Hai, gue Aleandre. Kalian bisa panggil gue Andre, Ale, Al, Dre, Lean, apa pun itu asal jangan Lea ataupun Alea. Karena gue bukan cewek tulen. Oke, gue disini mau berbagi cerita. Kalian pernah gak sih suka sama seseorang malah terbilang sayang? Gue anggap pernah, karena sejatinya manusia itu punya perasaan. Tapi, apa lo pernah suka sama sahabat lo yang udah nemenin dari jaman suka jingkrak-jingkrak ga jelas di bawah guyuran air hujan cuma pake kaos sama celana dalam warna merah dengan sablon gambar spiderman di belakangnya?Gue enggak tahu persis gimana perasaan ini tiba-tiba ada. Dan entah gimana saat dia cerita tentang cowok yang selama ini dia suka nyatain perasaan nya beberapa bulan yang lalu ,tiba-tiba hati gue berdenyut sakit. Yap, gue sayang dia dalam artian yang beda, dan gue baru menyadarinya setelah dia punya kekasih. Gue sadar akan posisi ini, tapi tekad gue buat ngelindungin dia enggak akan pernah luntur, walaupun sudah ada sosok yangmelindungi dia, gue akan tetap disini, dengan keberadaan yang jauh dibelakangnya.
Dia, Alucca lara. Sahabat sekaligus orang yang gue sayang. Dia bukan cewek yang cantik, tapi dia terbilang cewek yang manis apalagi ketika tersenyum. Dia punya satu aset yang mempermanis senyuman di pipi kirinya, dan ini menjadi salah satu dari sebagian yang gue suka senyuman nya. Ah ralat, gue suka semua hal yang ada dalam dirinya.
Semua.
---------------------------------------------------------------------------------------
Gue menatap takjub pada beberapa mangkok kosong yang isinya sudah dilahap habis oleh gadis di sebelah gue.
“Gue.. Enggak ngerti lagi, gimana caranya semua makanan itu bisa muat di perut lo yang kecil. “ gue menatap perut dia yang dengan ajaibnya masih terlihat datar walaupun sudah menghabiskan 3 porsi batagor yang ada di kantin sekolah gue.
Lucca mendorong mangkok keempat yang dia habiskan isinya, lagi, lalu tangannya meraih teh manis yang terletak di depan gue.
“Ini tuh kekuatan patah hati. Diem aja jomblo , kalo gak tau! “ dia beralasan. Detik berikutnya dia mulai merogoh kemeja yang ia kenakan lalu menoleh pada gue. Tatapannya dibuat buat semiris mungkin seperti anak kucing tersesat minta pertolongan. Sedangkan gue yang melihat semua adegan yang dia lakukan mulai mendelik. Kebiasaan.
“Iya, gue bayarin. “ senyum nya merekah hingga menimbulkan satu bolong di pipi kirinya. Manis. Ya, setiap gue lihat dia tersenyum dia selalu terlihat manis yang dimana gue ingin langsung mencubit pipinya yang agak berisi. Tapi selalu gue tahan.
“Lo itu emang sohib gue yang terbaik! “ Luna berseru sambil meluk gue sekilas. Buset, ni anak emang gak tahu apa daritadi jantung gue dugem. Oke, dia emang biasa meluk gue kaya gitu, tapi setelah perasaan ini ada entah kenapa dekat dengan Luna jantung gue berpacu lebih cepat.
“Le? “
“ Eh, iya? “
“Mau gue atau lo yang bayar? “
“Lah, bukannya tadi lo minta gue yang bayar? “
Luna mengibaskan tangannya didepan wajah, “Bukan itu, iya emang bayar nya pake duit lo. Kali aja lo mager buat bayar ke ibu kantinnya biar gue aja. “
“Gue enggak mageran kaya lo. Lo kalo mau duluan ya duluan aja, biar nanti gue yang bayar. “
“Kok lo tau sih gue mau cabut? “
“keliatan. Muka lo itu muka kriminal SMP. Sana cabut! “
“Hng.. Enggak apa-apa? Gue gak enak sama lo. “
“Sejak kapan lo jadi berbudi macam manusia gini? “ dia mendelik lucu yang membuat gue terkekeh. Sumpah, dia itu manis banget kalo lagi jutek gini.
“Gue mau boker, kayanya gue gak cocok sama batagor. “
“Dasar perempuan tidak tahu diri! Lo itu makan ngelebihin porsinya beruang mau hibernasi–“ Belum selesai gue mengeluarkan sejuta kekesalan dia udah ngacir gitu aja. Dan larinya kenceng banget buset, jadi itu yang dinamakan the power of broken heart. Kenapa gue bilang gitu? Ya kalian bayangkan berawal dari patah hati bisa menimbulkan nafsu makan yang mengobrak-abrik isi dompet gue, iya gue adalah salah satunya orang yang harus berlapang dada untuk membayar empat mangkok batagor beserta satu gelas es teh yang seketika itu bikin perutnya mules karena kelebihan porsi.
Cuma dia satu satunya cewek yang sama sekali enggak merduliin image ketika cewek lain dengan keras harus menjaga image mereka di depan siapapun.
Dan gue suka dia, dia yang apa adanya. Kalo ditanya alasan apa atau kenapa gue bisa suka dia ditengah banyaknya cewek cantik yang lebih dari dia gue enggak tahu jawabannya. Karena sayang sama dia enggak butuh alasan, yang gue butuh melihat dia selalu tertawa cerita walaupun alasannya bukan karena gue. Yang terpenting adalah kebahagiaan dia.
Lama gue merenungi, akhirnya gue segera bangkit untuk membayar makanan yang Lucca pesan.
Hari ini hari minggu, dan Lucca bilang dia akan kerumah gue buat mengerjakan tugas bersama, ah, lebih tepatnya dia hanya numpang cerita dan juga menghabiskan stok camilan yang selalu gue beli tiap minggu. Siasat yang sudah menjadi kebiasaan.
Jam 9 gue keluar dari kamar dengan setumpuk buku paket di tangan gue. Gue berjalan santai melewati setiap kamar yang letaknya berdekatan. Dahi gue mengkerut samar ketika salah satu kamar adik gue pintu nya tertutup tidak rapat. Perlahan gue buka pintu kamar adik gue , terlihat lah pemandangan yang berpotensi menimbulkan sakit mata.
Kalian tahu? Kamar ini sudah simulasi menjadi kapal pecah, adek gue anak gadis tapi tidak tahu cara menyimpan kaus kaki yang benar, bagaimana bisa dia menyelipkan barang tersebut diantara tumpukan buku? Dan dari banyaknya objek yang membuat kepala gue pusing saat itu juga, gue Cuma tertarik sama vas yang terdapat satu bunga mawar warna putih. Dan.. Sebelah kaus kaki warna putih yang sudah dekil di sebelahnya. Gila! Lain kali gue harus buang koleksi kaus kaki ini yang gue yakin selain bisa sakit mata, pusing kepala juga bisa sesak nafas mendadak karena mencium bau yang enggak bisa di tolerir ini.
Detik berikut nya gue keluar menuju taman belakang bersama satu tangkai bunga mawar putih yang se-berusaha mungkin gue hindarkan dari pandangan mata-mata yang berpotensi merebut paksa bunga yang udah gue genggam erat-erat. Mana bisa gue membiarkan bunga secantik ini bergaul dengan museum kaus kaki.
Setelah sampai, gue dikejutkan oleh sesosok manusia yang tengah haha hehe enggak jelas dengan ponsel di tangannya. Gapapa, se-bobrok apapun dia enggak bakal mengurangi rasa sayang gue. Iya, dia Lucca cewek yang bodoamat nya sudah mendarah daging, gue tahu rumah kita Cuma terhalang dua bangunan. Tapi siapa cewek yang bakal main ke rumah cowok maksud gue temen cowoknya dengan setelan piyama belel dan juga rambut acaknya, dengan muka bantal nya yang gue tafsir dia sama sekali belum mencuci muka.
Jelas ini tidak selevel dengan gue yang sudah wangi semerbak menyambut kedatangan seekor itik buruk rupa. Terkadang gue menghawatirkan kejiwaan gue yang enggak habis pikir bisa naksir sama cewek model begini.
“Ayo kita mulai belajar. “ Lucca melirik gue yang baru saja duduk di kursi kayu.
“Gue enggak bawa buku. “ gue sempat terdiam ditempat. Keajaiban apa lagi ini?
“Terus lo mau ngapain ke sini? Maaf, tapi gue enggak lagi butuh ART. “ dia cemberut dengan pipi yang mengembung. Lucca, kenapa lo bisa terlihat imut dalam bentuk buruk rupa begini sih?
“Gue mau minta makan. Papa mama enggak pulang semalam. “
Dan dia juga gadis yang tidak tahu malu.
“Lo pikir rumah gue tempat sumbangan? Enak banget lo minta makan udah kaya minta contekan. “ Luna mencibir yang membuat gue menghela nafas. Sabar, untung sayang.
Sayang? Hehe
Selagi mencibir, tatapan matanya jatuh pada satu tangkai bunga mawar yang gue pegang, belum sempat gue menjauhkan bunga itu dari jangkauan dia, dengan cepat, bunga itu sudah berpindah tempat. Maaf mawar cantik, tapi gue gak bisa nyelamatin lo kali ini dari cewek tidak tahu malu ini.
“Ih, kok kelopaknya gini. “ sontak, gue mencondongkan badan melihat kelopak bunga yang beberapa rusak akibat gue membawanya secara sembunyi-sembunyi.
“Tetep cantik kok. “ kaya lo. Kepalanya menengadah melihat gue yang tersenyum.
“Ini buat siapa? Darimana? “ gue gelagapan, masa iya gue harus jujur itu bunga hasil nyolong dari kamar adek gue?
“Nemu di kamar. Enggak tau, gue suka aja liat tuh bunga. “ matanya menyipit yang membuat gue semakin was was, tapi selanjutnya dia memperlihatkan aset nya yang selalu gue suka ketika melihat nya.
“Buat gue. “
---------------------------------------------------------------------------------------
Agenda hari minggu gue yang seharusnya mengerjakan tugas menjadi ajang cerita bagi Alucca karena alasan dia tidak membawa buku dan terlalu malas untuk pulang. Gue hanya menuruti kemauannya, selagi itu membuat dia bisa bahagia dengan berbagi cerita secara ceria.
Andai gue bisa, gue juga kepengin cerita tentang satu orang yang ketika gue mengingat dapat membuat tersenyum, satu orang yang ketika berdekatan dapat membuat jantung gue seakan berhenti berdetak, satu orang yang ketika senyumnya terbit dapat membuat gue tahan nafas sesaat, tentang satu orang yang telah memporak-porandakan hati gue. Dan itu lo, Cuma lo satu-satunya yang bisa melakukan itu tanpa sadar.
Dipendam sesak, di utarakan rusak.
Gue bukan seseorang yang ahli dalam memendam suatu perasaan tapi di saat yang sama pula, gue bukan orang yang meng-dambakan hancurnya persahabatan yang sudah banyak kenangan.
Apa gue harus egois? Gue enggak setuju dalam pendapat ’cinta tak harus memiliki’ karena sejatinya gue ingin seutuhnya memiliki sekaligus alasan dari kebahagiaan lo.
Lamunan gue buyar , ketika mendengar deringan ponsel milik Alucca. Dengan cekatan dia berjalan menjauh dari gue. Terlihat dia asik berbincang, gue enggak tahu topik apa yang sampai membuat dia seceria itu.
Lama gue memperhatikan, akhirnya dia berjalan mendekat.
“Le, gue pulang dulu ya. “ satu kalimat ceria yang entah kenapa bisa membuat gue bingung . Ini baru jam 1 dan biasanya dia akan baru pulang ketika nyokapnya mengomel lewat telepon. Tanpa banyak bertanya gue meng-iya kan kepulangannya.
Jadi sebenernya ada apa?
Gue mulai menata buku yang berantakan, lalu kedua kalinya mata gue suka terpaku pada bunga mawar yang tergeletak gitu aja diantara buku-buku yang berserakan. Lalu gue melirik ke arah luar pagar, Alucca masih deket, tanpa aba-aba kaki gue melangkah gitu aja menuju halaman rumah. Gue tersenyum ketika punggung Aluna masih terlihat, namun, beberapa langkah kemudian kening gue mengkerut ketika melihat Alucca memeluk seseorang.
Jadi.. Ini penyebabnya? Sekilas, gue memperhatikan raut wajah Aluna yang tidak pernah gue lihat se-bahagia itu. Gue menyentuh dada bagian kiri, perih. Ketika seseorang yang kita sayang lebih memilih pergi untuk berbahagia bersama orang lain. Rasanya sesak ketika melihat senyumnya berseri. Sakit, ketika dia bahagia dan bukan kita yang menjadi penyebab kebahagiaan.
Pada akhirnya gue mengalah.
Mengalah pada keadaan yang menghancurkan gue saat itu juga.
Pada akhirnya gue tetap diam daripada memperjuangkan.
Dan pada akhirnya gue tetap memilih menjadi seorang pengecut dibalik topeng persahabatan.
Dan pada akhirnya gue tetap memilih memendamnya. Dengan topeng persahabatan ini.
Ya, mungkin gue perlu memupuskan harapan dan mulai kembali membangun sebuah tali persahabatan tanpa ikatan perasaan. Atau mungkin bertahan sebagai sosok yang tetap mengagumi tanpa diketahui keberadaan nya. Gue kembali melangkah masuk dengan mawar di tangan gue yang menjadi saksi bisu.
Tak apa, seperti yang gue katakan gue tetap akan disini, jauh belakang dari keberadaan lo. Dan.. Gue akan lega ketika senyuman bahagia selalu terpancar dari wajah lo.
Karena Aleandre bakal disisi Alucca apapun keadannya, selamanya.