Tata krama? Tidak ada tata krama dalam medan perang. Dua orang yang tak pernah akur itu harus bekerjasama untuk selamat.
***
Erin dan Lewi adalah rival sedari kecil. Mereka belajar di sekolah yang sama. Nilai mereka pun hampir sama, apapun yang dicapai Lewi maka itu harus dicapai Erin. Damai adalah kata yang tidak mungkin untuk mereka.
Suatu hari usai lonceng bergema di seluruh ruang kelas. Erin dan Lewi memperdebatkan nilai mereka yang hanya beda dua poin. Saling ejek seperti biasanya terjadi. Saat emosi mereka memuncak. Gemuruh tanah dimana mereka berpijak seketika rubuh dan menelan keduanya.
Keduanya menjerit hingga hampir putus pita suara, tapi tak ada yang tahu. Erin telah menyongsong kematiannya. Ia memejamkan mata dan berpasrah. Begitu juga Lewi. Tubuh mampu merasakan daratan yang menghantam keras mereka.
Tunggu dulu, aku tidak mati, batin Erin. Ia membuka kelopak matanya perlahan. Nampak pepohonan berselimut butiran-butiran benda putih. Tubuhnya mulai merasakan hawa dingin yang tak biasa. "Salju! Dimana ini!" seru Lewi terbangun dari duduknya. "Bukannya ini rumahmu! Si kutub es menyebalkan" omel Erin.
Adu mulut pun terjadi. Tiba-tiba terdengar suara misterius dari langit, "Selamat datang di tanah keputusasaan," Erin dan Lewi berhenti berbicara. "Siapa kuat, boleh membunuh! Petunjuk akan segera hadir dihadapan kalian!" Dengan bingung mereka menatap satu sama lain.
Angin dari arah utara berhembus kencang hingga ke rusuk. Keduanya berusaha untuk menahan angin yang disertai salju itu. Tak lama keadaan kembali normal. Namun sesuatu yang aneh terjadi. Pakaian mereka berganti seperti prajurit perang dilengkapi baju besi. Sebilah pedang muncul di tangan Lewi dan busur panah di tangan Erin.
Dari atas langit muncul tulisan-tulisan mengenai peraturan bertahan hidup. Erin dan lewi membaca dengan teliti setiap kata-nya.
"Jadi ... aku harus bekerja sama dengan ular sepertimu"
"Kau pikir aku berlapang dada seharian bersama manusia tak berperasaan sepertimu!"
"Cih, kau pikir kita akan berada di sini hanya sehari! Gunakan akal sehatmu!"
Erin terdiam mendengar ucapan Lewi barusan. "Sial, kenapa nasibku begitu buruk."
"Seharusnya kau itu bersyukur, bisa terjebak bersama orang paling keren di sekolah" ucap Lewi dengan bangga.
Erin melirik Lewi dengan sinis kemudian berjalan pergi. Lewi pun mengikuti langkahnya. Di tengah perjalanan menuju suatu tempat yang telah ditentukan. Mereka tak sengaja melihat empat orang yang sedang adu kekuatan. Ke-empat orang itu berlumuran darah.
Erin yang melihat itu hendak menjerit. Dengan sigap Lewi mencegah hal itu. Lewi membisikan, "Tenanglah, pejamkan matamu jika kau tidak ingin mati." Erin menuruti kata-kata Lewi.
Pria bertopeng dan berjubah terbunuh oleh wanita bertubuh kekar itu. Kekuatan mereka luar biasa. Sangat cepat dan tepat. Kerjasama mereka berhasil melumpuhkan dua orang itu. Usai menghabisi dan melucuti senjata lawan, mereka pun pergi.
Tiba-tiba terdengar lagi suara misterius. "Tiga tim telah gugur! Lima tim tersisa. Ingat! Tidak ada tata krama dalam medan perang, selamat bertempur."
Erin dan Lewi kembali melanjutkan perjalanan. Waktu terus berjalan, rembulan mulai menampakkan diri. Mereka harus mencari tempat persembunyian. Malam hari begitu mencekam, suasana ini akan dimanfaatkan tim lain untuk saling bunuh.
"Ini semua salahmu!" bentak Erin.
"Apa katamu!" tantang Lewi.
"Ya ... jika saja aku tidak bertengkar denganmu, mungkin aku tidak akan pernah ada di tempat mengerikan ini!" seru Erin.
"Oh jadi kau menyalahkanku---"
"Iya aku menyalahkanmu!" sela Erin.
"Oke, kalau begitu kita berpisah disini. Aku harap kau bisa bertahan tanpaku." Lewi yang tidak bisa mengontrol emosinya pergi begitu saja.
Kini mereka tak berada dalam perahu yang sama. Mereka pikir dirinya mampu bertahan hidup tanpa bantuan satu sama lain.
Saat Erin tengah berjalan sambil mengumpat Lewi. Tiba-tiba ia dihadang oleh dua pria bertubuh kekar dengan bekas luka di sekujur lengannya. Luka itu seperti telah dicabik hewan buas. Kali ini Erin gugup. Tangan dan kakinya mulai gemetar. Rasanya berdiri pun Erin tak sanggup.
Kedua pria itu tersenyum. Namun senyuman itu menyiratkan sesuatu. Sesuatu yang buruk untuk Erin. Dengan kapak baja salah satu pria itu mulai mengangkat tangannya. Bersiap mengayunkannya pada gadis itu. Jantung Erin semakin terpacu. Ia ingin berteriak namun ia tak mampu. Bagaimana ini? Apakah aku akan mati? Apakah ini akhir hidupku? Jika saja Lewi ada disini, aku berjanji akan melenyapkan seluruh rasa ego ku, batinnya.
"Matilah kau gadis kecil ... hahaha ...."
Erin memejamkan mata menuggu benda tajam itu membelah dirinya.
Cting!
Pedang seseorang menghalau kapak itu. Siapa itu? Apakah dia penyelamatku? ucap Erin dalam hati. "Lewi!" Teriak Erin. "Kau kembali ..." lirih Erin.
Pria dengan kapak itu marah. Ia memanggil temannya. Pria satunya lagi langsung menyerang Lewi dan adu senjata terjadi. Dua lawan satu, Lewi mulai kewalahan. Melihat Lewi orang paling menyebalkan bagi Erin terluka untuknya, ia tidak tega. Namun tak ada yang bisa dilakukan oleh Erin. Ia begitu takut.
Lewi terjatuh. Kapak pria itu kini mendesak pedang Lewi. "Erin! Aku sudah tidak sanggup, cepat lakukan sesuatu!"
Dengan tangan yang masih gemetar, Erin memberanikan diri. Ia mengarahkan panahnya. Pria dengan luka itu lengah. Erin langsung meluncurkan satu tembakan dan matilah pria itu. Satu lagi pria dengan kapak yang menekan Lewi. Kali ini Erin harus berhati-hati. Jarak keduanya sangat dekat jika saja ia meleset, Lewi akan mati.
"Erin! Cepat lepaskan!"
Erin pun melepaskan tembakan yang telah diarahkannya dengan mata tertutup. Suara tubuh yang terjatuh terdengar jelas. Apakah itu Lewi? Bagaimana ini? ucapnya dalam hati.
"Hey gadis licik, bukalah matamu." Seru Lewi yang kini berada di hadapan Erin.
Erin pun membuka matanya. Ia langsung memeluk erat Lewi. Berat hati Lewi membalas pelukan itu. "Maafkan aku, aku terlalu egois" sesal Erin. Lewi tersenyum hangat dari balik punggung Erin. Kini pelukannya begitu lembut dan menenangkan. "Tidak masalah. Sekarang kau tahu kan arti bekerja sama."
Usai kejadian itu Erin dan Lewi kembali melanjutkan perjalanan. Kini mereka yakin bahwa mereka akan berhasil mengalahkan empat tim lainnya dan kembali pulang. Perjalanan semakin mencekam. Hewan buas mulai dikerahkan dan area tujuan semakin terlihat jelas. Empat tim yang tersisa bersembunyi di area itu.
Tujuan mereka adalah altar suci dan diatas altar itu terdapat bola kristal yang akan membawa mereka pulang. Namun bola itu hanya satu dan hanya satu tim lah yang akan pulang ke tempat asal mereka.
Area semakin sempit, waktu mulai menipis. Mau tidak mau mereka harus segera keluar dari persembunyian. Salah satu tim yang gegabah langsung terbunuh ketika hendak menyentuh bola kristal itu. Tersisa tiga tim saat ini, namun dua tim itu bekerja sama untuk memburu Lewi dan Erin. Setelah itu barulah mereka akan berduel.
Lewi dan Erin kini telah menjadi tim terkuat. Karena rasa saling percaya satu sama lain dan kerjasama yang selaras. Empat orang mampu mereka takhlukan. Kini Lewi dan Erin pemenang pertempuran maut itu. Mereka saling memuji satu sama lain. Lewi menyatakan perasaannya pada Erin.
Selama ini ia bersikap seperti itu semata-mata untuk mencari perhatian Erin. Ternyata Erin juga begitu. Erin menerima perasaan Lewi dan dengan kebahagiaan mereka kembali ke tempat asal mereka.
Sebuah jalanan sepi yang tak jauh dari sekolahan. Diwaktu dan tempat yang sama, namun dengan perasaan berbeda.
Tamat ....
Halo readers! Jika kalian suka dengan ceritanya, mohon tinggalkan like dan komen yah ... saran dan kritiknya! Terima kasih! Salam hangat~ Hannah.