Nama saya Lilis Indah Sari, orang memanggilku dengan sebutan Lilis. Saya akan menceritakan kisah nyata yang dulunya pernah saya alami semasa saya masih kecil.
Dulu aku dan kedua orang tuaku juga adekku hidup dengan penuh kesederhanaan di pulau jawa, tepatnya di sebuah desa yang ada di kabupaten Malang.
Bapakku adalah sosok ayah yang pekerja keras semua dikerjakannya untuk keluarga kecilnya. Sedangkan ibuku adalah sosok ibu yang penyayang dan sangat sabar.
Pada suatu saat Bapakku sedang berbincang dengan pamanku, pamanku membahas tentang pesugihan yang ada di pesarehan Gunung Kawi. Pamanku mengajak bapakku untuk ikut serta dalam pesugihan itu dengan tujuan agar cepat kaya dan sukses.
Namun bapakku hanya menghiraukan ajakan paman dan menolak secara halus karena bapakku sayang keluarga kecilnya dan tidak ingin ada hal yang terjadi di keluarganya, bagi bapak bisa bekerja dan mencukupi kebutuhan anak istrinya sudah sangat cukup.
Selang beberapa pekan kemudia pamanku datang menghampiri bapakku, saat itu bapak lagi disibukkan dengan pembangunan rumah kecil kami yang sangat sederhana.
Paman mengajak bapakku untuk menemui gurunya yang merupakan orang pintar katanya, paman mengajak bapak ke orang pintar tersebut dengan alasan untuk mencari hari dan tanggal baik untuk pindahan ke rumah baru kami sekaligus meminta dibuatkan pagar rumah untuk perlindungan rumah kami.
Bapakku pun tanpa berfikir panjang menyetujui ajakan si paman karena bagi bapak hidup di tanah jawa juga harus percaya ke adat istiadat dan tradisi pada zaman dahulu, ada yang mempercayainya dan ada pula yang tidak mempercayainya, semua tergantung keyakinan kita masing-masing.
Beberapa hari kemudian paman menjemput kami, paman menyarankan untuk mengajak aku dan ibuku juga. Saat itu aku masih keci, baru bisa jalan dan berlarian kesana kemari.
Bapak pun bierkata ke pamanku "biarkan Lilis dan istriku di rumah saja menjaga rumah karena hari sudah malam."
jawab pamanku "tidak apa-apa ajaklah anak dan istrimu, biar mereka nanti istirahat di rumahku bersama istriku, lagian istriku kangen ingin melihat keponakannya juga."
mendengar ucapan paman begitu bapak pun menyetujuinya tanpa ragu.
Kami pun berangkat ke rumah paman, dan saat itu bapakku juga mengajak adek perempuan bungsunya, sesampainya disana kami dikejutkan dengan seekor ular hitam yang ada di depan pintu rumah pamanku, bapak dan paman langsung mengusir ular itu hingga ular itu pergi. Bapak dan ibuku sempat kaget dengan ular tersebut karena warnanya sangat hitam pekat, dan bapakku pun punya firasat buruk.
Disana kami disambut sangat baik oleh istrinya paman.
Kami pun mengobrol sejenak di ruang tamu untuk sekedar tanya kabar karena lama tidak bertemu.
Bibi izin ke belakang saat itu untuk membuatkan minuman dan makanan untukku.
Melihat gelagat bibi yang aneh Ibuku pun mengikuti dibelakangnya dengan alasan izin ke kamar mandi, ibuku masuk di kamar mandi dan melihat bibi dibalik pintu yang sedang sibuk membuatkan minuman dan makanan untukku.
Saat itu bibiku lagi menyiapkan bumbu-bumbunya dan terdapat juga bunga yang ditumbuk bersama bumbu bawang merah dan bawang putih yang ada di telur.
setelah telur sudah matang, ibu melihat bibiku menyiapkan nasi di piring dengan lauk telur itu tadi.
ibuku melihat bibi yang sedang membacakan mantra-mantra di minuman tehku dan makananku.
ibuku pun kaget dan takut terjadi apa-apa denganku.
Bibi pun kembali ke ruang tamu menemui kami dan ibuku mengikutinya ke ruang tamu juga.
bibi pun berkata ke ibuku saat itu "ke kamar mandinya kok lama?"
ibu pun nenjawab "iya mbak yu soalnya dari tadi perutku mules gak karuan."
kata bude lagi "oh yasudah kalau gitu, nih aku buatkan dadar telur untuk lilis biar di makan, sepertinya dia lapar, dan ini teh untuk lilis(sambil memberikan teh tersebut ke ibuku)"
Ibuku pun ketakutan, dan saat bibi dan pamanku mengobrol ibu bicara bisik-bisik ke bapakku tentang apa yang ibu lihat tadi di dapur, bapakku pun langsung memeriksa telur dadar buatan bibiku dan langsung menanyakan langsung ke pamanku.
"mas ini kok bumbu-bumbu di telur dadarnya kok kelihatan banyak sekali." kata bapakku saat itu
"iya sengaja dibuat banyak bumbunya biar makin meresap di telur dadarnya dan rasanya enak." jawab paman
"ya sudah toh diminum teh nya nanti keburu hangat dan lilis itu mbok ya segera disuapin mumpung masih hangat." sahut bibiku yang memotong perbincangan paman dan bapak.
Saat budeh menyuruh kami untuk minum teh yang disugukan tersebut tanpa disengaja adek perempuan bapakku meminum Teh ku.
Bibiku yang melihat itu langsung mengambil teh tersebut dan memarahi adek iparnya yang juga masih kecil tersebut dengan sangat marah.
Melihat amarah bibi saat itu ibuku semakin menaruh rasa curiga.
Bibi pun menyuruh ibuku segera memberi aku makan dan minuman teh hangat.
saat itu ibuku teringat cerita bapak yang pernah bercerita diajak paman ikut serta dalam pesugihan,
ibu pun sangat ketakutan saat itu.
dan dengan judesnya bibiku menyuruh ibuku lagi untuk segera menyapiku dengan alasan sudah terlanjur dibuatkan.
Saat itu ibu hendak menyuapiku karena bibi terus-terusan memandang ibuku.
Ibu memakan telur dadar tersebut dan menyuapiku hanya sekali.
selanjutnya makanan itu dimakan oleh ibuku demi melindungi aku.
Melihat aku dan ibuku sudah makan dan minum, pamanku pun bergegas mengajak bapak untuk segera berangkat menemui gurunya dengan alasan keburu larut malam.
Paman memastikan ke bapak saat itu bahwasaannya aku dan ibuku akan menginap di rumahnya dan pasti baik-baik saja.
Bapak dan paman pun berangkat, meskipun saat itu sebenarnya bapak tidak tega meninggalkan anak dan istrinya bermalaman di rumah tersebut.
selang beberapa lama kemudian aku muntah-muntah dan seperti tidak sadarkan diri dan ibuku pun seperti orang yang kehilangan akal fikirannya.
Beberapa jam kemudian bapak pulang menjemput kami, dan saat tiba di depan rumah bapak dikejutkan lagi dengan penampakan ular tadi yang ada di depan pintu rumah pamanku, ini adalah kedua kalinya bapak dihadang ular hitam tersebut.
Bapak pun dengan marah memukul dan mengusir ular tersebut.
Setelah ular pergi bapak membuka pintu dan bapak kaget melihat keadaab kami yang sama-sama tidak sadarkan diri, hanya adek perempuan bapakku yang saat itu sadar dan baik-baik saja.
Bapak pun memarahi paman dan bibiku habis-habisan.
bapak merasa ditipu dan merasa kakaknya telah mengguna-guna anak dan istrinya.
Bapak pun langsung membawa pulang kami dengan sepeda motor, aku saat itu digendong ibuku, dan di sepanjang jalan ibuku mengamuk, tertawa dan hampir semua orang yang ibu lihat di sapanya sambil melambaikan tangannya sedangkan aku muntah darah dan tidak sadarkan diri.
Bapak ketakutan disepanjang jalan setelah sampai di rumah, bapak berusaha menyadarkan aku dan ibuku tapi kami tidak sadar sama sekali.
Bapakku pun bergegas membawaku ke Rumah sakit dan meninggalkan ibuku di rumah sebentar karena keadaan ibuku yang juga saat itu tidak memungkinkan untuk dibawa juga ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit aku langsung ditangani oleh dokter dan perawat saat itu dan dibawa ke ruangan ICU.
Bapakku pun setelah membawaku ke rumah sakit langsung menuju ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian yang dilakukan oleh paman dan bibi.
bapak dan beberapa polisi langsung menggeledah rumah pamanku, sayangnya disana polisi tidak menemukan bukti-bukti yang pasti karena barang bukti tersebut sudah dibereskan oleh bibi dan pamanku.
dan polisi tidak bisa memberi hukuman atau melakukan tindakan apapun ke paman dan bibi karena saat itu kata bapak hukum ilmu dan guna-guna di Indonesia masih belum berlaku.
Di rumah sakit aku lumayan lama tidak sadarkan diri, dokter pun bilang bahwa kemungkinan bisa selamat pun sangat minim sekali.
Mendengar perkataan dokter tesebut bapakku sangat terpukul dan menangis.
Bapakku dalam suasana yang penuh dengan kebingungan melihat putrinya tidak sadarkan diri di rumah sakit dan istrinya yang juga sama tidak sadar sama sekali.
Hari-hari bapakku disibukkan dengan kesana kemari, menjaga aku di rumah sakit, menyadarkan ibu di rumah, dan membagi waktu untuk bekerja karena di Rumah sakit aku saat itu membutuhkan biaya yang cukup besar.
Tiada hentinya bapak memohon dan berdoa agar putrinya selamat.
setiap ke rumah sakit bapak selalu menghampiri perawat dan dokter dengan pertanyaan yang sama "apa putriku sudah sadar?"
setelah beberapa pekan kemudian dokter sudah putus asa, dan biaya yang bapak keluarkan juga tidak sedikit, dokter dan perawat memberitahukan ke bapak untuk pelepasan alat-alat rumah sakit karena pasien kemungkinan kecil terselamat.
Bapakku menangis kencang sejadinya dan membenturkan tangannya ke tembok.
Tiba-tiba keajaiban terjadi kepadaku, saat itu aku membuka mata dan sadar.
Bapak yang melihatku sadar langsung memelukku dengan erat.
Bapakku sangat bahagia, beberapa hari kemudian aku pulang dari rumah sakit.
Aku sudah kembali sehat namun keadaan ibuku semakin hari sangat memprihatinkan.
Bapak sudah membawa ibu ke Kyai tapi ibu tetap saja tidak sadarkan diri hingga aku remaja tetap saja begitu.
Nenekku pun membawa ibuku ke dokter spesialis jiwa, ibu di suntik dan diberi obat pemenenang juga vitamin untuk di minum.
setelah rutin minum obat ibu kembali normal seperti biasanya, ibu bisa beraktifitas lagi seperti biasanya dan bisa berjualan jamu lagi.
Ibuku adalah sosok ibu yang baik, aku bangga memiliki ibu. dia rela melakukan apapun demi anak-anaknya.
dalam setahun ibu sakit seperti itu bisa 2 atau 3x dan sembuh dengan resep obat dokter.
hingga aku sudah tumbuh menjadi anak yang dewasa ibu terkadang sering sakit lagi.
Ibu juga sering bercerita bahwa dulu ibu hampir saja kehilangan aku, orang disekitar dan saudara-saudara pun hingga saat ini kalau bertemu denganku langsung memelukku dan tersenyum sambil berkata "alhamdulillah kamu sudah gede sudah dewasa, kalau ingat kamu dulu saat kecil sangat gak tega, kuasa Allah telah menyelamatkan kamu."
Semua itu adalah bentuk pengorbanan dari seorang ibu, aku selamat dari tumbal pesugihan karena ibu dan Allah. namun setelah aku dewasa dan memutuskan untuk menikah di awal tahun 2017, beberapa bulan setelah aku menikah ibu yang aku sayangi dan aku banggakan meninggal karena serangan jantung.
Maafkan aku ya bu jika selama ini aku menyakiti hati ibu, ibu sangat baik. semoga ibu diterima di sisi Allah swt. Amin