Aku, Jane Angie. Siswi berumur 15 tahun yang duduk di kelas 3 SMP.
Pelajaran daring ini dimulai sejak Virus Corona mewabah di seluruh dunia, terpaksa kami semua selaku murid melakukan pembelajaran secara daring melalui online school.
Banyak Tugas yang diberikan oleh para guru-guru yang harus kukerjakan saat ini karena mengingat bahwa aku menduduki kelas 9.
Kelas 9 berarti kelas terakhir di jenjang SMP.
Keseriusan dalam belajar harus kujalani.
Tanpa sadar pun dia datang dalam hidupku.
Dia Jackie,15 tahun, kelas 9 SMP, siswa sekelasku.
Dia siswa yang tergolong pintar, cerdik, dan jenius dalam hal mata pelajaran.
Ketika guru guru mengajukan pertanyaan, ia selalu yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru-guru dengan mudahnya.
Ketika aku melihat bahwa dia setipe denganku aku mulai jatuh cinta dengannya.
Mungkin ini terlalu tidak logis saat aku jatuh cinta di umur dan kelas seperti ini karena jika aku jatuh cinta di kelas 9, jika ia nanti pindah ke sekolah lain pasti aku akan sakit hati dan kehilangannya serta tidak dapat melihatnya kembali dari balik layar daring ini.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan tengah bulan, kami harus menyelesaikan tugas-tugas kami sebelum penilaian tengah semester.
Aku tak menyangka bahwa Jackie tiba-tiba disekelompokkan denganku di pelajaran PKN.
"Jackie, kau sekelompok dengan Jane," sahut ibu guruku.
"Hah? Aku..sekelompok dengan DOI," pikirku.
Ini merupakan suatu peristiwa yang aku tunggu-tunggu dalam sejarah hidupku.
Kerja kelompok ini membutuhkan kerjasama yang baik antar anggota kelompokknya, sedangkan aku tidak dapat memastikan apakah Jackie akan menganggapku atau tidak.
Saat sekolah online sudah selesai, aku berinisiatif untuk menghubungi Jackie untuk mendiskusikan kerja kelompok ini.
"Bagaimana ini? apakah aku harus menghubunginya? aku takut dia tidak menganggapku," pikirku.
"Sudahlah, aku harus menghubunginya jika tidak kerja kelompok ini tidak akan berjalan dengan baik." pikirku sekali lagi.
Akhirnya aku pun memberanikan diriku untuk menghubunginya lewat Chat.
👧(12.00)Jane= Permisi,Jackie. Jadi bagaimana dengan kerja kelompok ini? apa yang harus kulakukan?
👦(12.01)Jackie= Kau hanya cukup menulis saja apa yang harus di ucapkan, nanti aku yang akan mempresentasikannya.
👧(12.05)Jane= Oh, baiklah. Terimakasih Jackie.
👦(12.06)Jackie= Sama-sama
Setelah aku menghubunginya aku terkejut. Jackie cepat sekali membalas pesanku. Aku kira bahwa aku akan diabaikan.
Aku sedikit terbawa perasaan saat ini.
"Aku tidak boleh terbawa perasaan," pikirku.
"Di masa seperti ini bagaimana aku bisa memikirkan soal percintaan seperti ini," pikirku lagi.
Saat malam hari aku sudah selesai merangkum tugas yang harus aku lakukan dan akan kuberikan kepada Jackie.
👧(20.01)Jane= 📷photo
👦(20.02)Jackie= Aku lihat dulu ya.
👧(20.05)Jane= Baiklah,jika ada yang kurang benar beritahu sajalah padaku.
👦(20.06)Jackie= ini ada sedikit kesalahan,bagaimana jika kita membicarakannya lewat call?
"Hah,call? astaga... aku di call dengan DOI," pikirku dengan wajah memerah.
👧(20.07)Jane= uhmm.. boleh saja.
👦(20.08)Jackie= Baiklah. Aku call ya.
Akhirnya Jackie menelepon aku,dia langsung meneleponku dengan panggilan video sehingga membuatku terkejut.
"Jarang jarang nih seperti ini,aku akan mengangkatnya," pikirku.
Aku tidak ragu mengangkat video call nya walaupun ini cuman karena tugas.
👦Jackie= Apakah menganggumu jika panggilan seperti ini?
👧Jane= Tidak, santai saja.
Wajah Jackie memang sudah asli tampan ya, meskipun di rumah saja ia tetap tampan seperti saat di daring.
👦Jackie= Baik, jadi yang kurang itu sedikit informasi tentang pembukaan dan bagian tengahnya.
👧Jane= Oh, baiklah, lalu apakah ada lagi?
Lalu Jackie menjelaskan kekurangannya secara detail kepadaku hingga aku melakukan panggilan dengannya selama 1 jam.
Tak terasa setelah 30 menit melakukan panggilan, 30 menit lagi kami bercerita tentang sulitnya kehidupan di masa seperti ini.
Waktu berlalu aku merasa bahagia sekali. Tidak terasa 1 jam telah berlalu.
Saat pembicaraan selesai berakhir dengan canggung, aku mengatakan,
👧Jane= Terimakasih ya untuk kritikmu malam ini, maaf sudah membuatmu menelponku sampai malam-malam begini karena aku menyelesaikan tugas ini saat malam.
👦Jackie= Tidak apa. Ini sudah biasa bagiku, sekarang saja masih jam 9 malam.
👧Jane= Kamu biasanya tidur jam berapa?
👦Jackie= jam 10.
Aku bangga dengannya, karena selama ini yang namanya laki-laki biasanya tidur sampai subuh, tetapi dia tidak tidur lebih dari jam 10 malam. Sungguh setipe denganku.
👧Jane= Baiklah, selamat malam
👦Jackie= Selamat malam juga.
👧Jane= Iya.
👦Jackie= Mimpi indah, ya.
👧Jane= Iya..
Akhirnya ia menutup panggilanku.
Sebelum ia menutup panggilanku, aku sudah sempat meng-screenshot panggilanku dengannya yang berdurasi 1 jam itu.
Aku bahagia karena kejadian yang jarang-jarang ini.
Aku juga sedikit terbawa perasaan karena ia mengucapkan "Mimpi indah,ya." kepadaku.
Setelah kejadian hari ini terjadi aku jadi bisa tidur dengan tenang dan nyaman.
.
.
Seminggu kemudian, pembelajaran daring mulai seperti biasanya lagi.
Kami semua masuk jam 8.
Saat pembelajaran pertama dimulai pelajaran tersebut adalah pelajaran PKN, dan hari ini sudah saatnya kami mempresentasikan tugas kelompok kami.
Satu per satu kelompok tampil sampai menunjukkan giliran kelompokku dengan Jackie.
"Kelompok 12, Jane dan Jackie. Silahkan presentasikan hasil kalian," sahut Ibu guruku.
"Baik," jawab Jackie.
Tak lama kemudian Jackie mempresentasikan tulisan yang sudah aku rangkum kemarin dan yang sudah aku diskusikan kepada nya lewat Call.
"Wah bagus Jackie, menarik sekali. Kau dapat memahami intinya dengan baik, kerja bagus," sahut guruku.
"Ini semua berkat Jane, bu. Bukan hanya kerja saya semata," kata Jackie dingin karena ia marah bila guruku hanya memuji nya saja tanpa memujiku.
"Oh,iya,benar. Kerja bagus juga untukmu Jane," kata guruku dengan sungkan.
"Terimakasih bu," jawabku open mic.
Tak lama kemudian pelajaran sekolah pun selesai.
Tak terasa 1 bulan berlalu, 2 bulan, 3 bulan, 6bulan. Ini sudah saatnya kami melaksanakan ujian Kelulusan SMP menuju SMA.
Kami semua selaku murid belajar dengan sungguh-sungguh dan baik untuk mempersiapkan diri.
👦(16.04)Jackie= Apakah kau sudah siap dengan ujiannya? Jika ada yang mau kau tanyakan tanyakan saja padaku.
👧(16.10)Jane= Aku sudah siap, terimakasih sudah memperhatikanku^^
👦(16.11)Jackie= Semangat Jane.
👧(16.13)Jane= Terimakasih banyak sudah menyemangatiku, nilaiku di kelas 9 ini akan hancur lebur tanpa bantuanmu^_^
👦(16.14)Jackie= Itu hanya masalah kecil bagiku, yang terpenting kau semangat dan jangan lupa berdoa.
👧(16.17)Jane= Iya, itu sudah pasti, terimakasih banyak Jack^^
👦(16.18)Jackie= Sama sama
Jackie menyemangatiku dan membuatku tertawa malu di balik layar HP ku sampai sampai Ibuku bertanya,
"Nak. Apa yang kau tertawakan? Apakah kau melihat film lucu? Jika kau tidak belajar HP kamu akan Ibu sita."
"Aku..." jawabku ragu-ragu karena malu ketika hendak ingin menceritakan Jackie.
"Jackie nge-chat aku, Bu.." kataku dengan tersipu malu.
"Oh, Jackie, anaknya Bu Sandra itu ya?" jawab Ibuku.
"Ibu kenal dengannya?" tanyaku.
"Ibunya Jackie adalah teman baik Ibu," jawab Ibuku dengan bangga.
Seketika aku terdiam. Aku baru tahu jika Ibuku mempunyai teman yang anaknya adalah orang tertampan, terpintar, dan setipe denganku meskipun dia AnSos (Anti Social)
"Benarkah?" tanyaku terkejut.
"Iya,jika tidak percaya Ibu akan menghubunginya sekarang," jawab Ibuku bangga.
"Eh, tidak perlu, Bu. Aku percaya," kataku.
"Hayo.. kamu suka ya dengan Jackie?" tanya Ibuku seakan ia dapat membaca pikiranku.
"Ehh..." ucapku tersipu malu dengan muka memerah.
"Ibu,mengapa bisa tahu?...." tanyaku dengan malu.
"Sudah kelihatan, nak. Hehehe." jawab Ibuku.
"Ih,Ibu.. jangan Ibu beritahu Tante Sandra dan Jackie loh,nanti aku malu." kataku.
"Iyaa.." jawab Ibuku sambil tertawa.
1 bulan kemudian.
Hari Ujian pun tiba, emua murid kelas 9 diperintahkan untuk masuk ke sekolah dengan protokol kesehatan.
Ketika aku masuk ke kelas aku melihat Jackie dengan nyata.
Kulihat dari atas sampai bawah, dia tinggi, putih, keren sekali.
Sampai-sampai aku tidak dapat mendeskripsikannya.
Ujian dimulai, aku mengerjakan soal dengan benar dan sungguh sungguh.
Dia melihatku dengan senyuman.
Astaga.. dia tersenyum denganku.. tidak boleh malu.. tidak boleh..
Tak lama kemudian bel tanda selesai pengerjaan ujian berbunyi
Kring...
"Baik, anak-anak. Waktu mengerjakan sudah selesai. Kumpulkan soal dan jawaban nya kepada Ibu ya." sahut Ibu guruku.
Saat aku mengumpulkan Jackie melihatku dengan yakin bahwa pasti aku lulus dengan nilai yang baik.
Tak lama kemudian seminggu, dua minggu berlalu pengumuman lulus telah tiba.
Aku lulus dengan nilai tertinggi nomor 2 se jenjangku.
Jackie meraih juara umum alias lulusan nilai tertinggi nomor 1 di jenjangku.
Aku sangat bahagia sambil meloncat loncat.
Tak lama kemudian Sekolah menyuruh semua siswa mengambil formulir kelulusan dan banyak lagi.
Aku datang dengan protokol kesehatan lagi lalu Aku bertemu dengan Jackie.
Saat aku bertemu dengannya aku berkata, "Terimakasih Jackie. Aku sangat bangga memiliki teman sepertimu."
Lalu dia berdiri dekat denganku kurang lebih 1 meter lalu berbisik," Semua ini kulakukan untuk orang yang kusuka."
●//////● Aku tersipu malu lalu terkejut.
Jackie? orang terpintar di jenjangku, setipeku, suka denganku?
"Apakah kau bercanda?" tanyaku dengan malu.
"Aku tidak bercanda, aku serius," kata Jackie.
"Anakku juga menyukaimu," kata Ibuku yang lewat dengan Ibu Jackie sambil tertawa.
"Ibu...Ibu jahat.." kataku malu karena Ibu tidak bisa menjaga rahasia.
"Jadi kamu juga menyukaiku?" tanya Jackie.
"Ehh.. tadi perkataan Ibuku hiraukan saja," kataku malu.
"Aku yakin pasti kau juga menyukaiku," kata Jackie.
"Jackie.. kau.." kataku malu.
"Setelah ini kamu masuk SMA dimana?" tanya Jackie mengalihkan perhatian.
"Di SMA Nusa Jaya," kataku.
"Sama dong," kata Jackie.
Aku terkejut, mengapa bisa sama? Apakah ini sebuah kebetulan?
"Ibu?" tanyaku karena curiga pada Ibuku.
"Iya, Ibu sudah janjian dengan Ibunya Jackie bahwa kalian akan se sekolah lagi," Jawab Ibuku dengan meringis tertawa dengan Ibunya Jackie.
Aku bertambah malu.
"Jika sekolah kita sama, kita pasti akan bertemu lagi, bukan?" tanya Jackie.
"Iya.." kataku.
"Jika kita bertemu lagi apakah kau mau menjadi pacarku?" tanya Jackie dengan berbisik padaku.
●///////////////////●
Pacar? astaga! Pacaran?!
"Uhm.." kataku malu.
Aku bertambah malu lagi saat melihat senyuman Jackie yang membuatku semakin berbunga-bunga itu.
"Bagaimana? Apakah kau mau?" tanya Jackie sekali lagi.
"......" aku diam seketika lalu berjalan ke arah Ibuku lalu bertanya.
Aku membisikkan pertanyaan itu pada Ibuku.
Lalu Ibuku menjawab, "Boleh nak! Bolehh sangatt!"
"Eh, astaga Bu, jangan teriak teriak, ini sekolah." kataku.
"Boleh, nona cantik," kata Tante Sandra memujiku.
Astaga aku dipuji dengan Ibunya DOI ku.
Lalu aku berjalan ke arah Jackie kembali.
"Uhmm... aku mau," jawabku dengan malu.
"Yess! terimakasih Jane." kata Jackie mau memelukku.
"Eitts, protokol," kataku dengan menghalanginya.
"Ups, iya benar, maafkan aku," kata Jackie.
Lalu kita semua tertawa dengan bahagia.
.
.
.
.
END
"Social Distancing tidak dapat memisahkan kisah cintaku denganmu."
-Queen J-
*Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, tempat, atau kejadian mohon dimaklumi🙏
Terimakasih telah membaca! dukung Queen J di Novel "My Cold Guardian Angel" ya! klik profil aja
Jangan lupa juga ke 'My Lovely Vampire' di NovelMe ya!