Itu semua terjadi dengan sangat cepat, kami semua sedang menjalani aktifitas sehari-hari ketika bencana itu datang.
• • •
Pagi hari pukul 07.00, pada hari Senin. Seperti kebanyakan hari Senin, kami siswa SMA berdiri di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera. Entah mengapa hari ini suhu terasa sangat panas meskipun masih pagi hari. Matahari bersinar terang seperti biasanya, namun hawa yang kami rasakan seperti berada di dalam sauna- bukan, lebih tepatnya seperti berada di dekat gunung berapi. Panas udara yang sangat membara membuat keringat berjatuhan satu persatu, membasahi baju seragam putih abu-abu yang sedang ku kenakan.
Aku berdiri di barisan belakang. Namaku Andi, murid SMA kelas 3 jurusan IPS. Di sampingku, Bambang sedang sibuk mengipasi dirinya dengan topi upacara disertai dengan protes, "Panas banget sih!! Gila!!"
Andi : "Sstt!! Jangan keras-keras ngomongnya" dengan berbisik aku berusaha memperingatinya.
Bambang : " Habis panas banget sih, Ndi! Lo kok bisa santai-santai aja? Nggak kepanasan kah?"
Andi : " Emang panas sih, tapi gue punya trik tersendiri. "
Bambang : " Apaan? Bagi-bagi dong. "
Aku memalingkan wajahku kedepan, menarik kain jilbab lebar yang menutupi kepala teman perempuan sekelasku dan masuk ke dalamnya.
Cinta : " Andi! "
Bukk!!
Tangan Cinta memukul pundakku seraya berpaling ke belakang, menatapku marah.
Andi : " Hehe, maaf-maaf. " Ucapku sambil cengigiran.
Saat itu aku masih bisa tertawa lepas, tidak mempedulikan tentang apa yang akan terjadi di hari esok, atau di hari ini.
Dalam sekejap mata, sebuah batu meteor berukuran sedang jatuh tidak jauh dari lokasi sekolah kami berada, meledak dan menyebabkan dentuman yang sangat keras sehingga kami harus menelungkup tiarap serta menutupi telinga kami.
Baju putih abu-abu kami yang sebelumnya bersih menjadi kotor dipenuhi noda tanah yang menjadi alas landasan kami.
Panas yang lebih membara mulai menyebar di udara ketika batu meteor tersebut jatuh. Dari kejauhan suara teriakkan terdengar, suara-suara kendaraan bertabrakan, dan suara-suara tangisan mengaum-ngaum.
Kepala sekolah berusaha dengan tenang memberikan kami instruksi untuk memasuki gedung sekolah secara berurutan dan rapi. Namun sebelum kami bisa meninggalkan lapangan, satu suara teriakan membuat perhatian kami teralihkan.
" SELAMATKAN DIRI KALIAN!!" Disaut oleh teriakkan lain, " ZOM-!!! ADA ZOMBIEEEE!! "
Sepertinya hasil radiasi dari meteor tersebut sangatlah kuat sehingga bisa merubah semua makhluk hidup yang di sentuhnya menjadi pasukan makhluk mati.
Seketika kekacauan di antara siswa pun mulai terjadi, semua berlomba-lomba untuk memasuki gedung sekolah. Kepanikan mengisi kepala mereka sehingga tidak peduli lagi siapa yang jatuh dan terinjak oleh langkah mereka.
Aku menarik lengan baju Bambang.
Andi : " Tunggu, Bam. Sepertinya nggak bakal aman kalau kita berkerumun di dalam gedung sekolah. Nggak ada pintu lain yang mencegah orang lain atau zombie itu masuk kecuali pintu gerbang. " Ucapku sambil menunjuk pintu gerbang sekolah.
Bambang : " Iya juga ya, orang gerbangnya aja udah bobrok gitu. Pasti bakal gampang di terobos sama sekumpulan zombie nantinya. "
" Iya tuh bener. "
Kepala kami berdua menengok seketika ketika Cinta tiba-tiba saja masuk ke dalam pembicaraan.
Cinta : " Apa? "
Kami berdua menggelengkan kepala kami.
Andi : " Yaudah, kita cepetan ambil tas masing-masing dan pergi dari sini. "
Cinta : " Kok malah pergi? " Tanyanya dengan heran.
Bambang : " Massa itu malah jadi sasaran empuk zombie, cantik. "
Cinta melirik tajam ke arah Bambang, yang disambut dengan senyuman tak peduli olehnya.
Andi : " Bambang bener, Cinta. Dan meskipun kita di lantai 3 sekalian pun tetap nggak bakalan selamat. Jadi mendingan kita pergi aja dari sini, cari tempat yang lebih aman. "
Cinta dan Bambang mengangguk, dan kami bergegas mengambil tas kami dari kelas. Kami terus berlari meskipun dari dalam gedung teman-teman kami memperingati aksi yang kami lakukan.
Ketika jarak kami sudah 2 kilo meter dari sekolah, kami bisa melihat dari belakang kami kumpulan zombie telah berlari menuju gerbang sekolah dan menembusnya dengan mudahnya.
Mata kami berbinar mengetahui teman yang telah bersama dengan kami selama tiga tahun ini akan menjadi santapan empuk para zombie. Tapi kami tidak bisa melakukan apapun, karena kami sendiri juga harus menyelamatkan diri kami sendiri.
Bambang dan aku berhenti untuk mengambil dua sepeda motor yang telah di tinggalkan oleh pemiliknya ketika mereka mendengar keadaan tentang invasi zombie tersebut. Cinta duduk di jok motor di belakangku, sementara Bambang menaiki motor seorang diri. Melaju menjauh dari pembantaian yang terjadi di belakang kami.
• • •
Perjalanan yang kami lakukan tak terasa jauhnya sampai ketika bensin motor kami telah terkuras habis dan terhenti di tengah jalan, masih berada di dalam area kota tempat kami tinggal.
Sejauh ini kami tidak melihat orang selain kami bertiga, sepertinya berita sudah menyebar dan warga mulai melakukan pengungsian atau pelarian ke tempat yang lebih aman.
Tak jauh dari tempat kami berhenti, kami melihat papan reklame sebuah hotel bintang lima yang baru saja melakukan pembukaan. Mata kami bergantian meminta pendapat satu sama lain dan berakhir dengan kesetujuan untuk mencoba menginap di dalam sana.
Kami mendekati pintu kaca lobi hotel tersebut, ketika kami tiba ternyata pintu tersebut terkunci rapat. Bambang mencoba menggedor-gedor pintu kaca tersebut, dan di susul oleh teriakan Cinta, " Halo! Apakah ada orang di dalam?! Tolong Buka! Kami ingin mencari tempat untuk berlindung! "
Andi : " Jangan keras-keras, Cinta. Zombie itu sangat sensitif dengan suara, suara yang keras bakalan memancing mereka. "
Cinta : " Yaelah, Ndi. Zombienya belum sampai sini juga kali. "
Aku dan Cinta terus berdebat di depan pintu kaca itu sampai Bambang menarik perhatian kami berdua ketika berkata, " Ndi, Cinta, itu ada orang di dalam! "
Benar saja, ketika kami menoleh ke arah lobi terdapat dua orang berjalan mendekat dari balik pintu kaca. Satu orang berseragam jas yang lengkap, dan satu orang yang lain berseragam satpam, sepertinya mereka staff dan security guard di hotel ini.
Si orang yang berseragam satpam bertanya kepada kami.
Satpam : " Bagaimana kami tahu kalau kalian belum terinfeksi?! " tanyanya dengan nada menginterogasi yang garang.
Staff Hotel : " Sudahlah, Fer. Kan udah ku bilang kalau zombienya itu masih di area pusat kota, belum sampai sini. Dari tadi kamu menginterogasi pelanggan sampai ketakutan semua. Berlebihan ah kamu. Lagian gimana pun kita lihatnnya mereka ini sehat wal afiat semuanya."
Si satpam tersebut mengangkat bahu dan berjalan untuk membukakan pintu kaca yang menuju lobi tersebut.
Kami bertiga bergegas masuk dan disambut dengan jabatan tangan oleh Staff hotel.
Staff Hotel : " Perkenalkan, namaku Dio. Aku CEO di hotel ini. Sedangkan dia yang berbaju satpam itu adalah Ferdian, orang kepercayaanku. Ia sangat pandai bela diri. "
Aku menyalaminya balik dan memperkenalkan diri juga.
Andi : " Saya Andi, kami bertiga murid SMA kelas 3. Itu Bambang, dan yang berjilbab adalah Cinta. "
Kami mulai bercerita tentang bagaimana kami bisa sampai di sini, dan Dio mengangguk mendengarnya.
Andi : " Maaf ya pak Dio, tapi kami tidak punya uang sepeserpun untuk membayar biaya hotel ini yang pastinya sangat mahal. "
Cinta : " Tapi kami benar-benar perlu tempat untuk berlindung, setidaknya untuk malam ini. Kami sudah melakukan perjalanan yang cukup jauh. "
Dio tersenyum ramah.
Dio : " Panggil saja Dio, nggak usah pakai 'Pak' segala. Dan tenang saja, saya berniat membantu jadi kalian tidak perlu membayar sepeserpun. Hanya saja kami tidak bisa menjamin bahwa kalian akan mendapatkan makanan yang layak, dikarenakan koki-koki kami semuanya kabur ketika mendengar berita itu. "
Ferdian : " Kalian bisa mengambil makanan dari toko-toko sekitar yang sudah di tinggalkan, menyetok secukupnya akan lebih bagus. Dan jika ingin dilakukan, lebih baik kalian lakukan sekarang sebelum hari gelap. Kita semua tidak tahu kapan kumpulan zombie itu akan datang. "
Kamu bertiga mengangguk dan bergegas ke IndoMars untuk mengambil-, mencuri beberapa makanan.
Roti-roti yang tersisa di rak tinggal beberapa biji saja dan kami langsung menyapunya ke dalam tas. Beberapa botol minuman, mulai dari air mineral sampai teh dan kopi. Lalu beralih ke arah rak-rak mie instan dan permen dan cokelat batang. Setelah tas kami masing-masing sudah penuh, kami bergegas kembali ke hotel di mana Ferdian masih berjaga di pintu lobi dan membukanya ketika kami terlihat olehnya. Setelah itu pintu kembali di kunci.
Dio mengantar kami ke kamar hotel di lantai 4, dua ruangan telah ia sediakan untuk kami bertiga. Cinta mendapatkan satu ruangan hotel penuh untuk dirinya, sedangkan di seberangnya terdapat kamar hotel milikku yang di bagi dengan Bambang.
Kami bertiga berkumpul di kamar Cinta untuk menganalisa makanan yang telah kami ambil, kami setuju untuk di bagi rata dan menyimpannya di tas masing-masing.
Tiga roti bungkus, enam botol minuman, serta enam bungkus mie instan. Permen dan Cokelat akan di simpan oleh Cinta di dalam kulkasnya semenjak kami tahu bahwa Bambang adalah penggemar berat jenis makanan manis tersebut.
Persediaan makanan yang kami miliki setidaknya bisa bertahan untuk lima hari, setelah itu kami harus kembali mencari makanan di toko-toko sekitar.
Ketika kami turun dari lantai 4 menggunakan lift, kami menemukan beberapa orang yang tak kami kenal berkumpul di lobi, sepertinya mereka pelanggan di hotel ini seperti kami bertiga. Ferdian dan Dio terlihat memegang sebuah kain yang berukuran besar dan sangat panjang, serta terdapat tumpukan kardus dan kayu di meja lobi.
Dio : " Nah, pas banget nih kalian bertiga turun. Kenalkan, mereka adalah orang yang menginap di hotel ini untuk berlindung dari para zombie. Dari sebelah kanan, Riri dan Ardian dari lantai 1 kamar nomor 03, sebelahnya Fiona dari lantai yang sama dengan kamar nomor 08. Lalu penghuni lantai 2 terdapat Raffi kamar nomor 22, Inggit kamar nomor 26, serta Dewi dan Ahmad dengan kamar nomor 29. Di lantai 3, Lili, Jessica, dan Sarah dengan kamar nomor 32, 33, dan 34. Lalu lantai tempat kalian berada, di lantai empat, hanya kalian bertiga saja. "
Ferdian : " Saya dan Dio tinggal di lantai 1 dan 2, nomor kamar saya 20 di lantai dua, sedangkan nomor kamar Dio 01 di lantai satu. Jika kalian butuh apa-apa bisa pergi menemui kami. "
Dio mengangguk sebelum melanjutkan, " Kami berdua butuh kerja sama kalian, untuk bertahan hidup disini kita harus saling tolong menolong. Pertama, kami ingin menutupi semua kaca yang mengarah ke arah luar untuk menghindari perhatian dari zombie yang akan datang nanti. Saya, Ferdian, dan laki-laki lainnya akan bertugas menempelkan kardus di kaca-kaca jendela dan memakukan kayu-kayu. "
Ferdian : " Sementara perempuan, kami minta untuk memasang korden besar ini untuk menutupi pintu lobi dari dalam. Pintu sudah saya kunci, jadi tidak perlu khawatir. Dan juga tolong bantu kami dengan membuat minuman untuk pelepas dahaga di dapur. "
Setelah tugas dibagi, kami segera menuju titik yang telah di tentukan dan mulai bekerja. Hari sudah semakin gelap saat pekerjaan kami selesai. Kami berkumpul di ruang makan untuk minum teh bersama-sama, memakan roti-roti kecil yang memang masih tersisa oleh pihak hotel.
Bambang dan aku kembali ke kamar kami, tak lama kemudian ketukan di pintu terdengar, Cinta masuk membawa beberapa bungkus permen dan kami mulai berdiskusi tentang rencana kami untuk bertahan hidup kedepannya.
Saat tengah malam tiba, kami berpisah dan berisitrahat di kamar masing-masing, namun suara jeritan terdengar menggelegar dari lantai bawah.
Aku membangunkan Bambang dan bergegas berlari menuju lift. Lift tiba di lantai lobi, Ferdian dan Dio yang masih berjaga-jaga di sana dan terlihat sama-sama kagetnya. Pintu lift masih terbuka dan mereka berdua melompat masuk dan memencet tombol ke lantai satu. Lift pun mulai naik ke atas dan beberapa menit kemudian terbuka.
Kami berempat berlari keluar dari Lift dan mengetuk semua pintu yang kamarnya ditempati. Fiona keluar dari kamarnya, terlihat kebingungan. Dio membuka paksa kamar Riri dan Ardian karena tidak ada jawaban dari dalam. Saat pintu terbuka, kami menemukan Ardian memeluk tubuh Riri yang berlumuran darah.
Dio : " Ardian? Riri? "
Samar-samar kami mendengar suara Ardian berkata, " La..lari.." sebelum wajah Riri yang sebelumnya terbenam di pundak Ardian menengok ke arah kami.
Wajahnya penuh dengan luka, matanya terlihat kosong, dan mulutnya.. entah apa benar yang kulihat tapi baru saja dari mulut itu seonggok danging terlepas dari pundak Ardian. Kami berlima terpaku di palang pintu. Dalam hitungan detik, wajah Ardian ikut menoleh ke arah kami, dengan matanya yang kosong juga mulutnya yang menganga mengeluarkan air liur dan busa.
Dio sontak membanting pintu dan segera menguncinya.
Dio : " Semuanya, ke lantai yang lebih tinggi! Ambil barang-barang yang kalian perlukan, zombie sudah mulai memasuki hotel ini! Aku dan Ferdian akan memberi tahu penghuni hotel yang lainnya. "
Aku, Bambang, dan Fiona mengangguk dan segera berlari ke arah kamar kami masing-masing.
Bambang mengetuk-ngetuk keras kamar Cinta.
Bambang : " Cin! Cinta! Bangun, Cin! "
Tak lama kemudian pintu pun terbuka, dan Cinta mengusap kedua kelopak matanya.
Cinta : " Apaan sih? Berisik banget. "
Bambang : " Zombie udah masuk ke dalam hoten, Cin. "
Andi : " Iya, Riri sama Ardian dari lantai satu udah berubah jadi zombie! "
Cinta : " Hah? Kok bisa? "
Bambang : " Nggak tahu, pokoknya cepetan berkemas. Kita harus pergi! "
Cinta mengangguk dan segera menghilang ke dalam kamarnya lagi. Setelah kami bertiga selesai berkemas, kamu turun dengan menggunakan lift menuju lantai dua. Lift pun terbuka, menunjukkan wajah-wajah panik dari para penghuni lantai dua dan tiga yang sudah berkumpul di sana.
Dio : " Fiona? Fiona mana sih? "
Ferdian : " Tadi dia balik ke kamarnya kan? Masa sampai sekarang belum sampai juga? "
Saat kami mulai mempertanyakan keberadaan Fiona, dari arah tangga darurat kami mendengar langkah kaki berlari memanjat anak tangga. Suara langkah kaki itu pun semakin terdengar keras dan sedikit demi sedikit menunjukkan sosok Fiona yang terlihat ketakutan, sebelum ia mencapai anak tangga terakhir kakinya diseret dari bawah dan sosok Fiona kembali menghilang dari sudut pandang dan jeritan-jeritan yang ia lontarkan menggema di seluruh lantai.
Kami semua terdiam di tempat. Keheningan di antara kami. Namun dalam hitungan detik, sosok Fiona kembali muncul, dengan wajahnya yang penyok sebelah dan diikuti oleh Riri dan Ardian.
Serempak kami langsung berlari memasuki berbagai kamar di lantai 2.
Aku, Bambang, dan Cinta bersama-sama di dalam satu kamar. Kami menaruh berbagai barang di balik pintu untuk menghalangi zombie itu mendobrak masuk ke dalam kamar.
Kami bisa mendengar teriakan-teriakan para penghuni lainnya di kamar lain.
Aku melirik ke arah jendela dan segera mengintip keluar. Tidak ada zombie yang terlihat, tapi bagaimana Riri bisa berubah?
Berbisik aku memanggil Bambang dan Cinta, mereka menoleh dan menghampiriku.
Cinta : " Ada apa, Ndi? "
Andi : " Kita harus lompat keluar dari sini. Nggak ada zombie yang terlihat di sekitar sini, jadi ini kesempatan emas kita dari pada terpojok di hotel ini dan akhirnya jadi santapan mereka. "
Bambang : " Kamu yakin, Ndi? "
Aku mengangguk.
Sempat ragu sesaat namun akhirnya Cinta dan Bambang mengangguk setuju.
Kami melompat keluar dari balkon di lantai 2 dengan sedikit kesusahan, namun berhasil dengan selamat. Dengan pelan kami mengintip sisi lain hotel dan mengecek keadaan sekitar, setelah yakin aman aku berbalik untuk menatap kedua temanku ini dan menemukan satu sosok lain berdiri di belakang Bambang. Cinta sadar dengan tatapanku yang aneh dan ikut melihat ke arah Bambang dan sama terkejutnya sepertiku.
Bambang : " Apaan sih? "
Aku dan Cinta berjalan mundur secara perlahan, Bambang semakin kebingungan. Ia pun akhirnya menoleh ke belakang dan di sambut dengan mulut yang berteriak di depan mukanya yang menjerit dengan suara anehnya.
Bambang : " Ndi.. tolong gue Ndi.. "
Aku bertukar pandang dengan Cinta, ia menggelengkan kepalanya dan menarikku lari.
Bambang : " Andiii!!!! " teriakan terakhirnya yang kudengar sebelum kami berdua berlari menjauh dari tempat itu.
Kami berdua berlari dengan sekuat tenaga kami, tanpa menoleh ke belakang sekali pun. Kami bisa mendengar jeritan-jeritan para zombie yang berlari mengejar kami dengan langkahnya yang lumayan cepat.
Kami harus terus berlari atau kami akan kehilangan nyawa.
• • •
Aku terduduk di kursi goyangku ketika sebuah tangan mengelus lembut pundakku.
" Lagi mikirin apa sih? "
Aku menoleh ke belakang dan menemukan istriku, Cinta, dengan senyuman kecilnya.
Andi : " Lagi mikirin kejadian dulu itu, yang ngebuat aku kehilangan sahabat, keluarga, dan tangan kiriku. "
Ya, aku kehilangan tangan kiriku saat kami berlari menghindari zombie sepuluh tahun yang lalu. Kami berlari menuju kota sebelah yang di batas-batasnya sudah dipasangi kawat belukar dan meriam-meriam berjaga di baliknya. Saat tiba di depan gerbangnya, penjaga dengan segera membukakan pintunya dan kami masuk ke dalamnya.
Hanya saja, saat detik-detik terakhir tangan kiriku terkena gigitan dari zombie yang mengejar kami dan segera di amputasi di tempat oleh para tentara yang berjaga disekitar.
Tangan lembut Cinta kembali mengelus pundakku.
Cinta : " Udahlah, Ndi. Itu emang kejadian terpahit selama masa hidup kita. Tapi kita harus bersyukur karena kita masih selamat. "
Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya, dan menempatkan telapak tangan kananku di atas telapak tangan kirinya dan mengelusnya lembut.
Maafin aku ya Bambang, karena tidak bisa menyelamatkan kamu saat itu.
Maafin aku juga ya teman-teman, karena tidak mengajak kalian kabur bersamaku.
Terutama maaf kepada kedua orang tuaku, karena saat invasi sepuluh tahun yang lalu itu aku hanya peduli dengan nyawaku dan melupakan tentang keberadaan kalian. Apakah kalian selamat atau tidak, aku hanya lari seorang diri. Aku bukanlah anak yang berbakti. Sekali lagi maafkan aku.
Dan terimakasih untuk istriku tercinta, yang sudah berada di sampingku melalui semuanya, yang selalu mengurusku dan membuatku ceria meskipun aku hanya mempunyai satu tangan saja.
Aku bersyukur berada bersamanya.
- The End -