DITULIS PERTAMA KALI OLEH:
Muhammad Nurkeisar Rais
Selesai pada
DESEMBER 2015
Detail cerita
Jenis/genre: drama, remaja
Judul asli: Terjebak dalam Cinta Buta
—○○—●●—○○—●●—○○—●●—○○—●●—○○—●●—○○
Catatan dari penulis:
Cerita ini bersifat fiktif, jika ada kesamaan nama, tempat, peristiwa yang terdapat pada cerita ini merupakan ketidaksengajaan penulis
Jika ada sesuatu tidak relevan, melanggar ketentuan, maupun kesalahan dalam penulisan cerita maupun alur cerita yang agak membingungkan/tidak sesuai, mohon konsultasi ke penulis ya agar segala kesalahan dapat diperbaiki
«● Selamat membaca! ●»
—●●—○○—●●—○○—●●—○○—●●—○○—●●—○○—●●
Suatu hari, ada sebuah rumah di tengah pedesaan yang jauh dari keramaian lalu lintas, seorang wanita berambut dan berbaju merah, segalanya merah adalah penting baginya, di rumahnya sedang duduk sambil menonton siaran favoritnya di televisi, yaitu kuis.
“Baik, kalau Bapak bisa menjawab pertanyaan terakhir ini, akan saya berikan lima juta dolar. Apa Bapak siap?” ucapnya host berjas hitam bertanya pada seorang kontestan di siaran itu.
“Siap. Bapak siap,” jawabnya tegas, tidak sabar untuk mendapat hadiah dari memenangkan kompetisi itu.
“Cermati; ini pertanyaan terakhir. Pertanyaannya adalah: ada empat orang pria dicurigai telah menyerang penghuni rumah pada pukul 12.00. Korban disamarkan menjadi A dan empat penjahat itu telah berbuat yang tidak semena-mena pada A yang ditinggal sendirian di rumahnya sejak suaminya bekerja dan mereka telah memerkosanya. Keempat orang disamarkan menjadi B, C, D, dan E. Mereka telah membuat kerusakan di rumah A dan sampai membunuhnya karena A menolak ajakan mereka yang gak pantas. Mereka kabur dan tetangga datang beberapa menit habis itu, dan menelepon polisi. Polisi akan menyelidiki kasus ini. Anggap ‘aja, Bapak adalah salah satu dari tim polisi. Siapa yang telah memperkosa A dan membunuhnya? Apakah B, C, D atau E?”
“Dan saya akan memberikan klu untuk Bapak hanya 3,” katanya lagi. “Karena saya yakin pertanyaan serumit ini tidak bakal mendapatkan jawaban yang sangat tepat tanpa klu. Apakah Bapak mau klu pertamanya?”
“Apa itu?” kata si Bapak.
Lagi senangnya dan penasaran apakah orang itu menang atau tidak, si wanita terkejut mendengar suara ketukan pintu. Dia melihat jam menunjuk pukul 12.03, dia tidak menduga suaminya pulang secepat ini. Dia berdiri dan berjalan ke arah pintu depan.
Tiba-tiba saja dia berhenti. Ketukannya berhenti dan langkahannya pun ikut berhenti. Dia ingat pesan suaminya.
“Jangan buka pintu kalau aku gak ada di rumah, Nana.”
“Baik, cintaku,” ucapnya romantis mencium tangan suaminya. Suaminya pun meninggalkannya, bekerja sebagai juru masak.
Aku tahu itu, katanya dalam hati.
“Dan ingat, intip dulu siapa yang mengetuk. Kalau itu orang asing. Lupakan ‘aja. Gak usah dibuka pintunya,” mengingatkannya lagi.
“Oke…”
Kemudian, setelah berpikir-pikir, dia duduk kembali dan melanjutkan menonton TV.
“Baiklah, klu terakhir sudah dibacakan,” kata host di siaran kuis itu. “Apakah Bapak sudah mendapatkan jawabannya?”
“Apa?” kata si wanita bernama Nana menyaksikan siaran itu yang sebentar lagi selesai, saat ditentukannya pemenang. “Jam 12.07, lagi!”
“Siapa pelakunya, Pak?” Nana bertanya pada bintang tamu di siaran kuis itu—tidak mendengarnya, fokus untuk menemukan empat pilihan untuk mendapatkan empat kali lipat hadiah.
“Selamat!” ucap host itu tanpa memberitahukan siapa pelakunya kepada Nana yang tertinggal menyaksikan acara kuis itu. “Bapak berhasil mendapatkan lima juta dolar dari pihak kami, pajak ditanggung Bapak sebagai pemenang.”
“Lha?” bingung Nana. “Siapa pelakunya, Pak?”
Host dan pemenang itu berjabat tangan, mengucap terima kasih atas hadiahnya. “Baik, saudara, inilah akhir dari acara kuis terbaik di pertelevisian nasional, ajukan diri saudara atau undang teman, keluarga, atau tetangga di lingkungan sekitar saudara untuk mengikuti kuis ini. Pendaftaran gratis, dan dapatkan grand prize; 500 juta dolar, asli bukan palsu! Dan mohon maaf jika kami ada kesalahan. Sekian dan terima kasih,” kata host itu berbicara pada hadapan audiens di studio maupun via televisi.
“Ini gara-gara orang itu! Dia…,” protesnya dihentikan oleh suara ketukan pintu. Sepertinya, pria itu masih menunggu Nana untuk keluar menjumpainya.
“Dia ada masalah apa sih?”
Satu jam kemudian, saat jeda iklan pada acara sinematografi yang ditonton oleh Nana, dia berdiri, berjalan menuju pintu luar dan melihat luar rumah dari jendela. “Orang itu masih aja di luar? Gila ya?” katanya melihat pria itu yang sedang duduk di trotoar.
“Aku buka ‘aja lah.”
Saat dia membuka pintu, keluarlah si perasaan baik di sebelah kanannya dan perasaan buruk di arah sebaliknya.
“Kamu mau apa?” kata si perasaan baik. “Jangan kamu buka dan membiarkan cowok itu masuk ke rumah kamu. Waspada zina!”
“Hah!” kata si perasaan buruk. “Kamu terlalu hirau. Udah, buka ‘aja dan biarin dia masuk.”
“Bener bener orang itu gila! Sebenernya dia mau apa sih?” kata Nana mengikuti riungan mereka.
“Tuh,” sahut si perasaan baik. “Orang itu memang gila. Dan pasti dia ke sini mau bermain gila sama kamu.”
“Apa maksudnya?” kata Nana dengan herannya apa yang dia dengar.
“Jangan sampai dia mencium kamu.”
“Blegh! Kamu gila ya?”
“Aku suka ciuman,” kata si perasaan buruk.
“Tapi,” kata si perasaan baik ingin bertanya pada si perasaan buruk, “orang macam apa yang mau mencium orang yang bukan dia cintai?”
“Tapi,” katanya mengikuti gaya si perasaan baik, “Nana saja suka mencium bibirnya Gregg, suaminya. Setiap tidur, setiap berangkat kerja, dan setiap saat.”
“Ya, itu karena mereka sudah diikat oleh tali perkawinan. Mereka diperbolehkan untuk berhubungan dekat bahkan berciuman. Yang ditanyakan, apakah boleh orang yang belum menikah saling berciuman?”
“Mungkin pacaran,” sombongnya jawaban si perasaan buruk. “Ini juga gara-gara kamu terlalu banyak nonton kuis dan berita,” katanya menghadap Nana. “Udahlah, lupain kasus kemarin tentang; pemerkosaan terhadap wanita yang tinggal sendiri.”
“Udahlah! Aku mulai pusing,” tegas si wanita, muak terhadap omong kosong kata hatinya. “Lebih baik aku buka pintunya.”
“Tunggu, tunggu!” kata si perasaan baik melarang Nana menjumpai orang asing itu. Tapi, upayanya gagal. Dia langsung menghilang, kembali ke tempat asalnya, begitupun si perasaan buruk. Tapi, Nana sependapat dengan si perasaan buruk.
Orang asing itu mendengar suara pintu rumah Nana, dia berdiri dan berjalan menuju pintu rumahnya. Lalu dia mencoba mengetuk pintu dua kali.
“Kamu harus meresponnya!” si perasaan buruk muncul lagi. Kemudian dia hilang lagi dengan sekejap.
“Oke. Akan kubuka,” embusan napas Nana yang agak dingin keluar seakan membuatnya merinding. Nana membuka pintu dan menanyakan apa tujuan dia datang.
“Bisa saya bantu?” kata Nana bertanya pada orang asing itu.
“Apa ini rumah Bapak Lucas?”
“Bukan,” jawabnya. “Ini rumah Bapak Gregg. Bapak pasti salah alamat,” katanya menduga.
“Kata siapa?” tanyanya agak lugu, memiringkan sebelah alisnya. “Aku ke sini bukan mau nyari alamat.”
Nana membisu. Terkejut mendengar apa yang dikatakan si Orang Asing.
“Lah. Kok diem? Apa kamu bisa bicara?”
Nana sempat ingin muntah. Tapi, air liurnya malah ditelan kembali. “Aku bisa,” jawabnya.
“Oke. Ini rahasia,” katanya membuat Nana ingin mendekati dirinya padanya, ingin tahu apa rahasia darinya, “dan kamu jangan coba-coba kasih tahu pada orang lain.”
“Oke,” jawab Nana tidak tahu harus berkata apa melihat si orang asing itu mulai membuat suasana semakin meneror. Tapi Nana memberanikan dirinya, “kira-kira rahasianya apaan, ya?”
“Nama aku Lucas,” ucapnya. “Nama kamu siapa?”
Ini membuat keanehan. Nana jadi terkejut dan mulai agak lugu. Dia masih tetap memberanikan dirinya. “Na…, na…, na…”
“Oke, nama kamu Nana, ya?” tebaknya merasanya dia mengenalinya. “Nama yang cantik.”
“Makasih?” jawabnya dengan tanda tanya.
“Kita kencan yuk,” tanyanya sembarangan sekali. Tidak ada santunnya, seakan dirinya merasa santuy saja.
“Hah?” Nana jadi bingung apa yang barusan dia mau mengajaknya untuk apa. Membuat dirinya tergesa-gesa untuk mendorongnya dan menyingkirkan dari kehidupannya. “KAMU GILA! APA KAMU GAK TAHU KALAU AKU PUNYA SUAMI!”
“APA? AKU GILA?” dia mengikuti gaya amarahnya Nana. “Mana aku tahu kalau kamu punya suami.
“Gimana kalau kita nikah aja?” enak sekali dia berbicara seperti itu tanpa berpikir cermat—kalau dia sudah menikah.
Suasana senyap.
Nana terdiam.
“Oke. Gak setuju,” jawabnya menurutnya tepat, “bukankah begitu, Nana? Let’s be friends, yuk kita berteman aja. Jabatlah tangan aku erat, ya.”
Nana tidak berpikir dulu. Menurutnya, mungkin si Orang Asing hanya bercanda. Atau mungkin merupakan kesalahpahaman. Ya…, kesalahpahaman yang fatal rupanya…
“AAAHHH!!”
Tidak!
Nana berteriak keras.
Tangannya disetrum oleh orang gila itu!
Begitu eratnya tangan Nana pada tangan si Orang Asing yang berani menyetrumnya dengan alat penyetrum yang ditempelkan di tangannya, dia menyetrumnya agak ekstrim. Benar-benar gila ini orang!
Orang Asing melepaskan tangan Nana dari genggamannya. Kepala Nana memutar-mutar, merasa pusing karena setrumannya.
“KAMU GILA! UNTUNGNYA AKU BELUM MATI, MUNGKIN KAMU AKAN DIPENJARA!” bentak Nana begitu loud. “Aku mau laporin kamu ke polisi! Dan aku akan laporin kamu ke suami aku!”
“Aku gak tahu kamu ini kenapa ya? Kenal gak. Dan berani-beraninya kesini hanya buat pura-pura mau jadi teman aku biar kamu bisa main gila sama aku. Tangan aku panas, tahu! Kamu juga kesini buat mencari alamat, tapinya bohong karena kamu kesini hanya buat mencari aku,” Nana memarahi orang asing itu yang menikmati omongannya, tidak membuatnya merasa bersalah malah berulah.
“Kesini, imut,” dia berani memanggilnya itu, seperti boneka yang dia mainkan saja!
Orang Asing mulai mendekati Nana perlahan tanpa sepengetahuannya saat dia asyik memarahinya.
Perlahan.
Dan perlahan lagi.
Bibirnya mendekati bibir Nana, memonyongkannya.
Dan menciumnya sok romantis.
Ih. Menjijikkan!
Nasib Nana malangnya. Dipermainkan oleh orang yang dia tidak mengenalinya, bahkan berulah yang berupa-rupa sampai orang asing itu masuk ke dalam rumahnya dan berani melakukan sesuatu yang tidak wajar.
Tiga puluh menit kemudian.
Nana terbebas dari serangan ngeri si Orang Asing.
Si Orang Asing itu menarik Nana keluar tapi ini adalah kesempatan Nana untuk menjerumuskan si orang gila ini ke penjara.
“Tolong!” ucapnya teriak memanggil pertolongan.
“Tolong! Tolong!”
Dari kejauhan, ada tiga warga yang mendengar teriakan Nana dan melihatnya sedang dipegang oleh seseorang yang bukan suaminya. Mereka berlari mendekati Nana dan si Orang Asing untuk menangkap si Orang Asing. Si Orang Asing mulai ketakutan. Nana sergap keluar dari genggamannya dan berlari memasuki rumah, mengunci pintu dan duduk di kursi goyang untuk menghilangkan rasa takutnya.
“Baru pertama kali aku gagal mempermainkan cewek, dari seratus cewek yang aku mainkan. Aku harus kabur.”
Si Orang Asing itu berlari menjauhi tiga warga yang mengejarnya amat kebut. Tapi, usahanya gagal. Ada seorang pria langsung menangkapnya saat dia menengok ke belakang. Orang itu dan ketiga warga membawanya paksa ke kantor polisi untuk menjelaskan karena salah satu dari mereka mencurigainya, kalau dia diperbudak oleh cinta buta.
Enam jam kemudian.
Walau Nana terlihat agak trauma, tapi dia usahakan semampunya untuk melupakan peristiwa barusan.
Bip. Bip.
Suara alarm mobil berbunyi. Suaminya pun pulang.
“Aku pulang!” kata suaminya.
Nana berlari mendekati suaminya yang baru pulang dan memeluknya erat. Dia ketakutan.
“Kamu kelihatan agak takut. Kenapa?”
Nana tidak tahu apakah dia harus memberitahukan kejadian tadi atau tidak. Dia takut kalau suaminya akan memberontak. Tapi, dia berusaha untuk memberanikan dirinya untuk berkata apa adanya.
“Seseorang ‘ndah main gila ‘ama aku.”
“Main gila apaan?”
“Dia…,” Nana berkata lagi. “Dia ciumin aku.”
“Apa?” sang suami kaget mendengarnya. “Terus, terus.”
“Dia masuk ke rumah dan mendorong aku ke kursi lalu dia…”
Takut ceritanya panjang. Suaminya memotong dan bertanya, “tapi kamu baik-baik ‘aja?”
“Ya,” jawabnya. “Apa kamu gak marah?”
“Buat apa?” dia menyetuh dagu Nana dan mengangkat kepalanya mengarah mata suaminya. “Yang penting, kamu baik-baik ‘aja.”
Sang suami dengan lembutnya langsung memeluk Nana dan menghiburnya agar dia dapat melupakan kejadian barusan.
“Tapi untungnya aku teriak pas di luar, lalu aku masuk ke rumah pas dia melihat ada tetangga kita mengejar dia.”
“Bener tuh! Semoga dia ditangkap!”
Sang Suami berjalan menuju kamarnya. “Oh, ya. Mana bayi aku sayangi?”
“Bayi siapaaa?”
“Anak kitaaa…” lanjut si Suami ikut bercanda.
Suatu hari tepatnya di hari Minggu, saat Nana menonton TV dari acara komedi favoritnya, tiba-tiba dijeda oleh berita terkini karena waktu telah menunjuk pukul 11.00.
Suara bombastis mulai terdengar dari siaran klip intro berita terkini dan muncul seorang penyiar berita.
“Selamat siang, saudara. Sekarang Anda menyaksikan berita terkini dan mohon maaf acaranya dihentikan sementara untuk menambahkan informasi terkini saat ini,” ucapnya penyiar berita itu.
“Telah terbukti, pria bernama LC yang telah memperkosa lebih dari seratus wanita yang dia tidak kenal dengan tanpa sepengetahuan banyak orang. Diketahui, pria ini tertangkap saat…”
“Nah, itu orangnya!” seru Nana.
“Akhirnya,” ucap lega suaminya, “dia tertangkap juga.”
“…dan kini LC telah dibawa oleh kepolisian untuk menjalani hukuman yang dia terima.”
“Orang itu pantas mendapatkannya!”
“Jadi, sebagai kita, kita perlu berhati-hati dengan seseorang yang tidak kenal sama kita yang datang ke rumah kita,” jelas sang Suami. “Dan jangan memasukkan orang lain yang bukan sesama kelamin, itu bahaya.”
“Benar sekali.”
Sang Suami mendekatinya dan memeluknya.
“Baik, saudara. Sekian dari berita terkini saat ini dan Anda dapat menyaksikannya satu jam ke depan. Sebagai manusia harus saling mengingatkan untuk tidak menerima seseorang yang tidak kita kenal untuk masuk ke dalam rumah dan berkomunikasi padanya sangat dekat demi menjaga keamanan dan terhindarnya dari jebakan cinta buta. Saya pamit undur diri, terima kasih atas perhatiannya dan Anda kembali pada acaranya.”
“Nah, bentar lagi acara kita udah mulai…”
“Ya, Nana. Cintaku.”
——— Selesai ———
Pesan dari penulis:
Maraknya kejahatan antara orang asing pada orang asing lainnya dengan niat buruknya berpura-pura baik demi terlaksananya hubungan yang dilarang. Jagalah harga diri saat di rumah dengan menjaga rumah dari masuknya orang asing dengan mengabaikannya, jika melonjak maka lakukan penyelamatan diri dengan meminta pertolongan dan jauhi suasana rumah dari zina dan fitnah
—○●—○●—○●—○●—○●—○●—○●—○●—○●—○●—○●
Terima kasih atas perhatian pembaca telah membaca cerita pendek ini, berikan kebaikan pada cerita ini agar cerita berikutnya dapat berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya.
For more info at Insta of:
@cat_astix
@keisrays
Or click the writer's profile!