Namaku Sintya Lioni As'ari, usiaku 15 tahun. Aku baru saja nb duduk di bangku SMP kelas 3. Aku anak dari pasangan Maria Lioni dan Raditya As'ari. Aku memang bukan anak dari orang berada, tapi untuk kebutuhan itu cukup, dan yang tinggal di rumah ini ada 4 orang, yaitu aku, mamah, ayah, dan Bi Ijah. Kehidupanku sudah berubah semenjak usiaku 10 tahun, semenjak ayah mengijinkan mamah untuk bekerja, semenjak itu juga rumah ini menjadi sepi dan panas, dalam arti sepi saat siang karena hanya ada aku dan Bi Ijah, tapi kalau malam menjadi panas karena mamah dan ayah selalu saja bertengkar, membuat rumah ini sudah seperti bukan rumah yang aku kenal
Awal cerita
Sintya duduk berdua dengan ayahnya, ia hanya termenung sambil mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya, ia lelah dengan orang tuanya yang selalu bertengkar, untuk itu Sintya lalu memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ada di dalam pikirnya pada ayahnya
"ayah, aku boleh bicara sesuatu pada ayah?"
"katakan sayang, kamu mau bicara apa?"
"ayah, aku lelah dengan semua kehidupanku sekarang, aku lelah setiap malam mendengar pertengkaran kalian, aku ingin mamah seperti dulu lagi yang selalu ada di rumah, aku tidak menyalahkanmu ayah, tapi aku butuh kehangatan kalian, bukan pertengkaran kalian, aku stress setiap malam hanya bisa menangis saat kalian bertengkar, aku mohon ayah berhentilah bertengkar."
"ayah tau, yang kamu alami memang berat nak, ayah benar-benar minta maaf, telah membuatmu menangis."
Raditya langsung memeluk anaknya, ia benar-benar sedih dengan anaknya, ia juga sebenernya tau, kalau anaknya setiap malam menangis. Raditya langsung melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 21.39 WIB, lalu ia langsung menyuruh anaknya untuk tidur
"sayang, lebih baik kau tidur, sekarang sudah malam."
"baik ayah."
Raditya langsung melepaskan pelukannya, lalu langsung menghapus air mata anaknya
"jangan pernah menangis lagi."
"baik ayah, aku masuk kamar dulu."
"iya sayang."
Sintya langsung berdiri, lalu langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar hingga ia sampai di kamar, setelah itu ia langsung membaringkan tubuhnya sambil memeluk boneka Teddy bear pemberian terakhir ibunya, dan di situ juga terakhir Sintya komunikasi dengan ibunya, semenjak ibunya bekerja lagi, Sintya tidak pernah lagi berbicara dengan ibunya karena ibunya selalu pulang malam dan berangkat pagi membuat mereka tidak pernah bertemu, pedahal ia tinggal satu rumah, tapi sepertinya tinggal yang terhalang nb pulau. Sintya terus saja memeluk boneka itu hingga ia terlelap, tapi tidak lama ia terbangun lagi karena mendengar suara ibunya dan ayahnya yang sedang bertengkar, lalu ia langsung duduk di atas ranjang sambil menyadarkan kepalanya, ia sudah merasakan lelah dan stress, setiap hari selalu saja mendengar pertengkaran orang tuanya membuat ia menjadi tertekan, tapi ia tidak bisa apa-apa, yang bisa ia lakukan hanya menangis dan menangis. Namun kali ini Sintya memberanikan diri untuk melihat pertengkaran orang tuanya, lalu ia langsung berjalan ke luar kamarnya hingga ia sampai di ruang tamu. Sintya hanya melihat perdebatan orang tuanya dari kejauhan
"Maria, berhenti kerja, kasihan Lee di rumah, dia membutuhkan kasih sayangmu."
"Lee sudah dewasa dia bukan anak kecil lagi, dan di sini juga ada BI Ijah yang menemani dia!"
"Maria, dia anak kita satu-satunya, besok kau harus berhenti bekerja."
"tidak mas, aku tidak akan pernah berhenti bekerja, aku bosan di rumah."
"bosan?, alasan yang tidak masuk akal, lebih baik kita cerai."
"kamu pikir aku tidak mau, kalau kamu mau bercerai mari kita bercerai dan Lee tetap ikut denganku."
"Maria, kamu jangan mimpi menginginkan Lee, karena kalau Lee bersamamu sama saja, tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang darimu."
Sintya yang mendengar ibunya menyetujui untuk bercerai, ia langsung berjalan mendekati kedua orang tuanya, lalu ia langsung berlutut di kaki ibunya, ini adalah pertama kalinya ia berlutut di kaki orang tuanya
"Mamah, aku tidak ingin mamah dan ayah bercerai."
"Lee, kamu anak-anak tidak tau apa-apa dan jangan ikut campur urusan mamah."
"aku mohon mah, aku tidak ingin memiliki ibu tiri ataupun ayah tiri."
"sudah mamah bilang kamu jangan ikut campur!"
Raditya yang melihat anaknya di bentak ia langsung membangunkan Sintya yang sedang berlutut di kaki ibunya, lalu langsung memeluk Sintya dengan erat. Sintya hanya menangis tersedu-sedu di pelukan ayahnya, ia benar-benar takut kalau orang tuanya benar-benar bercerai, tapi ternyata perceraian itu tetap terjadi
Sudah dua Minggu dari kejadian itu, dan orang tua Sintya juga sudah bercerai, hak asuh anak tetap jatuh pada ibunya. Sekarang Sintya hanya melihat ayahnya yang sedang mengemas barang-barangnya sambil menangis, setelah selesai ayahnya langsung mendekati anaknya yang sedang menangis hingga ia sampai di depan anaknya, lalu ia langsung memeluk anaknya
"sayang, kamu harus nurut apa kata mama, jangan pernah menangis lagi."
"ayah, aku ingin ikut ayah, aku tidak ingin di rumah ini, aku mohon ayah."
"tidak bisa sayang, kamu tenang saja, ayah pasti akan sering mengunjungimu."
"janji."
"janji sayang."
Raditya langsung melepaskan pelukan, lalu langsung menarik kopernya keluar dari rumah itu, Sintya mengikuti ayahnya yang berjalan keluar ia melihat ayahnya yang naik taksi, setelah ayahnya sudah tidak terlihat lagi, Sintya langsung terduduk lemas di teras luar rumahnya. Bi Ijah langsung mendekati Sintya hingga ia sampai
"non, ayo masuk di luar panas, nanti non sakit."
"bi, kenapa mama ingin bercerai dari pada berhenti bekerja?"
"sudah non, ini urusan orang dewasa."
Sudah 1 bulan semenjak ayahnya pergi dari rumah itu, bahkan ponsel Sintya yang buat menghubungi ayahnya di lempar hingga pecah, lalu kartu ponselnya juga di potong oleh ibunya, kehidupan Sintya sudah benar-benar berubah, ia juga hanya diam di kamar, ia merindukan sosok ayahnya, senyuman manis di bibir ayahnya dan pelukan hangat ayahnya masih terbayang sangat jelas oleh sintya, ia terus saja memikirkan ayahnya hingga Sintya benar-benar depresi dengan keadaan yang menimpanya sekarang
Sudah 1 Minggu Sintya di rumah sakit, ia sekarang sedang duduk di bangku taman rumah sakit sendri karena bi Ijah pamit untuk pulang mengambil baju ganti untuk Sintya, karena Sintya yang mengalami depresi membuatnya harus di rawat di rumah sakit, Sintya juga berharap ayahnya tau kalau ia masuk ke rumah sakit, tapi hingga sekarang ayahnya belum saja muncul di hadapannya. Tidak lama ibunya Sintya datang menghampiri Sintya, lalu ia langsung duduk di samping Sintya
"sayang, mama minta maaf, karena mama ada perjanjian ke luar kota dengan waktu yang lama, maafkan mama, tidak bisa selalu ada waktu untukmu."
Sintya lalu langsung menatap ibunya sambil meneteskan air dan tersenyum
"mama?, hahaha, mama macam apa yang melarang anaknya berkomunikasi dengan ayahnya?, kamu sudah puas menghancurkan semua kehidupanku?, jujur saja aku tidak butuh lagi mamah sepertimu yang sangat egois."
"Lee, mama hanya ingin kamu sedikit saja sayangi mama, seperti kamu menyangi ayahmu, untuk itu mama melakukan itu."
"jangan pernah berharap, aku tidak mau lagi melihat wajahmu, untuk itu aku lebih baik tidak pernah bertemu denganmu, aku sangat benci saat aku memohon agar kalian tidak bercerai, tapi kamu menginginkan bercerai, kamu bukan hanya menghancurkan rumah tanggamu karena memilih kerjaan, tapi kamu juga menghancurkan hidupku, lebih baik kamu pergi dari sini."
"mama, akan pergi setelah bi Ijah datang."
Sintya langsung berdiri untuk menyuruh ibunya pergi sambil menangis
"sudah aku bilang aku tidak membutuhkanmu! pergi! aku mohon kamu pergi!"
Setelah mendengar bentakan dari anaknya, Maria dengan berat hati ia pergi dari situ, dengan langkah kaki yang lemas sambil sesekali melihat anaknya, yang terduduk di tanah sambil menangis, ia benar-benar tidak menyangka bahwa anaknya sudah tidak lagi bisa menerimanya. Sintya masih terus menangis sambil terduduk di tanah. Tiba-tiba ada seorang pria yang menghampirinya, ia berusia 18 tahun, lalu langsung berjongkok di depan Sintya
"kamu kenapa?
Sintya hanya menjawab dengan gelengan kepala, lalu ia langsung membantu Sintya untuk bangun, setelah itu langsung duduk di kursi taman lagi, pria itu langsung menghapus air mata Sintya
"kenapa kamu tadi berteriak dengan ibumu?, apa ada masalah dengan ibumu?"
Sintya masih mejawab dengan gelengan kepala
Pria itu langsung memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya
"kalau kamu tidak ingin cerita dengan orang asing, maka kita kenalan."
Sintya masih diam ia sama sekali tidak menjawab tantangan pria yang di sampingnya. Setelah ukuran tangannya tidak di sambut, ia langsung menurunkan tangannya lagi
"namaku Rizky Sahara."
"namaku Lee."
"kamu kelas berapa?"
"kelas 3 SMP."
"oh, kita berarti berarti berbeda 3 tahun."
Sudah 2 Minggu dari perkenalan itu, dan Rizky juga sering datang ke rumah sakit, walaupun ibunya Rizky sudah sembuh, tapi kedekatan mereka baru 3 hari karena Sintya yang sulit sekali untuk berkomunikasi, dan Sintya juga sudah mulai terbuka dengan Rizky kenapa ia sangat membenci ibunya.
Sudah 2 bulan Sintya kelur dari rumah sakit, ia juga sudah bisa masuk sekolah lagi, dan sudah 2 bulan juga ia sudah tidak bertemu dengan Rizky lagi. Sekarang ia hanya duduk di ruang tv sambil melihat film Tom&Jerry. Tiba-tiba Sura bel itu bunyi
Ting-tong
Bi Ijah langsung membukan pintu itu
"Bi Sintya ada?"
"ada den."
"mari silahkan masuk."
"iya bi."
Rizky langsung mengikuti BI Ijah masuk ke rumah hingga ia sampai di ruang tv
"Hai."
"Kak, kenapa kesini?"
"aku sangat merindukan suaramu, jadi aku memberanikan diri untuk dapat ke sini, ibumu kemana?
"sedang bekerja."
"nanti sore kamu ada waktu nggak?"
"kenapa kak."
"aku mau mengajakmu keluar."
"ada waktu ko kak."
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 16.00WIB, Sintya juga sudah rapi dengan memakai dress berwarna putih, dan rambut yang di biarkan terui, lalu ia langsung berjalan keluar yang sudah di tunggu oleh Risky. Setelah itu Rizky langsung melajukan motornya hingga ia sampai di taman, lalu Sintya duduk di bangku taman, sedangkan Rizky tadi berpamitan untuk ke kamar mandi, tidak lama Rizky datang lalu ia langsung berjongkok di depan Sintya sambil memegang bunga mawar merah
"Lee, aku mau jujur dari pertama kita bertemu, aku sudah menyukaimu, apa kau mau menjadi pacarku?"
"kak, aku masih anak SMP kelas 3, mana mungkin kita pacaran?"
"Lee, aku tau usia kita masih terbilang muda, tapi aku hanya tidak ingin menyesal, apa kamu mau jadi pacarku?"
"iya kak."
Sintya langsung mengambil bunga mawar itu, lalu Rizky juga memakaikan kalung pada Sintya dengan bandul tertulis RS
"boleh aku memanggilmu dengan panggilan Oo?"
"boleh kak."
Sudah 2 tahun mereka pacaran, mereka tidak ada kata bertengkar. Sintya sekarang sudah berusia 17 tahun, dan Rizky sudah berusia 20 tahun, kehidupan mereka begitu sempurna, banyak sekali teman-temannya yang iri dengan hubungan mereka, karena mereka masih usia remaja, Namen sudah bisa mengerti satu sama lain, tapi hingga sekarang Sintya belum bisa berkomunikasi dengan ayahnya, ayahnya pernah menemuinya, Namen di usir oleh ibunya, dan hingga sekarang Sintya masih sangat membenci ibunya, mungkin jika tidak ada Rizky ia masih terus di rumah sakit, tapi ia yang selalu mengasih semangat untuk selalu tegar, membuatnya ia bisa tegar
Sekarang Rizky dan Sintya sudah duduk di taman yang sama. Sintya tersenyum cerah, tapi berbeda dengan Rizky yang menampilkan wajah murung
"Oo, aku mau berbicara sesuatu yang penting padamu."
"mau berbicara apa kak?"
"aku mau kita putus."
"kenapa kak?, apa aku melakukan kesalahan?"
"tidak, tapi sebenarnya dari pertama aku tidak mencintaimu, aku hanya ingin menghiburmu, untuk itu aku menyatakan perasaan padamu, tapi sebenarnya aku tidak cinta, dan satu lagi harus kamu tau, kamu hanya gadis kecil."
"tapi aku menyangimu kak."
"sudahlah, jaga dirimu baik-baik, aku juga sebenarnya sudah memiliki pacar."
"kamu brengsek."
Sintya langsung lari sekencang-kencangnya sambil menangis, ia tidak menyangka jika orang yang selalu membuatnya tegar dan selalu ada untuknya, tapi ia baru saja minta putus dan bilang sudah memiliki pacar, bahkan saat Sintya terpuruk lagi satu tahun yang lalu karena ibunya melarang bertemu dengan ayahnya, Rizky lah yang membuat Sintya tegar lagi, tapi pada kenyataannya ia tidak menyukai Sintya
Sudah 1 bulan semenjak mereka putus, Sintya juga terus menangis, ia sudah tidak bisa lagi fokus untuk sekolah, dan ibunya juga semakin kuatir dengan keadaan Sintya sekarang, ia bahkan sudah 1 bulan juga tidak bica dengan siapa pun, hingga suatu hari Sintya penasaran, siapa Gadis yang di cintai Rizky, dan di situ juga ia menemukan kebenaran kalau Rizky sebenarnya tidak memiliki kekasih, melainkan ia memiliki sakit ginjal dan satu ginjalnya lagi, ia donorkan pada ayahnya, itu alasan Rizky minta putus, Rizky tidak ingin Sintya sedih dengan kehidupan yang menimpanya. Sintya juga tidak menyangka ternyata orang yang selalu membuatnya tegar, ternyata dia lebih terpuruk darinya, dia harus menanggung beban semua itu sendiri, lalu Sintya bertekad ia ingin menikah dengan Rizky, ia ingin memiliki keturunan darinya, ia tidak peduli lagi dengan sekolah dan masa depannya. Sekarang ia sudah duduk bersama ibunya
"mama, aku ingin menikah dengan Rizky."
"menikah?, Lee kamu masih muda sayang, mama tidak akan pernah mengijinkan kamu untuk menikah."
"Kalau mama tidak mengijinkan aku menikah, maka aku akan angkat kaki dari rumah ini."
Setelah mendengar ancaman dari anaknya Maria tidak bisa apa-apa selain menyetujui keinginan anaknya, ia juga tidak ingin anaknya gagal dalam masalah percintaannya, walaupun hingga sekarang ia masih melarang anaknya untuk bertemu dengan ayahnya
"mama, merestui."
Setelah mendengar jawaban dari ibunya, Sintya langsung lari ke kamarnya, langsung menelpon Rizky berkali-kali hingga akhirnya Rizky juga mengangkat telpon itu, dan menyetujui bertemu di jembatan gantung
"ada apa kau ingin bertemu denganku!"
Suara itu sangat dingin membuat bulu kuduk Sintya juga merinding dengan suaranya, tapi ia sudah mengetahui alasannya jadi ia mencoba bersikap biasa saja
"kak, mari kita menikah."
"jangan mimpi, sudah aku bilang , aku tidak mencintaimu."
"baik, biarkan jembatan ini menjadi saksi pertemuan terakhir kita, dan biarkan rasa cintaku, aku bawa kehidupanku selanjutnya."
Sintya langsung mendekati sisi jembatan itu. Rizky yang melihat Sintya mendekati sisi jembatan ia langsung terpaksa menyetujuinya
"baik, aku akan menikahimu."
Bersambung