Namaku Raina. Aku berumur 20 tahun dimana seharusnya aku sedang berkuliah. Namun, kecelakaan dua bulan yang lalu tuhan mengambil kedua orang tuaku. Aku tetap bersyukur karena aku bisa selamat dari kecelakaan yang bisa dibilang mustahil untuk diselamatkan. Walaupun, aku harus hidup dengan kekurangan.
Aku ingin melanjutkan kuliahku, tapi itu tidak semudah yang aku pikir. Saat itu aku memilih keluar dan mulai mencari pekerjaan. Pekerjaan yang dengan mudahnya menerimaku yang memiliki kekurangan.
Disinilah aku bekerja, di sebuah cafe sebagai dishwasher. Aku pikir memang ini pekerjaan yang pantas untukku. Hanya perlu mencuci perlengkapan cafe tanpa perlu berbicara dengan siapapun.
Pluk!
Sebuah tangan yang menepuk bahuku mampu membuatku menoleh seketika. Aku tersenyum saat Laura menunjukkan selembar kertas yang berisi kalimat penyemangat seperti biasanya.
Aku membalasnya dengan acungan jempol seraya tersenyum. Laura adalah salah satu Barista di cafe ini. Dia juga menjadi orang yang selalu ada untukku dan mau menerima kekuranganku.
Kalian belum tahu apa kekuranganku, kan? Biar aku beritahu. Aku adalah gadis bisu dan tuli yang hidup sebatang kara. Sebelumnya aku sudah mengatakan kalau kecelakaan dua bulan yang lalu membuat kedua orang tuaku meninggal dan aku selamat, namun dengan keadaan bisu dan tuli.
Aku pernah menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi. Itu dulu, sebelum aku menyadari bahwa Tuhan masih memberiku kesempatan untuk menikmati dunia, meskipun hanya dengan melihat.
Kini aku mulai menikmati hidup kembali dan tidak lagi menyalahkan Tuhan. Semuanya adalah skenario dimana suatu saat aku akan mendapatkan kebahagiaan lagi.
Siang adalah waktu istirahat bagi para pekerja dan jam pulang bagi anak sekolah. Otomatis banyak juga tumpukan piring dan jejeran gelas yang kotor. Segera aku melakukan pekerjaan dengan gigih dan berusaha untuk tidak mengeluh.
Selesai mencuci semua piring dan juga gelas, Laura menghampiriku dengan se-cup kopi yang sudah pasti hasil buatannya. Kami selalu pulang bersama setiap harinya sembari mencangking se-cup minuman.
Ketika kami berjalan bersama, tiba-tiba Laura menghentikan langkahnya untuk melihat ponsel. Setelah itu, dia menatapku dengan raut wajah sedih.
"Sorry, gue harus ke minimarket dulu." Laura berkata dengan bahasa isyarat karena aku tidak bisa mendengarnya.
"Iya, aku duluan." Begitupun denganku yang membalasnya dengan bahasa isyarat juga.
Aku kembali melanjutkan langkah menuju tempat dimana aku tinggal. Sebuah rumah kecil peninggalan orang tuaku.
Aku melihat seorang pria berlari dari dua orang dibelakangnya. Aku tidak ingin menghiraukannya, tapi dompet pria itu terjatuh. Aku mengambilnya dan berusaha untuk mengejarnya.
Sekuat tenaga aku berusaha untuk menggapai pria itu.
"Tunggu!" Dalam hati aku terus berteriak memanggil pria yang berlari cepat di depanku. Aku menoleh pada kedua pria yang mengejarnya. Rasanya aku juga menjadi buronan mereka.
Melihat sebuah tempat sampah di samping jalan, aku langsung mendorongnya supaya kedua pria itu tidak berhasil mendekatiku. Aku menoleh ke depan untuk melihat kemana perginya pria tadi.
"Cowok gila! Kenapa gue harus ikut-ikutan dikejar juga," batinku.
Dirasa jarak kami mulai terkikis, aku berhasil menarik ujung kemejanya. Aku mengatur napas karena akhirnya bisa berhenti berlari.
"Lo ngapain narik-narik gue?" kata Pria itu. Walaupun aku tidak mendengar apa yang dia katakan, aku bisa mengerti melalui gerakan bibirnya. Segera aku menyerahkan dompet di tanganku kepadanya.
Bukannya mengambil, justru pria itu malah menarikku dan kami bersembunyi di balik pohon yang cukup besar. Pria itu membekap mulutku memberi isyarat untuk diam. Aku memutar bola mata dengan jengah, kalaupun aku berbicara juga tidak akan ada orang yang mendengar.
"Siapa sih cewek tadi? Kok kayak bantuin si Niko?"
"Gue juga gatau, sekarang kemana mereka pergi?"
"Sial, dia lolos lagi!"
Aku tidak tahu apa yang kedua pria itu bicarakan. Tapi, aku yakin mereka sedang mencari kami. Melihat kedua pria itu pergi, barulah kami keluar dari tempat persembunyian.
"Lo ngejar-ngejar gue cuma mau ngembaliin ini?" kata Pria itu mengangkat dompetnya.
Aku hanya mengangguk, lalu segera pergi dari sana karena tidak ingin mendapat masalah lagi. Namun, pria tadi menahan lenganku.
"Thanks, ya." Aku sedikit tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. Aku mengerjapkan mata beberapa kali.
"Kayaknya Lo nggak ngerti bahasa Inggris ..." gumam pria itu yang tidak aku dengar, "makasih."
Barulah aku mengerti saat pria itu kembali berkata. Aku hanya mengangguk dan langsung pergi dengan langkah tergesa-gesa. Melihat penampilan pria tadi yang urak-urakan membuatku merasa risih dan takut.
Aku pergi bukan karena takut dengannya, tapi karena aku tidak ingin mempersulit diri sendiri. Sudah jelas Pria tadi tidak mengetahui kalau aku tuli dan bisu.
Sampai di rumah, aku melihat se-cup kopi yang belum aku minum. Jika saja tidak ada adegan kejar-kejaran, mungkin aku bisa langsung meminumnya setibanya di rumah.
"Nyebelin banget sih! Ya Tuhan, semoga ini menjadi awal dan akhir."
Aku menengadah ketika ketika berkata dalam hati. Mataku melirik kalender dimana besok adalah hari ulang tahunku. Tiba-tiba saja aku merindukan kedua orang tuaku.
Aku mengelap air mata yang mulai menetes, sadar bahwa tuhan membenci air mata karena menangisi orang yang sudah meninggal.
***
Esok harinya aku seperti biasa bekerja. Bedanya, aku tidak melihat Laura ketika berangkat. Biasanya Laura datang lebih pagi daripada aku. Dengan semangat yang kurang aku bekerja.
Aku menilik keluar untuk melihat apakah Laura datang atau tidak. Ternyata tidak ada, aku kembali ke tempatku dan mengambil ponsel, mengirim pesan sekedar bertanya keadaan Laura.
Berjam-jam menunggu balasan dari Laura, malahan aku tidak fokus dengan pekerjaanku. Sudahlah, mungkin Laura sibuk dan aku harap dia baik-baik saja.
Saat waktunya istirahat, seseorang menepuk bahuku. Aku terkejut sekaligus senang melihat Laura yang berdiri di hadapanku dengan sekotak hadiah. Kotak hadiah? Aku tidak tahu maksud Laura.
Drtd....
Aku merasakan getaran ponsel dari saku celana. Melihat Laura yang membalas pesanku, aku langsung memeluknya erat.
"Selamat — ulang — tahun, Raina." Laura menyerahkan kotak hadiah. Aku menangis bahagia melihat Laura yang begitu baik terhadapku.
Laura menarik tanganku untuk duduk di salah satu meja. Aku menatapnya cemas karena mereka tidak boleh duduk di meja yang disediakan untuk pengunjung.
"Tenang — ajah, gue — udah — bilang — sama — bos," kata Laura.
Aku mengangguk paham, tapi rasanya juga tidak pantas jika ada pengunjung yang melihat ke arah mereka. Laura menyodorkan kotak hadiah di depanku, seolah-olah menyuruhku untuk membukanya.
Aku membuka kotak itu perlahan dan terkesima saat melihat bola kristal salju yang indah. Aku menatap Laura seraya memberi isyarat, "aku sangat menyukainya!"
Ketika kami masih asik memandangi bola kristal salju itu, manager cafe menghampiri kami. Aku langsung berdiri dengan kepala menunduk. Laura mendekatiku memberitahu bahwa manager cafe adalah kakaknya. Namun, dia tidak ingin memberitahuku karena takut aku bersikap sungkan dengannya.
Laura adalah temanku yang paling baik. Baru kali ini aku menemukan orang yang mau berteman tanpa merasa keberatan dengan kekuranganku.
Tiba-tiba saja pria yang kemarin membuat masalah datang ke cafe. Dia menatapku seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Heh, Niko! Lo ngapain disini? Lo bolos?" kata Laura.
"Suka-suka gue! Cafe-cafe gue, kok Lo nyolot?"ujar pria itu yang bernama Niko.
"Bukannya gue nyolot, kalo temen-temen berandalan Lo itu kesini gimana?"
Laura tampaknya mengenal pria ini. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Jelas sekali mereka sangat akrab. Pria tadi duduk di hadapanku seperti tengah mengamati.
"Lo kerja disini? Sejak kapan?" tanya pria itu.
Aku yang tidak tahu apa yang dikatakan pria ini langsung berbalik arah dan pergi. Laura mengikuti-ku meninggalkan pria tadi.
"Dia Niko, anak pemilik cafe ini. Sekaligus sepupu gue," kata Laura dengan bahasa isyaratnya.
"Apa?! Anak pemilik cafe ini?" balasku tanpa mengeluarkan suara sambil menepuk jidat. Jika aku tahu apa yang mereka bicarakan, mungkin aku tidak bersikap seperti tadi.
"Udah — nggak — apa-apa, dia — emang — anaknya — gila. Lo — mending — nggak — usah — kenal — sama — dia." Laura tersenyum padaku.
Aku mengangguk mengerti. Ternyata pria tadi bernama Niko dan bukan pria baik. Pantas saja kemarin dia dikejar. Sebaiknya kedepannya aku tidak bertemu lagi dengannya.
***
Aku mengambil tas untuk segera pulang. Sebelum pergi, aku menghentikan langkah ketika melihat Niko yang duduk di meja sebelumnya.
"Ya Tuhan, dia masih disini dari tadi?" batinku.
Pluk!
"Kenapa?" Laura menepuk bahuku. Aku menggelengkan kepala dan berpamitan untuk pulang lebih dulu karena aku akan mampir ke suatu tempat.
Ketika aku melewati Niko, dia sepertinya berbicara padaku. Tapi, aku tidak ingin berurusan lagi dengannya dan tidak menoleh sedikitpun.
Aku berjalan menyusuri jalan sembari memegang kotak hadiah dari Laura. Tak henti-hentinya aku tersenyum mengingat perlakuan Laura yang begitu baik.
"Terima kasih, Tuhan. Kau sudah mengirim Laura untukku," batinku sambil menengadah.
Kalian bertanya-tanya kemana aku pergi? Aku mengunjungi makam kedua orang tuaku. Aku menceritakan suka dan duka setelah mereka pergi.
Beberapa menit berlalu, aku berencana untuk pulang. Tapi, Niko yang berdiri di depan TPU membuatku terkejut. Tanpa persetujuan dariku, dia langsung menarikku masuk ke dalam mobilnya.
Saat ini yang bisa aku lakukan hanyalah meminta pertolongan Tuhan. Entah kemana Niko membawaku pergi yang jelas ini bukanlah jalan menuju rumah ku. Selama itu juga Niko mengajak berbicara, namun aku yang memang tidak bisa mendengar hanya mengalihkan perhatianku keluar kaca mobil.
"Lo bisu atau tuli?! Gue dari tadi tanya sama Lo!" kata Niko.
Aku yang tidak mengerti dengan perkataannya, lantas keluar dari mobil begitu saja. Niko menahan lenganku dan kembali mengatakan sesuatu yang tidak aku mengerti.
Aku mengambil catatan kecil yang biasa aku bawa dan menuliskan sesuatu disana. Lalu, menunjukkan tulisanku padanya.
Lo ngomong sama orang yang salah. Gue harap Lo bisa ngerti.
Niko mencoba menuliskan sesuatu di buku catatan ku, kemudian menunjukkannya padaku. Aku menatapnya dan menganggukkan kepala. Dia bertanya padaku, apakah aku bisu dan tuli? Terkejutnya aku ketika melihatnya langsung berbalik badan.
Aku: Ada apa?
Niko: Maaf, gue nggak tau kalo Lo tuli dan bisu.
Aku: Gue tau itu.
Aku mengambil buku catatan itu dan melambaikan tangan dirasa percakapan kami cukup sampai disini. Aku memang marah dengan Niko, tapi karena dia tiba-tiba membawaku pergi, bukan karena aku tuli dan bisu.
Hari itu bukanlah menjadi akhir pertemuan kami, melainkan menjadi awal cerita kami. Semenjak hari itu, Niko sering kali mengunjungi cafe. Bahkan dia pernah membolos hanya untuk mengobrol denganku. Tapi, aku selalu menyuruhnya untuk terus mengikuti kelas dan jangan membuat masalah.
Laura pernah mengatakan kalau Niko menyukaiku. Lucu rasanya, apa yang Niko sukai dariku? Aku hanyalah gadis yang tidak bisa apa-apa selain bergerak dan melihat.
Tak jarang Niko mengantarku pulang selesai bekerja. Sekarang dia juga mengantarku pulang. Tapi, ini bukanlah jalan menuju rumahku. Aku menatap Niko dengan pandangan penuh tanya.
"Gue - mau - bawa - lo - ke - suatu - tempat," kata Niko.
Aku tidak tahu kemana Niko membawaku pergi. Ternyata Niko membawaku ke rumahnya. Jantungku langsung berdetak lebih cepat. Aku belum siap jika harus bertemu dengan kedua orang tuanya.
Aku menggelengkan kepala saat Niko mengajakku masuk. Memang dasar Niko selalu melakukan apapun sesuka hati, dia langsung menarikku untuk masuk ke dalam rumahnya yang mewah.
Aku melihat wanita paru baya yang menghampiri kami. Wanita itu tersenyum padaku dan berkata dengan bahasa isyarat.
"Kamu Raina?" tanyanya. Aku mengangguk dan terheran-heran melihat Ibu Niko yang bisa bahasa isyarat.
"Kamu cantik sekali," ujarnya lagi.
"Terima kasih, Tante."
Niko memperhatikan kami dengan bingung karena dia tidak tidak mengerti bahasa isyarat. Selesai percakapan singkat itu, Niko membawaku ke suatu ruangan yang penuh dengan musik.
Mataku berbinar saat melihat piano, dengan berlari kecil aku mendekatinya. Menyentuh tuts yang mungkin saja menghasilkan nada indah. Aku tersenyum miris karena impianku sebagai pianis tidak mungkin bisa terwujud.
Niko menyuruhku untuk duduk di depan piano bersamanya. Tangannya menari-nari menekan tuts yang entah seperti apa bunyinya. Kemudian, Niko menyuruhku untuk memainkan musik yang dia main sebelumnya, tentunya dengan dibantu Niko.
"Lo - udah - hafal - musiknya?" tanya Niko.
"Belum terlalu," isyaratku.
"Tunggu - disini." Niko pergi meninggalkanku. Selama Niko pergi, aku kembali memainkan piano seperti yang diajarkan Niko.
Tak berselang lama, Niko kembali dengan kotak di tangannya. Dia membawaku duduk di sebuah kursi sambil menyerahkan kotak tadi. Setelah aku membukanya, aku sangat senang dengan isi dari kotak itu. Niko memasangkan alat BTE (Behind The Ear) pada telingaku.
"Sekarang Lo bisa denger gue, kan?" kata Niko.
Aku mengangguk bahagia dan refleks memeluknya. Tersadar dengan apa yang aku lakukan, aku segera melepaskan pelukanku. Tapi, Niko malah mengeratkan pelukannya.
"Raina, Lo bisa denger lagi. Lo pasti mau tau musik apa yang gue ajarin, kan?" tanya Niko.
Niko mempersilakan aku untuk bermain pianonya lagi. Kali ini aku benar-benar senang karena ternyata musik ini sangatlah indah. Aku menatap Niko dan dia menganggukkan kepalanya.
"Gue janji bakalan ngelatih Lo supaya jadi pianis terkenal! Lo mau, kan?" tanya Niko.
"Beneran?" kataku.
"Iya, dong. Mulai besok gue bakalan jemput Lo sepulang kuliah dan kita main piano bareng, gimana?"
Aku pernah mengatakan pada Niko kalau aku ingin menjadi seorang pianis. Tanpa aku sadari, ternyata Niko mengabulkan impianku.
Seperti yang Niko katakan, dia selalu menjemputku setelah kuliah. Kami bermain piano setiap hari dan sudah banyak musik yang aku ketahui. Aku juga baru tau kalau sebenarnya Niko adalah mahasiswa jurusan musik.
Hari-hari terus berlalu seperti ini, aku semakin banyak mengetahui tentang musik dan juga sifat Niko. Sayangnya, jika aku perhatikan tentang Niko. Semakin hari justru wajahnya terlihat semakin pucat. Aku pernah bertanya apakah dia baik-baik saja, namun dia tidak menjawabnya dan malah asik bermain gitarnya.
Sore ini aku belum melihat Niko. Biasanya dia sudah sampai sebelum aku selesai bekerja. Aku duduk di depan cafe menunggu kedatangan Niko.
"Rain, Niko belum dateng?" tanya Laura.
Aku menggelengkan kepala, lalu mengecek ponsel berharap Niko membalas pesannya. Tapi, setengah jam sudah berlalu dan Niko belum juga datang menjemput. Laura dengan sabar menemaniku walaupun aku sudah menyuruhnya untuk pulang lebih dulu.
"Kemana sih dia? Gue telpon ajah tumben-tumbennya nggak diangkat." Laura tampak kesal karena Niko seperti hilang ditelan bumi.
"Oh iya, gue baru inget. Besok Lo ada audisi dan Niko udah daftarin Lo," kata Laura. Mataku terbelalak mendengar perkataannya. Niko tidak mengatakan apapun padaku sejak kemarin.
"Gue? Niko nggak bilang apapun sama gue," isyaratku.
"Heuh, gue juga gatau. Eh?" Ponsel Laura berdering ternyata itu panggilan dari Ibunya Niko.
"Apa? Dimana, Tan? Laura kesana sekarang." Laura nampaknya sangat cemas mendapat telpon dari Ibunya Niko.
"Niko harus operasi sekarang juga dan gue perlu ke rumah sakit, maafin gue. Gue lupa ngasih tau ke Lo kalo Niko punya tumor di otaknya."
Aku menutup mulutku tidak percaya, bagaimana Niko yang aktif dan ceria memiliki riwayat penyakit mematikan seperti itu. Aku meminta ikut dengan Laura.
Setibanya di rumah sakit, kami menunggu diluar ruangan. Kedua orang tua Niko terlihat sangat sedih. Aku menghampiri Ibu Niko dan memeluknya erat.
Aku hanya bisa menangis dan berdoa dalam hati untuk keselamatan Niko. Hatiku sakit, sangat sakit mendengar Niko terbaring lemah. Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi untuk kedua kalinya.
Niko sudah memberiku kehidupan yang lebih baik dan selalu menopangku dengan kebahagiaan. Sedangkan aku sendiri tidak bisa membalaskan jasanya. Tunggu, Niko sudah mendaftarkan ku untuk mengikuti audisi. Ini adalah caraku untuk membayar semua kerja keras Niko selama ini.
Satu Minggu berlalu, aku sudah memenangkan audisi, meskipun bukan di peringkat pertama. Sekarang aku sudah terkenal berkat bantuan Niko. Laura dan kedua orang tua Niko senantiasa membantuku. Mereka tetap melihat audisiku langsung meski harus meninggalkan Niko sejenak yang belum sadarkan diri setelah operasi.
Disinilah aku, duduk di samping Niko dan menggenggam tangannya. Mengajaknya bicara seolah-olah ada ikatan batin antara kami.
Gerak tangan Niko membuatku terkejut sekaligus senang. Perlahan Niko membuka matanya dan menatap kami satu per satu, setelah itu dia menatapku lama.
"Sorry," bisiknya.
Aku memeluknya dengan erat menghilangkan rasa rindu akan suaranya. Tuhan mengabulkan doaku dan mengembalikkan kebahagiaanku sebelumnya.
"Raina, I love you." Niko tersenyum saat mengatakan itu yang berakhir mencium tanganku.