Rose Martines De Wits Welvarend, mengizinkan suaminya untuk menjadikan Sriwening sebagai gundik, dengan syarat mereka tidak boleh memiliki anak. Jika Tuan Welvarend mengingkari kesepakatan tersebut, maka mereka berdua akan bercerai dan Tuan Welvarend tidak akan mendapatkan apapun dari harta mereka. Sayangnya ternyata Sriwening hamil, dan menolak untuk menggugurkan kandungannya. Ia tetap melahirkan anak tersebut meskipun sudah dibujuk dengan iming-iming harta oleh Tuan Welvarend. Perihal kelahiran anak Sriwening dan Tuan Welvarend sampai ke telinga Nyonya Rose Welvarend. Ia datang berlibur ke villa Rahajoe bersama anak-anaknya, untuk memastikan berita itu. Alih-alih mendapatkan kebenaran, Nyonya Welvarend justru dibunuh secara kejam.
Sumirah, pelayan keluarga ini, mengirimkan teluh kepada Nyonya Rose Welvarend atas suruhan Tuannya. Ia diberikan imbalan sebidang tanah untuk perbuatan kejinya itu.
Nyonya Rose merasakan gatal di sekitar lehernya, ia menggaruk-garuk seperti orang gila! menggaruk, mencekik tak karuan, mulutnya memuntahkan busa. Kukunya yang lentik dan tajam itu menembus hingga melukai kulit arinya. Namun itu tak meredakan rasa gatalnya, malah ia merasa lehernya semakin panas. Tak cukup dengan kuku, Nyonya Rose Welvarend mengambil sebilah pisau! Sring! sekali, ia menyayat lehernya dengan pisau, darah menetes dari leher putihnya yang jenjang! Sring! dua kali, Sring! berkali kali hingga ia mati!
Jasad Nyonya Rose Welvarend pertama kali ditemukan oleh putra bungsunya di atas tempat tidur. Matanya melotot, mulutnya berbusa, dan terdapat sayatan di lehernya. Semenjak itu putra bungsu keluarga Welvarend menjadi depresi. Ia mengurung diri di dalam kamar, tidak makan berhari-hari, dan sering kali menjerit-jerit! Seluruh penghuni villa gempar, liburan keluarga yang awalnya direncanakan untuk bersenang-senang, menjadi petaka bagi keluarga Welvarend.
Dedrick Welvarend, putra sulung keluarga ini merasa prihatin dengan kondisi keluarganya. Ia menuntut pengusutan atas kematian ibunya. Sumirah sengaja menghembuskan kabar bahwa Sriwening lah yang membunuh Nyonya Rose Welvarend. Para pembantu berkasak kusuk membicarakan kematian Nyonya Rose Welvarend. Semuanya termakan isu dan menuduh Sriwening telah meracuni Nyonya Rose Martines De Wits Walvarend. Menurut mereka, Sriwening adalah satu-satunya orang yang mempunyai alasan untuk membunuh Rose. Sriwening disiksa, dipaksa untuk mengakui perbuatannya.
"Aku tidak membunuh siapapun. Tuan.... kau tau aku tidak melakukannya.." ratap Sriwening disela sela rasa sakit yang mendera tubuhnya.
Tuan Welvarend tidak peduli, ia tetap menyuruh anak buahnya untuk menendang, menjambak dan menampar wajahnya berkali-kali! Diujung kematiannya, Sriwening menatap satu persatu wajah orang yang menyiksanya. Sorot matanya tajam dan penuh amarah,
"Aku mengikhlaskan kematianku! Tapi jika secuil saja kau sentuh anakku, aku akan kembali membunuhmu!!!"
Sriwening meninggal, tubuhnya diarak ke seluruh kota, dicap sebagai pembunuh. Hujan deras mengiringi arak-arakan mayat Sriwening.
***
Sumirah tak hanya berhasil mendapatkan sebidang tanah. Ia juga diangkat sebagai gundik oleh Tuan Welvarend. Sumirah bak seorang nyonya di villa Rahajoe. Namun sayangnya keluarga Welvarend semakin terpuruk. Si bungsu semakin menggila, ia sering menangis dan tertawa tanpa sebab. Terkadang ia juga menjerit ketakutan, seperti melihat sesuatu yang mengerikan. Dedrick memutuskan untuk kembali ke Belanda, agar adiknya mendapatkan perawatan.
Sepeninggal keluarga Welvarend, Sumirah tinggal berdua dengan Tuan Welvarend di villa besar itu bersama beberapa pelayan. Sementara Tuan Welvarend sendiri semakin sering sakit-sakitan. Tubuhnya lemas, bibirnya pucat pasi. Tak jarang ia meracau, memanggil-manggil nama Sriwening dan istrinya.
"Kau yang membuatku seperti ini, Mirah?" tanya Tuan Welvarend di sela-sela sakitnya yang semakin parah.
"Aku tidak melakukan apapun, Tuan. Apa Tuan hendak menuduhku, seperti apa yang telah kita lakukan kepada Wening?" jawab Sumirah.
Kemewahan yang Sumirah dapatkan tidak seperti yang ia bayangkan. Ia justru merasa gelisah dan tidak tenang. Sumirah juga sering mendengar suara-suara aneh setiap malam.
"Mirah..... mirah...." suara itu terdengar ditelinganya setiap malam, diiringi isak tangis yang memilukan.
Hingga suatu hari Sumirah berusaha melawan ketakutannya. Ia mencari sumber suara itu, berkeliling villa, membuka pintu satu per satu.
"Mirah.... tooo..longg... hiks.. hiks.." suara itu terdengar semakin lirih ketika Sumirah sampai di ruang tamu.
Sret.. sret.. sret... Sumirah melihat bayangan Nyonya Rose Welvarend beringsut di lantai dan mendekat ke arahnya. Lehernya bersimbah darah hingga menodai gaun putihnya. Tangannya menggenggam sebilah pisau dan terus diacungkan kepada Sumirah.
"Mirah... too long... mirah..." bayangan itu semakin mendekat, semakin jelas wajah Nyonya Welvarend yang pucat dengan leher jenjang setengah terkelupas.
Sumirah meraih pisau itu dan menghujamkannya ke dada Nyonya Welvarend berkali-kali!
"Hahh...!!!" Sumirah berteriak kalap menutup mata sembari terus menghujam. Tepat dihujaman yang kesekian, Sumirah membuka mata. Ia melihat bahwa ternyata dihadapannya sekarang adalah Tuan Welvarend yang sudah bersimbah darah. Sumirah mencabut pisaunya, Tuan Welvarend sudah tak bernyawa, darah menggenang di lantai.
Tiba-tiba bayangan arak-arakan mayat Sriwening terlintas dihadapan Sumirah. Ia melihat mayat Sriwening yang berubah menjadi tubuhnya diarak keliling kota. Sumirah semakin ketakutan. Ia berlari gontai ke arah dapur dan berpapasan dengan Paimo. Anak buah Tuan Welvarend itu kaget melihat Sumirah membawa sebilah pisau penuh darah.
"Juragan!" pekik Paimo. Tanpa pikir panjang, Sumirah langsung menancapkan pisaunya ke dada Paimo. Lelaki itu tak sempat menghindari serangan mendadak Sumirah. Berkali kali Sumirah mencabut dan menancapkan pisau di tubuh Paimo, hingga ia tewas. Sumirah yang seperti baru menyadari perbuatannya itu semakin ketakutan. Bayangan arak-arakan mayat dirinya semakin jelas!
"Pembunuh! pembunuh!" teriakan orang-orang terngiang jelas di telinganya.
Sumirah panik! Ia memasang gembok di seluruh pagar dan pintu villa Rahajoe. Sumirah masuk kembali ke dalam villa melalui jendela. Ia mengunci dirinya di dalam villa, bersama mayat-mayat itu. Sumirah duduk bersimpuh di samping dua mayat lelaki yang telah dibunuhnya. Sesekali ia tersenyum, tertawa, kemudian menangis.
"Mirah... mirah... too loongg" suara-suara itu kembali terdengar, namun Sumirah tidak berani berteriak. Ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya sendiri. Sumirah terkunci sendiri dalam ketakutan!