Aku yg dulunya bernama lala skrng sudah,
Berganti nama menjadi lamia demon...
Biasanya aku dipanggil Mia...
Aku pergi dari rumahku saat aku berumur 10 tahun
Karna suatu kejadian...
Kejadian yg membuatku menyimpan dendam yg sangat mendalam pada mereka...
Aku skrng berumur 15 tahun.
Selama lima tahun ini aku tinggal bersama abang angkat ku namanya rey.
Dan selama lima tahun ini aku berubah.
Yg dulunya aku ceria, periang dan ramah.
Menjadi kejam, dingin, dan aku diberi julukan ratu psikopat.
"Mia kamu sudah makan belum"
rey bertanya padaku dan ikut duduk di samping ku yg sedang menatap tv aku sedang menonton film yg bercerita pembunuhan sadis.
"Nanti" aku menjawab dengan nada dingin.
"Yaudah deh, eh kamu nonton apa tuh?"
Bang rey masih belum sadar apa yang ku tonton.
Sebenarnya aku sudah lama menonton pembunuhan Sadis itu namun aku slalu bersembunyi dari bang rey, tapi skrng aku menonton itu di depan bang rey.
Karna sebentar lagi semuanya akan dimulai.
"Astaga lamia demon!!!" Teriak bang rey sambil mempelototi ku.
"Why?"
Aku bertanya dengan nada malas.
"Apa yg kau tonton ini Mia kau masih berumur lima belas tahun ini bukan tontonan yg bagus untukmu"
aku heran pada bang rey kurasa dia amnesia, sebenarnya dia sudah tau sifatku sudah seperti psikopat, aku sudah sering membunuh orang yg menghalangi jalanku di depan matanya.
"Apa bang rey amnesia?"
Aku kembali bertanya.
Dengan pertanyaan yg ku keluarkan sontak saja membuat bang rey terdiam.
"Tapi apa kamu gak bisa menjadi gadis seperti biasanya Mia, bagiku kamu cuma adik kecil yg imut seperti pertama kali aku menemukanmu" kata kata yg di keluarkan bang rey mampu membuatku terdiam sejenak.
"Maaf bang, sebelum dendam Mia terbalaskan Mia gak akan pernah kembali"
aku bersumpah dan kembali diam.
Dapat kulihat dari ekor mataku, bang rey sedih mendengar jawaban yg ku keluarkan tadi.
"Bang ayo ikut aku"
aku berdiri dan berjalan menuju kamar ku, yang pastinya diikuti oleh bang rey.
Sampai di kamarku aku segera membuka lemari yg selama ini ku kunci bahkan bang rey tidak tau apa yg kusimpan itu.
"Apa itu Mia, biasanya kau selalu melarangku melihatmu saat membuka lemari itu?"
Bang rey bertanya padaku.
Dan aku hanya tersenyum tipis.
Kubuka pintu lemari yg tingginya lebih tinggi dariku itu, dan bang rey pun dengan antusias melihat isi lemari yg ku rahasiakan selama ini.
Setelah melihat nya bang rey terkejut setengah mati.
Bagaimana tidak,
semua orang juga tidak akan menyangka kalau aku seorang gadis yg berumur lima belas tahun menyimpan berbagai senjata tajam dan pistol pistol yg ku rakit sendiri tentunya.
"Mi.. mia kau" bang rey masih dalam keadaan terkejut.
"Ya ini semua yg kusembunyikan dari bang rey selama ini." Jawabku santai.
Akupun mengambil beberapa senjata seperti pisau lipat kecil yang bisa disembunyikan dalam bajuku.
Dan gunting tentu bukan gunting biasa.
Dan aku juga membawa kapak kesayanganku.
Bang rey mulai bisa mengontrol dirinya,
Dan menatapku dengan heran,
"Kenapa kau menyembunyikan itu di dalam baju mu Mia?"
Akhirnya bang rey menanyakan hal yg dari tadi kutunggu tunggu.
"Kita akan bersenang-senang bang, ayo kita pergi, Mia mau ajak abang menonton pertunjukan lagi" akupun menunjukan senyum iblis ku.
Dan bang rey tau apa maksudku, tapi bang rey bingung siapa kali ini yg akan aku bunuh karna selama ini tidak ada yg berani mengganggu kami lagi.
"Kali ini siapa mia?"
"Oh ayolah bang, santai saja dan nikmati semuanya aku tak sabar untuk meminum minuman segar itu malam ini"
Bang rey terdiam tidak menjawab, mungkin dia sadar kalau jiwa psikopat ku aktif.
"Ayo"
aku menarik bang rey menuju mobil lalu bang rey yg menyetir, aku hanya menunjukan jalannya.
Beberapa saat kemudian kami pun sampai.
Kami berdua turun dari mobil.
Aku berjalan ke samping bang rey yg sepertinya bingung.
Aku menuntun mobil bang rey ke suatu tempat dan tempat yg kami datangi ini adalah Club terbesar di kota ini.
Tentu saja bang rey bingung.
"Apa kamu yakin Mia ini tempatnya?"
Bang rey bertanya padaku.
"Tentu saja bang ayo"
aku berjalan masuk duluan dan diikuti oleh bang rey yg terlihat waspada karna banyak om-om dan para lelaki hidung belang menatap tubuhku.
Aku tak peduli dengan itu cih...
Sesampainya kami di depan suatu kamar yg pintunya tertutup aku berhenti dan diam di depan pintu kamar itu.
Bang rey menatapku heran.
Aku berbalik menghadap bang rey yg tepat berada di belakangku.
"Bang bisa kau dobrak pintu ini, aku tidak mau membuang-buang tenaga ku"
"Baiklah kamu minggirlah dulu"
Aku pun menepi.
Lalu bang rey mendobrak pintu itu dengan sekali tendangan saja pintu itu terlepas seketika.
Lalu bang rey terkejut melihat didalam kamar itu ada sepasang manusia yg sedang bercumbu mesra.
pak tua dan seorang wanita yg sedang bercumbu itu pun segera menghentikan aktivitas nya lalu memakai pakaian mereka sementara yg perempuan masih dalam keadaan telanjang hanya ditutupi selimut.
Aku masuk dan melewati bang rey.
Aku langsung melihat gadis yg terduduk di kasur itu dengan wajah emosi karna aktivitas nya di ganggu.
"Apa aku menggangu kalian"
aku berucap dengan nada sangat dingin.
"Tentu saja kau menggangguku sialan!!!!"
Hina lelaki itu.
"Siapa kau dasar tidak tau diri, berani beraninya kau mengganggu kami cihh!"
Wanita yg di kasur itupun ikut mencaciku.
Bang rey yg mendengar itu pun sangat emosi dia mengepalkan tangannya.
"Sepertinya aku tak ada urusan denganmu pak tua tapi karna kau menghinaku jadi ini hadiahku untukmu! "
Aku mengeluarkan pisau yg kusimpan di dalam jacket bagian lenganku dan langsung kutancapkan pada telinga pak tua itu sehingga tembus ke telinga sebelahnya
"Arrgggghhh" pak tua itu menjerit dan seketika juga roboh dan mati dengan keadaan pisauku yg menancap di kepala nya.
"Sebenarnya aku pnya pisau lain, tapi sayang ini adalah pisau kesukaan ku jadi tidak akan kubiarkan menempel di kepalamu pak tua"
aku menjongkok dan mencabut pisau ku itu dari kepala si tua busuk itu.
Sementara perempuan yg duduk di kasur tadi itu gemetaran.
Dan bang rey.... dia hanya memperhatikan tingkahku dengan eksperi datar.
Setelah aku mendapatkan kembali pisauku.
Aku pun berdiri dan menghadap perempuan yg menatapku dengan tatapan ketakutan.
Aku maju perlahan ke arahnya dan jangan lupa dengan seringai iblis ku.
"Si.. siapa kau jangan mendekat!!!"
"Ada apa? Apa kau lupa padaku wulan" aku menekan nada bicaraku saat menyebut namanya.
"Dari mana kau tau namaku, siapa kau?!!" Wulan berteriak.
"Aku?" Aku menunjuk diriku sendiri.
"Aku adalah anak kecil yg dulu kalian siksa!!"
Aku berteriak di depannya.
Mendengar jawabanku tentu saja membuatnya semakin ketakutan
"Gak gak mungkin... di.. dia sudah mati aku sudah membuangnya di hutan, ka.. kau pasti bukan dia"
"Apa kau menyadari apa yg kau lakukan hah!!
Aku adalah anak kecil yg kalian siksa aku adalah lala ingat baik baik aku lala apa skrng kau ingat hah?!!! "Ucap ku dengan nada membentak.
Bang rey yg mendengar ucapan yg kudengar pun mulai paham mengapa aku mengajaknya kemari.
Bang rey hanya duduk di sofa sambil menonton dengan santai apa yg ku lalukan karna menurutnya perbuatanku benar dia memang pantas di bunuh.
"La... lala kau masih hidup"
"Sudahlah jangan berlama lama lagi aku sangat haus skrng"
aku mendekat ke wulan lalu mengeluarkan pisau lipat ku.
Aku skrng sudah berada di samping nya dengan cepat aku mencongkel kedua bola matanya secara bergantian..
"Arggghhh mataku hiks.... sakitttt tolong hentikan!!" Wulan menjerit kesakitan dan suaranya terdengar sangat merdu di telingaku.
"Apa sangat sakit hah tapi kurasa kurang"
aku bertanya lalu aku menusuk-nusuk perutnya berkali-kali tentu saja dia belum mati...
Karna aku tak ingin di mati secepat ini...
"Kumohon lala maafkan aku arggghhh sakittttt la" wulan terus menjerit dan memohon untuk ku hentikan.
"Apa aku harus menghentikannya wulan? Dalam keadaan kau seperti ini kau akan mati cepat atau lambat jadi karna aku berbaik hati padamu, aku akan mengakhiri ini" aku tersenyum miring.
Lalu menusukkn pisau yg kupakai buat kepala pak tua tadi ke jantung wulan dan tentu saja dia skrng sudah berada di neraka.
Setelah itu aku mencabut kembali pisauku.
"Apa sudah puas? "
bang rey berdiri dan mengambil gelas lalu melemparkannya padaku karna bang rey tau aku akan meminta gelas padanya .
Aku menangkap gelas itu.
"Tentu saja belum bang masih ada dua orang lagi yg harus memuaskan ku" aku menjawab.
Aku memotong tangan wulan lalu kubiarkan darahnya menetes di gelas ku hingga gelas itu terisi darah dan hanya setengah saja.
Setelah itu aku meminumnya sampai habis..
"Ah... akhirnya aku bisa merasakan darah manusia yg membuatku menderita hahahaha"
aku tertawa seperti iblis dan membuat bang rey bergidik ngeri sekaligus sedih akan sikapku.
"Apa ini sudah selesai, kalau sudah ayo kita pulang ini sudah malam"
"Belum bang, jika abang mau menemaniku maka ayo kita pergi menuntaskan semuanya"
Aku berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu dan diikuti bang rey.
Kami pun kembali mengendarai mobil menuju suatu tempat, dan kupastikan itu tempat yg akan menuntaskan semua dendam ku.
Satu jam kemudian kami sampai.
Kami berdua turun dari mobil
Sepertinya kali ini bang rey tau ini dimana dan tujuanku kemari.
"Mia apa kamu yakin dengan keputusan mu"
Bang rey terlihat ragu.
"Yakin ayolah" aku berjalan duluan
Dan tibanya di depan pintu rumah itu
Aku mengingat kembali kenangan ku saat bersama ibuku.
Ya kami sekarang berada di rumah lama ku.
Banyak sekali kenanganku dan ibu di setiap sudut halaman rumah ini.
Sejenak aku menutup mata ku dan menghembuskan napas lalu kembali membuka mataku dan menendang pintu itu..
Bang rey hanya geleng-geleng kepala melihat nya karna sudah terbiasa dengan kekuatanku.
Dan tentu kedua pasangan suami istri yg berada di dalam rumah itupun terkejut bukan main.
Mereka segera mendekatiku.
Aku melihat ayahku, dan seketika terbesit ekspresi santai ayah saat ibu meninggal dipikiranku.
Dan itu membuat dendam ku kembali membara.
Rasanya aku ingin segera menebas dan mencabik-cabik wajahnya itu.
"SiAPA KALIAN KENAPA KALIAN MENGHANCURKAN RUMAH KU" teriak ayah yang emosi melihat kedatangan kami.
Sementara si perempuan sialan yg sudah menghancurkan keluarga ku pun hanya melipat tanganya di dada dan menatapku angkuh.
"Apa kau lupa dengan ku?!"
Aku bertanya dengan sedikit teriak.
"Siapa kau hah hanya gadis kecil sialan yang merusak rumah orang dasar tak tau diri apa ayahmu tidak mengajarimu sopan santun hah cih.. aku yakin ayahmu hanya seorang pecundang!!"
Aku yg mendengar itu pun tertawa begitu juga bang rey.
kami menertawakan nya karna dia sedang menghina dirinya sendiri.
"Apa yang kalian tertawakan!!" Ucap wanita itu dengan nada yg sombong dan angkuh.
Aku berhenti tertawa
"Bagaimana aku tidak tertawa"
Aku berjalan mendekat ke ayah dengan ekspresi seperti seseorang yg sedang melihat mangsanya.
Aku mengeluarkan pisau ku ,
Dan lagi lagi aku membuat kedua orang ini terkejut.
"Apa kau lupa padaku hah... apa kau tau? kau tadi sedang menghina dirimu sendiri skrng. Dan tentu saja itu membuatku tertawa"
aku mengeluarkan seringai iblis ku lagi.
"Ap.. apa maksudmu..."
Ayah mulai ketakutan melihat pisau di tanganku apalagi pisau ku sangat tajam dan ada bekas darah wulan.
"Ya, aku adalah anakmu lala,
Aku adalah anak kecil yg kalian telantarkan!!
Aku adalah anak kecil yg hatinya kalian hancurkan!!aku adalah lala!! "
Aku membentak nya.
Seketika wanita itu ketakutan.
Dan sang ayah hanya berdiri terdiam atas kebenaran yg kuucapkan tadi.
"Kenapa kalian diam hmmm?.. dan aku ingin memberi kalian informasi, lihatlah pisauku yg cantik ini, apa kalian tau darah siapa yg kupakai ini? bisakah kalian menebaknya?"
"Ap... apa? Da... darah siapa itu lala" ayah pun akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Ini adalah darah putri tercinta kalian hahahaha" aku tertawa lagi.
"APA!!! DASAR PEMBUNUH!! KAU SUDAH MEMBUNUH ANAKKU SIALAN KAU LALA"
Teriak wanita itu lalu dia mendekatiku mencoba ingin menamparku namun
Dengan cepat aku meraih tangannya.
Dan mengeluarkan kapak yg kusimpan lalu kupotong saat itu juga tentu saja setelah itu tangan yg berusaha menamparku itu terpotong.
"Arrhghhh tanganku hiks... sakiitttt" wanita itu menjerit melihat tangannya terputus.
Dan aku yg memegang belahan tangan wanita itu pun melemparkannya ke sembarang tempat.
Ayah yang melihat pun sangat gemetaran.
Dia gak menyangka aku akan jadi seperti ini.
"Apa sangat sakit hah.."
Aku kembali mendekat sambil mengayun-ayunkan kapak yg kupegang itu.
Wanita itu tak bisa apapun dia hanya terduduk lemas sambil menjerit kesakitan.
"Ini tidak sebanding dengan rasa sakit hati ibuku saat tiba-tiba kau datang ke rumah tangga ibuku dan menghancurkan segalanya!!!"
Ingatan demi ingatan kembali muncul di pikiranku.
Aku kembali mengingat saat ibuku menangis dan merenggang nyawa di depan mataku.
"Maafkan aku lala ku mohon hiks..." dia bersujud di bawah kaki ku.
Aku yg sangat tidak ingin di sentuh olehnya pun kembali mengayunkan kapakku dan menebas kepala wanita itu dan tentu saja dia mati.
Lalu ayahku yg tidak tahan melihat itupun terduduk juga di lantai...
Aku mendekati ayah ku dengan penuh emosi
Ku keluar kan pisau lipat ku, lalu aku menusuk nusuk jantung ayah ku saat itu juga dengan penuh emosi aku tidak peduli dengan bajuku yg
Sudah seperti mandi darah...
Bang rey yg melihatku terus menyiksa ayahku yg sudah tak ber nyawa pun segera memelukku dari belakang.
Dan saat itu juga aku menghentikan tusukan ku ke dada ayah.
"Sudahlah mia, ayahmu sudah mati, jangan lakukan lagi, tuntaskan janjimu semua dendam mu sudah terbalaskan dan kembalilah menjadi lala yg dulu buang semua sifat buruk mu ini"
Ucap bang rey dengan lembut berusaha yang menenangkan emosiku.
Aku yg mendengar ucapan bang rey pun berbalik ke arah bang rey, lalu memeluknya dengan sangat erat.
"Makasih bang hiks..makasih sudah mau nerima lala apa adanya dan membantu lala membalas dendam 😭"
aku menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan bang rey.
Bang rey tidak menjawabku dia hanya mengelus rambut ku dengan penuh kasih sayang.
Seminggu kemudian.
Sekarang hidupku sangat bahagia, tidak ada lagi dendam dalam hatiku,
Dan aku pun kembali menjadi gadis yg periang, ceria dan ramah, namun hanya satu yg tidak bisa kuubah,
Namaku, namaku akan tetap menjadi lamia demon.
Karna nama inilah yang membantuku membalas dendam pada mereka.
Bang rey sangat senang dengan perubahanku ini.
"Ibu maaf mia terlambat datang untuk menjenguk ibu, apa ibu tau? Mia sudah membalas semua yg mereka lakukan pada ibu berkali-kali lipat bu, aku harap ibu akan tenang disana karna aku skrng sudah bahagia bersama bang rey"
Ucapku sembari melirik bang rey.
Sementara rey hanya tersenyum lembut padaku.
Aku sangat bahagia skrng.
Tapi ingat!!!
aku memang berjanji kembali seperti dulu lagi.
Namun aku tidak pernah mengatakan kalau aku akan melepaskan jiwa psikopat ku😈
Sampai kapanpun jika ada yg menghalangiku maka nyawa lah bayarannya 😈
AKU AKAN TETAP MENJADI LAMIA DEMON!!
DAN AKU TIDAK AKAN PERNAH
MELEPASKAN JULUKAN KU...........
"😈QUEEN PSIKOPAT😈"
😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈😈
END
--------------
Jangan lupa like
And komen
Baca juga cerpen author yg lainnya ya😉
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Baca novel pertama author juga yah...
Tinggal tekan profil author aja.
Dan jangan lupa tinggalkan jejak oke😉