“Guys, main yuk!! Mumpung besok libur sekolah,” ajakku dalam sebuah grup chat.
“Maaf banget aku gak bisa ikut, next time ya..”
“Aku juga gak bisa ikut, besok tuh ada jadwal les tambahan, sorry”
“Kenapa besok? Aku udah ada janji mau ngadain rapat OSIS”
“Gak janji ya, liat besok”
“hmm..okay” jawabku tak bersemangat karena sedikit kecewa dengan jawaban mereka.
Ada banyak hal yang ingin aku ketahui sekarang, kenapa akhir – akhir ini sejak aku duduk di bangku SMA aku merasa bahwa teman – temanku berubah, mereka sudah mulai sibuk dengan kegiatan pribadi mereka. Tidak seperti dulu yang selalu memiliki banyak waktu luang untuk bermain bersama dan saling bertukar cerita. Aku merasa seperti melihat mereka tumbuh dewasa dengan cepat, tapi tidak denganku.
Disaat temanku mulai sibuk memikirkan masa depan, menentukan tujuan pendidikan selanjutnya dan mengurus organisasi yang mereka punya. Yang aku lakukan hanyalah bersenang – senang di sosial media dan selalu bertanya kapan mereka memiliki waktu luang untuk bermain bersama lagi, tanpa sedikitpun kekhawatiran dikepalaku tentang bagaimana pendidikan yang akan ku jalani setelah masa SMA ini berakhir.
Aku masih sangat kekanak - anakan, yang aku pikirkan saat ini adalah masa mudaku adalah masa bahagiaku, jadi aku harus menjalankan setiap detik dari masa mudaku dengan kebahagiaan. Bersenang – senang dan bermain tanpa kekhawatiran dan kesedihan. Aku tidak ingin berfikir terlalu banyak tentang hal- hal yang membuat kepalaku sakit saat memikirkannya. Dan aku sangat mencegah hal itu terjadi, dengan menjalankan semuanya sesantai yang aku mau.
Hari adalah hari sabtu dan aku merasa sangat bosan, tidak ada satu teman pun yang bisa datang ke rumah untuk bermain bersamaku hari ini. Dan tidak ada pula satupun hal yang ingin aku kerjakan. Sofa empuk selalu menjadi tempat ternyaman disaat – saat seperti ini, ditemani makanan ringan dan ponsel pintar dengan baterai terisi penuh menjadi hal yang sangat kusukai. Tanpa satupun notifikasi tugas yang masuk, aku merasa sangat bebas hari ini.
Waktu demi waktu terus berjalan, pagi telah berubah menjadi siang dan udara pagi yang sejuk sudah tergantikan dengan angin tropis yang bertiup cukup kencang membawa beberapa lembar daun pergi jauh bersamanya. Dan aku masih asyik memainkan ponsel pintarku, hingga beberapa menit kemudian mataku mulai memberat dan semakin memberat, sesekali mulutku menguap. Aku tak dapat menahannya, mataku mulai tertutup dan aku tertidur dengan lelap.
Semua terlihat gelap, dan tiba- tiba aku berada ditempat yang berbeda. Ini bukan sofa tempat aku tertidur. Tempat ini seperti area lomba lari marathon yang diikuti oleh ratusan peserta yang aku tidak sama sekali mengenalnya. Disini sangat ramai, semua orang terlihat bersiap lari dari posisi merek a masing – masing. Semua orang disini juga terlihat menggunakan nomor peserta yang ditempelkan pada bagian depan dan belakang baju mereka, termasuk aku.
Tak jauh dari tempatku berdiri, mataku seperti mengenali mereka aku melihat dengan samar keempat temanku berdiri di depan sana. Mereka tampak bergembira dan sangat bersemangat . Sangat berbanding terbalik dengan aku yang masih bertanya – tanya untuk apa aku berada ditempat seperti ini dan apa yang harus aku lakukan. Aku bukanlah seorang atlet balap lari seperti Haile Gebrselassie dan Denis kimetto.
Seseorang memberi aba- aba untuk bersiap sambil mengangkat pistol kecil berwarna hitam yang sudah ia tarik pelatuknya keatas. “ bersediaa... siap.. mulaii..”. Ucap orang itu dengan sangat lantang. Aku yang masih tidak tahu apapun tentang ini, ikut serta berlari. Bahkan aku tidak mengetahui bagaimana track yang akan aku lewati didepan sana.
Apa aku sudah tertinggal sangat jauh? Mereka semua berada didepannku, Apakah mereka semua masih dapat melihat ku, jika sedikit saja menoleh kebelakang? Apakah aku masih dapat mengejar mereka?. Semua benar- benar seketika terlintas dikepalaku, pikiran –pikiran dikepalaku kacau begitu saja. Akupun terjatuh, kakiku terluka karna gesekan yang lumayan keras, beberapa tetes darah keluar dan aku merintih. Sesekali aku berteriak memanggil keempat temanku, berharap mereka dapat mendengar lalu membantuku, namun itu semua sia –sia, aku sudah tertinggal.
Bruuk!! Suara itu terdengar jelas dan kencang, aku terjatuh dari sofa dan semua yang ku alami tadi hanyalah sebuah mimpi. Keringat mengalir deras dari dahiku, jatungku juga berdegup dengan kencang semua adalah mimpi buruk bagiku. Tapi, kenapa aku bisa bermimpi seperti itu?, Apakah itu salah satu pertanda?, pertanda bagiku bahwa itu semua akan terjadi dikehidupan nyata, bukan sebagai pelari tetapi sebagai diriku sendiri yang akan tertinggal oleh keempat temanku. Aku tidak mau, tidak mau jika semua itu benar terjadi, apa yang harus aku lakukan? Pikiranku kacau.
Baru kali ini aku memikirkan hal yang se-serius ini, kepalaku penuh dengan semua pertanyaan yang terus menerus bertambah. Akupun berniat mengubah sikapku, berupaya agar terlihat dewasa dihadapan semua orang, karena mungkin dengan begitu aku dapat terlihat setara dengan teman-temanku yang lain. Hari demi hari pun berlalu, aku menjalani hari-hariku tak seperti biasanya. Aku benar –benar terlihat seperti orang dewasa sekarang dengan sedikit berbicara, sedikit tertawa dan terlihat dua kali lebih serius dari biasanya.
Teman-temanku seakan terganggu dengan perubahanku ini, mereka tak berhenti bertanya padaku setiap hari, mengkhawatirkanku seakan diriku sedang kurang enak badan. Aku merahasiakan semua ketakutan ini dari keluarga dan teman-temanku, hingga pada akhirnya aku juga tidak sanggup untuk memendam semua ini sendirian. Aku memberanikan diriku untuk menceritakan semuanya dari awal, termasuk dengan mimpi itu.
Teman-temanku hanya tertawa mendengarnya. Dan salah satu dari mereka menasihatiku, “Jika kamu ingin menjadi dewasa, bukan berarti kamu harus melakukan semua itu, semuanya membuatmu tidak menjadi dirimu sendiri, itu terlihat seperti kekangan bagimu karena kamu membatasi dirimu sendiri dan tidak memberikan hak kebebasan pada dirimu” tuturnya lembut. Aku tersenyum mendengarnya, “Tapi aku hanya ingin mencoba bisa seperti kalian” rengekku.
“Kamu bisa melakukannya dengan caramu sendiri dan tak perlu memaksakannya, sedikit demi sedikit biasanya dapat berubah natural mengikuti alur waktunya, kamu bisa membantunya dengan mulai mengubah pola fikir mu” jelas Nadia satu temanku yang lain.
“Kita akan terus dukung kamu kok, selama kamunya juga mau berusaha dan satu lagi yang penting, buang jauh-jauh ya pikiran malesnya, hehe” Support Chaca sambil tersenyum kearahku.
“pokoknya mulai saat ini jangan ada yang ditutup –tutupin lagi, ini buat semuanya, ayo kita kejar mimpi bareng-bareng dan sukses bersama suatu saat nanti, aku yakin banget kita bisa” ucap Fanny sambil merangkulku dan ketiga temanku yang lain.
Dan mulai hari itu, aku merasa semua yang ku jalani tak seberat hari-hari biasanya. Ada banyak kemajuan yang ku raih akhir-akhir ini, mulai dari nilai rapor ku yang mulai membaik setiap semesternya, aku masuk kedalam peringkat 5 besar hingga memenangkan beberapa kejuaraan olimpiade. Persahabatan kami pun menjadi ikut membaik karena terjalinnya komunikasi setiap harinya.