Ada enam orang yang terbaring di ruangan itu. Ruangan yang seperti gudang besar, anehnya tidak ada apapun disana. Hanya kosong. Entah cahaya dari mana yang menerangi ruangan yang seharusnya gelap itu.
Enam orang yang terbaring tersebut mempunyai posisi yang agak tidak wajar, seperti mereka hanya diletakkan di sana secara asal. Orang yang terbaring di dekat pintu, Adelio, mulai bangun.
Dia duduk dengan sakit kepala ringan. Melihat orang-orang yang terbaring di dekatnya dan langsung menuju ke arah Calya.
"Calya. Calya! Bangun!" Adelio menggoyang-goyangkan bahu Calya ringan kemudian memangku kepala Calya.
Mendengar teriakan Adelio, perlahan satu persatu orang mulai bangun. Mereka langsung menuju pasangan mereka masing-masing.
Mereka adalah Cavan dan Alfa bersama pasangan mereka Jovita dan Naile.
"Lelucon apalagi ini?" Ujar Cavan entah ditujukan pada siapa
"Kenapa selalu kita semua yang dipaksa mengikuti hal seperti ini." Alfa juga mengeluh
"Aku tidak masalah jika kita bertiga, tapi jangan melibatkan pasangan kita." Adelio melirik sekitar dengan dingin.
Mereka saling mengeluarkan apa yang ada dipikiran mereka. Entah kenapa mereka selalu terlibat dengan hal-hal tidak jelas seperti ini.
Perlahan para perempuan juga mulai bangun. Mereka juga merasakan sakit kepala ringan, seperti mereka mendapatkan obat bius yang terlampau dari dosis seharusnya.
"Kalian semua sudah bangun?" Semua orang mengarahkan pandangan mereka secara serentak ke arah suara. Tiba-tiba ada panggung yang entah darimana, di seberang mereka dan terdapat sebuah robot yang berdandan seperti butler.
"Apa lagi yang diinginkan iblis itu dari kita?" Adelio bertanya dengan dingin
"Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat datang di permainan kematian. Seperti namanya tujuan permainan ini adalah kematian. Kalian semua akan mendapat giliran jadi tenanglah." Suara dengan nada datar khas robot benar-benar sangat menjengkelkan dalam situasi seperti ini.
"Iblis itu bisa menghidupkan kita lagi setelah kematian kan??" Tanya Calya
"Saya tidak akan memberi komentar. Mari kita lihat permainan seperti apa yang akan menjadi pembuka." Ada monitor muncul sebelah kiri panggung. Sejauh ini sudah menunjukkan bahwa teknologi yang digunakan sangat unggul.
Semua orang fokus melihat kearah monitor tersebut. Di dalam monitor terdapat roda yang berputar dan berputar. Perlahan-lahan melambat dan jarum menunjuk kepada Russian Roulette!
"Kita..tidak akan melawan satu sama lain kan..?" Naile bertanya dengan hati-hati
"Sekarang mari kita undi siapa yang akan menjadi lawan siapa." Robot itu tidak menjawab dan malah melanjutkan ucapannya. Mendengar ini semua orang terdiam. Mereka tidak ingin bertarung satu sama lain. Tetapi, mereka pasti tidak akan bisa bebas jika tidak menuruti permainan ini.
Monitor berubah tampilan. Sekarang menunjukan nama mereka berenam dalam satu tabel. Cahaya bergerak dari kiri ke kanan, menunjukkan nama-nama mereka. Cahaya terus bergerak dan perlahan berhenti, sampai hanya dua cahaya yang bersinar.
Naile vs Jovita
Mereka yang namanya bercahaya menatap monitor dengan kaget. Tiba-tiba ada ruangan kecil dari kaca transparan yang muncul dari bawah. Di dalamnya terdapat meja kecil dan diatas meja terdapat satu pistol.
"Naile dan Jovita. Silahkan memasuki ruangan kaca. Kalian akan bermain disana agar tidak mengotori ruangan."
Brengsek! Jovita mengumpat dalam hatinya.
Tidak ada yang bergerak setelah bermenit-menit.
"Jika kalian tidak segera memulai permainan" tangan kanan robot secara perlahan berubah menjadi mesin senapan besar "kalian akan menemui kematian saat ini juga." Sekarang robot itu terlihat sangat mengancam.
"Ayo Naile." Jovita mendatangi Naile dan menarik tangannya.
"T-tapi kak-"
"Pemain yang terpilih tidak bisa digantikan?" Tanya Alfa kepada sang robot.
"Tidak bisa. Jangan khawatir, kalian semua akan mendapatkan giliran kalian. Jadi tenanglah."
"Ayo." Jovita setengah menyeret Naile ke ruangan kaca.
Alfa ingin menyeret mereka keluar dari sana tapi dihentikan oleh Cavan. Cavan tahu bahwa tidak mudah menghentikan Jovita.
"Bagaimana menentukan siapa yang pertama bermain?" Jovita bertanya.
"Kalian bisa berdiskusi sendiri. Apa saya perlu menjelaskan aturannya?" Siapa yang tidak tahu aturan permainan Russian Roulette? Ini hanya permainan yang mengandalkan keberuntungan. Hanya terdapat satu peluru di pistol yang tidak tahu ada di urutan berapa peluru itu. Setiap pemain hanya perlu menembakkan pistol ke dirinya sendiri. Jika kamu beruntung, tidak ada peluru yang akan keluar dan jika kamu tidak beruntung.. itu nasibmu.
"Tidak. Bagaimana kita menentukan urutannya?" Tanya Jovita kepada Naile
"I-itu terserah kak Jovita.." Terdengar sedikit ketakutan dari suara Naile, tetapi dia menatap mata Jovita dengan mantap.
"Apa kamu keberatan jika aku 'bermain' terlebih dahulu?" Jovita menekankan kata bermain dan melirik robot dingin.
"Tidak.. silahkan.."
Jovita mengambil pistol dengan sedikit santai. Menatap Cavan sebelum mengarahkan ujung pistol ke keningnya.
Dor!
Peluru kosong.
"Giliran mu." Naile mengambil pistol yang disodorkan oleh Jovita.
Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengarahkan pistolnya ke keningnya. Menutup mata dan menarik pelatuknya.
Dor!
Peluru kosong.
Kali ini Jovita terlihat sedikit gugup. Firasatnya sangat tidak enak. Dia menoleh sekali lagi ke arah Cavan. Tersenyum dan menarik pelatuknya.
Dor!
Tubuh Jovita terjatuh. Darah menyebar ke segala arah. Hampir memenuhi seluruh permukaan kaca.
Naile jatuh terduduk berusaha melupakan pemandangan yang baru saja dia lihat.
Wajah Cavan menggelap. Alfa dan Cavan segera menuju ke ruang kaca. Cavan segera memegang Jovita dan Alfa memenangkan Naile.
"Selamat kepada Naile karena telah memenangkan permainan Russian Roulette. Kita akan melanjutkan dengan permainan berikutnya." Tidak ada berkata apa-apa. Mereka tahu bahwa robot itu tidak akan menunjukan belas kasihan.
Layar monitor menunjukan pemilihan permainan lagi.
Permainan kejujuran.
Kemudian layar langsung berganti dengan nama-nama pemain lagi. Sebenarnya semua orang cukup santai kecuali Cavan yang tampak frustasi.
Mereka semua sudah berpikir bahwa kematian di permainan ini akan sangat-sangat brutal. Tetapi, melihat cara Jovita mati, itu jauh-jauh lebih baik dari bayangan mereka.
Adelio vs Calya
"Heeee kita akan saling melawan sayang!" Ucap Calya yang entah kenapa terlihat gembira
"Permainan kejujuran. Masing-masing dari kalian akan diberi satu pertanyaan setiap ronde nya. Jumlah maksimal ronde adalah 10. Setiap ada pemain yang menjawab salah, pemain lain harus menembakkan satu peluru ke arahnya." Calya mendengarkan dengan ekspresi tertarik, tapi wajahnya langsung berubah saat mendengar kalimat terakhir. Perubahan ekspresi yang sangat cepat.
"Aku tidak mau!!" Calya berteriak tiba-tiba dan melemparkan bom ke tengah ruangan.
Tidak ada yang menyangka bahwa Calya membawa bom dan akan meledakkannya seperti itu!
Terlambat untuk menghindari. Ruangan itu hancur dalam beberapa detik.
PIP PIP PIP
"Cavan! Kamu tidak apa-apa?" Semua membuka matanya mendengar teriakan Jovita. Tunggu. Jovita seharusnya sudah mati!
"A-apa yang terjadi? Kak Jovita masih hidup??" Naile memaksa tubuhnya yang masih lemah bangun dan memeluk Jovita. Untung saja dia berada disebelahnya jadi tidak terlalu jauh.
"Iya. Kita hanya menjadi percobaan alat baru." Jovita menjelaskan dengan nada datar dan ekspresi sedikit marah.
"APA?! MANA IBLIS ITU?! BERANI-BERANINYA DIA MENYURUHKU MEMBUNUH KEKASIHKU!" Calya dengan kemarahan mulai keluar ruangan mencari sang pembuat alat. Adelio tanpa kata-kata langsung mengikuti Calya.
Setelah kepergian Calya dan Adelio, seorang gadis yang masih terlihat muda memasuki ruangan.
"Hehehehe bagaimana alatnya?"
"Brengsek! Itu benar-benar sangat nyata." Siapa lagi kalau bukan Jovita yang berbicara. Dia menarik tangan Cavan dan meninggalkan ruangan. Tidak lupa memberikan tatapan tajam kepada gadis tersebut. Gadis tersebut hanya tersenyum lebar seperti tidak ada hubungan dengan pembuatan alat tersebut.
"Efeknya terasa sangat nyata. Aku benar-benar merasa bahwa aku sudah meledak karena bom tadi." Alfa menjawab dengan tenang
"Bagus-bagus." Gadis tersebut mengangguk dengan puas.
"Untuk apa kamu membuat alat seperti itu?" Naile bertanya dengan wajah cemberut
"Aku bosan. Lalu aku melihat kalian masih menganggur. Jadi, aku ingin mengajak kalian semua bermain! Hehehe"
"Ish" Naile terlihat seperti akan mengumpat. Tapi, dalam hatinya dia merasa lega. Setidaknya tidak ada yang benar-benar mati diantara mereka.
"DISINI KAMU RUPANYA!! AKU AKAN MEMBERI PELAJARAN UNTUKMU!!" Gadis tersebut langsung berlari ke arah berlawanan dari Calya. Tapi, Adelio datang di arah yang berlawanan. Oh tidak. Dia terkepung oleh Psycho Couple ini.
Cerita ini berakhir dengan kematian sang pembuat mesin tadi. Mesin yang bisa membuat penggunanya merasakan efek nyata.
Tenang saja, dia tidak benar-benar mati.
.
.
.
Bisa dibilang ini adalah promosi terselubung. Semua tokoh yang ada disini adalah tokoh utama dari cerita-cerita buatan saya. Sekarang, saya baru mempublish cerita Adelio dan Calya saja. Kalian bisa membacanya dengan judul Psycho Couple!
Saya baru saja mempublikasikan kemarin. Untuk tokoh-tokoh yang lain, pasti akan saya publish, tapi nanti. Tolong ditunggu saja dan nantikan kisah mereka.
Jangan lupa dukung cerita saya!!! \(๑╹◡╹๑)ノ♬