Kamu sendiri bagaimana, dek..?? Apa kamu lagi dekat sama seseorang..??" Tanya ibu Nirmala.
"Tidak ada, bu." Jawab Nirmala singkat. Dia lelah menjawab pertanyaan ibunya. Karena jawabannya masih tetap sama.
"Ibu tahu kamu mempunyai pengalaman buruk dengan hubunganmu sebelumnya. Tapi jangan terlalu menikmati kesendirianmu, dek. Ibu takut nantinya saat mulai lelah, kamu menyesal karena telah terlambat melangkah." Tegur ibu Nirmala.
"Iya, bu." Jawab Nirmala sambil mengangguk pelan.
Selama sisa hari itu Nirmala lebih banyak diam dan hanya bicara seperlunya saja. Perkataan ibunya saat di dapur telah menyentil ingatannya akan kisah lamanya. Doni, mantan kekasih yang juga sahabatnya sejak SMA. Mereka saling mencintai dan kedua keluarga telah setuju dengan hubungan mereka.
Masalah mulai muncul saat mereka menentukan tanggal pernikahan. Orangtua Doni yang masih memegang teguh adat, mulai menghitung semuanya sesuai aturan adat mereka. Ternyata penghitungan hari lahir antara dia dan Doni dianggap tidak cocok. Dalam kepercayaan orang tua Doni, bila hubungan itu dipaksa berlanjut akan membawa dampak buruk bagi dia, Doni, dan keluarga mereka.
Hubungan yang awalnya direstui akhirnya ditentang keras dan mereka dipaksa putus oleh orangtua Doni. Keluarga Nirmala yang merasa dipermalukan karena sudah mulai melakukan persiapan, akhirnya juga menentang hubungan mereka. Hubungan Nirmala dan Doni pun akhirnya putus. Sialnya kantor tempat Doni bekerja berada di gedung yang sama dengan kantor Nirmala, hingga membuat gadis itu sulit untuk kembali melangkah meski mereka nyaris tidak pernah bertemu apalagi saling bicara karena berada di lantai yang berbeda.
Nirmala turun dari ranjangnya untuk ke dapur dan mencari makanan pedas. Baru beberapa langkah tiba-tiba dia teringat wajah pria di halte yang begitu kesal mendengar kebiasaannya saat stress.
Nirmala melihat ke arah HP yang dia letakkan di atas meja rias. Dia merasa tergelitik untuk membuka aplikasi video online dan menonton Spongebob.
Tak lama kemudian terdengar suara Nirmala yang tengah tertawa keras dan terus berguling diatas kasurnya. Ternyata benar kata pria di halte. Makhluk kotak kuning itu bisa membuatnya melupakan semua masalahnya. Dan saat itupun dia juga menyadari, meski bagus dan lucu tapi memang tayangan itu memang tidak layak untuk anak-anak.
"Sepertinya memang benar kata pria itu. Anak-anak harus didampingi saat menonton acara ini." Gumam Nirmala dalam hati.
*****
"Kenapa wajahmu seperti itu..??" Tanya Nirmala. Tidak seperti biasanya, pria itu terlihat murung dan lebih banyak diam. Tidak cerewet ataupun mengusik Nirmala.
"Mama menyuruhku pulang." Jawab pria itu.
"Lalu..??" Tanya Nirmala lagi.
"Aku malas bertemu ayah tiriku." Jawab pria itu tanpa ragu.
Nirmala mengangkat kedua alisnya mendengar pria itu dengan santainya menceritakan masalah pribadi kepadanya.
"Jadi kamu hidup terpisah dengan orangtuamu..??" Tanya Nirmala.
"Hmmm.. kami tinggal di kota yang sama, tapi terpisah dan tidak saling bicara." Jawab pria itu.
"Kamu marah pada mereka..??" Tanya Nirmala lagi.
"Dulu saat aku kuliah papaku meninggal. Aku kesal karena tak lama setelah papa meninggal, mama menikah lagi. Dan laki-laki itu adalah sahabat mendiang papa. Sejak itu aku memutuskan keluar dari rumah." Jawab pria itu seakan tengah bercerita pada orang yang sudah sangat mengenalnya.
"Memang berapa lama kamu mau menghindar..?? Bagaimanapun mereka keluargamu. Meski sulit dan tidak bisa sedekat dulu, setidaknya cobalah untuk tetap menjaga komunikasi dengan mereka." Kata Nirmala.
"Hmmm.. aku tidak tahu. Akan kulihat nanti." Sahut pria itu.
"Apa kamu akan terus cemberut seperti itu..??" Tanya Nirmala.
Pria itu langsung menoleh padanya dengan wajah kesal. Sepertinya dia merasa terusik.
"Hari ini kenapa kamu cerewet sekali..?? Apa tidak bisa membiarkan aku sendiri dulu..??" Jawab pria itu sewot.
"Jadi kamu merasa terganggu..??" Tanya Nirmala dengan senyum penuh kemenangan.
"Iya..!!" Jawab pria itu singkat dan ketus.
Tawa Nirmala meledak saat itu juga. Dia tidak mempedulikan orang-orang di sekitar mereka dan terus tertawa sampai puas.
"Sekarang kamu tahu kan bagaimana perasaanku selama ini..?? Setiap hari kamu selalu saja mengusikku." Cibir Nirmala. Pria itu terdiam dengan wajah di tekuk.
"Jadi, siapa namamu..??" Tanya pria itu lagi seakan tidak ingin menyerah untuk mendapatkan nama Nirmala.
Nirmala memutar matanya jengah karena kembali mendengar pertanyaan yang sama.Mereka mulai berdiri karena bis yang akan mereka tumpangi mulai mendekat.
"Kamu tidak perlu tahu." Kata Nirmala sebelum masuk ke dalam bis.
Terdengar pria itu hanya menghela napas panjang lalu mengikuti masuk ke dalam bis.
*****
Nirmala duduk dengan gelisah. Dia kembali mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang empat hari ini menghilang. Selama enam bulan dia selalu merasa terganggu dengan kehadiran pria yang selalu mengusiknya. Selama itu pula dia berharap pria itu pergi dan berhenti mengganggunya.
Sekarang saat keinginannya terkabul, Nirmala justru kebingungan. Dia merasa harinya berubah membosankan. Dia yang biasanya bersemangat setiap kali pulang kerja, justru merasa enggan untuk pulang.
Nirmala memandang bis yang berlalu meninggalkannya. Hari sudah mulai gelap dan itu adalah bis ketiga yang dia lewatkan. Entah kenapa Nirmala berharap pria itu muncul dan kembali naik ke atas bis yang sama. Hari ini dia ingin mencoba peruntungannya. Dia akan menunggu sampai bis terakhir ke arah rumahnya datang. Tapi ternyata sampai bis terakhir tiba pria itu tetap tidak muncul.
Nirmala berdiri saat bis terakhir yang menuju rumahnya mendekat. Dia menghela napas panjang, berusaha meredam hatinya yang berdenyut nyeri. Ternyata dia merindukan pria itu.
*****
"Nirmala." Panggil seorang pria. Dilihatnya Doni berjalan mendekatinya.
"Ada apa..??" Tanya Nirmala.
"Kamu pulang naik bis..??" Doni balik bertanya.
"Seperti biasa." Jawab Nirmala.
"Bagaimana kalau aku antar. Kita searah kan." Kata Doni menawarkan bantuan. Nirmala terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Tidak perlu. Terima kasih sudah menawarkan." Jawab Nirmala.
"Kenapa..?? Bukankah kita searah. Sebenarnya sudah lama aku berpikir untuk mengajakmu berangkat dan pulang bersama." Kata Doni lagi.
"Tapi aku lebih suka naik bis." Sahut Nirmala.
"Dan terus berdesakan dengan banyak orang..?? Ayolah, Nir." Desak Doni.
"Memang kenapa..?? Aku sudah terbiasa seperti itu." Kata Nirmala.
"Tapi kamu juga bisa dalam bahaya. Kamu tahu..?? Aku kawatir mendengar tempo hari kamu kecopetan saat di dalam bis. Dan entah bahaya macam apa lagi yang bisa menghampirimu." Desak Doni.
"Itu hanya kebetulan saja. Mungkin memang aku yang sedang sial. Lagipula sebelum itu dan setelahnya tidak ada kejadian buruk lagi. Jadi tidak masalah buatku." Sahut Nirmala lagi.
"Nir, tolonglah. Aku tidak pernah tenang membiarkanmu naik bis." Pinta Doni.
Nirmala menatap Doni dan merasakan detak jantungnya. Biasa saja. Tidak lagi berdebar-debar seperti dulu. Bahkan setelah mereka berpisah dia masih merasa debaran itu setiap kali berpapasan dengan Doni. Selalu ada rasa rindu sekaligus sakit setiap melihat Doni dari kejauhan. Tapi sekarang semua rasa itu seakan menguap begitu saja.
"Maaf, Don. Lebih baik aku tetap naik bis saja seperti biasanya. Tidak baik kalau kita terus bersama." Kata Nirmala.
"Meski hanya sebagai sahabat..??" Tanya Doni.
"Persahabatan kita putus dihari kita memutuskan untuk berpacaran. Dan setelah kita berpisah, aku rasa lebih baik kalau kita menjalani hidup masing-masing." Jawab Nirmala.
"Apa tidak ada kesempatan lagi untuk kita kembali bersama, Nir..?? Aku masih mencintaimu." Pinta Doni dengan tatapan penuh luka.
"Aku rasa kita memang tidak berjodoh, Don. Sudahlah.. toh sudah hampir dua tahun kita berpisah. Aku dengar orangtuamu juga sudah menemukan jodoh untukmu." Kata Nirmala.
"Apa kamu sudah mencintai pria lain..??" Tanya Doni.
Nirmala tertegun. Saat mendengar pertanyaan Doni justru pria di halte bis itu yang melintas dalam pikirannya. Nirmala kembali tersadar lalu tersenyum kepada Doni.
"Mungkin. Aku juga belum tahu. Akan kutanyakan pada hatiku setelah bertemu dengan dia lagi." Jawab Nirmala lalu mulai berjalan menuju halte bis. Meninggalkan Doni yang terluka karena penolakannya.
Nirmala berhenti sejenak saat halte yang dia tuju mulai terlihat. Dia menatap dari kejauhan, berharap melihat pria itu disana. Nirmala menghela napas panjang karena tidak menemukan yang dia cari. Dia berjalan gontai menuju halte itu lalu duduk di salah satu sudut kosong.
Selama tiga bulan Nirmala terus menunggu disana. Setiap hari dia pulang malam karena selalu menaiki bis terakhir, berharap pria itu akan kembali muncul di hadapannya. Nirmala terlihat lebih kurus karena selama tiga bulan terakhir dia hampir selalu melewatkan makan malamnya. Dia bahkan mengabaikan keluarganya yang tampak kawatir melihatnya selalu pulang malam.
Pikiran Nirmala kembali melayang entah kemana. Terus bertanya-tanya apakah benar dia mulai jatuh cinta pada pria itu..?? Atau hanya karena dia sudah terbiasa dengan keberadaannya..?? Kenapa dia terus menunggu pria itu muncul kembali dan berapa lama dia akan menunggu..?? Dia bahkan tidak tahu nama pria itu.
Lagi-lagi Nirmala merutuki kebodohannya. Tapi saat itu dia memang takut untuk mengetahui nama pria itu, juga untuk memberitahu namanya. Nirmala takut setelah saling mengenal mereka akan menjadi dekat, sedang dia sendiri belum siap untuk kembali terluka. Tapi disadari atau tidak mereka sebenarnya sudah saling mengenal, meski tanpa mengetahui nama masing-masing. Perbincangan mereka membuat Nirmala sedikit banyak tahu mengenai pria itu begitu juga sebaliknya. Meski delapan puluh persen perbincangan itu diisi dengan perdebatan aneh diantara mereka.
"Kamu lembur..?? Kenapa jam segini baru pulang..??" Tanya sebuah suara.
Nirmala langsung menoleh ke asal suara itu. Dilihatnya pria itu telah duduk disampingnya. Sejenak mata Nirmala dan pria itu saling menatap, tersirat kerinduan yang begitu besar di mata mereka.
"Aku hanya ingin menaiki bis terakhir." Jawab Nirmala setelah bisa mengendalikan perasaannya.
Pria itu tersenyum hangat, seolah tahu kalau Nirmala tengah menunggunya.
"Aku mendapat tugas untuk mengerjakan proyek di luar kota. Awalnya perkiraan hanya akan membutuhkan waktu maksimal tiga minggu. Tapi ternyata keadaan begitu kacau sampai akhirnya aku harus tinggal selama tiga bulan." Kata pria itu seakan menjelaskan.
Nirmala terus menatap pria itu tanpa berkedip. Kenapa pria itu repot-repot menjelaskan padanya..?? Mereka hanya dua orang yang tidak saling mengenal.
"Sepertinya itu bis kita." Kata pria itu. Nirmala mengikuti arah pandangan pria itu dan di kejauhan dia melihat sebuah bis datang.
"Hei.." Panggil Nirmala dan pria itu langsung menoleh.
"Apakah keluargamu memegang teguh peraturan adat..?? Terutama penghitungan tanggal, hari lahir, dan sebagainya..??" Tanya Nirmala cepat. Pria itu mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Nirmala yang baginya aneh.
"Memang kenapa..??" Tanya pria itu keheranan.
"Sudah jawab saja." Kata Nirmala tidak sabar karena dilihatnya bis semakin mendekat.
"Tidak. Mereka tidak percaya hal seperti itu. Bagi mereka semua hari itu baik." Jawab pria itu. Tanpa sadar Nirmala menghela napas penuh kelegaan.
"Namaku Nirmala." Kata Nirmala sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
Mata pria itu terbelalak mendengar Nirmala menyebutkan namanya. Wajahnya semakin berbinar karena akhirnya mengetahui nama Nirmala.
"Aku Arman." Jawab pria itu tersenyum dan menyambut uluran tangan Nirmala.
"Hei..!! Kalian naik tidak..??!!" Teriak kernet bis itu.
"Kami naik, pak." Seru Arman tanpa melepas pandangan dari Nirmala.
Arman lalu menarik tangan Nirmala dan bersama memasuki bis yang akan membawa mereka pulang. Nirmala dan Arman tidak bisa berhenti tersenyum. Mereka merasa perjalanan mereka kali ini juga akan membawa mereka ke arah yang baru. Ke arah kebahagiaan. Semoga.
************************************************
Follow akun IG : Cheerieza
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan comment untuk dukung author.
Terima kasih.