Judul Cerpen : Aku Benci kamu
Tema : Musuh Dalam Selimut
Genre : Teen
Penulis : Yuni Ayu Izma
Hari ini adalah hari penyambutan mahasiswa baru yang bergabung di kampus perjuangan. Disana, terlihat seorang wanita sedang berjalan cepat menuju ke arah gerbang kampus. Wanita itu bernama Gemini Ayu, seorang wanita cantik dengan mengenakan hijab instan berwarna hitam dan baju setelan rok berwarna putih hitam.
Gemini berjalan masuk ke dalam ruangan aula dan ia memilih duduk di bagian depan karena ia benci dengan noise yang hinggap di telinganya.
"Hay, Nama kamu siapa?" tanya Gemini seraya mendudukan dirinya di sebelah wanita asing yang belum dikenalnya.
Wanita itu mengalihkan pandangannya menuju ke arah Gemini. "Namaku Sira." jawab Sira singkat.
"Nama yang cantik, sama seperti orangnya." gombal Gemini menatap Sira dari ujung kakinya mengenakan sepatu fansopel hitam hingga menaikkan tatapan matanya ke bagian tubuh mengenakan pakaian serupa dengan dirinya sampai di atas kepala yang dimana Sira mengenakan hijab segi empat yang dililit diatas leher.
"Terima kasih lebih cantik." balas Sira tersenyum ke arah Gemini dan mereka pun saling mengenal satu sama lain.
Suasana di dalam ruangan aula terdengar begitu meriah dan siapapun senang berada di sana karena terlihat seorang wanita cantik yang dipanggil dengan sebutan Mini. Itulah, Gemini sedang menyanyikan lagu Love yourself, dengan pandainya ia menyanyikan lagu itu dengan menghayati dan selama satu hari, ia berhasil memborong semua hadiah yang dibuatkan dalam mengikuti lomba. Gemini memenangkan semua lomba itu dan setelah lagu itu selesai, tepukan tangan dan sorakkan memenuhi seluruh ruangan aula.
"Nyanyi lagi! Nyanyi Lagi!" teriak seorang wanita bernama Lela.
"Gemini! I love you," teriak Raka asal.
"Lanjut nyanyi! Lanjut!" ucap Sira berdiri di depan Gemini.
"Min, hebat banget kamu. Aku salut banget sama kamu ternyata orangnya fleksibel." lanjut Sira.
"Alhamdulillah, terima kasih." jawab Gemini.
"Sudah jam istirahat nih, mari kita ke kantin." ajak Sira dengan menarik lengan Gemini agar mengikuti langkah kakinya menuju ke arah kantin kampus yang letaknya di belakang ruang aula.
"Oke." jawab Gemini dengan mengamati semua bangunan ruangan kampus.
"Kita duduk disini saja, aku suka disini terasa adem karena AC alami dari pepohonan," ucap Gemini.
"Bisa saja kamu. Oh iya, kamu mau makan apa?" tanya Sira.
"Aku cukup makan nasi goreng dan air mineral saja dan kamu mau makan apa?" tanya Gemini balik.
"Sama seperti dirimu." jawab Sira tersenyum.
"Ya sudah, biar aku saja yang pesan." balas Gemini dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke arah Ibu kantin.
Sira menatap punggung Gemini yang semakin lama semakin menjauh hingga tatapan matanya terpacu pada seorang pria tampan yang terkenal pria tertampan di kampus. "Dia tampan sekali." gumam Sira pelan.
Baru saja, Sira membiarkan rutinitas kehaluannya tapi diganggu oleh seorang wanita yang dikenalnya yang tanpa sengaja lelaki yang diinginkannya menabrak Gemini.
"Awww... Panas!" pekik Gemini.
"Maaf, sini aku bantu obati tangan kamu," ucap Dedi menyentuh tangan Gemini yang terlihat memerah karena terkena nasi goreng yang panas.
"Eh, tidak usah. Aku baik-baik saja." tolak Gemini halus.
"Jangan begitu, mari aku bantu mengobatimu." ajak Dedi menatap kedua bola mata Gemini di depannya dan dibalas anggukan oleh Gemini.
Gemini dan Dedi berjalan menuju tempat duduk Sira. "Sira, ini makananmu. Maaf, aku harus ke ruang UKS untuk mengobati memar merah di telapak tanganku," ucap Gemini.
"Aku ikut." jawab Sira dan ia mengikuti Gemini dan Dedi dari arah belakang.
"Cantik sekali Maba ini, cantiknya alami dari lahir." kata Dedi dalam hati.
"Siapa namamu?" tanya Dedi.
"Namaku Gemini." jawab Gemini dengan memegang telapak tangannya yang terasa sakit.
***
"Tolong, tahan sedikit rasanya terasa sakit dan sebentar lagi akan selesai." Dedi dengan fokusnya melilit perban yang berada di telapak tangan Gemini.
"Terima kasih." balas Gemini tersenyum. "Dia tampan sekali tapi aku sadar, tujuan utamaku untuk meraih masa depanku yang cerah. Untuk jodoh ku serahkan seluruhnya kepada Tuhan." kata Gemini dalam hati.
"Kenapa harus dia?" tanya Sira merasa kesal karena sedari tadi dirinya seperti obat nyamuk yang menjaga mereka saja.
"Aku ke ruang aula dulu," pamit Sira tanpa menoleh ke arah Gemini dan Dedi.
"Iya, hati-hati." sahut Gemini.
"Kamu pasti merasa hal yang sama dengan kami? Sudahlah, keinginanmu ingin memiliki dia itu sia-sia. Aku melihat dia lebih memilih wanita itu daripada kamu maka marilah kita bekerja sama." Ucap salah satu wanita yang berdiri di depannya. Sira mencerna setiap ucapan dari Wanita itu bernama Keyi.
"Mau gak?" tanya Naya.
"Iya." jawab Sira tersenyum.
***
Hari telah menunjukkan pukul 13.00 wib yang menandakan istirahat telah berakhir dan seperti biasanya, Gemini duduk di sebelah Sira. Kali ini, Sira terlihat berbeda dari sebelumnya. "Gemini, tolong ambilkan minuman itu," ucap Sira mengarahkan jari manisnya menuju ke arah tempat air mineral yang letaknya di belakang tempat duduknya.
"Baiklah." jawab Gemini singkat. Gemini berjalan menuju ke arah tempat air mineral dan rencana Sira dimulai. Sira tersenyum miring menatap ke arah Gemini. "Permainan akan dimulai." kata Sira dalam hati.
Di depan panggung, seorang dosen muda sedang menjelaskan dengan seksama dan seperti biasanya Gemini mengacungkan jarinya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan dari dosen. Namun, kali ini dewa fortuna tidak berpihak padanya, semua mahasiswa diharapkan untuk saling menghitung dengan menggunakan ponselnya.
Salah satu mahasiswi mengeluh karena ia kehilangan ponselnya dan terjadinya intrograsi tas dan semua tas mahasiswa diperiksa dan Gemini yang tidak tahu menahu kalau di dalam tasnya ada ponsel wanita itu dan ia dituduh sebagai maling.
"Oh, jadi kamu malingnya? Ngaku gak kamu!" bentak Ratna, dosen wanita yang mengisi acara.
"Demi Tuhan, bukan saya Bu. Saya tidak tahu ponsel itu kenapa bisa ada di dalam tas saya " jawab Gemini dengan wajah panik.
"Bohong Bu, saya melihat dia yang mengambil ponsel itu." celetuk Sira.
"Ma-maksud kamu apa? Aku tidak begitu." balas Gemini.
"Bawa saja Bu, Dia ke kantor polisi. Dia itu pencuri!" teriak mahasiswa lain.
"Benar, kamu saya bawa sekarang ke kantor polisi. Ayo ikut Ibu sekarang." ucap Ratna dengan menyeret lengan Gemini secara paksa.
"Hiks! Hiks! Bukan saya Bu, bukan saya pelakunya," ucap Gemini tetapi tidak dihiraukan oleh Ratna dan Gemini dibawa di kantor polisi.
Saat ini, Gemini berada di ruang jeruji besi dan ia duduk menyendiri di atas lantai tanpa alas tikar. "Tuhan, kenapa hidupku jadi begini? Apakah kurang kebaikanku ini dibalas penghianatan! Sira, aku tak menyangka kau ternyata musuh dalam selimutku. Salah aku apa? Hancur Harapanku, hiks..." gumam Gemini pelan.
"Hiks... Aku benci kamu! Aku sangat membencimu!" lanjut Gemini.
#Tamat