Satu Untuk Selamanya~
Aku berjalan menyusuri ladang jagung itu, berlari kesan kesini. Mencoba melarikan diri dari dua orang yang mengejarku.
"Sial tembok ini kenapa ada disini! "
Aku terus berlari tanpa arah,menahan rasa sakit di kaki akibat semak belukar kering yang membuat luka kecil.
"Hah.. hah.. "
Aku terbangun dari tidurku "Mimpi itu lagi"
Aku sudah bermimpi sebanyak 3 kali, apakah mimpi itu akan menjadi nyata?
07:23
Pagi ini aku berangkat menuju sekolah dengan menggunakan bus. Beberapa menit perjalanan hanya ku habiskan untuk merenung, memikirkan mimpi itu.
Sampai dikelas, aku hanya termenung, suara yang memanggil namaku membuat lamunanku buyar.
"Ariel.."
Reni, sahabat terbaik ku,Aku sering menghabiskan waktu banyak bersamanya.
"Rel, ayo ke kantin "
Aku mengikutinya menuju kantin. Kami duduk di meja nomer 10.
Pandangan ku mulai mencuri perhatian pada Raffa. Dia orang yang aku kagumi diam diam.
Raffa berdiri dan melenggang pergi ke toilet, disusul Reni yang tak kunjung datang.
Aku pergi ke kelas, betapa terkejutnya aku melihat Reni yang sedang mengungkapkan rasa hatinya pada Raffa.
Aku memandang mereka kosong, Reni hanya mematung diam. Aku pergi dengan langkah yang kesal, tak terasa cairan bening itu keluar tanpa di suruh. Aku menangis hanya untuk orang yang ku cintai diam diam.
Aku pulang kerumah dengan jalan kaki, suasana kota Bekasi yang panas membuatku lelah. Kaki ku mati rasa.
Saat sampai di rumah, di lihatnya sepi seperti tak berpenghuni hanya ada Bik Cici yang menyambut kepulanganku.
Kakak laki laki ku satu satunya belum pulang dari kantor kepolisian tempat ia bekerja. Mengurusi orang hilang yang tak tahu keberadaan nya.
Aku berjalan dengan santainya, melewati lampu lampu kota yang sedikit redup. Langkahku terhenti di sebuah jembatan penyebrangan.
Aku kembali menangis sejadi jadinya, mengingat kejadian tadi pagi. Aku sudah berpegangan pada tiang jembatan.
"Rasanya pengin loncat "
Saat aku melanyangkan satu kaki ku, aku mendengar suara deheman dari belakang.
"Mau loncat?"
Aku tertegun, mengurung niatku "Apa yang barusan aku lakukan? " aku berbalik, menatap orang yang berhasil menggagalkan niatku.
Terlihat seorang pria berdiri dengan tiang sebagai senderan nya. "Gak jadi?" tanya nya lagi.
Aku kembali diam, berusaha tidak bicara dengan orang yang ku kenal.
Laki laki itu tersenyum, senyum yang sangat manis di tambah lesung pipitnya yang terlihat jelas. Muka nya yang oval serta bola matanya yang tertutup lensa membuatku terpana.
"Diem aja nih? " celetuknya
Aku kembali meneteskan air mataku, kembali merrasakan sakit seperti kemarin
"Ehh.. kok nangis? "
Dia menarik ku pelan menuju dekapan nya. Rasanya hangat,sudah lama tidak di peluk. Aku melanjutkan tangisan ku di dada bidangnya.
T-shirt yang terlihat jelas bekas air mataku.
"Ada masalah? Cerita saja"
Aku hanya terdiam, berusaha menutupi mataku yang sembab akibat menangis
"Sudah malam, mau ku antar pulang? "
Aku hanya menunduk dan menggelengkan kepala, mengartikan menolak
"Baiklah, besok temui aku di sini jam 10..ehh terlalu malam, Jam 9 saja" Ucapnya sembari pergi.
Aku menatap kepergian nya, lama kelamaan ia menghilang dari pandanganku.
Aku memutuskan pulang, arloji miliku menunjukan pukul 01:00. Hanya ada sedikit kendaraan yang lalu lalang di bawah redupnya lampu kota.
Pagi ini kakak ku belum berangkat ke kantornya. Aku bertanya sebanyak apa orang yang hilang hibgga ia pulang larut malam.
"Sudah makan saja, nanti telat ke sekolah"
Aku langsung berdiri dan melangkahkan kaki ku keluar dari rumah itu. Saat sampai di Sekolah di lihatnya Reni sedang berdiri di kelas menunggu kedatangan ku.
Aku tertegun dan langsung menjauh dari kelas. Aku ke perpustakaan, dimana tempat paling nyaman untuk menangis.
Malam nya, aku berjanji menemui lelaki itu, walau hanya sehari aku merindukan senyuman yang terkembang dari bibir kecilnya.
Aku berrjalan seperti biasa. Diangkatnya kaki ku satu persatu menuju jembatan di depan Mall Metropolitan itu.
Aku sudah dapat menebak kedatangan nya. Dia sudah bersender seperti kemarin.
"Sudah datang? "
Aku kembali terdiam, tidak berani memandang wajahnya.
Pandangan nya di alihkan kepada langit malam, malam itu langit begitu cerah dengan sinar bulan dan ribuan bintang.
"Lagi lagi gak usah lompat " Ucapnya
Aku hanya menunduk, aku mengubah arah pandanganku menuju langit malam itu.
"Emang kenapa"
Ucapku lancar, begitu saja keluar dari mulutku
"Simple saja! Aku gak mau kau mati terpanggang!" Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan nya.
Hembus angin malam itu menusuk kulitku,Keheningan yang menyelimuti malan itu.
"Namaku Haykal" Ucapnya
"Kamu siapa? "
"Aku Ariel Melody Wardhana, panggil Ariel "
Keheningan itu kembali lagi setelah aku mengucap namaku.
"Sudah malam.. pulang aja, mau? "
Aku berjalan menyusuri jalan jalan kota bersama Haykal.
"Oh ya Kal.. kamu tinggal dimana? "
"Aku tinggal di sebuah rusun... kalo mau kapan akan aku ajak"
"sudah sampai, masuklah"
"aku akan disini sampai kamu masuk, nanti lihatlah aku di jendela kamarmu"
Aku masuk ke kerumah dan berlari menuju kamar. Dilihatnya Haykal masih berdiri. Haykal menatap diriku dari jendela, kemudian ia melangkah menjauh. Aku melihatnya berjalan pelan sampai pandangan nya hilang.
Malam berganti, aku kembali menemui Haykal di jembatan itu dengan membawa seorang anak kecil. Ya itu adalah Saira, anak Bik Cici.
Malam itu begitu singkat karna aku membawa Saira. Dia sudah terlelap di gendongan Haykal.
Pagi ini aku malas berangkat ke sekolah, apalagi bertemu dengan Reni.Hari ini serasa begitu cepat siang berganti malam.
Hari ini Haykal berjanji mengajak ku main ke rusun nya.
"Masuk saja, kecil kan? tidak sebagus rumahmu "
Aku melihat ruangan itu, sangat rapi untuk ukuran lelaki. Haykal mengajak ku ke rooftop rusun itu. Sangat nyaman dengan angin sepoi sepoi. Aku tertidur lelap. Hingga tak terasa angin pagi menusuk kulitku.
Aku mencari Haykal, meneriaku ruangan itu berharap Haykal ada.
Suara dering pinsel membuatku berhenti dan kembali ke rooftop itu
"Kamu kemana saja? bolos sekolah?"
"Sudah kak.. lebih baik kakak ke rusun di jalan xxx nanti ku beritahu"
Aku berjalan ke luar, mencari keberadaan kakak ku. Aku menariknya tepat di depan pintu rusun Haykal, pintu nomer 102.
"Ngapain kesini dek? "
"Haykal hilang kak" Nadanya penuh kepanikan
"Haykal?nama yang sama dengan orang yang aku cari"
Kakak ku merogoh sakunya menunjukan sebuah foto Haykal terpampang jelas
"Iya kak Itu Haykal"
Bagai tidak percaya,orang yang selama ia cari ternyata dekat dengan adiknya.
"Tapi dek.. orang tua Haykal memberi tau Haykal dan teman nya yang bernama Raja di nyatakan hilang... bagaimana mungkin? "
"Tapi kak,aku kemarin malam saja menemuinya,Kemudian dia masuk ke ladang jagung itu dengan berlari dan sekarang gak kembali! "
Aku terbangun dari mimpiku, mimpi buruk tentang ladang jagung itu. Angin tiba tiba berhembus, menampilkan sosok lelaki mamakai baju putih dengan sayap di punggungnya.
"Bangun lah dan ikut aku!".
Aku mengikuti perintahnya, berusaha menebak siapa dia. Saat dia berbalik, aku terkejut. Dia Haykal.
Haykal memencet tombol di tangan nya dan seketika terpampang jelas kisahku dulu dengan Haykal.
"Jadi..... "
"Maaf kan aku Rel. Karna aku tak tau harus minta tolong siapa..Karna kamu adalah adik dari kak Pratama (Kaka Ariel yang bekerja di kepolisian)"
Aku kembali menatap layar itu, di lihatnya Haykal yang tewas dengan luka tusukan di perut nya lalu di timbun di tanah dengan teman nya Raja.
"Lalu Saira? "
"Dia istimewa"
"Tuhan mengizin kan ku memakai kamu dalam menolongku"
"Terima kasih Ariel.. "
"Sekarang tugas ku selesai"
"Aku akan pergi"
Aku menangis.. bagaimana mungkin selama ini aku hanya bertemu Haykal lewat izin tuhan?.
Cahaya putih kembali tersinar, Haykal menghilang bersama dengan cahaya itu
Setelah kejadian itu,hari hariku menjadi sangat sunyi, terpikir Haykal yang selalu ada untuk ku.
Aku berjalan menuju kolam renang, dimana ada Saira yang sudah bermain air.
"Saira ayo lomba, yang menang dapat es krim"
"Ayo kak"
Saira mulai berenang sedangkan aku hanya diam menunggu dia berbalik
"Yak.. kakak Kalah.. "
"Es krim kaka.. jangan lupa ya"
"Iya"
Tiba tiba Saira menggoyangkan tanganku
"Ada apa Saira?
"Lihat kak.. ada kak Haykal disana" menunjuk payung besar di tepi kolam rumahku..
Aku hanya tersenyum ke arah payung besar itu,berharap Haykal juga melihatnya..
Andai saja Haykal bukan Arwan.. Aku pasti sangat senang...
Menatap lagit sembari mengingat senyum Haykal yang manis..
~END~