Aku menguap lebar berusaha mengusir kantuk namun segera terhenti aktivitasku saat melihat sosok cowok yang sudah berdiri di depanku. Dia siapa ?, mengapa dia ada di kamarku ?.
"Makasih, sayang, untuk malam yang indah. Aku pergi dulu ya. Nih, buat jajan !", ucap cowok itu sambil melempar beberapa lembar ratusan ribu dan pergi dari kamarku.
Aku hanya bengong, memang dia pikir aku cowok apaan. Apa yang terjadi denganku ?. Apa aku sangat mabuk tadi malam hingga melakukan begituan dengan seorang cowok juga ?.
"Hoek .... ". Tiba-tiba perutku terasa mual begitu membayangkan apa yang telah kulakukan tadi malam. Badanku terasa dingin, aku meraba tubuhku. Astaga, aku telanjang bulat di bawah selimut ini. Aku benar-benar mabuk berat ternyata semalam. Aku segera bangkit dan bergegas lari ke kamar mandi. Aku ingin segera mandi dan membersihkan tubuhku. Apa saja yang telah dilakukan laki-laki sialan itu ? Awas saja kalau sampai ketemu dia lagi, akan ku hajar dia habis-habisan beraninya ngerjain aku yang lagi mabuk.
Aku bergegas membasuh mukaku dengan sabun dan menggosok gigi di wastafel, tapi ...
"Aaahh ....". Aku terkejut melihat sosok cantik dengan rambut sebahu yang sedikit basah dan mulut yang penuh dengan pasta gigi.
"Itu ... itu .. siapa ?", pekik ku bingung. Aku hanya bengong di hadapan cermin itu. Aku membuka mulutku lebar-lebar, gadis di cermin itu juga ikut membuka mulutnya. Aku mencoba tertawa menyeringai, gadis di cermin itu juga melakukan hal yang sama. Aku mencoba meraba tubuhku, gadis di cermin itu juga melakukannya. Apa yang terjadi denganku ? Apa tadi malam aku minum obat terlarang hingga mengalami halusinasi seperti ini ?. Aku meraba tubuhku lagi, betul ini tubuh cewek, cewek seksi lagi tapi mengapa di bagian perut sedikit membuncit ya ?. Dengan masih bingung, akhirnya aku putuskan untuk mandi saja, mungkin setelah mandi tubuhku segar dan halusinasi ku hilang.
Aku masih berdiri mematung di depan lemari. Aku kagum dengan kecantikan gadis di pantulan cermin itu. Dia sungguh manis dan sempurna untuk seorang gadis biasa. Tapi, aku kan cowok gimana bisa punya bayangan seorang gadis cantik ?. Apa halusinasi ku belum hilang ya ?.
"Huh ....!". Dengan kesal kubuka lemari pakaianku, aku harus bergegas ada meeting pagi hari ini. Tapi ... lagi-lagi aku terkejut dengan isi lemari ini. Kenapa lemari ini isinya baju cewek semua ? kemana perginya kemeja, celana dan jas ku ?.
Aku jongkok mencoba mencari pakaian ku di bagian bawah lemari namun yang kutemukan malah pakaian dalam wanita dari yang biasa sampai yang super seksi. Aku bergidik menjauhi lemari, apa yang terjadi padaku ?. Apa ada seseorang yang ingin mencelakakan ku hingga membuatku berhalusinasi seperti ini ?. Ya Tuhan, aku bener-bener kapok deh dugem sampai mabuk berat kayak semalam.
"Naira ... kamu kenapa ?". Tiba-tiba ada seorang gadis mungil berpakaian serba putih nyelonong masuk ke kamarku. Aku hanya diam tak bergerak. Siapa gadis itu ? dan mengapa dia memanggilku Naira ?.
"Kamu belum berpakaian ?. Aku bantu ya ?", ucapnya lagi kini membantuku berdiri dan duduk di ranjang. Sedang gadis itu asyik memilihkan baju untukku lalu membantuku berpakaian.
"Aku sudah bilang, berhenti temui Vicky dia hanya memanfaatkan mu. Kamu pasti di buat teler semalam hingga masih seperti ini efeknya", ucap gadis tadi sambil merapikan rambutku.
"Kamu tadi memanggilku siapa ?", tanyaku kini. Gadis itu berhenti merapikan rambutku kemudian menatap ku tajam.
"Naira .... ya aku memanggilmu Naira. Kenapa ? kamu juga lupa siapa namamu ?". Aku hanya diam. Jadi, namaku kini Naira tapi mengapa aku bisa menjadi Naira ?. Apa jiwaku bertukar tempat ?.
"Ayo, kita pergi !", ajak gadis itu lagi.
"Kita kemana ?", tanyaku bingung. Gadis itu lagi-lagi berhenti dan menatap ku tajam.
"Kamu benar-benar lupa ya ?. Hari ini kan kita mau periksa kandungan mu ?. Ayo, nanti keburu siang".
"Kandungan ? maksudmu aku hamil ?", tanyaku lagi sambil memegang perutku yang buncit.
"Aduh Naira ... cukup deh jangan membuat aku bingung lagi. Besok kalau ketemu Vicky jangan mau meladeninya, begini kan akibatnya", cetus gadis itu lagi kini sambil menarik ku keluar kamar dan menguncinya.
"Tunggu dulu .... kok aku tinggal disini ?", tanyaku kebingungan karena jujur saja aku biasanya tinggal di apartemen mewah dan kini aku harus tinggal di kost-kostan kumuh gini. Gadis itu hanya diam dan terus menyeret ku.
Akhirnya setelah berjalan melewati beberapa gang sempit sampai juga di sebuah klinik bersalin yang terbilang sangat kecil dan sedikit kumuh.
"Ayo ... kita langsung masuk saja, aku sudah janji dengan Bidan Ida", sahut gadis itu lagi saat aku kelihatan kebingungan.
"Bu Ida, ini Naira teman saya yang saya ceritakan kemarin", ucap gadis itu begitu kami sudah masuk ke ruangan periksa. Bidan Ida berumur separuh baya sama seperti emak, dia tampak ramah dan kini sedang menatapku.
"Ayo ... sini, Ibu periksa dulu ya ?", ucapnya lagi menyilakan aku untuk tidur di ranjang periksa. Aku hanya menurut dan diam saat ibu bidan itu mulai memeriksa perut buncit ku.
"Tidak ada keluhan ?", tanyanya. Aku hanya menggeleng. Lalu ia menyudahi pemeriksaannya dan menyuruhku untuk bangkit dan duduk kembali di kursi tadi.
"Gimana Bu ?", tanya gadis itu khawatir.
"Kondisi janinnya bagus kok tapi sepertinya temanmu terlihat capek. Apa dia bekerja ?", tanya Bidan Ida. Gadis itu segera bangkit dan menarik Bidan Ida untuk menjauh dariku.
"Sebenarnya dia tidak bekerja Bu tapi sejak peristiwa itu, dia memutuskan untuk menjadi wanita panggilan. Setiap malam, dia selalu melayani laki-laki hidung belang di kostnya. Padahal saya sudah berusaha melarangnya, apalagi dengan orang yang namanya Vicky, dia selalu membuat Naira mabuk dulu baru melakukan itu", bisik gadis itu.
"Apa dia sudah berhenti melakukan konseling dengan dinas sosial yang menangani kasusnya ?", tanya Bidan Ida.
"Dia sudah berhenti berkonsultasi Bu sejak ada oknum yang juga bermaksud melecehkan nya di sana waktu itu ".
"Kasihan temanmu, sudah mengalami pelecehan dari ayah tirinya sejak usia dini, kini oknum yang membantu juga ikut melecehkannya, makanya dia putus asa dan memilih hidup seperti itu".
Aku tercengang mendengar percakapan mereka. Aku memang bermaksud mencuri dengar percakapan kedua orang itu supaya aku tahu apa yang terjadi dengan Naira.
"Kamu harus menjaganya, Tina. Dia tidak boleh putus asa terus, dia harus bangkit. Kamu harus disampingnya terus ya ?", pinta Bu Ida dan gadis yang dipanggil Tina itu tampak mengangguk.
"Tina boleh aku tahu dimana ayah tiri ku sekarang ?", tanyaku setelah keluar dari klinik bersalin itu.
"Mengapa tiba-tiba kamu menanyakan nya ?".
"Aku hanya ingin tahu saja ", jawabku.
"Dia di penjara, dia dihukum 1 tahun atas kasus pelecehan mu yang bertahun-tahun itu. Kamu lupa ?". Aku hanya diam, ternyata hukuman pria bejat itu tak sebanding dengan yang dialami Naira sekarang.
"Naira ... berjanjilah padaku jangan pernah melayani lagi laki-laki hidung belang apalagi Vicky. Aku janji akan memberimu uang jika kamu membutuhkannya ", ucap Tina kini sambil menatapku. Aku hanya mengangguk.
"Naira ... !, kamu disini ternyata. Ayo, cepat layani aku !", seru seseorang yang tiba-tiba menarik tanganku.
"Jangan .., jangan Naira", seru Tina sambil meraih tanganku.
"Sudah, kamu jangan ikut campur", ucap laki-laki itu sambil mengibaskan tangan Tina dan menyeret ku ke kamar kost.
"Naira .... jangan Naira ... kamu sudah berjanji", seru Tina sambil berlari mengejar ku. Aku terus meronta, namun tenagaku seakan hilang di dalam tubuh kecil ini. Laki-laki itu lalu melempar ku ke atas ranjang dengan kasar, membuat perutku sedikit terguncang.
Tina terus menggedor pintu kamarku mencoba melepaskan ku. Tapi percuma saja, laki-laki itu sudah menguncinya.
"Kamu jangan lari lagi Naira, aku sudah membayar mu banyak", ucap laki-laki yang mulai beringas melihatku. Aku ingat, dulu Adel adikku yang paling kecil selalu menendang paha atas ku bila kami berebut mainan. Dan akibat tendangannya itu membuat aku mengadu kesakitan setengah mati. Mungkin ini saatnya aku melakukan hal yang sama seperti yang Adel lakukan dulu padaku. Aku melihat situasi, saat laki-laki itu lengah, aku akan bersiap menendangnya. Dan benar saja, laki-laki itu kini sibuk melucuti bajunya, dengan sigap aku langsung menendang paha atasnya dengan sekeras mungkin membuat dia jatuh tersungkur dan mengadu. Aku bergegas lari menuju pintu, membuka kunci dan kembali menguncinya lalu lari.
"Naira ... kamu tidak apa-apa ?", tanya Tina yang menungguku di luar. Aku mengangguk dan bergegas menarik tangan Tina untuk lari, namun mengapa tiba-tiba nafasku tersengal. Aku merasa ada cairan yang menetes membasahi kakiku, setelah itu aku hanya melihat bayangan gelap dan tak sadarkan diri.
"Sueb .... bangun .... ! Kamu mau tidur sampai jam berapa ?", samar-samar kudengar suara emak membangunkan ku. Aku mengerjapkan mata menahan silau matahari yang menerobos kamarku.
"Katanya kamu ada meeting pagi dengan klien kok belum bangun juga ?", tanya emak lagi.
"Emak ... !", ucapku senang sambil memeluk emak ku.
"Kamu kenapa sih ? Makanya pulang kerja langsung pulang, jangan dugem terus. Masak tiap malam, mesti mabuk, capek emak bersihin muntahannya ", ucap emak sambil membelai rambutku.
"Maafin Sueb, Mak. Sueb janji habis ini, Sueb gak bakalan mabuk lagi", ucapku lagi.
"Ya sudah ... syukurlah kalau begitu. Sekarang cepetan mandi, nanti kamu terlambat". Aku mengangguk dan bergegas ke kamar mandi. Namun, langkahku terhenti saat sebuah nama yang kukenal tertulis di sebuah berkas. Aku mendekat dan mengambil berkas itu, lalu membacanya. Kasus pelecehan seksual Naira Kusuma oleh ayah tirinya diagendakan naik banding. Aku baru menerima berkas ini tadi malam dan aku berencana menolaknya karena kasus seperti itu tidak menghasilkan uang sedikitpun. Namun, setelah kejadian aneh semalam mungkin aku urungkan niatku. Aku akan membantu Naira mendapatkan keadilan sesungguhnya. Mungkin kini juga saatnya aku berubah dan lebih menghargai seorang wanita.@