Dera gadis 21 tahun semester terakhir di
sebuah universitas . Dia merencanakan skenario yang luar biasa dalam hidupnya,
setiap hal sudah dia pikirkan dengan detail dari pekerjaannya, Kapan dia akan menikah dan memiliki keluarga kecil yang bahagia dengan kekasihnya. Tapi sepertinya semesta memiliki skenario lain dari kisah hidup Dera.
Pagi ini Dera sangat bahagia, Dimana hari ini pertemuan pertama kali dengan
kekasihnya yang sudah berbulan-bulan menjalani LDR. Mereka berdua menjalani LDR Semarang-Bandung. Dera sangat antusias waktu pagi itu, dia berdandan rapi
dengan kaos hitam pendek dan celana jean yang aku lipat sampai semata kaki. Dia
menarik kebelakang poninya dan dia memakai penjepit rambut warna hitam, dia mengoleskan sedikit lipstik yang dia dapatkan di beautyclass beberapa hari lalu. Dia bukan gadis yang suka dandan, dia anak tomboy yang sedang jatuh cinta. Dia hanya
ingin terlihat cantik jadi memakai lipstik itu. Dia mengambil sepatu flat warna hitam kesukaannya.
Dera memandang sekeliling terminal, karena kekasihnya bilang menunggu di terminal
pemberhentian bus di depan mall terkenal di area setia budi.
“Hai.” Seseorang diatas motor mio warna hitam melambaikan tangan. Dera menoleh ke
kanan dan juga ke kiri takutnya dia kegeeran. Orang itu lalu membuka helmnya,
seketika bibir Dera mengembang dia berlari menghampirinya.
“Nggak di buka sih helmnya.” Katanya lalu menyambut tangan Satria lalu menempelkan di pipinya lalu menempelkan tanganngannya di pipi Satria. Mereka selalu melakukan itu setiap bertemu dan saat hendak berpisah.
“Buat kejutan lah.” Katanya sambil terkekeh.
“Ngeselin deh.” Dera cemberut manja.
“Kita mau kemana?” tanya Satria.
“Kemana aja.” Jawab Dera sambil memakai helm yang sudah di sediakan sama Satria.
“Kita ke Simpang lima saja ya.” Ajak Satria.
“Ya.” Dera langsung naik di atas motor.
Pipi Dera rasanya kaku karena tersenyum terus, dia terlalu bahagia dengan kepulangan kekasihnya itu. Sudah berbulan-bulan hanya dengar dia lewat telepon, video call kini dia bisa melihat dengan nyata, bisa memegangnya.
Mereka berdua langsung berburu makanan karena waktu sudah mulai siang, perut mereka berdua sudah mulai lapar.
“Pak bakso dua, sama es teh dua.” Kata Satria.
“Iya Mas, tunggu sebentar ya.”
Satria memegang tangan Dera, “Kangen banget tahu.” Kata Satria.
“Sama. Kamu kapan berangkat lagi?” tanya Dera.
“Nggak berangkat lagi sayang, disana aku tuh seperti nggak di anggap sama sekali sama atasan aku. Kerja sampai malam mana nggak dapat bonus. Gaji aku saja ini belum
di transfer semua.” Katanya dengan wajah kesal.
“Sabarya, terus rencana kamu apa?” tanya Dera.
“Aku mau disini saja, aku mau ikut nenek aku berjualan.”
“Ya udahlah, apapun keputusan kamu aku dukung kok.” Kata Dera sambil tersenyum. Dia selalu menyemangati kekasihnya.
“Oiya, uang yang aku pinjam buat tambah modal sudah ada?” tanya Satria.
“Udah sayang, tapi aku Cuma ada lima ratus ribu.” Katanya sambil mengambilkan uang di
dalam tasnya.
“Makasih ya sayang, kamu emang pacar aku yang paling pengertian, baik pula.” Katanya
sambil mengacak rambut Dera. “Aku janji akan segera mengembalikan uang ini.”
“Iya sayang, kembalikan aja kalau kamu sudah punya.” Kata Dera. Satria mengangguk sambil tersenyum manis.
◇◇◇◇◇
Sebulan sudah berjalan, mereka berdua akhirnya tinggal saku kota hanya saja mereka tidak bisa terus bertemu. Dera yang sedang PKL sedangkan Satria yang bosan
dengan ikut jualan neneknya. Dia meminta bantuan Dera untuk menemukan pekerjaan.
“Sayang, motor kamu dimana?” tanya Dera saat Satria mengajak ketemuan Gita di terminal.
“Motor aku sedang di bengkel, jadi terpaksa aku jalan kaki. Kamu nggakk keberatankan
kita berjalan kaki untuk menemukan tempat kerja yang teman kamu.”
“Iya sayang, aku nggak masalah kok.” Dera tersenyum meskipun dia terlihat sangat
lelah karena baru saja pulang pkl. Dia berangkat pukul enam pagi pulang pukul
empat sore. Dan sekarang dia harus berjalan mencari tempat kerja milik
temannya.
“Ayo, nanti keburu malam.” Ajak Dera.
Mereka berputar mencari dimana kantor yang di katakan teman kuliah Dera, waktu sudah hampir malam tapi mereka belum juga menemukan tempatnya.
“Kita cari besok lagi yok. Aku udah capek.” Kata Dera.
“Ok.” Kata Satria.
Mereka memutuskan berjalan kembali ke terminal untuk mencari angkot tujuan ke rumah masing-masing. Di perjalanan Dera melihat Satria yang beberapa kali memegangi perutnya.
“Kamu lapar?” tanya Dera. Satria hanya tersenyum, terlihat malu.
“Kita cari makan dulu.” Dera menggandeng tangan Satria.
Dera terlalu sayang dengan Satria, dia benar-benar mau melakukan apapun untuk
Satria. Dia tidak pernah memikirkan tentang materi.
“Sayang, bisakah kamu pinjami aku uang dua ratus ribu lagi. Aku sudah tidak ada pegangan lagi. Mana uang yang kemarin belum di kembalikan sama nenek.” Kata Satria.
Dera terdiam, dia bingung karena tidak punya uang lagi. Dia kuliah juga biaya sendiri dengan bekerja part time.
“Aku akan kembalikan minggu depan aku janji.” Ujarnya.
“Iya.” Kata Dera sambil tersenyum tipis, dia sulit sekali untuk mengatakan tidak. Dia
tidak tega dengan kondisi kekasihnya. Dimana sedang tak punya pekerjaan, dia
harus menghidupi keluarganya. Yaitu nenek, ibu dan juga adiknya yang masih bsekolah.
Seminggu setelah memasukan lamaran ke sebuah kantor Satria di terima, dia masih masa treaning. Ternyata kantornya dekat dengan kos-kosan milik Dera jadi mereka bisa sering ketemu. Dengan adanya fasilitas dari kantor, Satria tidak laki jalan
kaki saat menemui Dera. Meskipun mereka hanya bertemu sebatas Dera memberikan
sarapan dan makan malam untuk dia karena keduanya sama-sama sibuk.
Berjalan satu bulan mereka satu kota, tiba-tiba ada pesan masuk di ponsel Dera.
Maaf apa benar ini Dera pacar barunya Satria
Ini sipa?
Aku Viona, pacar Satria dari Bandung, lebih baik kamu putus saja. Dia itu hanya main-main sama kamu nggak lebih.
Tuk!
Dera menaruh gelas yang ada di tangannya, dia tidak jadi minum. Seperti tersambar petir di siang bolong membaca pesan itu. Dia nggak tahu bagaimana cewek yang mengaku pacar Satria itu mendapatkan kontak miliknya.
Kalau nggak percaya, kamu boleh buka media sosial milikku, kamu akan tahu kebersamaan kami
Dera langsung membuka media sosial yang di berikan cewek itu, matanya memerah dia
tak percaya dengan apa yang dia lihat. Satria bermesraan dengan cewek yang
mengaku namanya Viona.
Dera lalu menelpon Satria dengan marah, dia ingin memaki lelaki yang dia cintai itu.
Dia benar-benar kecewa.
“Halo sayang, ada apa?” tanya Satria.
“Viona itu siapa? Kenapa dia mengaku pacar kamu. Aku sudah bilangkan kalau kamu bosan sama aku bilang, aku akan mengalah. Aku tidak mau di duakan.” Kata Dera.
“Viona ya, sudah aku duga dia pasti akan menghubungi kamu.” Katanya tertawa seolah tidak ada masalah.
“Satria, aku nggak main-main.”
“Iya sayang, aku jelaskan. Dia mantan aku waktu di Bandung dan kita sudah putus tapi
dia tidak bisa lepas dari aku. Dia terus mengejarku bahkan dia terus megganggu aku. Dia bilang akan membuat aku putus setiap kali pacaran karena dia belum bisa menerima aku putusin dia.” Satria menyakinkan Dera.
“Apa benar begitu?” Dera luluh meskipun dia sudah tidak seratus persen percaya masih
ada rasa juriga dalam hatinya.
“Iya sayang, lagian kan aku disini dia juga nggak akan bisa mengganggu hubungan
kita.” Katanya.
Hubungan Dera dan Satria semakin hari tidak semakin membaik, pertengkaran kecil mulai terjadi dengan adanya gangguan dari Viona.
Viona terus meneror Dera lewat telepon, pesan dan juga media sosial dia tidak segan
menyerang Dera. Dia memposting semua foto kebersamaannya dengan Satria.
Dera menjatuhkan tubuhnya di kasur, dia menghela napas panjang rasanya capek
badan,capek hati capek semuanya.
“Kenapa?” tanya Raina teman kuliah, teman satu kos dan teman kerja Satria.
“Rasanya capek banget Na. Kenapa tiba-tiba ada cewek yang ngaku-ngaku pacar Satria. Lihat dia terus teror gue bahkan dia terus ngatain gue di media sosial.” Kata Dera.
“Nggak usah di ladenin, kan udah mantan.”
“Raina, kemarin kan hari ulang tahun dia terus dia bilang mau ke Bandung mau mabil
berkas-berkas dia yang ketinggalan. Tapi cewek itu ngirimin gue foto donat bertuluskan namanya.” Dera menatap sendu Reina. Rasa nyesek dalam hatinya.
“Jangan-jangan mereka belum putus lagi.” Kata Reina.
“Tapi dia sudah meyakinkan, dia sudah bersumpah.” Kata Dera. Dia ingin sekali
menangis namun tak bisa.
"Bisa saja dia bohong, gue rasa ada yang tidak beres dengan satria." Reina merasa ada yang janggal dengan Satri.
Dera mengambil ponselnya, dia menelpon Satria namun dia terus mematikannya. Dia kangen banget sama Satria yang semakin kesini semakin jarang bertemu, jarang
komunikasi.
Bisakah kita ketemu besok, aku mau ngobrol sama kamu
Ya besok aku jemput, sekarang aku lagi kerja
Dera merebahkan tubuhnya, dia mengambil
bantalnya lalu menaruh di atas kepalanya untuk menutup wajahnya. Dia akhirnya
menangis seakan luka lama saat di tinggalkan sang kekasih sebelum bertemu Satria terbuka lagi. Dia merasa jomblo karena selalu di cuekin, tidak ada lagi perhatian kecil dari Satria.
“Dera, kamu harus positif thingking. Dia bekerja sampai malam untuk masa depan kita nanti.” Kata Dera. Dia sering mengucapkan kata itu saat dia kangen dan tak bisa menghubunginya. Kata-kata itu selalu dia gunakan untuk menenangkan dirinya.
Baginya berpikir positis adalah cara terbaik agar dirinya tidak down dan berpikir
macam-macam sama Satria. Dia selalu memberikan kepercayaan penuh untuk satria. Dia percaya kekasihnya itu sedang berjuang untuk masa depannya nanti.