Mateo adalah anak kecil yang tak pernah punya teman semenjak ayah dan ibu nya meninggal dan akhirnya harus tinggal di panti.
Di suatu ketika ada seorang pak tua yang ingin mengadopsi anak untuk menemani nya di masa tua dan berjanji akan mengurus anak yang akan di adopsi dengan baik dan bahkan mendapat harta nya sebagi warisan.
Mateo yang ingin diadopsi oleh pak tua itu karena dianggap yang paling tenang cocok dengan sifat nya.
Setelah segala dokumen diurus oleh asisten, Pak seni membawa Mateo, ke rumah karena apapun yang dilakukan orang sekitar nya Mateo tak akan peduli termasuk memindahkan nya dari panti.
Sandy menyapa Mateo dengan ramah dan senyum selebar mungkin namun tak ada sapaan balik ataupun senyuman yang ramah dari Mateo.
Sandy yang ramah terhadap anak kecil hanya terus berkata kata menyenangkan menanyakan hobi walaupun tanpa tanggapan.
Sampai Rumah pun tanpa ada tanggapan Sendy pun masih tetap memperlakukan nya dengan kasih sayang dengan Mateo.
Mateo di beri sebuah kamar yang di hias dengan mainan mobil dan warna biru cat ding-ding yang cemerlang karena Mateo ingin punya anak laki laki dari dulu sebenarnya kamar sudah di rancang.
Mateo mempekerjakan seseorang perempuan paruh baya untuk mengurus Mateo selagi ia masih kerja walaupun usia tua Karena tak memiliki pengurus ia terkadang harus mengurus perusahaan nya.
Margaret memperlakukan Mateo layak nya anak nya sendiri ia bekerja tulus walaupun tak lepas dari motif ekonomi.
Malam hari sudah saat nya tidur namun Mateo tak terbiasa dengan kasur yang sangat empuk hanya duduk melamun.
Ia melihat seorang lewat depan pintu nya dengan cahaya yang terang namun itu hanya sekejap saja dan tak membuat kesan yang berati di mata Mateo.
Mateo tetap dengan kepribadian pendiam dan tak perduli dengan sekitar, Mateo yang sangat dingin sikapnya.
Hari demi hari berlalu Sendy membelikan nya banyak mainan dan Sendy pun ikut bermain dengan Mateo,Sendy bermain dengan mobil-mobilan.
"Brem,,brem mobil merah datang," Ucap Sendy dengan senyuman.
Sesekali Sendy mengajak Mateo ke luar dari rumah dan bermain bola di taman Sendy menendang bola itu dengan semangat namun Mateo hanya melihat bola yang mengarah kearah nya dan tak menendang nya dan Sendy tetap Sabar.
Malam hari sama seperti hari sebelum nya kasur nya tak nyaman untuk Mateo lagi lagi Mateo melihat seseorang lewat namun ia terkejut saat ada benda mengkilap di belakang punggung nya seperti sayap.
Meskipun Mateo ingin tahu namun Mateo tidak sama sekali bergerak dari kamar nya dan mencari tahu siapakah orang bersayap itu.
Sama seperti hari yang lain Mateo terbangun lagi namun ada kemajuan Mateo ingin lihat siapakah orang bersayap itu.
Mateo akhirnya mengeluarkan ekspresi ia kaget saat mengetahui ayah angka memiliki sayap
ia melihat sendiri sayap itu benar benar terang dan bergerak.
Mateo yang mengetahui hal itu Mateo hanya diam tak berani mengungkapkan nya kepada Sendy dan hanya posisi duduk saja yang Mateo rubah.
"Kenapa kamu jauh sekali duduk nya aku bukan macan yang sewaktu-waktu bisa menerkam kamu anak pintar," ucap Sendy agak tertawa
Lagi lagi Kejadian malam berulang dan Mateo melihat nya kembali namun Mateo secara diam diam tak ingin Sendy tau tentang rahasia nya.
Sampai di kamar Sendy ternyata pak tua sendi sudah tidur dengan pulas Mateo membuka selimut sendi dan ingin melihat sayap nya.
Namun tak ia dapatkan momen itu melihat sayap indah itu, pak Sendy malah terbangun dan melihat keberadaan Mateo.
"Aduh kamu anak pintar mau tidur disamping papah berbagi selimut kan kalau memang seperti itu mari tidur berdua dengan saling memeluk," ucap Sendy sabar.
Kasur yang ada di kamar Sendy sangat nyaman karena tidak terlalu empuk,Sendy malah tertidur pulas sambil memeluk Sendy dengan erat.
Keesokan hari nya seperti keajaiban untuk Sendy Mateo akhirnya berbicara mengucapakan selamat pagi.
Sendy tak sangka dapat memenangkan hati dari Mateo yang super dingin, dengan waktu singkat.
Sendy membalas nya dengan sangat ramah dan Mateo kembali diam dan Sendy mencoba menghibur nya lagi.
Sampai dimana Sendy terkejut dengan perkembangan dari Mateo sekarang Mateo pun bisa berbicara dengan nya namun ia terkejut juga dengan yang ditanyakan Mateo.
"Apakah kamu peri, kamu punya sayap yang indah ?," ucap Mateo dengan ragu ragu.
Akhirnya semua berjalan lancar, kenapa Seperti itu karena rencana sandy dan semua nya sudah di atur Sendy sangat ingin dekat dengan Mateo saat pertama kali ia melihat Mateo.
Ia menjadi kangen istri nya yang tak tau mengapa mirip Mateo, istri dari Sendy meninggal pada saat usia pernikahan mereka seumur jagung.
Sendy menanyakan apa yang di sukai oleh Mateo
Mateo memiliki buku tentang peri satu satu nya buku yang selalu ia baca tanpa ada jeda.
Sendy akhirnya mencari cara dan memakai semacam sayap yang berkilau agar Mateo tertarik akhirnya rencana nya membuahkan hasil.
Tak ada satu hari pun semenjak kepergian istri tercinta nya yang membuat nya bahagia sekali.
Sendy menjawab pertanyaan MATEO.
"Tidak papah adalah seorang manusia namun papah selalu baik sehingga papah di beri oleh peri cantik sayap yang sangat indah, kalau Mateo baik dan selalu tersenyum Mateo pun bisa memiliki nya," ucap Sendy
"Benarkah, " Mateo tersenyum sangat lebar seakan percaya akan keajaiban di dunia nyata ini.
Tamat
Bagaimana seorang ayah yang tak memiliki ikatan datang sangat menyayangi anak nya dan melakukan apapun yang membuat anak nya senang.
Tamat