Dulu waktu masih duduk di bangku sekolah dasar aku dijuluki anak siluman ular hitam saat itu, karena kakiku yang bersisik layaknya sisik ular dan kulitku yang hitam.
Tidak sedikit dari mereka yang mengejekku, hingga saat ini pun kejadian dimasa kecil selalu kuingat dengan jelas.
Memang benar kakiku dulu bersisik banget seperti ular dan kulitku saat itu dulu hitam, selain dijuluki anak ular, mereka juga mengejekku dengan anak suku aborigin.
Dulu aku menjadi bahan sasaran mereka untuk dikucilkan.
Mereka selalu menghindariku, aku waktu itu tidak punya teman sama sekali, tidak ada yang mau berteman denganku diwaktu itu.
Bahkan mereka selalu bilang "najis" jika bertemu denganku.
Sebagai anak perempuan dulu aku sering bertengkar, aku pernah di posisi saat dikucilkan aku diam dan tidak melawan, tapi aku justru diludahi, dan dipukul, kejadian itu juga sangat aku ingat.
Aku terus diam dan diam ketika mereka menghinaku, hingga pada akhirnya aku murka karena mereka menghina orang tuaku juga.
Aku dikatain anak orang gak waras karena ibuku yang sakit, dan aku juga dikatain anak maling.
Ketika mereka membawa nama orang tuaku aku langsung samperin mereka dan aku pukul sampai tangannya berdarah.
Perlawananku tersebut justru membuat mereka menjadi-jadi, mereka malah terus menghina orang tuaku.
Mereka selalu mengeroyok aku, aku ingat kejadian dimana aku bersembunyi di sungai belakang rumahku.
saat itu aku lagi bermain bersama adekku, dan seketika mereka menghadangku, aku menyuruh adekku pulang dan aku berlari menghindari mereka.
Aku bersembunyi dibawah pohon tua besar yang ada di sungai, saat aku bersembunyi tanpa sadar ada sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari atas mengenai pundak dan kepalaku.
Saat aku lihat ternyata itu adalah ular hijau, untungnya aku tidak di gigit oleh ular hijau itu.
Aku kaget dan menutup mulutku rapat-rapat dengan tanganku agar mereka tidak mengetahui tempat persembunyianku.
Akupun keluar dari tempat persembunyianku dan kembali pulang menuju rumahku.
Keesokan harinya aku berangkat sekolah diantar bapakku.
Saat itu aku melihat teman-temanku dan adek kelasku sudah menungguku di gerbang sekolah.
Gerbang sekolah selalu dipenuhi dengan teman sekelas dan adek kelasku, mereka sengaja menunggu kedatanganku hanya untuk mengolokku.
Aku pun berjalan menuju gerbang dan langsung menuju ke kelasku, mereka yang tadinya menunggku di gerbang langsung mengikuti dibelakangku sambai ber sorak-sorak bersama. "anak ular.. anak ular"
"anak maling.. anak maling"
"anak orang gila.. anak orang gila"
"hi..gak sudi ada anak najis"
Sampai aku menuju kelasku dan duduk dibangkuku mereka tetap bersorak-sorak mengolokku.
Aku hanya diam dan aku samperi mereka guna untuk menutup pintu agar aku bisa membaca sejenak saat itu sambil menunggu bel pelajaran.
Meskipun pintu aku tutup mereka membuka pintunya dan terus mengolokku secara bersamaan.
Bel masuk pun berbunyi, suasana pelajaranlah yang aku suka, karena saat suasana pelajaran hanya ada suara guru yang menerangkan mata pelajaran, aku setidaknya bisa tenang sejenak tanpa harus mendengarkan sorakkan dari mereka.
Pernah suatu ketika disekolahku selalu kehilangan tanaman hias, saat itu lagi ramenya menanam tanaman hias yang sejenis bunga gelombang cinta yang rameh saat itu.
Ketika jam pelajaran Matematika, ibu guruku memberi tahu ke murid-muridnya bahwa setiap hari selalu kehilangan tanaman hias di sekolah dan dia tiba-tiba menuduh aku yang mencuri tanaman hias disekolah.
Aku dimarahi dan ditunjuk di depan teman-temanku, hanya karena di rumahku juga ada beberapa tanaman hias beliau menuduhku.
Aku yang tidak mencuri tanaman hias itupun langsung membantah tuduhan guruku itu.
"tidak bu.. aku tidak mencuri tanaman hias di sekolah ini."
Ibu guru tersebut hanya bilang "awas saja kamu kalau mencuri tanaman disekolah ini lagi." sambil melanjutkan lagi pembahasan mata pelajaran.
Saat jam mata pelajaran selesai, saat istirahat tiba teman-temanku langsung menghakimi aku. Mereka terus mengejekku anak ular dan maling. Padahal aku sama sekali tidak melakukan apapun. Aku pulang dengan wajah kesal dan mengurung diri di kamar. ibuku selalu bilang kamu kenapa dan aku selalu menjawab "aku tidak kenapa-kenapa Bu?"
Ibu bertanya "apa ada masalah disekolahmu, kalau ada cerita ke ibu."
aku menjawab dengan tegas "tidak bu tidak ada masalah."
Mengenai kakiku yang bersisik seperti ular, aku juga sudah berusaha untuk membuat kakiku tidak bersisik. Sesering mungkin dulu aku pakai hand body atas saran dari ibuku. Pagi, sore, malam aku selalu rutin memakai hand body namun kakiku tetap saja bersisik layaknya ular.
2 tahun kemudian aku lulus Sekolah Dasar. Hari kelulusan ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu, aku sudah membayangkan masuk ke sekolah SMP dan berharap disana bisa punya teman. Saat acara perpisahan SD aku selalu tersenyum dan bahagia ditemani ibuku diacara tersebut. Tetapi ada keanehan, di hari itu aku tidak mendengar mereka mengejekku. aku berkata dalam hati saat itu "tumben mereka gak mengejekku, ah sudahlah yang penting aku lulus dan aku ingin segera masuk SMP berharap punya teman."
Saat acara pelepasan kelulusan selesai, di kelas teman-temanku menggandeng tanganku, mereka satu per satu mengulurkan tangannya dan meminta maaf. Ada yang menangis sambil meminta maaf dan ada juga yang memeluk erat. Aku pun hanya menunduk dan bilang "iya" ke mereka dengan memasang wajah tersenyum karena membayangkan masuk ke sekolah SMP dan mempunyai banyak teman.
Tiba waktunya pendaftaran sekolah SMP, ibuku mendaftarkanku ke SMP PGRI swasta karena mempertimbangkan biayanya yang murah juga disana. Aku pun tidak masalah jika masuk di sekolah swasta. Saat hari pertama masuk sekolah aku sengaja memakai kaos kaki yang panjang selutut guna untuk menutupi kakiku yang bersisik. aku diantar ibuku ke sekolah dengan jalan kaki menuju ke sekolah.
Di hari pertama aku punya banyak teman, mereka adalah resi, sindi, kiki, novi dll. mereka ternyata sangat menyayangiku. Mereka sangat perduli ke aku dan kita bersahabatan.
Hari-hariku di sekolah sangat menyenangkan. Seperti biasanya, saat hendak sekolah aku memakai hand body. Tanpa sadar aku sudah pakai hand body sudah bertahun-tahun tapi kaki ini tidak kunjung hilang juga sisiknya. Aku pun tidak begitu saja menyerah dan putus asa mengatasi permasalahan kakiku ini. Aku mencoba mencampurkan minyak goreng dan hand body untuk di oleskan di kakiku secara merata dan teratur setiap harinya. Ternyata dengan rutin mengoleskan minyak dan hand body kakiku mulai membaik, bersisiknya mulai memudar dan kakiku menjadi lembab. Tapi itu tidak bertahan lama, kakiku tidak bersisik hanya kalau aku memakai campuran minyak dan hand body saja, jika aku lupa tidak memakai campuran tersebut kakiku akan kembali bersisik lagi. Tapi itu tetap membuatku bahagia karena setidaknya ada perubahan, aku semakin bersemangat untuk mengoleskan campuran minyak dan hand body tersebut setiap harinya selama 3 tahunan. di awal kelas 1 SMK kakiku membaik. Selama 3 tahun aku rutin aku pakaikan campuran tersebut dan ternyata membuahkan hasil, kakiku sudah tidak bersisik lagi meskipun tanpa memakai campuran tersebut. Aku sangat bahagia sekali dan aku tunjukkan ke ibu dengan bangga bahwa kakiku sudah sembuh. ibu pun meledekku "iya alhamdulillah sembuh, tapi minyakku habis dibuat campuran hand body, dan jadi sering beli minyak lagi." ibu selalu menggodaku seperti itu.
Setelah kakiku berangsur membaik dan normal setelah ber tahun-tahun, aku di undang salah satu teman SD ku untuk menghadiri acara reuni SD. Mendengar itu aku gugup ketakutan, aku teringat masa SD yang kelam. Aku sampai tidak bisa tidur semalaman karena aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku pun cerita ke Ibu dan Bapakku tentang kejadian di masa SD ku tersebut. Ibu dan bapak kaget mendengar ceritaku, ibuku bilang kenapa aku diam saja dan kenapa tidak cerita dari dulu. aku menjawab "aku gak mau ibu dan bapak sedih, lagian itu masa SD sudah beberapa tahun yang lalu." ibuku pun menyarankan aku untuk datang saja ke acara reuni SD tersebut. Atas saran dari ibu akhirnya aku datang sengan penampilan feminim. Waktu itu aku pakai dress pink selutut dan memakai bando warna hitam dengan rambut terurai. Sesampai di acara tersebut aku bersalaman dengan teman-temanku dan tidak sedikit dari mereka yang memujiku cantik, tidak hitam, dan kaki tidak bersisik lagi. Aku hanya tersipu malu dipuji seperti itu, mereka terus membahas kejadian dulu dan meminta maaf lagi, aku yang tidak mau mengingat masa lalu memaafkan mereka dan kita berteman baik hingga saat ini.