Di bawah terik matahari yang menyengat, angin siang yang menerbangkan daun-daun kering. Tiga anak laki-laki berumur sepuluh tahun tengah asik bermain kejar-kejaran.
"No ...! Kamu yang jaga sekarang!" seru salah seorang anak yang memakai baju merah.
"Oke ...!!! Aku mulai hitung ya!" sahut anak yang memakai baju kaos hitam.
"Satu ...! dua ...! tiga ...! empat ...! lima ...! enam ...! tujuh ...! delapan ...! sembilan ...! SEPULUH!" anak itu langsung berlari mencari kedua temannya yang sedang bersembunyi.
*****
Dibalik sebuah pohon yang berukuran sedikit besar, Hiro mengendap-endap mencoba menyembunyikan keberadaannya dari teman yang tengah mencarinya.
Hiro begitu panik saat melihat temannya itu mulai mendekati tempatnya bersembunyi.
Dengan perlahan dia melangkah mundur. Hiro mencoba untuk lari. Namun, tiba-tiba saat baru mundur tiga langkah ke belakang, kaki kanan Hiro terjatuh ke lobang kecil.
Hiro begitu tersentak, dia segera menarik kakinya kembali. Namun, tanpa diduga lobang kecil itu perlahan melebar dan terus melebar.
Tubuh Hiro terjatuh ke lobang itu, tapi dia masih dapat menahan kedua tangannya di permukaan.
"To-Tolong ...!!!" pekik Hiro mencoba untuk terus naik.
Namun, lobang hitam itu seakan menarik tubuh Hiro dengan kuat. Tubuh Hiro perlahan-lahan terus terhisap hingga menyisakan ujung-ujung jarinya di permukaan.
Teriakan Hiro seperti terbungkam, tidak ada yang datang untuk menolongnya.
"AKH ...! A-a-aaaaaaaa .....!!!!" Hiro terhempas ke dalam lobang gelap itu.
*****
Di atas tumpukan daun kering tubuh Hiro terlentang di sana. Untuk beberapa menit Hiro tak sadarkan diri.
Anehnya, ada beberapa ekor kecebong kecil yang memiliki sayap seperti capung terbang berputar-putar di atas tubuh Hiro.
Para kecebong bersayap itu terbang menjauh saat tiba-tiba Hiro menggerakkan kepalanya.
"Aaaaaaaaa ...!!!!" Hiro terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal.
Dengan bingung Hiro melihat ke segala arah. Semakin takutnya dia saat melihat tempat yang sangat tidak dia kenal.
Hiro mencoba untuk bangun dari duduknya. Namun, tiba-tiba tangannya tergelincir dan dia terguling dari tumpukan daun kering raksasa itu.
"Aaaaaaa ....!!!! A-a-aaaaaaa ....!!!!"
BRUKK ...!!!
Hiro meringis kesakitan saat dia mendarat di tanah dengan tengkurap.
"A-aduh ...," Hiro mengangkat wajahnya melihat ke tempat yang membuatnya terjatuh.
Betapa terkejutnya dia saat melihat tumpukan daun yang amat tinggi. Selain itu, daun-daun kering itu memiliki ukuran yang sangat besar.
Kembali Hiro melihat ke sekeliling. Hiro hanya bisa ternganga saat melihat pepohonan di sekelilingnya. Pohon-pohon itu memiliki ukuran yang sangat besar dan tinggi.
"Di-dimana ini sebenarnya ...!!!" pekik Hiro frustasi.
*****
Beberapa menit kemudian ...
Hiro mulai mencoba untuk mencari jalan keluar dari hutan mengerikan itu. Dengan tubuh kecilnya, Hiro mulai melangkah dengan hati-hati.
"Apa ini akhirat? Seingatku ... tadi aku tidak sengaja terjatuh ke lobang hitam ... dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa ... Ah ... Mama ...!" gumam Hiro pada dirinya.
Hiro terus berjalan, tapi dia sama sekali tidak dapat menemukan jalan keluar. Langkah Hiro terhenti, saat pendengarannya menangkap sebuah suara.
Suara itu seperti suara dentuman yang sangat keras. Suara itu semakin keras terdengar dan terasa semakin dekat. Perasaan Hiro mulai tidak enak. Binatang apa yang bisa membuat suara seperti itu, bahkan gajah pun tidak bisa seperti itu, pikir Hiro.
Tanah yang menjadi pijakan Hiro mulai bergetar seiring dentuman itu. Hiro tak berani bergerak, dia hanya diam di tempat.
Tiba-tiba sebuah bayangan menutupi jalannya cahaya di belakang Hiro.
Perlahan Hiro membalikkan tubuhnya untuk mencari tahu asal bayangan itu.
DEG ...!!!
Hiro membeku di tempat saat retina hitamnya menagkap seekor katak raksasa melihat kearahnya dengan liur yang mengalir dari lidah panjangnya.
Perlahan Hiro mencoba untuk melangkah mundur, walau tubuhnya terasa berat karna ketakutan. Setelah memastikan tubuhnya bisa bergerak, dengan segera Hiro berlari menjauh dari katak raksasa itu.
Hiro berlari sekuat tenaganya. Namun, itu terasa sia-sia saja. Dengan mudah katak raksasa itu bisa mengikuti jejak Hiro.
Sembari berlari, Hiro mencoba untuk mencari cara agar dia bisa bersembunyi dari katak raksasa itu.
Hiro mulai melihat ke kiri dan ke kanan. Semua tumbuhan di hutan ini terlihat sangat besar bagi Hiro, tapi tidak bagi katak raksasa itu.
Hiro mengingat satu hal, dia pernah belajar tentang kelemahan dari binatang amfibi itu. Hiro terus berlari sekuat tenaga. Hiro tersenyum saat melihat siluet cahaya terang yang berjarak sepuluh meter darinya.
Bocah laki-laki itu menambah kecepatannya. Cahaya yang amat terang itu kini berjarak satu meter darinya.
"Aku ... MENANG ...!" Seru Hiro masuk ke dalam cahaya terang yang silau.
Namun, katak raksasa itu hanya bisa terdiam di balik rindangnya hutan. Katak lemah dengan cahaya yang silau.
*****
Hiro terjatuh ke tanah dengan nafas yang tersengal-sengal. Energinya seakan telah terkuras habis.
Setelah cukup mengatur nafasnya, Hiro kembali membuka mata.
Begitu terkejutnya dia saat melihat hamparan pasir putih yang tiada ujung. Sungguh sangat mengagumkan.
Dengan segera Hiro bangun dari duduknya. Dia mulai melihat ke sekeliling. Tidak ada apa-apa di sana, hanya pasir putih yang terpampang nyata.
"Te-tempat ... apa lagi ini?!" gumam Hiro penuh keanehan.
*****
Tak ingin hanya diam saja, Hiro mulai berjalan menyusuri padang pasir putih itu. Hawa dari udara yang panas, serta matahari yang bersinar dengan terang, membuat Hiro kehilangan tenaganya.
"A-air ... a ... ir ... hahh ...!" Hiro benar-benar ingin menyerah. Dia sudah sangat kelelahan dan ke hausan. Seakan mineral dalam tubuhnya hanya tinggal 1%.
Sudah hampir dua kilometer dia berjalan. Tubuh Hiro sudah tidak bisa bergerak lagi. Dan seketika dia terjatuh ke pasir yang gersang.
"A ... ir ... hah ... to ... long ... hahh ... a ... ir ..." dan Hiro tidak sadarkan diri.
*****
Di sebuah rumah yang lebih mirip dengan tanaman jamur yang memiliki kepala berwarna merah serta bintik bulat putih, di sana Hiro terbaring dengan wajah yang pucat.
"Abeli ... Makhluk aneh itu sudah sadar?" tanya seorang makhluk seukuran Hiro, mirip manusia, tapi memiliki telinga yang runcing serta sayap yang mirip dengan capung.
Mereka tidak memakai baju, tubuh mereka hanya di balut dengan helai daun beraneka ragam. Mereka di sebut Perielf, karna mirip peri dan juga elf.
"Belum, Abela ...!" Jawab makhluk perempuan yang bernama Abeli.
Ada beberapa lagi makhluk yang sama tengah mengintip di balik jendela bulat rumah jamur itu.
*****
Satu jam kemudian ...
Hiro mulai menggerakkan kepalanya pelan. Dia mulai membuka matanya. Matanya mulai teransang dengan cahaya.
"Di-dimana ... ini ...?" ucap Hiro dengan suara yang parau dan lemah.
Abeli terdiam di depan pintu, dia segera berlari keluar untuk memanggil Abela.
"Abela ...!!! Abela ...!!! Si aneh itu sudah sadar ...!!! Abela ...!!!!" seru Abeli dengan lantang menarik perhatian semua Perielf yang sedang bekerja.
Abela yang sedang membelah kayu bersama Perielf lainnya segera berlari ke rumahnya menemui Abeli.
Abeli yang pemalu hanya bisa berjalan di belakang kakak laki-laki nya itu.
Abela segera mendekati Hiro yang tengah bingung sendiri. Saat melihat makhluk putih bersayap di depannya, spontan Hiro tersenyum.
"Apa ini surga?" tanya Hiro dengan nada datar.
"Tentu saja bukan! Mana mungkin surga seperti ini ...!" bantah Abela.
"Ta-tapi ... kalian terlihat aneh dan punya sayap? Bukankah ... malaikat begitu?" tanya Hiro kembali dengan wajah bingung.
Abeli yang bersembunyi di balik tubuh sang kakak perlahan mengeluarkan sedikit kepalanya untuk melihat Hiro.
"Ini bukan surga ... ! Ini bukanlah tempat tinggi seperti itu, dan kami bukan malaikat. Ini Negeri Perielf." Jelas Abela dengan bijak.
Hiro mengerutkan keningnya mendengar penjelasan dari Abela.
"Perielf ...? Negeri apa ini, aku tidak pernah mendengarnya ...!" Ucap Hiro dengan bingung.
"Kau ini aneh ...! Kau makhluk apa? Kau tidak mirip dengan kami, tapi aku juga tidak merasakan ancaman dari tubuhmu, siapa kau sebenarnya?" tanya Abela dengan serius.
Beberapa Perielf lain juga ikut mencuri dengar di balik jendela. Hiro semakin bingung dan heran, di mana sebenernya dia berada saat ini.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku?" tekan Abela sekali lagi.
Hiro menarik nafasnya sekali dan menghembuskan nya dengan pelan.
"Dengar, aku tidak tau siapa kalian dan bagaimana aku bisa berada di sini. Aku adalah seorang manusia, aku jatuh dari sebuah lobang hitam dan setelah sadar aku telah berada di hutan yang pohonnya besar-besar itu. Aku di kejar oleh katak raksasa dan berlari untuk menyelamatkan diri. Aku sampai di padang pasir putih, aku mencoba mencari air tapi tidak ada dan setelah itu aku tidak ingat lagi." jelas Hiro panjang lebar.
Abeli yang semula bersembunyi, menampakkan dirinya dari balik tubuh Abela.
"Ooh ... begitu rupanya ...!" angguk Abela mengiyakan.
*****
Setelah mendengar cerita dari Hiro, para Perielf itu sudah mulai berani mendekati Hiro. Bahkan ada juga yang membawakan Hiro makanan dan buah-buahan segar.
Abeli yang pemalu juga sudah berani berbicara dengan Hiro.
Sudah berlalu tiga hari Hiro tinggal di sana. Tempat yang nyaman dan bersahabat, selalu ada keceriaan dan kegembiraan. Hiro sangat bahagia, tapi hatinya tidak bisa menyangkal bahwa dia merindukan keluarga dan teman-temannya.
Di atas bongkahan batu bulat, Hiro terduduk sendu menatap aliran sungai yang jernih.
"Hiro ...!" Panggil Abela yang membuat Hiro tersadar dari lamunannya.
Hiro segera melihat ke samping kanannya. Abela mengulurkan sebuah apel kearahnya.
"Kau sedang apa? Tidak enak badan?" tanya Abela khawatir melihat wajah Hiro yang kurang bersemangat.
Hiro menggeleng sekali, "Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Hiro berbohong.
"Tapi ... wajahmu terlihat sangat tidak baik," tambah Abela.
Hiro menelan pelan apel yang dimakannya. "Sebenarnya ... aku merindukan keluargaku. Aku ingin tau kabar mereka. Aku juga ingin tau, apa mereka juga merindukan ku ...?" Ucap Hiro penuh ke senduan.
"Kau ingin pulang?!" Tanya Abela yang membuat Hiro seketika melihat kearah Abela.
"A-apa ... apa aku bisa pulang?!" Seru Hiro dengan wajah penuh harap.
"Em! Tentu saja ...! Tapi itu tergantung dengan seberapa kuat keinginan mu itu." Jelas Abela.
Seketika Hiro kembali bersemangat. Dia ingin kembali ke dunianya. Hiro ingin segera berkumpul dengan keluarga dan sahabatnya.
"Aku ... Aku! Ingin pulang ...!" Putus Hiro dengan tegas.
*****
Keesokan harinya ...
Di pagi yang cerah, Para Perielf berkumpul di depan gerbang desa Agaric, tempat Hiro tinggal untuk beberapa hari yang lalu.
Dengan wajah sedih, Hiro mulai mengucapkan kata perpisahannya.
"Hem! A-aku ingin mengucapakan terimakasih banyak pada kalian semua! Tanpa kalian, aku mungkin sudah tiada. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dan berteman dengan kalian! Kalian telah mau merawat ku dan memberiku tempat tinggal. Aku tidak tau cara membalas budi kalian kepada ku. Teman-teman ...! Terimakasih banyak! Aku akan selalu mengingat kalian! Dan selamat tinggal semuanya ...!" Setetes air mata mengalir ke pipi Hiro.
Para Perielf itu juga ikut bersedih karna kepergian Hiro. Mereka sangat suka dengan bocah laki-laki itu. Dia anak yang baik, periang, dan juga ramah.
Abela dan Abeli membawa Hiro terbang bersama mereka menuju ke hutan Giant, tempat Hiro pertama kali datang.
Hiro melambaikan tangannya kepada mereka sahabat baru Hiro.
"SELAMAT TINGGAL SEMUANYA ...!!!!" Seru Hiro yang melayang di angkasa.
*****
Kini ... Hiro, Abela, dan Abeli sudah sampai di perbatasan Hutan Giant dan Padang pasir putih.
"Terimakasih telah mengantarku, Abela, Abeli!" Ucap Hiro.
"Tidak masalah teman, kita adalah teman ...! Tidak ada kata terimakasih!" jawab Abela dengan bijak.
Hiro tersenyum puas kearah dua sahabat barunya itu.
"Hiro, kau harus ingat apa yang kami katakan! Jika katak raksasa itu muncul, maka minumlah air hitam ini! Kau mengerti?!" Tekan Abela.
"Baiklah ... tidak perlu khawatir, akan ku lakukan seperti yang kau katakan, teman!" jawab Hiro meyakinkan.
"Ka-kak ... Hiro ...! i-ini ... untuk mu!" Seru Abeli tiba-tiba dengan wajah memerah.
Hiro melihat ke tangan Abeli si gadis imut itu. Sebuah kalung permata biru yang cantik.
"Ini ... untukku?!" tanya Hiro memastikan.
"I-Iya ...! i-ini untuk kakak!" Wajah Abeli terlihat sangat merah karna malu.
Segara Hiro mengambil kalung itu dari tangan Abeli.
"Terimakasih hadiahnya ... akan ku simpan dengan baik!" Hiro tersenyum puas kearah dua saudara itu.
*****
Jantung Hiro mulai berdegup kencang saat dia mulai memasuki hutan raksasa itu.
Dengan langkah pasti dan waspada, Hiro mulai berjalan cepat menuju ke tempat semula dia terjatuh.
Sudah hampir satu kilometer dia berjalan, tapi katak raksasa itu tidak terlihat sama sekali.
Hiro mulai berlari dengan cepat, ini kesempatannya untuk menghindar dari katak raksasa itu.
Namun, sangat disayangkan, saat jaraknya dengan tumpukan daun kering raksasa itu tinggal tujuh meter, Katak raksasa itu malah tengah tidur disana.
"Kenapa ... harus disitu?!!" Gerutu Hiro kesal.
Hiro harus menarik katak raksasa itu menjauh dari sana. Dia mulai berteriak-teriak membuat kegaduhan.
Perlahan, katak raksasa itu mulai terganggu. Dan akhirnya Hiro berhasil membuat katak itu terbangun dari tidurnya
Hiro kembali meloncat-loncat memanggil si katak raksasa tersebut.
Katak itu mulai memasuki perangkap Hiro. Katak itu mulai meloncat mendekati Hiro. Saat dikira jaraknya dengan katak itu sudah dekat, Hiro langsung membuka tutupan botol yang berisi air hitam itu untuk diminum.
Saat meminum air hitam itu, Hiro tertegun dengan rasanya yang sama persis seperti kopi. Pahit dan asam.
Abela menyuruh Hiro untuk menyemburkan air itu ke arah lidah katak raksasa tersebut.
Segera Hiro lari mendekat, dan seketika saat lidah katak itu menjulur keluar, dengan cepat Hiro menyemburkan air hitam itu ke lidah si katak sebanyak tiga kali.
Dan tiba-tiba saja, katak raksasa itu seperti menderita dan menghempaskan lidahnya ke segala arah. Akhirnya, katak raksasa itu pergi menjauh dari tumpukan daun kering raksasa tersebut.
Hiro tersenyum puas, akhirnya dia berhasil mengalahkan si katak raksasa itu dengan bantuan dari sahabat barunya.
Dengan cepat, Hiro segera berlari kearah tumpukan daun kering raksasa itu. Dengan perlahan dia memanjat hingga sampai di puncak.
Abela mengatakan bahwa, jika dia sudah sampai di puncak, maka dia harus mengatakan dalam hatinya dengan ketulusan, bahwa dia ingin kembali.
Segera Hiro memejamkan kedua matanya dan meletakkan kedua tangannya di dada.
"Ku mohon ... bawa aku kembali ...! Aku ingin kembali ke rumahku, kembali ke keluarga ku, dan kembali bermain bersama teman-teman ku ...! Ku mohon ...! Bawa aku kembali ...!!!" Pinta Hiro dalam hati dengan penuh ketulusan.
Tiba-tiba ... cahaya putih bersinar dengan terang.
*****
"Hiro ..! Hei ...!!! Hiro ...!!! Bangun! kenapa kau tidur di sini..?! Hiro?!" Panggil Zeno dengan suara yang lantang saat melihat Hiro tertidur pulas di tempat dia bersembunyi.
"Apa dia beneran tidur?!" Tanya Fili dengan wajah bingung.
"HIRO ...!!!" Zeno menepuk wajah Hiro dengan keras untuk membangunkannya.
Dan akhirnya, Hiro membuka kedua matanya serta menyeka liur yang keluar dari mulutnya.
"Eh ...! Apa aku ketahuan?!" Tanya Hiro dengan wajah polos.
"Aku sudah membangunkan mu sekitar sepuluh menit, Tapi kau malah ngorok di situ!" tukas Zeno kesal.
"Apa ... aku tertidur?!" tanya Hiro tanpa rasa bersalah.
"Sudahlah ...! Ayo pulang! Ini sudah hampir sore!" Ajak Zeno yang di ikuti oleh Fili dan Hiro yang masih kebingungan.
*****
"Hiro ...! Nak ...! Kalung siapa ini?!" seru mama Hiro yang ingin mencuci baju.
"Kalung?!" Hiro segera menghampiri mamanya di halaman belakang.
"Ini ... ada di saku celana mu." jelas sang mama.
Hiro segera mengambilnya dengan wajah kebingungan.
"Kalung ... permata biru? Ini ... punya siapa?!" ucap Hiro dengan wajah yang bingung.
🍄Kau tau ... kadang mimpi adalah kenyataan.
TAMAT 🍄
TERIMAKASIH TELAH DATANG DAN MEMBACA!
SEMOGA TERHIBUR YA TEMAN-TEMAN 😎
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA 💋