Sillia, adalah daratan indah para Peri. Hijau, subur dan ditumbuhi aneka bunga warna-warni yang cantik. Aliran air sungai di Sillia jernih dan wangi. Para Peri daratan Sillia pun hidup rukun dan sejahtera dibawah kepemimpinan Ratu Alsira.
Namun, sejak penyihir Bangsa Bugao datang menyerang dan berhasil menumbangkan Ratu Alsira, daratan Sillia menjadi bak neraka bagi para Peri. Banyak peri yang tumbang karna ulah mereka.
~~
Elina terbang menggenggam abu putih berkilau. Ia mengendap-endap dibalik pohon seraya terus memantau keadaan dibawah sana.
"Archaportase!" Ia mengucap mantra seraya meniup debu tersebut ke arah para Penyihir Bugao yang tertidur di daratan Sillia saat menjaga para peri yang menjadi tawanan mereka.
Peri cantik itu mendekati salah satu pohon besar dan mengambil beberapa buahnya. Elina melemparkan buah-buah tersebut kearah para penyihir yang ia tiupi abu tadi, guna untuk menguji apakah para penyihir tersebut sudah terpengaruh ramuan debu.
Buk! Buk!
Satu persatu buah mengenai wajah para penyihir itu, namun mereka tak merespon sama sekali.
"Yes, aku berhasil!" ucap Elina girang.
Ia pun turun menuju pintu penjara bawah tanah dimana para peri di sekap. Elina dengan perlahan melewati para penyihir Bugao yang tertidur. Ia kembali mengucap mantra dan akhirnya gembok pintu tersebut terbuka.
Elina benjalan mengendap. Ia memastikan keamanan di setiap lorong penjara. Setelah dilihatnya tak ada satupun penjaga di dalam, Ia berjalan ke tengah dengan kedua tangan menengadah berisi abu putih berkilau.
"Sirsalahoos!" Elina meniup abu seraya berputar seperti gasing. Abu-abu itu pun berterbangan dan menyebar ke seluruh lorong penjara sehingga semua gembok terbuka, dan para peri yang menjadi tawanan pun berhasil bebas.
"Elina!" teriak Lily berlari memeluk sahabatnya.
"Lily, untung kau baik-baik saja. Kita harus segera pergi dari sini." ucap Elina seraya melepas pelukan Lily. "Semuanya, kita harus segera pergi dari sini!" tegas Elina disambut dengan binaran mata harap-harap cemas dari para peri yang baru saja bebas.
Elina, Lily beserta seluruh peri tersebut terbang perlahan saat melewati pintu penjara yang dijaga oleh para penyihir yang masih tertidur.
Mereka terbang dengan teratur, perlahan, dan tanpa suara.
Elina mengarahkan para peri untuk melewati lorong rahasia di dalam hutan. Pintu lorong bawah tanah tersebut sengaja ditutup dedaunan kering, untuk menghindari kecurigaan para penyihir. Lorong tersebut akan membawa mereka ke Lembah Ursel untuk mengungsi sementara waktu sampai daratan Sillia kembali aman.
"Elina, bagaimana kau tau kalau lorong ini Aman? Apa ..."
Ucapan Lily terputus kala Elina berhasil menyelanya, "Lily, sekarang bukan saatnya!" ucap Elina dengan tatapan serius. "Ayo-ayo cepat! kalian hanya perlu berjalan mengikuti arah lorong, dan kalian bisa tinggal disana untuk sementara waktu sampai Sillia benar-benar aman."
Elina meminta Lily menjadi pemimpin para peri yang lain untuk merangkak mengikuti arah lorong yang akan membawa mereka ke lembah Ursel. Sementara itu Elina terus berjaga di pintu lorong dan kembali menutup pintu tersebut dengan daun kering, supaya para penyihir Bugao tak menemukan persembunyian mereka.
~~
Setelah cukup lama mereka merangkak di dalam lorong sempit dan gelap akhirnya sampailah mereka di lembah Ursel.
"Waaah ... disini tidak buruk kak Lily. Ternyata lembah Ursel juga indah, tapi Sillia-ku jauh lebih indah," cetus peri kecil bernama Asa.
"Iya ini semua berkat Elina, kita bisa tinggal sementara disini. Asa kau tak perlu khawatir, nanti kita pasti bisa kembali ke Sillia." Lily mengelus lembut pipi Asa yang chubby dan memerah.
Lily teringat Elina, ia menelisik satu persatu peri yang berada di sana, namun netranya tak menangkap wajah Elina. Lily pun panik dan mulai memanggil sahabat yg telah menyelamatkannya. "Elina ... Elinaa!"
"Lily, aku berada di urutan terakhir. Elina berpesan supaya kau tak perlu mengkhawatirkannya," ujar seorang peri pria dewasa yang bernama Rugos.
"Rugos, apa yang kau katakan? Dimana Elina?" Lily semakin panik dengan ucapan Rugos.
"Elina, dia bilang dia akan mengusir para penyihir Bugao." Rugos terdiam sejenak, ia mendekati Lily seraya berkata, "Lily, tidakkah kau ingat tentang ramalan Tuan Phorbi sebelum Ratu Arsilla meninggal? Tuan Phorbi mengatakan Sillia berubah kelam namun kembali terang dengan hadirnya peri setengah manusia. Bukankan kata orang Elina lahir tanpa seorang ayah?"
Lily berpikir sejenak, mencerna kalimat yang diucapkan Rugos dan menyadari bahwa, "mungkin Elina-lah peri setengah manusia itu!" teriak Lily dengan membulatkan kedua matanya. "Kalau begitu tunggu apalagi, ayo kita bantu Elina!"
"Tunggu!"
Tiba-tiba muncul seekor kelinci putih seukuran peri dewasa menghentikan langkah Lily. Ia berjalan mendekati Lily dan memberikan beberapa ikat kantung kecil yang berisi abu berkilau dengan warna berbeda.
"Bawalah ini bersama kalian. Bacalah mantra yang tertulis di sisi luar kantung itu sesuai urutan, dan jangan khawatirkan Elina. Dia akan baik-baik saja." Kelinci tersebut berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan Lily.
"Tunggu! Kau kenal sahabatku? Siapa kau tuan kelinci?" tanya Lily penuh penasaran.
Tanpa menoleh sedikitpun kelinci itu berkata, "aku Phorbi. Kalian bisa memanggilku Tuan Phorbi." Ia pun kembali melanjutkan langkahnya kemudian melompat-lompat bagai kelinci normal lain dan melesat secepat kilat hingga tak nampak lagi di hadapan peri-peri itu.
"Tuan Phorbi? sang peramal kah?" tanya Rugos bingung.
"Hah?" Lily baru menyadarinya setelah Tuan Phorbi menghilang. "Jika dia benar Tuan Phorbi sang peramal, dan dia mengenal Elina. Mungkin benar Elina-lah peri setengah manusia itu!" ucap Lily dengan penuh keyakinan. "Kalau begitu, aku butuh peri dewasa untuk ikut bersamaku kembali ke Sillia. Sementara itu, para peri anak-anak dan orang tua kalian harus melindungi diri disini. Kalian mengerti?" tegas Lily di hadapan para peri.
Lily dan para peri dewasa kembali berjalan menuju lorong untuk membantu Elina yang berjuang demi tempat mereka tercinta, daratan Sillia.
~~
Sementara di Sillia, seluruh hutan telah dikuasai oleh para penyihir. Bahkan Elina telah tertangkap basah oleh salah satu penyihir saat terbang mengendap-endap di hutan. Alhasil terjadilah aksi kejar-kejaran antara Elina dan penyihir Bugao.
Bukkk!
"Aww ... " Elina terjatuh ke tanah saat dirinya membentur pohon ketika terbang menghindari para penyihir. Untuk sesaat kepalanya terasa pusing.
"Kena kau!"
Elina berhasil tertangkap oleh para penyihir itu. Tubuhnya dibawa paksa terbang ke atas dan diikat dengan tali mantra ke batang pohon yang tinggi.
"Ck ... ck ... ck! sungguh malang nasibmu peri manis. Karena keberanianmu, kau akan menemui ajalmu sendiri. Hahaha!" Mosca, sang pemimpin dari para penyihir itu mendekati Elina. Hidung runcingnya yang berwarna hijau dan dipenuhi lubang membuat Elina merasa jijik.
"Apa kesalahan kami, sehingga kau memburu dan membunuh beberapa dari kami?" ucap Elina lantang.
"Apa itu permintaan terakhirmu sebelum mati? baiklah akan kukabulkan. Aku akan memberitahumu 1 rahasia, tapi itu tak akan berguna untuk mu. Karena sebentar lagi kau akan hkkk (mengisaratkan tangan yang menggores leher). Hahahahaaa!" Mosca tertawa lepas dan diiringi tawa dari penyihir lainnya.
"Cepat katakan!" Elina berteriak tak sabar.
"Oh baiklah! ternyata kau tak sabar untuk mati. Sebenarnya kalian tak memiliki salah, hanya saja ramalan mengatakan Bangsa Bugao akan tumbang oleh peri setengah manusia dari daratan Sillia. Kami tak tau siapa diantara kalian yang bukan peri murni, untuk itu aku memutuskan untuk membinasakan semuanya. Hahahaaaa....!"
Elina tersentak kala melihat Mosca mengeluarkan sebuah tombak panjang yang ujungnya membentuk huruf T. Kedua sisinya sama-sama memiliki bentuk ujung runcing dan tajam. Sebelah sisi mata tombak tersebut lebih panjang dari sisi satunya, dan sisi yang lebih pendek membentuk ujung yang setengah melengkung ke bawah. Tombak tersebut mengeluarkan kilatan cahaya ungu yang berhasil membuat jantung Elina berdegup kencang.
~~
Sementara itu, Lily dan para peri yang mengikutinya telah keluar dari dalam lorong dan berhasil menemukan Elina yang terikat di atas pohon. Lily hampir menangis saat melihat sahabatnya terkepung tak berdaya di antara gerombolan penyihir Bugao yang kejam.
"Apa yang harus kulakukan? Bagaimana serbuk ini dapat membantu Elina?" Lily sungguh tak tau harus berbuat apa.
"Jangan banyak berpikir Ly, lakukan saja. Baca mantranya dan tiupkan abunya!" ucap Rugos meyakinkan Lily.
Dengan segenap hati Lily mengambil segenggam abu dari dalam kantung itu yang merupakan kantung nomor pertama. Ia mengucapkan mantra seperti yang tertulis pada bagian luar kantung tersebut.
"Sirsalahoos! Huuft ..." Lily mengucap mantra dan meniupkannya.
Debu tersebut berterbangan dengan butiran yang berkilau, dan berhasil membuka ikatan tali mantra yang menahan tubuh Elina. Elina pun terbebas dan terbang melesat. Namun naas, Mosca dapat mengejar laju terbangnya dan menganyunkan tombak tersebut hingga memotong sebelah pangkal sayapnya.
Tubuh elina oleng dan tak terkendali saat sebelah sayapnya telah jatuh lebih dulu menghantam tanah.
"Elina!" Lily yang tersentak segera keluar dari persembunyiannya dan menangkap tubuh Elina yang hampir jatuh menghantam tanah.
"Huh, bau apa ini?" Para penyihir mulai mencium aroma yang menusuk hidung mereka.
"Kalian salah, kalianlah yang menjemput ajal dengan melukaiku. Akulah peri setengah manusia. Darahku adalah kelemahan kalian, dan ramalan tentang kebinasaan bangsamu akan segera terjadi." Teriak Elina lantang, dan berhasil membuat para penyihir itu terkejut. "Lily bawa aku terbang mendekati Mosca." Lily pun segera membawa tubuh sahabatnya yang berlumur darah dengan sebelah sayapnya yang telah patah.
Elina dan Lily berhasil mendekati Mosca. Dengan sigap Elina merebut tombak tersebut.
"Lily, turunkan aku ke tanah. Dan menjauhlah, carilah tempat berteduh!" Tanpa banyak bertanya, Lily melakukan yg diperintahkan Elina. Ia pun segera menjauh dan mengajak para peri yang lain untuk berteduh di dalam penjara bawah tanah.
Kemudian Elina mengarahkan Tombak tersebut untuk memutuskan pangkal sebelah sayapnya yang masih melekat. "Sshhh!" Elina mendesah menahan rasa sakit pada bagian belakang punggungnya.
Sementara itu para peri yang masih bersembunyi, mereka dipimpin Lily untuk meniupkan satu-persatu abu dari kantung yg mereka pegang berdasar urutan kantung tersebut.
"Arsalahoos!" Serbuk tersebut berterbangan dan membuat tubuh satu persatu penyihir terikat mantra dan tak dapat digerakkan.
"Arcio Calamos!" Serbuk biru pekat berhambur keudara. Dengan tiba-tiba dan secara ajaib awan berubah menjadi hitam. Bergerak memutar, semakin lama semakin besar dan meluas.
Elina berdiri seraya menitikkan air mata kala kedua sayapnya ia letakkan diatas kedua tangannya yang menjulur ke depan. "Aku mempersembahkan sayapku dan kekuatanku, untuk membinasakan seluruh Bangsa Bugao, dan membebaskan Sillia!" Teriak Elina lantang.
Elina menatap awan hitam yang berputar menakutkan. Seketika dari poros perputaran awan tersebut, muncul cahaya membawa sayap yang dipersembahkan Elina. Langit hitam pun berubah menjadi merah, dan tak lama kemudian turunlah hujan darah yang membasahi daratan Sillia.
Siapa saja yang terkena hujan darah tersebut akan binasa kekuatannya. Begitupun para penyihir yang terperangkap mantra, mereka hanya bisa meronta kala hujan darah membasahi tubuh mereka.
"Aaaa ... ampun ... ampun ... sakit." rintih yang hampir bersamaan terdengan dari mulut para penyihir yang sedang merasa tersiksa.
Satu persatu penyihir mulai tumbang. Mereka jatuh menghantam tanah setelah merasakan sensasi menusuk dari tiap bulir tetesan air hujan dan aroma menyengat darah Elina yang menjadi racun bagi penyihir Bangsa Bugao.
"Zyossa Calahop!" Rugos segera meniup abu pada kantung terakhir. Seketika abu-abu tersebut berterbangan dan berubah menjadi burung hitam berparuh besar. Burung-burung itu kemudian membawa setiap mayat dari para penyihir Bugao.
Lily, Rugos dan para peri yang lain keluar dari tempat mereka berteduh setelah hujan berhenti. Mereka berlari menghampiri Elina yang terkulai lemas.
~~
Setelah perjuangan dan pengorbanan besar Elina, kini daratan Sillia kembali aman. Para peri pun kembali ke tempat asal mereka setelah 2 hari berada di lembah Ursel.
Walau telah terpotong kedua sayapnya, Elina berhasil melawan maut. Namun dirinya harus menerima takdir bahwa ia kini hanya sebagai manusia biasa dan tak memiliki kekuatan peri.
Dari balik semak-semak, sesosok berbulu putih mengintip ke arah para peri yang sedang berbahagia. Telinga panjangnya bergerak keatas kebawah dan sedikit menyembul dibalik dedaunan tempatnya bersembunyi.
"Hah, akhirnya calon permaisuriku telah hadir." Tuan Phorbi sang kelinci pun melompat dan merubah dirinya menjadi peri tampan, ya dialah peri peramal yang sedang menyamar. "Elina, tunggu aku menjemputmu!"
-TAMAT-
Maaf yak, ceritanya kepanjangan.
wkwk.... aku rasa kayaknya isi ceritanya gak cocok sama tema.
Tapi yasudahlah, semoga terhiburr 😊😊😊😂