PRANG!!
Suara benda keras yang menghantam keramik terdengar begitu nyaring sehingga membuat semua orang yang berada di sana terkejut. Salah satunya seorang gadis yang kini tengah terduduk di lantai bersama seorang gadis lain yang tengah menatap nanar seragamnya yang kotor.
"Jalan itu pakai mata, bego! Coba lihat seragamku jadi kotor," omel Angel, ia tak terima karena hanya dirinya saja yang terkena tumpahan jus, sedangkan Anna hanya terjatuh dan sedikit terkejut, namun Anna tak sadar jika jari telunjuknya terkena pecahan gelas.
"Aku gak mau tahu, kamu harus bersihin seragam aku!"
Anna menatap jari telunjuknya yang sekarang mengeluarkan cairan kental bewarna merah lalu tersenyum tipis, dengan secepat kilat Anna mengambil pecahan beling itu dan pergi meninggalkan Angel yang masih sangat kesal.
"Woy! Kamu buta-tuli, ya! "
Anna yang enggan melawan Angel hanya menghela napas dan melanjutkan langkahnya.
"Dasar gila! Dia buta apa gimana, gak lihat kalau aku punya mata. Dia yang tabrak, dia juga yang marah," gumam Anna.
Keesokan harinya…
Anna memilih berpisah dari teman-temannya dan duduk seorang diri di kursi tribun yang terletak di pojok lapangan. Anna membiarkan angin sepoi berhembus membuat rambut panjangnya terkibas. Dedaunan yang berasal dari pohon di sekitar sekolahnya berguguran menandakan musim semi akan datang. Dan dengan senang hati Anna menyambutnya. Bahkan ia sangat menantikan hari-hari itu, sebab ia sudah menentukan sasarannya.
BUGH!!
Entah datang dari mana datangnya bola besar yang menghantam kening Anna hingga membuatnya terjatuh, rasanya kepala Anna begitu pening. Samar-samar ia mendengar suara tawa dari segerombolan gadis yang ia tahu salah satunya adalah Angel. Gadis yang bertabrakan dengannya kemarin.
Anna tahu pasti siapa yang melakukan ini padanya, dengan tenang ia membawa bola basket itu dan pergi dari sana.
Akhir-akhir ini Anna merasa bahwa Angel selalu mencoba membuat masalah padanya, mulai dari tasnya yang selalu terisi sampah-sampah hingga meja belajarnya yang penuh dengan coretan dan saat ini Anna sedang mendapati Angel dan teman-temannya yang tengah mem-bully seorang gadis culun. Angel menarik rambut gadis itu sedangkan teman-temannya tertawa dan sesekali ikut mem-bully gadis culun tersebut.
"Calm down Anna, ada waktunya nanti untuk membersihkan sampah-sampah itu."
***
Pada suatu malam, tiba-tiba Angel dikejar oleh seorang wanita yang membawa sebuah panah. Angel tahu wanita itu sedang mengincar bahkan ingin membunuhnya, hingga Angel terjebak di ujung tembok yang berlumut, gelap dan sangat menakutkan. Angel ingin berlari namun saat ia berbalik terlihatlah seorang wanita yang sudah siap dengan anak panahnya yang ingin diluncurkan, dan saat anak panah itu terlepas dari busurnya—
Angel terbangun.
Di dalam hati Angel bersyukur karena semua itu hanya mimpi. Angel menatap jam dinding yang sekarang sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
Ting.
Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak Angel kenal, kemudian ia segera mengecek pesan tersebut.
"The time's very close?" Angel membaca pesan itu, namun ia tak memedulikan, pesan iseng seperti ini sudah sangat biasa, bukan? Bahkan ia yakin semua orang juga pernah mengalaminya. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak jelas. Tanpa peduli Angel kembali melanjutkan lagi tidurnya.
***
2 minggu kemudian…
Malam ini Angel baru saja selesai mengantarkan teman-temannya pulang karena mereka baru saja party di sebuah club dan itu sudah menjadi kebiasaannya. Angel mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata sebab jalanan yang ia lalui sangat sunyi. Tiba-tiba saja di tengah perjalanan pulang, mobil yang dikendarainya hilang kendali, Angel menginjak pedal rem berkali-kali namun tidak berfungsi sehingga mobil Angel oleng dan—
BRAK!!!
Mobil Angel menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan yang sunyi itu, kini tubuhnya terasa sakit dan darah segar mulai menetes sedikit demi sedikit dari pelipisnya, ia berusaha keluar dari mobilnya dan mencari bantuan. Ia berjalan beberapa meter dari tempatnya menabrak dengan susah payah, hingga ia melihat lampu kendaraan di depan sana, ia berusaha mendatangi kendaraan tersebut namun semakin lama penglihatannya semakin kabur dan akhirnya ia tidak sadarkan diri.
2 jam kemudian …
Angel mulai tersadar, ia merasa kepalanya pusing dan dengan perlahan ia membuka matanya, mencoba menangkap siluet dari seseorang yang sedang mengasah sebuah benda, yang pasti itu adalah benda tajam. Kedua mata Angel membulat dengan sempurna. Ia ingin kabur dari tempat itu namun tiba-tiba ia merasa tubuhnya lemas tak berdaya, lagi, saat ini ia sedang berada pada posisi tubuh terikat di sebuah tiang bangunan dengan ring basket di atasnya.
Angel hendak memberontak namun mulutnya disumpal dengan sebuah kain yang sudah berlumuran dengan darah dan berbau amis. Angel ingin sekali memuntahkan isi perutnya namun ia tak bisa. Siluet itu berjalan mendekat dengan bunyi derap langkah kaki yang seolah pelan namun pasti, Angel berharap ini hanya sebuah mimpi. Seperti kemarin.
Namun ia salah besar, semua kejadian ini sangat nyata. Bahkan ia sangat terkejut saat tahu siapa gadis yang sekarang ini tengah berdiri di hadapannya dengan membawa bola basket di tangan kiri dan pisau mengkilap berukuran kecil namun tajam di tangan kanannya.
Gadis itu tersenyum lebar saat melihat Angel yang tak berdaya sedang terikat di tiang bangunan dengan kain yang sudah bercampur dengan darah.
Gadis itu mulai mengambil ancang-ancang untuk melempar pisau yang berada di genggamannya tepat ke arah dada Angel yang ada di hadapannya. Angel hanya bisa menangis histeris tanpa suara, ia sudah merasa putus asa. Tapi mengapa gadis itu melakukan hal ini padanya? Mirip sekali dengan psikopat!
Saat pisau itu hendak melayang bebas, Angel menutup kedua matanya rapat-rapat dan—
BUGH!
Gadis itu tersenyum penuh kemenangan saat melihat bola yang ia bawa itu berhasil masuk ke dalam ring dan langsung mengenai kepala Angel.
Angel merasakan pusing yang luar biasa di kepalanya dan membuka kedua matanya tepat saat gadis itu tengah menatapnya lamat-lamat.
"Enak dilempar bola?" tanya gadis itu lalu melepaskan kain yang menyumpal mulut Angel.
Bibir Angel terasa kebas dan perutnya terasa mual karena bau amis darah itu masih membekas di indra penciumannya.
"A–Anna aku mohon lepaskan aku," mohon Angel membuat Anna tertawa.
"Tidak semudah itu, Angel. You started it, and you have to accept the consequences," ujar Anna.
"Kenapa kamu berlebihan Anna!" teriak Angel dengan suara lantang.
"Berlebihan?" Anna tertawa, "Ini belum seberapa."
"Aku cuma lempar kamu pakai bola dan coret meja kamu, tapi ini apa? Ini sudah menyangkut nyawa Anna!"
Anna hanya tertawa lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jaket denimnya, sebuah pecahan beling yang mengkilap dan tajam.
"Anna, kamu mau apa? Ini gak lucu!" ujar Angel ketakutan, menurutnya Anna sudah sangat gila.
"Kamu tahu? Benda ini sangat indah kalau tersangkut di pipi kamu, Angel," ujar Anna lalu mendekat ke arah Angel dan perlahan menggores pecahan beling itu di pipi Angel dan menciptakan garis luka yang mengeluarkan darah segar.
Angel meringis menahan rasa perih di pipinya. "Kamu psikopat Anna!"
"HAHAHAHA!
"Apa kamu tahu? Saat kamu teriaki aku buta-tuli, aku berusaha untuk gak menyakiti kamu." Anna mengangkat tangan kirinya dan membelai luka di pipi Angel.
Tubuh Angel bergetar hebat, keringat dingin bercucuran hingga tercampur dengan darah dari lukanya. Ia tak habis pikir, hanya karena kesalahan kecil saja bisa mendatangkan masalah besar seperti ini untuk dirinya. Anggap saja sekarang ini Angel telah membangunkan binatang buas yang sedang tertidur.
PLAK!
"Akh!"
Grep!
Anna menarik rambut Angel agar kedua mata mereka saling bertatap. "Gimana rasanya?" tanya Anna.
"Anna a–aku m–minta maaf …," ucap Angel lirih sambil sesekali air mata terjun dari matanya.
"Kamu mau aku maafin?" ucap Anna sambil menaikkan alisnya. Dan Angel berusaha mengangguk.
"Kalau begitu …."
Anna berjalan menjauh dari Angel, ia pergi entah ke mana. Hal itu membuat Angel sedikit lega, ia segera berusaha untuk melepaskan ikatan pada tubuhnya, ikatannya begitu kuat hingga membuat kulit Angel memerah. Dengan sekuat tenaga ia mencoba melepaskan diri, ia tidak mau mati sia-sia seperti ini, apalagi ia mati di tangan gadis yang selama ini ternyata adalah penderita psikopat.
Tuk.
Tubuh Angel menegang seketika. Tiba-tiba Anna muncul dari belakang dan meletakkan sesuatu di atas kepala Angel. Kini Anna beralih posisi menjadi berdiri di hadapan Angel.
Anna melipat kedua tangannya di depan dada dan sedikit membungkukkan badannya lalu berkata, "Let's play."
Angel mulai panik untuk yang ke sekian kalinya. Apa yang dimaksud dari kalimat yang dilontarkan Anna barusan? Ia sungguh-sungguh berharap semua ini hanya halusinasinya.
Anna berjalan sejauh sepuluh langkah di depan Angel. Kini mereka berdua berhadapan. Anna mengeluarkan pisau kecil dari sakunya, membuat Angel bergerak memberontak.
"Hei Angel, pisauku ini belum pernah meleset. Tapi kalau kamu gak percaya… berdoalah sekarang."
Anna membelakangi Angel dan mulai menghitung dari angka sepuluh. Lagi-lagi Angel memberontak dengan sekuat tenaga, padahal tubuhnya terasa sangat sakit tapi ia harus melepaskan diri dan pergi menjauh dari tempat itu.
"3."
"2."
Anna berbalik badan dan dengan secepat kilat pisau yang sedari tadi ia genggam melesat dan menancap tepat sasaran.
"1."
Anna tersenyum senang, pisau itu lagi-lagi berhasil menancap tepat di sasarannya, yaitu kepala Angel. Anna merogoh saku celananya mencari sebuah benda pipih. Setelah menemukan benda pipih itu, Anna menelepon seseorang.
"Datanglah, sekarang."
Tut.
Setelah menunggu selama sepuluh menit akhirnya teman Anna datang. Tanpa ba-bi-bu pemuda itu langsung memasukkan mayat Angel ke dalam plastik hitam besar lalu meletakkannya di kursi penumpang dalam mobilnya. Kemudian pemuda itu pergi meninggalkan Anna.
***
"Kamu yakin mau kirim cerita begini?" tanya Angel.
"Iya, dong," jawab Anna.
"Gak ada cerita lain gitu?" tanya Angel lagi.
Anna menghela napasnya. "Masih mending aku punya ide. Lah, kamu? Dari tadi katanya mikir tapi gak dapat ide."
"Ya namanya juga lagi mikir. Lagian kamu tega banget, sih, masa di cerita itu akunya meninggal," protes Angel tak terima tokoh yang memakai namanya meninggal.
"Gak apa-apa, yang penting keren."