Ini season 2 dari cerita "kerinduan.."
Kalau belum baca season 1 nya, baca dulu oke👌
Dan jangan lupa like ❤️
______________________________________________
Disini bang William berdiri sambil mengacak rambutnya frustasi,
Sementara mom sudah menangis di kursi tunggu depan ruang UGD.
Beberapa menit kemudian.
Dokter keluar dari ruangan UGD tempat aku terbaring lemah.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya bang William dengan nada sangat khawatir.
Mom dan dady pun berdiri dan mendekati mereka berdua.
"Maaf tuan, pasien sangat kekurangan darah dan butuh donor darah skrng juga" jelas dokter.
"Tunggu apa lagi! Ayo cepat ambil darahku saja!"
Jawab William dengan nada membentak, dia takut ada terjadi apa apa padaku.
"Sabar nak" dady memegang pundak William.
Dan setelah William mendonorkan darahnya pada ku, bang William duduk kembali di depan ruang UGD bersama mom dad.
"Apa yg terjadi sebenarnya nak? Kenapa adikmu bisa seperti itu? " tanya dady.
"Aku tidak tau dad, waktu itu kesya hanya meminta izin padaku, dia ingin ke kamar mandi, tapi setelah kembali keadaan nya sudah seperti itu" jelas bang William. Dady pun terdiam memikirkan apa yg terjadi denganku.
Sementara bang William rahangnya mengeras, dia sangat emosi kali ini, karna dia sudah mengecek cctv di kamar mandi Umum, dan bang William melihat semuanya.
Dan setelah 30 menit lamanya.
Dokter akhirnya keluar juga.
Dengan segera dad mom dan bang William mendekati dokter itu.
"Bagaimana dok, apa skrng anak saya sudah baik-baik saja?" Tanya momy dengan nada serak habis menangis.
"Skrg kondisinya baik baik saja dan tinggal tunggu pasien sadar karna masih dibawah pengaruh obat bius, tapi...." dokter menggantung penjelasannya.
"Tapi apa dok?" Tanya momy.
"Bisakah kita berbicara di ruangan saya saja" tanya dokter pada dady.
Bang William yg melihat itu pun, segera berbicara.
"Biar aku aja, mom dad kalian masuk lah temani kesya biar aku saja yg menggantikan dady, ayo" ucap bang William dingin lalu dia segera berjalan ke ruangan dokter.
Mom dan dady pun segera masuk ke ruangan ku.
Sementara di ruangan dokter.
"Ada apa, apa terjadi sesuatu pada adikku?" Tanya bang William dengan nada datar.
"Saya minta maaf tuan, saya harus menyampaikan berita buruk...." ucap dokter itu sembari menunduk.
Dokter itu dokter wanita umurnya sama seperti William.
"Apa maksudmu jelaskan dengan jelas!!" Teriak bang William.
"Adik anda mengidap penyakit kanker darah atau bisa di sebut juga leukimia, dan skrng penyakit leukimia adik tuan sudah stadium 4 sisa hidupnya benar-benar sedikit tuan"jelas dokter itu sejelas-jelasnya.
Seketika hati bang William yg mendengar perkataan dokter tersebut. Syok, dan tak menyangka.
"Se.. sejak kapan, tidak mungkin! Ka.. kau pasti salah!" Elak bang William.
"Maaf tuan, pasien sudah mengidap penyakit kanker darah itu dari lima tahun yg lalu, dan pasien tidak pernah mengikuti pengobatan kemoterapi dari awal sehingga penyakitnya tidak bisa di sembuhkan lagi" jelas dokter lagi.
Dan setelah mendengar penjelasan dokter.
Bang William pergi ke ruangan ku.
Dia melihat ku yg sudah sadar dan duduk bersandar.
Aku yg melihat bang William datang pun tersenyum.
"Abang dari mana?" Tanyaku.
Bang William duduk di samping kananku.
Karna di sebelah kiri ada momy.
"Abang lagi, ada urusan tadi,keadaan kamu gimana ada yg sakit gak" tanya bang William sambil tersenyum.
"Gak kok bang, mom kita pulang skrng ya kesya gak mau di rawat".
"No baby kau harus di rawat!" Jawab William yg mendengar permintaan ku.
Mataku mulai berkaca-kaca, aku sengaja agar mereka tidak menolak.
Bang William yg melihatku ingin menangis pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Sudahlah, toh kesya juga sudah sehat kan, kasih adikmu jika terus disini." Jawab momy sambil mengelus-elus rambutku.
"Hehehe momy terbaik, thaks mom" aku memeluk momy.
"Tapi mom...." kata William.
Momy langsung melotot kan matanya ke William.
Seketika William diam.
Kami pun pulang ke rumah
Setelah sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamar lalu mengunci pintu ku.
Karna ini sudah malam aku pun mulai mengantuk.
Namun sebelum tidur, aku menulis sesuatu di selembar kertas, setelah itu aku menyimpannya di sebuah kotak yg terkunci lalu ku simpan di dalam lemari rahasia ku.
Setelah selesai dengan kegiatanku itu pun, aku segera mengganti pakaian ku memakai piyama panjang berwarna hijau.
Lalu kurebahkan diriku di ranjang.
"Hufff... sampai kapan aku bisa bertahan lagi" ucapku sambil tersenyum tipis.
Aku pun segera menutup mata ku.
Di pagi hari.
Kami semua mengumpul di ruang keluarga.
"Nak momy sama dady mau ke luar negri, soalnya dady ada urusan bisnis disana, kamu gak papa kan disini sama bang William? Tanya momy.
"Iya mom gak papa, kalian pergi aja hati hati ya"
Jawabku sambil tersenyum.
"Iya sayang kamu jaga diri ya, nanti kalau momy pulang kita jalan jalan ke mall oke sudah lama momy gak belanja bareng kamu" ucap momy sambil tersenyum.
Aku yg mendengar itu pun tertawa kecil.
"Semoga saja mom, semoga saja aku masih mampu bertahan" kataku dalam hati.
Bang William yg mendengar aku tertawa kecil pun melihatku dengan tatapan sedih.
Setelah mom dan dady berangkat.
Sekarang hanya kami berdua, duduk di sofa ini.
Aku berbaring dan menaruh kepala ku di paha bang William, kami berdua sedang menonton film komedi.
"Bang" aku memecah keheningan yg menyelimuti kami.
"Hmmm, ada apa baby?" Jawab bang William sambil mengelus rambut ku dan menunduk memandang wajahku yg berbaring di pahanya.
"Bang,surga itu seperti apa?" Aku bertanya pada bang William dengan polos.
Deg... seketika jantung William seperti berhenti berdetak mendengar pertanyaan adiknya.
"Ke.. kenapa kamu menanyakan itu baby?..."
Bang William mencoba agar tidak menangis di depanku.
"Gak papa sih bang," aku bangun lalu duduk menyandar kan kepalaku di bahu bang William.
"Aku cuma penasaran saja, apa seseorang yg berada di surga bisa melihat orang yg masih hidup bang?" Aku kembali bertanya lagi dan semua pertanyaanku menuju ke kematian.
"Tentu bisa sayang, orang yg berada disana bisa mengawasi orang yg dicintainya dia bisa melihat apapun dari sana" jawab bang William sambil mengelus rambut ku.
"Kenapa tiba-tiba kamu penasaran tentang surga baby?" Tanya bang William.
"Entahlah bang," jawabku sambil tersenyum tipis.
"Kesya, apa selama lima tahun ini tidak ada yg kau sembunyikan dari kami? 'Tanya bang William padaku, sebenarnya dia sudah tau semuanya hanya saja bang William ingin mendengar pengakuan dariku.
Aku yg mendengar pertanyaan itu sontang duduk dengan tegak, badanku tegang mendengar pertanyaan itu.
"TI... tidak ada bang" jawabku.
"Yasudah" ucap bang William,dia pasrah melihatku yg masih belum mau memberitahu sebenarnya.
Hari berlalu begitu cepat.
Sudah seminggu dady dan momy berada di luar negeri.
Sementara aku selalu saja dirumah.
Sejak keluar dari rumah sakit, bang William over posesif padaku dia tidak membiarkanku melakukan apapun.
Sekarang aku lagi berada di rumah pohon yg kami buat bersama tiga hari lalu.
Ya, di samping rumah ku ada pohon besar jadi aku berinisiatif membuat rumah pohon disana.
Jadilah rumah pohon yg tidak begitu besar dan tidak begitu kecil.
Kami sekarang lagi duduk berdua memandang pemandangan di bawah dari atas.
"Bang, kalau suatu saat nanti kesya gak ada disini, dan suatu saat nanti abang sudah punya istri dan anak, bawa mereka kesini yah, kenalkan mereka dengan rumah pohon yg kita bangun bersama ini" ucapku sambil tersenyum lembut pandanganku hanya lurus kedepan.
Sementara bang William gak menjawab ucapanku dia hanya diam, dia berfikir bagaimana hidupnya tanpa aku disisinya.
Aku yg melihat bang William diam pun berhadapan ke arah bang William, dan memegang kedua tangan bang William.
"Bang lihat kesya jangan menunduk saja" ucapku kesal. Akhirnya bang William menatap mataku dengan tatapan sedih.
Aku tersenyum.
"Bang, aku tau abang sudah mengetahui penyakitku kan?" Aku bertanya sambil tersenyum tipis.
"Jangan katakan itu baby" bang William menggeleng.
"Bang, aku memintamu untuk membantuku membangun rumah pohon ini, agar disaat aku sudah pergi nanti masih ada kenangan yg kutinggalkan untuk istri dan anak anakmu nanti, jadi abang harus janji rawat dan jaga rumah ini sebaik-baiknya seperti abang menjaga ku selama ini" ucapku dengan air mata yg terus menetes namun bibirku sedang tersenyum lebar.
"Tidak baby... kau akan selalu disini, kau akan bermain dengan anak-anak ku nantinya kan? Jadi jangan pernah pergi aku tidak mengizinkan mu!" Jawab bang William dia juga ingin menangis namun dia tahan.
"Bang... kesya sakit bang... badan kesya lelah kesya gak mampu lagi nahan sakit yg mengerogoti tubuhku ini bang hiks..." aku menunduk.
"No baby..." air mata yg ditahan tahan bang William pun lolos juga bang William menarik tubuh kurus ku itu ke dalam pelukannya.
Aku menangis di pelukan bang William.
"Jangan katakan itu lagi baby.. kau adikku yg kuat!" Ucap bang William dengan suaranya yg terdengar serak.
Tiba-tiba kepala ku pusing, kepalaku jatuh ke lengan bang William, dan bang William pun segera menahan kepalaku.
Lalu dilihatnya hidungku yg mimisan sangat deras.
Dan wajahku yg pucat.
Mataku yg tidak lagi terbuka sempurna.
"Key.. kesya kau kenapa?" Tanya bang William dengan suaranya yg bergetar.
"B... bang izinkan aku pergi bang? Ke.. keysa gak tahan lagi" ucapkan dengan nada terputus-putus.
"Jangan baby... jangan pergi.." bang William menangis.
"Bang ingat kata kataku tadi, jaga rumah ini... dan aku ingin lihat senyum abang untukku yg terakhir kalinya bang kumohon"..
Bang William yg melihatku sangat lemah pun pasrah.
Dia tersenyum namun air matanya gak berhentj mengalir.
"Apa abang mengizinkan ku pergi?" Tanyaku dengan nada lemah.
"Pergilah baby..."
jawab bang William dengan nada nya yg lirih.
Aku tersenyum sebelum mataku tertutup sempurna
Aku mengatakan sesuatu.
"Ubah kebiasaan mu bang, love you"
lalu aku menutup mataku sempurna, dan menghembuskan nafas terakhir ku di pangkuan bang William.
"I know baby hiks... 😭"
bang William memeluk tubuhku yg tak bernyawa sambil menangis.
10 tahun kemudian
Bang William sudah menikah dan mempunyai seorang putri yg baru berumur 9tahun.
Disini William istri dan anaknya sedang berada di rumah pohon yg kami buat bersama.
Bang William memberi istri dan anaknya selembar surat, surat itu dia dapatkan dari kamarku.
Dan di setiap surat ada namanya masing masing
Aku memang sengaja menyimpannya di kamarku karna aku tau nanti pasti bang William ke kamarku dan mencari sesuatu.
Istri bang William yg bernama Tasya pun membuka surat dariku. Lalu membacanya.
"Hai kak, aku tidak tau siapa namamu jadi aku tidak menulis namamu di surat ini, maaf hehehe.
Aku tau pasti kakak wanita yg sangat cantik dan baik karna aku yakin bang William tidak pernah salah memilih wanita, kak dulu bang William sangat menyayangiku begitupun aku, aku sangat menyayangi bang William, namun aku khawatir setelah aku mengetahui penyakit ku ini, aku khawatir gak ada yg menggantikan ku untuk menjaganya jadi aku percaya padamu kak, tolong selalu berada di sisi nya dalam keadaan apapun.
Segini saja surat dariku kak.
Salam dari adik iparmu kesya.
Untuk kakak iparku yg sangat ku sayangi
I love you "
Setelah membaca surat dariku Tasya tersenyum dan menghapus air mata yg mengalir bersamaan saat dia membaca tulisanku.
"Aku berjanji kesya, walaupun kau tidak disini aku yakin kau melihat kami kan, kau mendengar ku, aku berjanji akan menjaga nya dan menyayanginya dengan tulus" ucap Tasya di dalam hatinya sambil memeluk surat ku ke dada nya lalu menutup matanya.
Sementara putri bang William dan Tasya yg bernama andrea pun membuka juga surat dariku.
"Hai anak manis, cantik dan imut....
Tante yakin kamu pasti tau siapa tante kan..
Tante minta maaf kalau tante gak tau nama kamu sayang, i'm so sorry baby, apa kau tau dady mu selalu berkata seperti itu pada tante dulu,
Oh iya tante mau nanya, apa dady mu masih suka masuk kamarmu tanpa izinmu? Hahaha kurasa masih, dady mu dulu sangat suka menggangguku dia sangat suka menyelinap ke kamar tante lalu ikut tidur di samping tante,....
Nak tante boleh meminta sesuatu?
Tante mohon jaga rumah pohon itu oke?
Anggap saja itu hadiah dari tante, tante serahkan itu padamu, tante yakin kau akan menjaganya dengan baik kan?....
Oh ya dan satu lagi, marahi saja dady mu jika dia menjahilimu hahaha....
Semoga kau bahagia selalu sayang..
Salam dari tante kesya.
Untuk keponakanku tercantik.
Love you. "
Andrea pun kembali melipat surat dariku itu.
Lalu dia pergi ke lemari dan mengambil bingkai foto ku disana dan kembali duduk.
Dia memandang foto ku yg sedang tertawa di rumah pohon itu dulu.
"Tante, kau sangat cantik kalau aku besar nanti aku ingin jadi sepertimu, ya tante dady memang suka menjahiliku dady bilang tante dulu suka ngambek kalau dady ngagguin hahaha...
Tante dea janji dea akan jaga rumah ini...
Dea jadi ngebayangin pasti sangat seru kalau tante ada disini love you to tante "ucap andrea sambil mencium wajahku yg ada di foto itu.
Dan di depan rumah tempat aku dan bang William terakhir kali duduk bersama.
Ada seorang pria yg membuka selembar surat dariku juga.
Ya itu bang William dia memilih membacanya jauh dari anak dan istrinya.
"Hai bang, apa kabar ak yakin bang William baik-baik saja kan...
Bang pasti disaat abang membaca surat ini abang sudah menjadi seorang ayah.
Aku turut bahagia ya bang, sebenarnya aku ingin bertahan lebih lama lagi, tapi.... takdir berkata lain, padahal aku sangat ingin melihat pernikahanmu, dan aku ingin akulah orang pertama yg menggendong anakmu nanti, aku ingin merayakan ulang tahun mu sekali lagi bang, hah... sudahlah.. bang kau jangan sedih oke... seperti yg kau bilang jika orang yg sudah berada di surga bisa melihat semuanya dari sana, aku akan melihat kalian semua, aku akan melihat pernikahan mu, aku akan melihat kebahagiaan mu saat menggendong anak pertama mu, aku melihat segalanya bang,
Terima kasih, terima kasih sudah menepati janji untuk menjaga apa yg sudah kita bangun bersama.
Kita akan bertemu suatu saat nanti bang.
Cintai mereka semua dan jangan lupakan adikmu yg cantik, nan imut ini.
Salam dari adikmu kesya.
Untuk abangku yg nyebelin, bang William.
Love you.... "
Seketika terdengar suara tangisan dari mulut bang William..
Dia memandang langit dengan air mata yg terus mengalir.
"Hei baby aku baik baik saja, ya aku sangat bahagia sekarang baby, aku sudah menikah dan punya putri, dia sangat cantik dia mirip sepertimu, andaj saja kau ada disini, pasti akan sangat menyenangkan,...
Kau melihatku kan.. dengar baby aku merindukanmu sangat sangat merindukanmu,
Dan... aku juga sangat menyayangimu kesya. "
Ucap bang William sambil menangis menatap langit diatas sana.
Istri dan putrinya andrea pun menghampiri William.
Mereka memeluk William yg menangis memeluk suratku.
Sementara di atas sana.
Ada seorang gadis yg tersenyum melihat pemandangan itu.
"Aku juga merindukan mu bang" ucap gadis itu sambil tersenyum damai.
Tamat
_____________
Jangan lupa like.
Komen
And baca cerpen yg lain nya juga oke👌
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️