Ayo pecahkan teka-teki ini!
?¿?¿?
Evano Derion, orang yang minggu lalu diangkat sebagai wakil direktur di perusahaan majalah bernama DMC. Padahal Evano baru bekerja selama dua bulan disana. Hal ini menciptakan pujian dan juga dendam di hati beberapa karyawan.
"Selamat malam, Pak Wakil Direktur. Ada beberapa berkas kontrak yang harus kita tuntaskan malam ini." Kalimat itu menghentikan Evano yang tadi sedang berjalan untuk pulang.
"Jangan formal begitu, Neo. Ayo kita ke ruanganku saja," ajak Evano dengan senyuman hangat. Meskipun jarum jam menunjuk angka 10, Evano harus bisa profesional.
Ketika hampir mencapai kantor, seorang karyawan berselisih jalan dengan mereka. Dia tersenyum lebar, namun tampak seperti terpaksa.
"Pak Wadir Evano dan Pak Neovan mau mengurus berkas lagi? Padahal ini kan sudah larut malam. Biarkanlah saudaramu Pak Wadir ini istirahat, Pak Neo. Kudengar-dengar akan ada tragedi loh malam ini," ucapnya dengan nada menjengkelkan.
Lidah Neo berdecak sebal, lalu berkata, "Ini bukan urusanmu, Pak Bambang. Jangan iri karena tidak terpilih sebagai wakil direktur," sinis Neo diiringi tatapan tajam.
Melihat hal itu, Evano sigap mengajak Neo untuk kembali berjalan menuju ruangannya. Pak Bambang adalah senior di kantor itu, Evano merasa tidak enak jika harus bermasalah dengannya. Ketika sampai di dalam ruangan, Neo langsung menjabarkan berkas-berkas yang akan mereka tuntaskan.
Bulan semakin bersinar terang. Untuk pertama kalinya, Evano sampai di rumah pukul 12 malam. Dia membuka gerbang, memarkirkan mobil, kemudian segera berjalan ke arah pintu depan. Namun sesampainya disana, kedua kaki Evano mendadak lemas. Hatinya mencelos ketika melihat tulisan besar yang dibuat dengan noda darah di atas lantai.
Tulisan itu berbunyi, "Putrimu akan mati sebelum fajar, jika kau tidak datang dan menyelamatkannya".
"SUPARNI! Apa ini semua?!" Evano berteriak memanggil si pembersih halaman, satu-satunya pembantu yang tinggal dirumahnya. Beberapa detik kemudian, Suparni datang tergesa-gesa. Ketika sampai, dia refleks menganga lebar melihat kondisi lantai rumah.
"Ma-maaf, saya tidak tahu, Tuan! Ta-tadi saya sedang tidur di kamar," jelas Suparni. Suara dan tubuhnya bergetar hebat, tampak sangat ketakutan.
Dahi Evano mengernyit bingung melihat kedua tangan Suparni yang dipenuhi bekas cakaran kucing dilumuri dengan cairan obat. Kemungkinan besar kucing milik putrinya, Evina, yang melakukan itu. Suparni, yang sudah mendekati usia senja, memang tidak pernah akur dengan kucing. Namun, baru kali ini dia mendapat luka cakar yang cukup parah.
Karena panik, Evano langsung menelepon polisi. Setelah lima menit menunggu, polisi datang menyerbu kediaman Evano Derion. Mereka memeriksa seluruh rumah, dan memang tidak menemukan Evina dimana pun. Mereka juga bahkan tidak menemukan kucing miliknya.
Namun, ada jejak yang menunjukkan pembobolan paksa di pintu belakang rumah. Pintu kamar Evina juga rusak, kemungkinan karena didobrak paksa. Seluruh kabel CCTV juga dirusak sekitar jam 10, sehingga mereka tidak bisa melihat langsung siapa pelakunya.
Evano diajak oleh polisi untuk berbicara di ruangan tertutup. Dia diminta untuk menjelaskan semua kejadian yang dia lihat sebelum dan sesudah sampai di rumah. Evano menjelaskan semuanya dengan detail, bahkan tentang tangan Suparni yang penuh cakaran. Setelah mendengarkan dengan seksama, polisi mengumpulkan semua fakta.
Berdasarkan bukti dan alur yang dialami Evano, menurut kamu siapa yang paling layak dicurigai oleh polisi? Jelaskan alasanmu!