Dunia yang begitu luas, membuat orang-orang begitu penasaran apa isi dari berbagai bagian lainnya dari dunia ini. Entah itu akan waktu yang sedang terjadi, suasana yang tampak disana, hingga kegiatan yang dilakukan seseorang sekalipun. Pemikiran ini muncul di benak seorang lelaki yang bernama Gili. Ia merenung sembari memikirkan apa yang terlintas di benaknya tersebut. Dan hal ini membuat dia ingin melakukan interaksi dengan seseorang dari belahan dunia lain yang dirasa sangat jauh. Jadi timbullah inisiatif untuk menulis sebuah surat yang akan menjadi penghubung antara dirinya dengan orang tujuannya tersebut. Namun, Gili juga berpikir bagaimana ia bisa mengawali pengiriman surat miliknya bila dirinya saja tidak memiliki kenalan yang tinggal sangat jauh dari tempat dia berada kini. Gili memutuskan untuk berjalan keluar sembari mencari cara agar bisa mewujudkan keinginannya itu. Surat pada zaman itu banyak digunakan untuk keperluan penting saja, seperti pemerintahan, bisnis dan lainnya. Tapi, Gili ingin hal yang berbeda. yaitu mengirim surat untuk menjalin hubungan dan bisa berkomunikasi secara lancar.
Ia berjalan menulusuri jalanan kota yang dipadati orang-orang lalu lalang. Tanpa arah pasti, ia masih memikirkan juga tujuan utamanya itu. Saat langkah kakinya menginjak sebuah area taman kota, Gili tak sengaja melihat seorang gadis yang tengah duduk di sebuah bangku taman seorang diri sambil menulis buku. Dirinya terpana akan rupa gadis tersebut. Ia melihat sosok anggun nan manis itu berada di depan matanya. Gerakan alat tulis yang dipegang gadis tersebut membuat Gili seketika itu juga menjadi penasaran dengan apa yang ditulis olehnya. Rasa ingin menghampiri muncul, dan dia harus memberanikan diri. Kemudian ia pun mulai melangkah mendekat.
Gili awalnya gugup, namun akhirnya dirinya berhasil mencoba dekat dengan menyapa terlebih dahulu. Gadis itu merubah arah pandangnya kepada Gili. Tatapan matanya itu membuat Gili tambah gugup. Namun, gadis itu bukannya lanjut menanyakan maksud tujuan dari seorang Gili, ia malah bergeser sedikit dan memberi tempat untuk lelaki yang baru saja dilihatnya itu agar bisa duduk bersama. Melihat hal itu membuat Gili spontan duduk di sebelah gadis tersebut. Perasaan gugup masih terasa olehnya. Tetapi pandangan gadis itu juga menambah rasa gugupnya. Setelah berbagi tempat, gadis itu lanjut menulis buku. Gili hanya melihat aktivitas yang dilakukan orang disebelahnya itu. Menulis buku, Rambut diikat kuncir, dan pandangan yang meyakinkan itu membuat dia suka dalam bentuk lebih. Entah cinta atau tidak, ini kali pertamanya Gili merasakan hal semacam ini. Beberapa saat kemudian, gadis itu berhenti menulis dan menutup buku miliknya. Melihat itu, Gili berpikir bahwa gadis ini akan segera pergi dari sini. Oleh karena itu seketika juga membuat ia berani untuk angkat bicara terhadap orang yang ada disebelahnya. Tangan kanannya ia layangkan sebagai tanda ingin berkenalan. Gadis itu melihat apa yang dilakukan Gili. Dia pun membalas dengan bersalaman. Lanjut dirinya mulai memperkenalkan diri. Dan akhirnya Gili pun tahu siapa nama dari gadis asing tersebut.
"Perkenalkan namaku Bela. Salam kenal."
Gili membalas dengan menyebut nama. Dan pembicaraan pun dimulai dari adegan itu.
Mereka berdua berbincang mengenai pribadinya masing-masing. Hingga memakan waktu cukup lama. Tiba-tiba di sela mereka asik berduaan, angin mulai bertiup kencang, dan langit sudah mendung. Artinya akan turun hujan sebentar lagi. Gili mengajak sang gadis bernama Bela itu untuk mencari tempat yang nyaman dan sekalian berteduh karena hujan akan turun. Sebuah kedai minuman menjadi tempat mereka berdua untuk singgah sementara waktu. Hujan pun turun tak lama setelah mereka sampai di tempat tujuan.
Gili dan Bela lanjut mengobrol sambil menimum kopi hangat. Obrolan mereka berdua juga diwarnai dengan canda tawa. Senyuman yang ditampilkan Bela, membuat Gili merasa senang.
Kini keduanya sudah tau akan pribadi masing-masing. Gili dikenal sebagai orang yang suka membaca buku dan juga hobi membuat kerajinan. Sedangkan Bela adalah seseorang yang hobi menulis serta suka merawat bunga. Dan masih banyak hal lainnya.
Setelah mengobrol, Bela memutuskan untuk pergi selagi hujan sudah mulai mereda. Sebelum gadis itu pergi, Gili menanyakan alamat rumahnya.
Bela yang mendengar pertanyaan itu, langsung tersenyum. Ia memberikan sebuah kertas yang berisikan alamat dari rumahnya tersebut. Gili melihat alamat itu. Dan betapa terkejutnya dia, bahwa ternyata gadis itu tinggal sangat jauh dari kediamannya saat ini. Karena buru-buru, gadis itu pun pergi setelahnya. Ucapan salam perpisahan tak sempat terucap hari itu. Namun, alamat rumah yang tertera di selembar kertas tersebut dirasa cukup untuk menggantikan salam perpisahan itu.
Diperjalanan pulang, Gili teringat akan obrolan mereka dan sebuah perkataan yang keluar dari mulut gadis bernama bela itu.
"Aku hanya ada sementara waktu saja. Jadi tidak ada banyak waktu bagiku untuk meneruskannya."
Itulah yang di katakan olehnya. Jadi Gili tahu bahwa dirinya tidak akan bertemu dengan gadis itu di hari berikutnya. Apalagi setelah mendapatkan alamat yang diberikan oleh Bela tadi. Kini tujuan surat yang ingin dibuatnya itu sudah ditemukan. Esok ia akan mulai merangkai kata yang bagus dalam sepucuk surat yang akan dikirimkannya kelak.
Beberapa hari kemudian, Gili sudah mengirimkan surat yang ditulisnya ke alamat dimana Bela tinggal saat ini. Dan ia harus menunggu untuk mendapatkan balasan atas kiriman suratnya.
Dihari-hari berikutnya, Gili mengecek kotak suratnya. Alangkah bahagianya dia, surat yang dikirimkannya jauh hari itu telah mendapatkan balasan. Gadis itu membalas surat disertai perangko yang dirasa baru bagi seorang Gili.
Dan selanjutnya hal itu terus terjadi antara Gili dan Bela yang saling berkirim surat sekian lamanya.
Tiga tahun kemudian. Tepatnya dihari ulang tahun Bela, Gili berupaya untuk melamar gadis yang sudah lama menemaninya dalam bersurat. Meski suara tak terdengar langsung dari mulutnya, Namun Gili tahu bahwa gadis itu akan membalas perasaannya. Surat balasan pun tiba di beberapa hari berikutnya. Tulisan panjang tertera hingga pada akhirnya... Bela menerima dan mengiyakan keinginan Gili tersebut.
3 bulan berikutnya, Gili berangkat menuju kediaman Bela. Perjalanan jauh di tempuh olehnya demi sang kekasih. Dan suatu hari, ia tiba di depan rumah Bela. Ketukan pintu menandai awal kedatangannya. Pintu terbuka, dan terlihat seorang gadis menatap dirinya. Pandangan yang tiga tahun lalu di tatapnya secara langsung, sekarang terjadi kembali. Tak butuh waktu lama, Bela menahan haru dengan pelukan erat seiring rindu yang sudah lama ditahannya selama ini. Begitu pula dengan Gili yang berjuang keras agar dapat mengunjungi Bela. Setelah itu, Gili memberi kerajinan tangan yang sudah dibuatnya untuk sang kekasih. Begitu pula demikian dengan Bela yang membalas dengan sebuah rangkaian bunga cantik khusus untuk Gili.
Di lain waktu Gili dan Bela resmi menjadi sepasang suami istri. Pesta pernikahan mereka berlangsung meriah serta keduanya saling memegang surat pertama yang mereka terima dalam acara tersebut. Surat yang menjadi jalinan awal hubungan antar keduanya. Kini kisah suratan itu mencapai titik akhir yaitu kebahagiaan.
"Perjuangan dan kesabaran membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Seperti sepucuk surat yang harus menjelajahi luasnya dunia ini terlebih dahulu."
-----SELESAI-----