Diana adalah namaku, aku biasa dipanggil Ana. Aku sekarang berumur 17 tahun. Aku adalah murid kesayangan para guru. Dengan kepintaranku aku dapat memenangkan berbagai macam lomba. Aku juga suka bermain game bertahan hidup. Aku dan keluargaku tinggal di apartemen The Chosen
Banyak rumor mengatakan bahwa di apartemen ini setiap tahun akan ada orang yang hilang. Anehnya pada malam hari orang itu masih ada namun ketika matahari terbit orang itu sudah tidak ada. Polisi sudah menyelidikinya namun tidak ada tanda-tanda bahwa orang yg hilang itu diculik atau sebagainya.
Kalian pasti berpikir bahwa apartemen ini memiliki penghuni yang sedikit namun kalian salah, Apartemen ini memiliki penghuni yang banyak. Walupun apartemen ini sudah berdiri lebih dari 30 tahun namun fasilitasnya sangat bagus dan harga sewanya pun murah Orang-orang yang tinggal di apartemen ini juga sangat ramah.
~~~
"Ibu aku pulang" beritahuku sambil membuka sepatu yang kupakai.
"Bagaimana lesnya? apa kau suka?" tanya ibuku dari dapur.
"Tentu saja, itu sangat menyenangkan" Jawabku. Minggu kemarin aku memberitahu kepada ayah dan ibuku kalau aku ingin mengikuti les balet. Dan hari ini adalah hari pertamaku mengikuti les balet.
"Ayo makan malam" Ajak ibuku setelah menaruh lauk terakhir di meja makan.
Setelah selesai makan aku pergi membersihkan diri dan langsung belajar. Selesai belajar aku akan tidur, sebelumnya aku mengucapkan selamat malam kepada ayah dan ibu terlebih dahulu. Aku tidur tepat jam setengah sebelas malam.
Di tengah-tengah tidur nyenyakku aku mendengar suara orang berteriak dari luar. Aku mencoba untuk tidak mempedulikan itu namun aku tidak bisa.
Aku memutuskan untuk bangun dan melihat jam, sudah jam 12 malam berarti aku baru tidur selama setengah jam. Aku melihat keluar jendela "deg". Aku melihat banyak pohon di sekeliling apartemen tepatnya diluar apartemen. Seperti dihutan, namun bagaimana bisa aku berada dihutan?. Aku yang bingung langsung keluar dari kamarku dan mencari orang tuaku. Yang benar saja aku tidak dapat menemukan mereka. Apa mereka sedang keluar?.
Dari luar aku mendengar suara jeritan orang. Aku membuka pintu sedikit dan aku tutup kembali. Aku mundur perlahan. Apa ini cuma mimpi? iya ini cuma mimpi, tapi mengapa sangat menyeramkan? dan ini terasa sangat nyata, batinku.
Kalian pasti bingung bukan, aku pun begitu. Tadi saat aku membuka pintu aku melihat banyak orang berlarian dengan darah ditubuh mereka dan aku juga melihat ada orang yang memegang pisau besar dan menancapkannya ke tubuh orang-orang.
Mengapa mimpi bisa semenakutkan ini?, pikirku. Ada seseorang yang berteriak meminta di bukakan pintu, aku melihatnya dari lubang di pintu dan membukakan pintu untuknya. Setelah dia masuk dia menyuruhku mengunci pintu dan menutup jendela yang ada.
" Hai kau baru ya? Perkenalkan aku Tiara, panggil saja aku Tia" dia menjulurkan tanganya
" Hai aku Diana, kau bisa memanggilku Ana. Dan apa maksudmu aku baru?" Aku membalas uluran tanganya.
"Aku akan memberi tahumu nanti. Apa kau punya kotak P3K?" dia menunjukkan tanganya yang terluka. Aku membuka beberapa laci dan menemukan kotak P3K.
"Kau baru bukan disini?" Tanyanya sambil membersihkan luka yang ada ditanganya. "Aku sudah lama tinggal di apartemen ini. Mengapa semua berubah?, mengapa apartemen ini ada di tengah hutan? dan mengapa aku bermimpi sangat aneh?" Tanyaku
" Kau tidak bermimpi, semua ini kenyataan" jawabnya dengan santai
"Lalu kemana orang tua ku? mengapa mereka tidak ada? dan kau Tiara?, aku pernah mendengar nama itu tapi kata mereka kau menghilang, Bagaimana bisa sekarang kau kembali?" Semua pertanyaan dalam pikiranku, ku keluarkan semua.
"Kau yang terpilih, hanya akan ada satu orang yang terpilih" Jawabnya
Aku mengerutkan kening.
" Aku juga terpilih waktu itu dan aku tidak dapat memenangkannya jadi aku terjebak disini" Lanjutnya
"Lalu mengapa kita ada di tengah hutan, apartemennya juga terlihat sangat seram sekarang" Aku masih belum mendapatkan jawabannya, karena itu aku bertanya lagi.
"Karna kita ada di dalam dunia psikopat itu"
"Apa maksudmu?" Tanyaku masih tak mengerti
"Jadi katanya dulu ada seorang psikopat yang bersembunyi di apartemen ini, dia membunuh satu persatu penghuni apartemen ini setiap malam. Lalu suatu malam dia membunuh dirinya sendiri seakan akan dia dibunuh oleh seseorang. Tepatnya sebelum kasus pembunuhan itu terpecahkan." Dia berhenti sejenak
"Mungkin karena dia belum tertangkap dan sampai saat ini belum ada orang terpilih yang selamat maka dia akan melanjutkannya sampai ada yang selamat darinya" Lanjutnya.
"Tapi mengapa aku yang terpilih?"
"Mungkin karna kau spesial dimata orang lain" Jawabnya tak yakin
"Maksudmu psikopat itu dulu juga adalah orang yang spesial?" Tanyaku lagi
"Tidak, aku pernah mendengar dari beberapa orang disini katanya dia dulu memiliki kakak yang sangat pintar sedangkan dia tidak pintar, orang tuanya lebih sayang pada kakaknya dan dia selalu diabaikan, kakaknya selalu mendapatkan semua yang ia inginkan berbeda dengan adiknya yang tak pernah mendapatkan apapun" Jelasnya
"Dia juga ingin disayang dan diperhatikan" responku
"Kau harus selamat agar dia tidak mengambil korban lagi" Jawabnya sambil membuka kulkas
"Bagaimana caranya?" Tanyaku
"Kau harus bertahan selama seminggu tanpa mendapat luka darinya. Dia hanya akan beraksi saat malam hari, saat matahari terbenam sama seperti saat dia masih hidup dan dia akan berhenti saat matahari terbit. Walaupun begitu kau harus berhati-hati karena ini dunianya dia bisa mengubah apapun sesuai keinginannya. Untuk saat ini sebaiknya kita disini dulu, sepertinya dia belum tau keberadaanmu" Beritahunya.
"Kau bisa masak?" tanyanya kepada ku. Aku menggelengkan kepala.
"Kau ingin makan tidak?" dia bertanya lagi dan kujawab dengan anggukan sama seperti sebelumnya. Dia memasak tiga butir telur dan nasi.
"Mengapa kau menggoreng tiga telur?, kan aku sudah bilang kalau aku tidak ingin makan" Tanyaku heran
"Aku belum makan dari kemarin, tidak apa-apa kan?" dia melanjutkan memasaknya lagi. Dia makan begitu cepat tidak sampai sepuluh menit.
"Aku ingin tidur lagi, apa kau tidak tidur?" Tanyaku
"Kita tidak boleh tidur dalam waktu bersamaan, kita tidak tahu apakah dia akan datang kesini atau tidak. Kau hanya akan tidur sampai jam 3 sedangkan aku akan berjaga"
"Bagaimana dengan yang lain?" tanyaku. Dia tidak menjawab, dia hanya mengangkat bahu. Aku berjalan ke kamar dan kembali tidur dengan menutup kedua kupingku dengan bantal.
"Ana bangun" bisik seseorang
"Ana cepat bangun", ternyata Tiara yang membangunkanku. Aku melihat jam, baru jam 2 belum waktunya aku berjaga.
"Apa?" tanyaku kesal
"Dia menuju kemari, cepat bangun" Serunya. Apa dia kemari? bagaimana ini, Pikirku. Aku segera bangun dan menyembunyikan sepatu yang biasanya kupakai ketika keluar. Kata Tiara kalau kita menyembunyikan sepatu yang biasanya kita pakai dan ia tidak menemukanya maka dia akan berpikir bahwa aku sudah keluar dari sini.
"Kita akan bersembunyi dimana?" tanyaku. Dia diam, sepertinya dia sedang berpikir, aku juga sedang berpikir.
"Bagaimana kalau di" belum sempat aku melanjutkan dia berkata
"Jangan dilemari baju dan bawah kasur, kedua tempat itu mudah ditemukan" Selanya
"Ikuti aku" Ajaknya. Aku mengikutinya berjalan ke kamar mandi.
"Kau sembunyilah disana" dia menunjuk lemari kecil yang berada di bawah wastafel.
"Aku akan bersembunyi disini" dia merebahkan badanya di samping bathtub yang berdekatan dengan dinding, memang ada celah diantara bathtub dengan dinding tapi celah itu terbilang sempit. Aku masuk ke dalam lemari yang ditunjuk oleh Tiara untuk ku.
Aku mendengar suara pintu dibuka dengan paksa.
"Kalian dimana?" Terdengar sebuah suara dari ruang depan. Spikopat itu memiliki suara yang serak dan tegas, sangat menakutkan.
"Kalian tidak bisa sembunyi dari ku!!", mendengar suara itu membuatku merinding dan ketakutan. Aku mendengar suara barang dijatuhkan dan dilempar. Aku berusaha agar tidak menangis.
Tap tap tap, suara langkah kaki di kamar mandi. Aku tau itu bukan Tiara itu adalah pria spikopat itu. Aku takut dia membuka pintu lemari ini. Yang benar saja, tangan pria itu memegang kenop lemari dan ingin membuka lemari ini. Jangtung ku berdegup kencang, bagaimana kalau aku tertangkap aku tidak akan bisa kembali, pikiranku mulai kacau. Dia melepaskan tanganya dari kenop lemari
"Sial, matahari sudah terbit" Pria itu berjalan keluar apartemenku.
"Diana kau tidak apa-apa?" Tanya Tiara, dia membuka pintu lemari.
"Kau pasti takut ya, tenang dia sudah pergi. Dan sekarang sudah pagi" Tiara berusaha menenangkanku. Aku keluar dari lemari dengan tubuh yang gemetar. Tiara membuka tirai jendela, dia benar sekarang sudah pagi.
"Matahari sudah terbit? bukankah tadi baru jam dua ya?" tanyaku heran.
"Karena ini dunia yang berbeda tentu saja waktunya juga berbeda. Ini" dia memberiku sebuah jam.
"Jam ini salah" Beritahuku
"Ini jam yang ada di dunia ini, sedangkan itu jam yang ada di dunia nyata" dia menunjuk jam dinding yang berada di atas televisi.
"Jika di dunia nyata jam satu maka di sini sudah jam lima, berbeda 4 jam. Dan matahari hanya terbit sekitar enam jam sedangkan malam hari itu 18 jam" Lanjutnya.
"Apa kau tau kenapa malam hari lebih lama?" Dia bertanya
"Aku tau, karena dia hanya bisa membunuh orang saat tidak ada matahari seperti saat dia hidup bukan" Jawabku, dia menganggukkan kepala.
Aku dan Tiara makan dengan telur dan nasi yang tersisa. Kami harus makan dengan cepat.
"Selain aku harus bertahan selama satu minggu apa lagi yang harus ku lakukan agar bisa kembali?" Tanyaku disela-sela makan
"Jika kau ingin dirimu kembali hanya itu yang harus kau lakukan namun jika kau ingin menyelamatkan orang-orang yang terjebak disini maka kau harus mengambil satu buah batu Zamrud Merah yang berada di ruang bawah tanah"
"Zamrud merah? itu kan mahal sekali"
"Dan pria psikopat itu juga tinggal di bawah tanah jadi sangat sulit bagi kami untuk mengambilnya. Apa kau ingin mengambilnya?" tanyanya
"Aku akan lakukan itu untuk kalian" jawabku dengan percaya diri
"Bagaimana caranya?" Tanyanya tidak yakin akan keputusanku. Aku memberitahu ideku kepadanya.
"Apa kau yakin itu akan berhasil?"
"Percayalah padaku" jawabku. Aku tau ideku memiliki resiko yang besar tapi peluang berhasilnya pun besar.
Aku dan Tiara pergi menemui orang yang juga terjebak disini. Tiara memberi tahuku bahwa setiap matahari terbit luka yang diberikan oleh psikopat itu akan hilang dan saat malam hari spikopat itu akan memberikan luka baru.
Saat aku dan Tiara sedang berjalan dilorong tiba-tiba hari menjadi gelap
"Sudah malam bagaimana ini?" aku sangat panik.
"Waktunya dipercepat lagi olehnya" gerutu Tiara. Aku dengan cepat membuka pintu yang ada disampingku. Tidak bisa dibuka? mengapa?, batinku.
"Pecahkan teka-tekinya" Dia memberi tahuku dan masih mengawasi psikopat itu.
Muncul sebuah tulisan di pintu,
"Aku ada tapi tidak terlihat, aku selalu ada selagi manusia bernapas, semakin banyak diriku semakin banyak manusia yang datang dan pergi, aku bisa menjadi kesedihan bagi manusia namun aku juga bisa menjadi kebahagiaan bagi manusia. Banyak juga yang menanti diriku. Siapakah aku?" itu teka-teki. Aku mulai berpikir.
"Kau hanya bisa menjawab sekali jika kau salah semua pintu di apartemen ini akan terkunci untuk dirimu" Tiara memperingatkan. Teka-tekinya memang sulit tapi aku sudah menemukan jawabnya.
"Jawabanya adalah ... Hari Esok" jawabku dengan percaya diri.
Pintunya terbuka, aku langsung menarik tangan Tiara dan masuk ke apartemen 30.
"Kau hebat!, teka-teki ini belum terpecahkan selama satu minggu" Kagum Tiara
"Satu minggu?" jawabku tak percaya
"Teka-tekinya tidak akan berubah kalau belum terpecahkan dan kau berhasil memecahkanya itu berarti akan ada teka-teki baru yang muncul" jelas Tiara. Aku hanya diam memikirkan teka-teki berikutnya. Lalu aku teringat sesuatu. Aku dan Tiara membicarakan rencana yang kubuat.
Aku mengajak Tiara untuk keluar namun dia malah protes.
"Apa kau ingin mati hah!! ini masih malam dan matahari belum terbit!" tolak Tiara. Aku memberitahu kepadanya bahwa aku suka bermain game bertahan hidup dan ada kemungkinan aku dapat bertahan dan memenangkan ini.
"Kau kira ini permainan! ini nyata! jika kau tertangkap dan terluka karena psikopat itu kau akan terjebak juga! Kau tidak bisa bermain dari awal! Dan kau tidak akan bisa mengambil batu A
Zamrud itu! apa kau masih tidak mengerti?" Tiara marah-marag kepada ku.
"Kau kira aku sebodoh itu kah? Jika dia ada di lantai dasar kita punya waktu untuk pergi ke lantai atas" jelasku dengan tenang. Dia bertanya untuk apa kita ke lantai atas? aku memberi tau kepadanya "kita harus mencari makanan agar bisa bertahan dan kita juga harus memberi tahu yang lain tentang rencana kita" jelasku. Setelah beberapa saat dia berpikir akhirnya dia setuju. Yang tahu rencana ini hanya beberapa saja, belum semua tahu.
"Apa yang psikopat itu lakukan jika dia melihat korbanya sudah terkapar dan tidak bergerak, seperti meninggal?" Tanyaku.
"Dia akan melewatinya, sepertinya dia tidak suka menyiksa orang yang sudah meninggal, namun walau korbanya sudah meninggal dia akan hidup lagi saat matahari terbit" Jawab Tiara.
Saat aku dan Tiara sedang berjalan dilorong aku menemukan seseorang yang terkapar di lantai, orang itu sepertinya sudah meninggal. Aku segera mengambil botol dan pisau yang tadi ku bawa. Aku merobek tangannya dan menaruh darahnya dibotol besar.
"Apa yang kau lakukan" tanya Tiara tak mengerti.
"Aku punya rencana baru" jawabku.
"Lagi pula dia akan pulih kembali saat matahari terbit bukan, jadi itu bukan masalah" lanjutku. Lalu aku menuangkan sedikit darah itu ke tangan ku, Tiara juga melakukan hal yang sama. Namun saat aku melihat raut wajahnya sepertinya dia belum mengerti.
"Ternyata kalian disini!" Teriak psikopat itu. Kami menengok kebelakang dan langsung lari secepat mungkin. Psikopat itu mengejar kami dengan memegang sebuah pisau.
"Kalian tidak bisa lari dariku!" Seru psikopat itu. Saat aku melihat kearahnya, dia melempar pisau yang mengarah ke diriku. "Deg" darah mengalir dari perutku.
"Lari lah" perintahku kepada Tiara yang berhenti berlari. Dia sempat melihat kearah psikopat itu dan berlari lagi. Aku terbaring di lantai yang dingin dengan darah di perutku. Perlahan mataku tertutup, psikopat itu berjalan melewatiku.
"Ana kau tidak apa-apa?" Aku mendengar suara Tiara. Aku menguap, perlahan aku membuka mata. Matahari sudah terbit.
"Berapa lama aku tertidur?" Tanyaku pada Tiara
"Apa lukamu sudah menghilang? Kau jangan kawatir aku akan selalu bersamamu. Terjebak disini tidak semenakutkan itu kok" Hibur Tiara
"Aku tidak punya luka apapun, Apa kau juga tertipu?" Tanyaku
"Bukankah tadi kau tertusuk pisau?" Tanya Tiara
"Saat berlari aku menumpahkan darah di botol ke baju bagian parut ku. Saat dia melempar pisau ke arahku, aku menangkap pisau itu sebelum menyentuh perutku. Jadi itu hanyalah tipuan" Jelasku
"Kau sangat pintar" Puji Tiara sambil bertepuk tangan.
"Ayo" Ajak Tiara. Kami pergi untuk mencari makanan. Kami juga sudah memberi tau semua orang tentang rencana kami. Salah satu dari mereka bertanya "Bukankah jika dilakukan saat siang hari akan lebih mudah?"
Aku menjawab "Jika kita lakukan saat siang hari dia akan mengubah waktunya, dan rencananya tidak akan berhasil, lebih mudah dilakukan saat malam hari" Jelasku. Mereka setuju dengan rencana ku.
Ini adalah hari ke tujuhku disini. Aku dan Tiara selalu mencoba untuk menghindari psikopat itu, dan kami selalu menemukan trik agar dapat menghindar darinya. Malam ini aku akan melaksanakan rencana yang sudah kami siapkan. Semua orang sudah berada di tempat masing-masing.
Apartemen ini memiliki 30 lantai sedangkan orang yang terjebak disini jumlahnya ada 150 orang termasuk diriku dan Tiara. Jumlahnya sangat banyak karena orang terpilih selalu ada setiap tahun dan dia juga ternyata suka memilih orang yang tidak tinggal di apartemen.
Setiap lantai akan ada 5 orang dimulai dari lantai 2. Sedangkan aku dan Tiara mengumpat di kamar lantai dasar.
Aku mengumpat di bawah kasur di paling pojok. Kami berada di kamar yang berbeda dan apartemen yang berbeda dia ada di apartemen 04 sedangkan aku ada di apartemen 02.
"Tap, tap, tap" suara langkah kaki yang semakin mendekat. Psikopat itu masuk, sekarang dia berada di kamar. Bagaimana ini, jika dia menemukanku semuanya akan sia-sia, batinku. Aku sangat gelisah. Batu Zamrud Merah hanya berfungsi saat orang tepilih yang menggambilnya belum pernah mendapat luka dari psikopat itu.
Dia duduk di kasur sedangkan aku menahan napas. Aku tidak tau apa yang sedang dia lakukan. "Grek" dia menusuk kasur bagian tengah hanya bejarak 5 cm dari lenganku. "Grek, grek" sepertinya dia menusuk lemari yang ada dikamar ini. Untung Tiara tidak disini, batinku.
"Grek" dia menusuk kasur di bagian samping. Pisau itu hampir mengenaiku, berada 2 cm diatas tubuhku. Aku menahan napas lagi. "Tap, tap, tap" suara langkah kaki yang meninggalkan kamar.
Aku masih berada di bawah kasur. Tiara bilang dia akan kemari jika psikopat itu sudah pergi ke lantai atas.
Aku menunggu namun dia tidak kunjung datang. Aku memutuskan untuk keluar dari kamar apartemen. Aku melihat Tiara sedang kebingungan lalu aku menghampirinya. Aku bertanya ada apa, lalu dia menjawab bahwa dia kebingungan mencari ku.
Aku dan Tiara pergi ke lantai bawah tanah. Disana sangat gelap untung kami membawa senter jadi kami bisa melihat sekeliling. Lantai bawah tanah memiliki banyak lorong. Akhirnya kami menemukan batu Zamrud Merah setelah tersesat kesana-kemari.
Di bawah batu Zambrud Merah ada sebuah teka-teki yang harus dipecahkan. Sebelumnya Tiara bilang jika ingin mengambil Batu Zamrud Merah aku harus memecahkan suatu teka-teki.
"Aku lebih buruk dari yang lain, aku tidak sempurnya, aku bisa berbuat baik dan berbuat jahat. Siapakah aku?" Aku berpikir sejenak, aku tersenyum.
"Jawabnya adalah Diriku Sendiri" jawabku
Teka-teki itu berganti. Muncullah sebuah teka-teki baru. Teka-teki lagi?
"Aku adalah akhir, membuat semua orang sedih, namun ada yang senang dengan kedatanganku, ada yang memilih untuk datang kepadaku ada juga yang memilih untuk ku kunjungi. Siapakah aku?"
"Prok, prok, prok" Suara tepuk tangan. Aku menengok kebelakang dan melihat Tiara bertepuk tangan, aku mengernyitkan dahi.
"Kau pintar juga ya" Tiara berjalan mendekatiku.
"Tapi kau bodoh, mudah ditipu" Lanjutnya.
Perlahan-lahan tubuh Tiara berubah menjadi tubuh psikopat itu.
"Apa Tiara lupa memperingatkanmu?" Tanyanya
"Sebentar lagi matahari terbit kau tidak bisa mengambil Zamrud Merah itu"
"Aku sudah tau bahwa itu kau, dunia ini milik mu, dan kau bisa melakukan apa saja di dunia mu sendiri, termasuk berubah menjadi orang lain, namun hatimu tetap sama" jawabku dengan tenang.
"Kau lupa siapa aku, aku adalah Diana" lanjutku
"Tadi kau bilang apa? aku bodoh?" tanyaku
"Hahahaha" aku tertawa dan tersenyum sinis kepadanya.
"Kau yang bodoh, aku tau kau sengaja mengulur waktu ku bukan? namun kau salah" lanjutku
Muka psikopat itu terlihat kesal, dia mengambil pistol yang berada di sakunya. "Dor" dia menembakkan peluru ke arahku, aku menghindar agar tidak terkena pelurunya.
Dia menembakkan peluru lagi dan aku berhasil menghindarinya seperti sebelumnya.
Aku merebut pistol yang ia pegang. Dan menodongkan pistol ke arahnya, aku tersenyum sinis kepadanya.
"Oh, siapa yang bodoh? apa aku? bukan-bukan. Yang bodoh kali ini adalah dirimu" Tunjukku kepada psikopat itu menggunakan pistol yang kupegang dengan senyum sinis patinya.
"Terimakasih karena sudah mengulur waktuku, aku jadi bisa berpikir lebih lama" Lanjutku disertai senyuman sinis. Aku melihat jam yang ada dipergelangan tanganku.
"Jawabnnya adalah Kematian" jawabku dengan keras. Batu Zamrud Merah yang tadinya terkunci sekarang sudah terlepas dari kunci. Aku mengambil batu Zamrud Merah itu. "Kau" teriak psikopat.
"Aku tau kau hanya ingin disayang dan diperhatikan oleh orang tuamu" kataku. Dia langsung diam ditempat.
"Jika kau ingin disayang bukan seperti ini caranya, percuma kau melampiaskan kemarahanmu kepada mereka, itu membuat orang benci kepadamu, berbuat baiklah kepada orang lain dengan begitu mereka akan sayang denganmu. Jika kau ingin diperhatikan jangan membuat kerusuhan atau masalah untuk orang lain, karena orang-orang akan menganggapmu sebagai pembuat onar." Lanjutku kepada psikopat itu.
"Kau pasti telah menyimpan semua ini sendiri bukan? hatimu pasti terasa penuh, kau ingin bercerita namun tak tahu dengan siapa? Kau takut semua orang akan mengabaikanmu? Aku mengerti apa yang kau rasakan, aku juga pernah merasakan itu. Kau tau apa yang kulakukan?" tanyaku kepada psikopat itu. Dia hanya diam.
"Aku mengeluarkan semuanya pada orang tuaku mereka berkata bahwa mereka tidak tau kalau aku merasa diabaikan sejak saat itu aku mulai diperhatikan, aku mendapatkan apa yang ku mau" Lanjutku. Aku melihat jam, dua menit lagi matahari terbit itu berarti aku dan yang lainya akan bebas saat matahari terbit.
Aku berjalan ke arah psikopat itu dan memeluknya. Aku berbisik kepadanya "Tidak semua orang jahat kepada dirimu, mereka hanya tidak mengenalmu" bisik ku dengan lembut
Dia menangis di pelukanku. Dia menangis? apakah psikopat bisa menangis?, pikirku. Jujur saja saat aku memeluknya aku takut namun tak kusangka dia malah menangis, itu membuatku merinding.
"Tidak pernah ada orang yang berbicara seperti itu kepadaku" katanya. Apakah dia tersinggung dengan berkataan ku, aku panik.
"Terima kasih karena sudah membuat hatiku tenang" lanjutnya. aku melepaskan pelukan. Aku melihat jam lagi, sudah waktunya aku dan yang lain pergi. Perlahan aku menghilang.
"Selamat tinggal, jangan pernah menyakiti orang lain" kata terakhir yang kuucapkan kepada psikopat itu. Aku melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dengan psikopat itu dan dunianya.
Aku terbangun di tempat tidurku, sudah pagi. Ibu memanggilku untuk sarapan. Saat aku dan keluargaku sedang menonton televisi, ada suara ketukan pintu.
"Tiara" sapaku. Dia datang untuk berkunjung. Dia bilang keluarganya tidak ingat saat dia menghilang. Kami menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Semua kembali damai. Dan aku juga menyimpan Batu Zamrud Merah itu. Sungguh keuntungan yang sangat besar bagiku.
~~~
Semua berawal dari rasa sakit yang dirasakan oleh seseorang yang diabaikan. Orang yang disakiti, diabaikan, dibully bisa berubah menjadi psikopat. Apakah itu salah mereka? semua itu salah orang yang mennyakitinya. Seandainya kau tidak menyakiti orang lain, hal itu tidak akan terjadi.
TAMAT