Cerpen Ilusi Tak Bertepi
_Jingga_
' Kamu tuh mikir gak sih kamu ini cuma Ipar jadi jangan makan seenaknya di rumah orang '
' Kamu hidup bergawai terus ya gak bisa bantu - bantu apa gitu '
' Kamu dikasih uang sama Kakakmu ya ih berhemat dong jangan boros '
' Kamu punya jam gak di rumah ini sudah jam berapa baru masuk kerja '
Itulah setiap hari didengar Jingga. Diusia masih sembilan belas tahun dia berhasil melamar dan langsung diterima menjadi guru honor Paud (Pendidikan Anak Usia Dini) tak jauh dari rumahnya. Juga dia seorang yatim piatu membuatnya terkadang tinggal di rumah Abangnya Ardian yang baru berapa bulan menikah dengan anak kiyai pemimpin kepengurusan Masjid di kampungnya.
Dan selesai subuh tadi Jingga sudah membereskan dapur Ayu istri Ardian. Setelah membereskan dapur ia bergegas mandi dan langsung mengenakan stelan gamis simpel dipadu hijab dengan warna senada dengan gamisnya.
" Sudah mau berangkat Dik ?" Tanya Ardian yang sedang merapikan kemejanya seragam ngantor hari ini.
" Iya Bang ," jawab Jingga singkat dan masih berdiri di pintu kamarnya.
" Berangkat ... ," kalimat Ardian menggantung.
" Jarak kantor Sayang denga paud Jingga 'kan sangat jauh masa mau bolak balik sih ," tegur Ayu memotong pembicaraan suaminya.
" Aku dijemput Sari kok Kak ," bela Jingga dengan senyum manisnya.
Ardian menghela nafas sambil memasukkan bekal dari Ayu ke dalam tasnya.
" Setiap hari dijemput Sari terus Dik ?" Tanya Ardian meyakinkan jawaban Adiknya.
Jingga mengangguk. Langsung Ayu merengkuh lengan Suaminya dan seakan mengharapkan Suaminya segera berangkat.
Breemmmm!
Bunyi gas mobil dinas Ardian sedang dipanaskan tak berapa lama langsung tancap gas. Jingga mengintip dari jendela meyakinkan Abangnya sudah berangkat dan ia bernafas lega melihat Ardian sudah berangkat. Kini giliran Jingga yang berangkat.
Krucuuuuuuk!
Bunyi perut Jingga yang sedari tadi ia tahan rasa tak nyaman di lambungnya. Ah semoga pagi ini ia mendapat sepotong kue atau secubit Singkong rebus lumayan untuk ganjel lambungnya yang sedang meronta.
" Aw ... ," Teriak Jingga bukan kesakitan tapi ia terkejut tangannya ditepis Ayu saat akan membuka tudung saji tutup yang melindungi semua makanan di atas meja makan.
" Kebangetan ya Kamu udah kerja mau dianter, kini mau makan banyak - banyak ih hemat dong ," lagi, lagi gertak Ayu saat Jingga mencoba mendapatkan sedikit makanan dipagi ini terciduk olehnya.
" Udah sibuk dengan gawai yang pastinya minta dibeliin voucer sama Suami aku kini mau ambil makanan lagi ," tambah oceh Ayu.
Jingga tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal hanya ia bingung ia tidak mengambil makanan apa - apa nyatanya. Jingga langsung meninggalkan Ayu yang masih bertengger didekat meja makan. Nanti ke ujung gang saja batin Jingga selain menunggu angkot ya bisa mendapatkan sarapan pagi murah meriah.
Jingga pun bersemangat berjalan kaki menuju warung pikulan Mbok Isah yang menjual aneka makanan murah karena diolah sendiri. Mbok Isah tidak punya warung tetap hanya satu bakulan besar yang ia junjung di kepala berisi aneka makanan. Juga satu keranjang kecil berisi berapa lipatan daun pisang untuk tempat makanan yang ia jual dan kantong kresek untuk bungkus akhirannya.
Sampai di ujung gang Jingga celingak celinguk mencari Mbok Isah yang tak nampak dan ia melirik jam tangannya sudah mendekati jam masuk kerja. Lalu Jingga mendekati warung cepat saji Mba Ratih.
" Mba ini sama ini dua bungkus ya ," perintah Jingga lembut lalu mengeluarkan uang kertas berwarna biru dari saku tasnya.
BibirRatih menyungging berkali - kali mengambil pesanan Jingga. Dan menyodorkan pesanannya lalu ia mengambil uang yang diberikan Jingga.
" Kamu kok boros sih Ngga udah dikasih Ayu uang kok beli nasinya dua belum lagi ongkos angkotnya ih kalau aku jadi Ayu kuaduin sama Ardian biar tau sifat boros adiknya ," oceh Ratih yang sama sekali tak ditanggapi Jingga.
Jingga berbalik meninggalkan Ratih dan ia langsung menunggu angkutan kota. Tak berapa lama sebuah angkutan bewarna kuning tiba dan Jingga langsung menaikinya.
" Bang ... ,"
" Sudah tau Jingga cantik heheheee ... ," Bang Supir mengetahui intruksi yang akan Jingga berikan.
Jingga tersenyum dan duduk dengan anteng. Sementara penumpang lain bisik - bisik melihat kedekatan sepintas Jingga dan Bang Supir seorang duda ganteng beranak dua.
Chiiiit!
Bunyi rem mobil Bang Kirman Supir angkot yang dinaiki Jingga itu. Langsung Jingga turun dan ia celingak - celinguk lagi mencari seseorang tapi bukan Mbok Isah.
" Itu dia ," kata Jingga kegirangan menemukan laki - laki tua yang ia sapa Mbah Ucup seorang pemulung dengan gerobak dorong seadanya saja.
Dari dalam mobil Bang Kirman dan penumpang lainnya melihat Jingga menyerahkan sebuah bungkusan pada Mbah Ucup tak berapa lama Jingga kembali naik angkot.
Setiba di sekolah Paud Jingga langsung masuk karena pintu pagar yang sudah terkunci itu langsung dibuka oleh Ibu Kepsek Paud Mawar tempat Jingga mengajar.
" Jingga masuk ruang saya sekarang ," titah sang Kepsek.
***
" Bang ntu cewek cantik pacar Abang ya ?" Tanya seorang penumpang mengenakan celana leging dan baju kaos oblong bewarna putih.
Bang Kirman melirik perempuan yang bertanya itu dari spion atas mobilnya dan ia memberi senyum ramah seakan mendapat jawaban iya batin para penumpang yang masih naik mobilnya.
" Enggak Mba, dia sering naek angkot saya aja ,"
" Lah Abang berhenti tanpa ia minta ," sergah penumpang perempuan lainnya.
" Setiap hari dia berhenti disitu Mba ingin memberikan nasi untuk Mbah yang mulung disitu, disitu 'kan pembuangan sampah ," jelas Bang Kirman dengan fokus menyetir.
" Mbah itu Bapaknya gadis itu ya ?" Tebakan penumpang lain pula.
" Bukan, mertua Abangnya ,"
Penumpang lain manggut - manggut.
" Baik ya ngasih makan Mertua Abangnya ,"
" Iya walau seorang pemulung dia perhatian ,"
" Aku mau banget loh Mba dapet mantu kayak dia ,"
" Aku juga Mba ,"
***
Di ruang Kepala Sekolah Paud Mawar.
" Ini gaji terakhir kamu , saya benci guru selalu datang telat. Walau rumah jauh datang harus lebih pagi tapi kamu tak pernah datang lebih pagi udah kesekian kalinya. Sekarang kamu boleh pulang ," gertak Ibu Kepsek.
Jingga diam saja dan ia tersenyum, semua omongan Ibu Kepsek memang itu kebenarannya jadi Jingga tak perlu memberi perkataan apa - apa. Juga alasan pribadi tak lucu menjadi alasan telat di tempat kerja. Dan diantara guru lain hanya Jingga yang naik angkot, lainnya tinggal di perumahan guru Paud Mawar.
Jingga memegang dan memperhatikan ketebalan amplop yang ia pegang. Ia berfikir membeli gawai lebih canggih saja karena yang lama sudah banyak retak karena sering disenggol Ayu dan terhempas di lantai rumah Ayu dan Ardian.
Kesusahan untuk Jingga mengetik tulisan naskah novelnya yang sudah lama ia geluti disebuah platform dan juga ia sudah merasa cukup dengan jumlah bayaran dari platform itu akan novel kontraknya.
Ya Jingga menulis novel kisah nyata hanya tempat dan tokoh ia rubah sedemikian rupa untuk menutupi kisah sebenarnya. Bahkan karya Jingga juga sudah dilirik teman sosmednya seorang penerbit.
Kini sepulang dari konter Jingga asik bermain gawainya.
Tok!
Tok!
Ayu mengetok kamar Jingga.
Tok!
Tok!
" Heh buka bantu saya nyuci heh jam segini udah pulang ," teriak Ayu.
Jingga membuka pintu kamarnya. Dan mata Ayu langsung melihat merk baru android yang Jingga pegang.
" Sini gawainya ,"
Ayu berusaha merebut gawai Jingga dan Adik Iparnya itu dengan tenang menyingkirkan tangannya yang sedang memegang gawai yang baru ia beli.
" Kurang ajar kamu ya minta uang Ardian buat beli gawai baru, awas kamu liat aja nanti ," ancam Ayu.
Jingga meletakkan gawai di atas nakas di kamar yang dipinjamkan Ayu padanya lalu dikunci rapat - rapat. Segera Jingga membereskan rumah Ayu.
" Baik banget kamu Non selalu beres - beres rumah Kakakmu ," tegur Martini tetangga belakang rumah Ayu yang belum lama dibelikan Ardian dari hasil uang menjual rumah orang tuanya.
Jingga tersenyum.
" Kenapa kalian ngomongin aku ya hah ?" Teriak Ayu memecah keramahan Jingga dan Martini.
Segera Martini masuk ke rumahnya dan menutup pintunya sementara Jingga santai menjemur baju Ayu dan Ardian yang baru ia cuci tadi.
***
" Bang, Aku tidak mau Jingga tinggal disini lagi dia udah menggibah diriku sama Martini dan aku gak suka kamu belikan hape baru untuk adikmu tanpa izinku ," gertak Ayu.
" Apa benar itu Ngga ?" Tanya Ardian pada Jingga.
" Abang tanya saja dengan Martini dan gawai ini uang gaji terakhirku Bang kubelikan yang baru karena yang lama Abang lihat sendiri udah pecah layarnya karena sering dijatuhkan Kak Ayu ,"
Mata Ayu membesar akhirnya Jingga memberitahu soal gawainya yang pecah. Saat Ayu akan bicara dengan tatapan sinis Ardian mencegahnya.
" Teruskan penjelasanmu Jingga karena kamu tidak pernah bicara apa - apa selama ini dan kenapa kamu katakan tadi gaji terakhirmu," perintah Ardian lembut.
" Saya sering datang telat Bang karena sering berhenti memberikan nasi untuk Mbah Ucup Bapak kandung Mba Ayu ,"
" Bohong Bang itu bohong saya anak kandung Kiyai kok ," bela Ayu.
" Abang tanyakan langsung dengan Kiyai Ucup kisah sebenarnya dan Mba Ayu melarang Mbah Ucup datang ke pondok karena setelah kecelakaan di kira Mbah meninggal padahal yang meninggal itu orang lain bukan Mbah Ucup ,"
" Membuat kaki Mbah Ucup hancur dan diamputasi, jika Kiyai Ucup tahu pasti akan bantu Mbah ucup tapi ia tak tahu semua karena ulah Istri Abang sendiri ,"
***
Usai mendengar penjelasan Jingga, Ardian izin kerja untuk menemui Mbah Ucup dan Kiyai ucup kedua orang berbeda memiliki nama yang sama Muhamad Yusuf.
Akhirnya mendapat kejelasan bahwa saat ijab qobul karena memiliki kesamaan nama Ardian kira Ayu memang putri kiyai pondok ternyata ia hanya santri ngaji biasa. Dan ia ketahuan malu memiliki Bapak seorang pemulung demi mendapatkan seorang Ardian tampan.
Bahkan Ardian rela menjual rumah orang tuanya demi istri tak tahu diri itu apalagi pengakuan para tetangga membuatnya mengetahui Jinggalah yang sering mengurus rumah.
Membuat Ardian geram akhirnya Ayu diceraikan dan dikembalikan ke pondok. Ardian pun menjual rumah barunya dan membeli rumah lama orang tuanya. Juga hasil bayaran novel adiknya Jingga dari sebuah platform membuat adiknya membuat usaha rumahan berupa toko sembako besar.
Dengan niat mengizinkan orang susah untuk berhutang ketoko mereka dan dibayar lunas dengan hal sepele bagi orang tapi disukai Sang pencipta yaitu cukup bertasbih maka hutang langsung lunas. Sekaligus mengajak para warga bertasbih jangan ghibah melulu.
Juga Ardian mengajak Mbah Ucup tinggal bersama mereka setelah selama ini menderita sendiri. Beramal cukup bagi Ardian dan Adiknya Jingga dari hal - hal lainnya. Membuat semangat Ardian bekerja dan Semangat Jingga menulis lagi.
Tamat.