Namaku Alana. Saat itu aku melihat dirinya untuk pertama kali. Ketika aku pulang terlambat karena harus menyelesaikan tugas. Saat itu jam menunjukkan pukul 3.00 dan suasana sekolah sudah sepi, hanya ada beberapa siswa saja, itupun yang mengikuti organisasi.
Berjalan menuju gerbang sekolah membuat diriku harus menuruni anak tangga dan melewati sebuah lorong. Aku melihat ‘dia' sedang duduk di bangku dengan gitar yang berada di pangkuannya. Aku begitu terpesona saat melihat wajahnya dari samping. Tapi, Ngomong-ngomong ‘dia' kelas apa? Mengapa aku tidak pernah melihatnya? Apa mungkin aku yang tidak pernah memperhatikan sekitar? Ah entahlah. Aku berjalan melewatinya, tapi dia sama sekali tidak menengok dan menganggap seolah-olah aku ini tidak ada.
Setelah melewatinya, aku menengok ke belakang yang ternyata ‘dia' masih ada. Aku sangat heran dengannya. Dia hanya memegang gitar dan memainkannya pelan tanpa bernyanyi, lalu mengapa dia belum pulang? Padahal bel sudah berbunyi setengah jam yang lalu dan semua anak organisasi masih berkumpul. Tanpa mau mempermasalahkan, aku langsung menaiki motorku dan melajukannya sampai rumah.
Keesokan harinya aku menceritakan kejadian saat pulang sekolah pada Zira, sahabatku. Aku bertanya padanya tentang ‘dia', tapi Zira sama tidak tahunya dengan diriku.
“Lo yakin gatau sama sekali? bukannya lo itu penggemar cogan, ya?" ujarku padanya.
“Gue emang penggemar cogan, tapi yang lo ceritain itu kayaknya gue gak pernah liat. Dan lo bilang orang itu lebih ganteng dari kak Vincent. Kalo emang iya, gue pasti udah tau dari dulu,” jelas Zira. Oke, sepertinya kali ini aku yang harus mencari tahu sendiri. Pulang sekolah aku akan mencoba untuk keluar seperti kemarin.
Rasanya sangat bosan berada di dalam kelas sendirian hanya untuk menunggu jam menunjukkan pukul 3.00, Zira sempat mengajakku pulang bersama, namun aku menolaknya dan mengatakan bahwa hari ini ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Tepat pukul 3 aku langsung meraih tas ku dan berjalan menuju gerbang. Ku lihat ‘dia' berada di bangku itu lagi dengan gitar di pangkuannya. Kali ini aku bersembunyi di balik tembok dan mendengarkan suara yang mengalun indah. Setelah suara itu berhenti bersamaan dengan berakhirnya petikan gitar, aku mendekatinya.
“Suara lo bagus” ucapku. Sepertinya ‘dia' terkejut karena langsung berdiri. Ku lirik name tag nya. Tertulis disana, Andra Wisnuwardhana. Belum sempat aku berbicara lagi, ‘dia' langsung pergi begitu saja. Aku hanya cengo melihat kepergiannya, ada rasa sebal dan penasaran dalam benakku.
***
“Zira, kali ini gue tau siapa nama orang itu. Andra Wisnuwardhana, lo taukan dia kelas apa?” tanyaku pada Zira. Zira mencoba untuk mengingat dan mencari tahu, tapi dia berkata bahwa dia tidak tahu ada yang namanya Andra. Karena aku dibuat sebal olehnya, aku memutuskan untuk mengajaknya nanti sepulang sekolah.
“Lo yakin, kan? Ini udah jam 3 lho. Mana dia?” ujar Zira
“Sabar kek, kali ajah dia ada tugas yang harus di selesein," kataku memastikannya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore dan keadaan di sekolah sangatlah sepi. Zira yang memang tidak percaya langsung mengomentari ku dan pergi begitu saja. Kali ini aku merasa heran, apa kejadiannya itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan?
Aku sangat yakin bahwa ‘dia' sekolah disini dan selalu berada di lorong ini saat semua siswa pulang. Kali ini aku berjalan dengan tampang lesu menuju parkiran. Aku memutuskan untuk mencarinya besok. Mungkin saja aku bisa mengetahui kelas apa.
Hari berikutnya, aku berangkat sangat pagi hanya untuk menjalankan misi. Ditemani Zira sembari memasuki ruangan tata usaha. Di lihatnya seluruh daftar siswa disekolahnya dari kelas 10 hingga 12.
“Gue udah bilang sama lo gak ada yang namanya Andra," kata Zira. Ini sangat aneh mengapa dari seluruh nama siswa tidak ada nama ‘dia'. Dengan gontai aku kembali ke kelas, Zira yang sepertinya sangat iba melihatku mengatakan bahwa dirinya akan bertanya pada salah satu anggota band karena ‘dia' pandai bermain gitar. Siapa sangka ternyata ‘dia' anak band?
Pulang sekolah aku kembali memastikan untuk yang terakhir kalinya. Aku bersembunyi dibalik tembok saat melihat ‘dia' duduk disana seperti biasanya. Tapi, kali ini jauh dari apa yang aku kira. Dia tiba-tiba beranjak dan meletakkan sebuah amplop putih di bangku itu lalu pergi begitu saja.
Aku mendekati bangku itu dan mengambil amplopnya. Seolah-olah amplop itu diberikan untukku, langsung aku buka. Secarik kertas dengan tulisan yang sangat berantakan, setidaknya masih bisa aku baca.
“kesalahan yang lo lakuin adalah ngeliat gue”
Aku tidak mengerti isi dari surat itu, lagipula aku tidak sengaja melihatnya. Dari arah kejauhan aku melihat Zira berlari mendekatiku. Dia mengatur napasnya sebelum berkata sesuatu.
“Len, lo harus tau kalo cowok yang selama ini lo liat itu gak ada. Itu ilusi, tadi gue tanya sama anak-anak band tentang cowok itu. Terus salah satu dari mereka kelas 12 yang ngasih tau ke gue kalo cowok yang bernama Andra itu udah gak ada." Penjelasan Zira membuat diriku membelalakan mata.
“Maksud lo?” tanyaku sekali lagi
“Dua tahun yang lalu, cowok itu emang masuk anggota band, sewaktu pulang latihan ada sesuatu yang menimpa dia. Dia kecelakaan dan nyawanya gak bisa diselamatkan. Terus emang biasanya ada orang yang sering liat cowok itu duduk disini ataupun di ruangan musik,” Jelas Zira. Kali ini aku mengerti mengapa aku tidak pernah melihat ‘dia' bahkan namanya saja tidak ada di daftar nama, dan surat yang baru saja diberikan kepadanya.
Aku terkejut bukan main saat tinta hitam di kertas berubah menjadi cairan merah. Refleks aku membuangnya dan berlari meninggalkan Zira.
Seketika aku merasakan sakit dihatiku saat mengetahui bahwa ‘dia' tidak ada. Jadi, yang selama ini aku lihat adalah arwahnya.
"Alana, bangun woy! heh kebo, bangun." Aku kembali ke dunia nyata saat seseorang mengguncang tubuhku.
"Apasih? Andra?" ujarku.
"Andra? Lo mimpi apaan sampe gue bangunin gak bangun-bangun?" tanya Zira.
Aku terheran-heran melihat Zira yang menatapku kesal. Aku edarkan padangan ke seluruh ruang kelas yang ternyata masih banyak siswa.
"Lah? kok gue disini?" ujarku seperti orang linglung.
"Emangnya Lo pindah ke Pluto? ada-ada ajah, Lo dipanggil Bu Fina di ruang guru. Kena hukuman kan, Lo." Zira menggelengkan kepala sebelum pergi meninggalkanku.
Andra Wisnuwardhana, berarti kejadian ini hanyalah sebuah mimpi. Ya Tuhan, mengapa aku bisa terbawa perasaan hanya karena sebuah mimpi? Entah sudah berapa lama aku tertidur di kelas saat jam pelajaran, sudah pasti aku melewati mata pelajaran.