Saat matahari terbit menyinari dunia, disitulah salah seorang gadis berseragam sekolah menengah atas (sma) segera bergegas pergi. Sepasang sepatu telah dipasang, begitu pula dengan tas yang sudah disandang. Lalu langkahnya pun dimulai. Menuju sebuah stasiun yang tidak jauh dari rumahnya, gadis bernama Ruri tersebut begitu bersemangat selama di perjalanan. Setibanya di stasiun, Ruri duduk sembari menunggu kereta api datang. Hanya dalam waktu kurang dari 5 menit, sebuah kereta api telah tiba di hadapannya. Gerbang terbuka, dan ia pun langsung masuk ke dalam.
Terdengar olehnya suara mesin kereta api yang menandakan bahwa kereta tersebut akan segera berangkat. Ruri memangku tas sekolahnya sambil mengecek buku pelajaran. Lorong dalam gerbong kereta begitu luas. Dan ia merasa tenang tanpa adanya gangguan. Sebab hanya ia seorang di gerbong kala itu. Perjalan memakan waktu cukup banyak, hingga akhirnya tiba di sebuah stasiun pemberhentian. Stasiun itu dipadati oleh banyak orang. Ada yang berlalu lalang dan ada juga orang yang sedang menunggu kereta berikutnya.
Setelah sampai, Ruri pun keluar dari kereta tersebut dan lanjut berjalan menuju sekolah.
Jarak sekolah yang jauh dari rumah, membuat Ruri harus pergi dan pulang menaiki kereta hampir di setiap harinya. Pagi-pagi sekali saat matahari baru terbit, ia sudah harus bersiap-siap untuk segera berangkat. Walaupun sempat beberapa kali dirinya pernah mengalami kurang tidur sekalipun. Banyak kejadian yang telah terjadi padanya selama ini. Dari sarapan di kereta hingga ketiduran sangking ngantuknya.
Setibanya disekolah, Ruri kehilangan sesuatu. Sebuah buku pelajarannya yang baru disadari telah tertinggal di kereta tadi. Hal itu membuatnya mendapatkan hukuman dari sang guru.
Setelah menjalani kegiatan sekolah hingga sore hari, Ruri pun akhirnya pulang. Ia berjalan pelan dikarenakan merasa lelah dengan kegiatan sehariannya di sekolah.
Setengah perjalanan, dia menyempatkan diri untuk membeli Sebuah minuman dan beberapa makanan ringan. Kemudian Ruri lanjut berjalan menuju stasiun dan menunggu kereta datang. Beberapa menit berselang kereta tiba didepan matanya. Lalu ia pun langsung masuk ke dalam. Ruri duduk di pojokan sambil menyandarkan kepalanya di jendela. Ia menghabiskan waktu perjalanan dengan memakan makanan ringan sambil memainkan ponselnya. Kereta berjalan terus hingga tiba di tempat tujuan.
Saat kereta berhenti dan pintu telah dibuka, Ruri belum juga keluar. Lebih dari 10 menit kereta itu diam di tempat tanpa menutup pintu. Hal itu membuat petugas stasiun langsung pergi mengecek keadaan didalam kereta tersebut. Terlihat Ruri sedang tertidur dengan serakan sampah bungkusan makanan ringan yang dimakannya tadi. Petugas itu membangunkan Ruri agar segera pergi. Ruri terbangun dan ia pun sadar dengan kondisi sekitarnya. Dirinya meminta maaf dan langsung memungut sampah yang ada. Setelah Ruri pergi meninggalkan kereta, Petugas itu hanya tersenyum melihat gadis tersebut.
Malam hari di rumahnya, Ruri sadar bahwa buku pelajaran yang ditinggalkannya belum juga di ambil. Dan dia pun harus mengambilnya besok pagi.
Esoknya, Ruri berhasil mendapatkan buku itu dan menjadi tenang karenanya. Kemudian perjalanan menuju sekolah pun dimulai.
Hal itu terus terjadi berulang kali, dari pagi hingga petang. Banyak momen dimana ia alami dan mengekspresikannya sebelum berangkat maupun sesudah pulang dari sekolah. Dengan waktu yang berjalan begitu cepat, kini sudah waktunya mendekati hari ujian sekolah. Ruri belajar dengan giat dan menyempatkan diri untuk belajar di stasiun atau pun di dalam kereta. Sebisa mungkin dirinya belajar selagi sempat. Hal itu diperhatikan oleh petugas stasiun.
Beberapa hari telah berlalu. Ujian telah selesai dan Ruri pun hanya menunggu hari kelulusan saja.
Selang beberapa minggu berikutnya, Ruri pun akhirnya menghadiri acara hari kelulusan. Hari yang penuh haru dan bahagia itu disambut oleh para seluruh siswa. Pertemuan terakhir mereka di sekolah sebagai siswa disana pun diwarnai isak tangis serta beragam luapan emosi. Ruri menyambut hari kelulusan tersebut dengan makan dan minum bersama teman-temannya di dalam kelas. Mereka bercerita mengenai masa-masa sekolah selama ini dan diiringi canda tawa. Namun, momen itu terasa singkat karena waktu yang berjalan cepat tanpa mereka sadari. Setelah itu mereka semua pun bubar dan berpisah jalan di gerbang sekolah.
Ruri berjalan menuju stasiun kereta dikala hari telah petang dengan sinar khas orange nya. Dengan memegang sebuah bunga mawar dalam balutan plastik, Ia teramat senang serta memegangnya dengan erat. Mawar sebagai tanda perpisahan murid sekelas itupun dirasa sangat berharga bagi seorang Ruri. Jadi dirinya akan menjaga mawar itu sebisa mungkin.
Setibanya di stasiun, Kereta yang biasa ditumpangi Ruri telah ada di lokasi. Gadis itu pun langsung bergegas masuk walau sempat terkejut dengan kereta yang datang lebih awal daripada dirinya. Selama perjalanan, Ruri hanya melihat kawasan sekitar yang dilaluinya. Pemandangan sore itu membuat dirinya semakin nyaman berada di dalam sana. Ruri ingin sekali lebih berlama-lama lagi di dalam kereta. Hanya saja itu tidak mungkin terjadi. Karena ia harus pergi dikala sudah sampai di tempat tujuan.
Kereta bergerak pelan pertanda sudah tiba di lokasi. Stasiun yang biasa menjadi titik awal Ruri melangkah pergi menuju sekolah, kini telah terlihat di hadapannya. Pintu terbuka dan Ruri pun melangkah keluar. Setelah beberapa langkah berjalan, seketika dirinya berhenti dikarenakan sesuatu. Sesuatu yang dilihatnya tepat di area stasiun. Tercantum namanya yang ada di sebuah papan tempat menaruh iklan. Ruri bertanya-tanya ada apa gerangan?. Tak berapa lama keluarlah sang petugas stasiun serta beberapa orang lainnya yang menjadi pekerja disana. Termasuk sang masinis kereta yang selalu membawa Ruri selama ini. Ruri yang kebingungan langsung bertanya mengenai hal tersebut.
"Ada apa ini?"
Tanya Ruri yang kebingungan.
Petugas stasiun datang mendekat untuk memberikan ucapan selamat pada Ruri atas kelulusannya dihari itu. Beberapa ikatan bunga yang dibungkus rapi diberikan kepada Ruri
sebagai tanda kelulusannya. Ruri tak menyangka orang-orang di stasiun yang selama ini di datanginya telah memberi hadiah serta banyak ucapan padanya. Dan bagi Ruri sendiri itu amatlah berharga.
Setelah itu sang petugas stasiun memberikan sebuah hadiah dalam bungkusan kado. Ruri menanyakan apa isi didalamnya. Hanya saja si petugas stasiun tidak ingin memberitahunya.
"Baiklah jika tidak ingin memberitahu. Lagian aku akan mengetahuinya nanti."
Kata Ruri sembari tersenyum.
Setelah itu Ruri mengucapkan rasa terimakasihnya atas sambutan yang telah diberikan. Kemudian para pekerja stasiun memberikan minuman kaleng pada setiap orang yang ada disitu. Hanya ada beberapa orang dengan satu penumpang kereta yaitu Ruri. Mereka memegang masing-masing satu kaleng minuman.
Lalu petugas stasiun itupun berkata pada Ruri.
"Ini adalah perayaan atas hari kelulusanmu.
Kami senang bisa melayanimu hingga di titik ini. Sulit untuk mengatakannya. Tapi inilah yang harus kamu tahu."
Awalnya Ruri bingung dengan maksud si petugas tersebut. Lalu setelah petugas stasiun itu lanjut bicara, seketika mata Ruri terbuka lebar mengekspresikan keterkejutannya."
Beberapa saat kemudian, Ruri mengangguk seraya mengangkat minumannya. Dan mereka pun mulai minum bersama. Hari berganti malam, lampu pun langsung menyala menerangi stasiun. Mereka semua menikmati momen kebersamaan itu. Termasuk pula sang gadis berseragam sekolah, yaitu Ruri.
Setelah perayaan usai, kini saatnya Ruri berpisah dengan mereka semua. Para pekerja dan petugas stasiun itu berbaris rapat sambil melambaikan tangan. Ruri pun membalas dengan hal yang sama. Lambaian tangan menjadi momen terakhir dalam pertemuan mereka. Akhirnya Ruri pun pulang dalam gelapnya malam.
Sesampainya dirumah, Ruri membuka kotak hadiah yang diberikan sebelumnya di atas meja belajar. Membuka dengan perlahan dan seketika senyuman terukir di wajahnya. Terlihat isi dari kotak hadiah itu adalah berupa foto-foto Ruri semasa berada di stasiun dan juga di dalam kereta. Ia hanya bisa tersenyum melihat momen-momen yang telah di abadikan tersebut. Dari kelas satu hingga kelas tiga sekolah menengah atas. Terakhir, Ruri hanya bisa mengucapkan kata terimakasih atas perhatian mereka selama ini sembari memegang lembaran foto.
"Kini gadis itu telah tumbuh dengan cantik layaknya bunga yang telah didapatkannya tersebut."
-----Selesai-----