"Cinduuuuuyyyyy.... cinduuuuyyyyyy.." Seorang ibu yang berpenampilan seperti nyonya memanggil anak tirinya.
"Iya nyonya.. ini teh dan sandwich nya." Cinduy menghampiri sambil membawa nampan pesanannya.
"Cinduuuuuyyyy... mana baju seragam gue.." Kakak tirinya yang kurus bernama Loly terus berteriak hingga membuat telinga Cinduy berdengung dengan suara cemprengnya.
"Tunggu sebentar..!!" Ciduy berlari menuju tempat setrika dan mengambil seragam milik Loly.
"Dasar lambat.. cepet tata rambut gue nih." Loly memberikan sisir pada Ciduy dengan cara dilempar hingga ke wajahnya.
Dengan sabar Cinduy menata rambut kakak tirinya. Namun baru saja selesai, sudah ada yang berteriak lagi meminta sesuatu dan kali ini adalah Moly.
"Cinduuuyyy.. Mana pizza sama burger gue." Moly yang hobinya makan terus selalu meminta banyak makanan dari pagi sampai malam.
Cinduy berlari ke dapur dan mengambil pizza dan burger untuk kakak tirinya. Ia selalu menelan ludah ketika melihat Moly makan dengan sangat lahap namun tak pernah membaginya. Ia selalu makan makanan kampung seperti tempe dan nasi putih.
Cinduy adalah seorang gadis manis berparas cantik yang tak punya orang tua. Ibunya meninggal ketika ia berusia sembilan tahun dan ayahnya menikah lagi dengan wanita pilihannya. Namun nasib buruk menimpanya ketika ayahnya meninggal karena sebuah kecelakaan. Dan kini ia yatim piatu. Ibu tirinya tak pernah menyayanginya dan malah memperlakukannya seperti pembantu. Cinduy juga tak punya teman. Ia hanya menganggap tikus dan kecoa yang ada dikamarnya sebagai teman. Juga kucing, kadal dan burung merpati yang selalu menemaninya bermain di belakang rumah.
Suatu hari, Cinduy mencuci baju di belakang rumah. Namun ketika ia selesai dan akan menjemur, baju seragam sekolahnya diambil Loly dan dibuang kedalam sumur.
"Kakak.. jangan seperti itu lah.. kakak jahat.." Cinduy meratapi seragam sekolah cadangan yang ia punya kini telah jatuh kedalam sumur.
"Apa? Terserah gue lah. Lu itu cuma pembantu disini, gak lebih!" Loly lalu menendang ember berisi cucian hingga semua pakaian yang sudah bersih kini kembali kotor.
Disaat Cinduy mencuci kembali, ia mendengar suara minta tolong. Ia menengok ke kanan dan kekiri namun tak ada orang disana.
"Kok serem ya..apa ada hantu.." Cinduy mempercepat pekerjaannya karena takut mengingat sumur itu tadinya sumur keramat yang airnya tak oernah habis selama beratus-ratus tahun.
"Hey.. kamu.. tolong..." teriak seorang pemuda yang terhimpit sepeda motor di jalan belakang rumahnya.
Akhirnya Cinduy menolong pemuda itu dan ia merasa lega karena itu bukan hantu.
"Maaf ya aku pikir tadi hantu yang minta tolong." Cinduy tersenyum
"Masa siang bolong begini ada hantu... makasih ya udah nolongin. Aku Derek." Pemuda itu menjulurkan tangannya.
"Aku Cinduy.." dengan bibir tersenyum, Cinduy menjabat tangan Derek dan mereka saling pandang seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Tersadar pekerjaannya belum selesai, Cinduy permisi masuk lagi karena ada suatu pekerjaan.
Derek sebenarnya adalah seorang pangeran yang kabur karena tak mau dijodohkan dengan wanita pilihan ayahnya. Parasnya tampan dan ia juga ramah pada setiap orang. Namun ia menyembunyikan identitasnya dengan menyamar menjadi siswa biasa.
Hari semakin siang dan Cinduy berangkat sekolah menggunakan sepeda karena takut terlambat. Dan benar saja, ia terlambat bersamaandengan Derek yang baru sampai didepan gerbang.
"Ya ampun.. kesiangan lagi.. huhuhu.. " Cinduy menunduk lesu.
"Hey, kita ketemu lagi." Derek senyum ke arahnya.
"Pak satpam, tolong bukain pak.." Cinduy memohon agar gerbangnya dibuka. Akhirnya gerbang telah dibuka, namun mereka harus menerima hukuman membersihkan toilet sebelum pulang sekolah.
Sebenarnya Cinduy adalah siswi yang cerdas dikelas dan ia juga sering mendapat piala. Namun kekurangannya ia sering terlambat datang ke sekolah.
Sepulang sekolah, semua siswi berkerumun membicarakan pesta dansa yang digelar di kerajaan. Banyak yang ingin datang namun sedikit yang mendapatkan undangan.
"Cinduy, kamu mau dateng gak ke pesta nanti?" Derek bertanya sambil menggosok wc.
"Gak diundang ah.. ngapain juga aku kesana. aku gak punya baju." Cinduy menjawab sambil terus menggosok wc dengan semangat agar cepat selesai.
Setelah keduanya selesai, mereka pulang. Dijalan, Derek terus memikirkan Cinduy hingga ia melamun dan tak sadar dihadapannya ada penjual ayam kampung. Derek yang tersadar lalu berteriak dan.. jeuderrrr.. Semua ayam lepas dan pemiliknya terluka.
"Dasar pemuda sialan. Ganti rugi sekarang juga!" pedagang itu menarik kerah baju Derek.
"Oke oke.. saya ganti rugi. bapak minta berapa." Derek yang tanggung jawab bersedia ganti rugi. Alhasil, pedagang itu melepaskannya dan meminta uang sepuluh juta. Derek yang kaya raya membuka tasnya dan mengeluarkan uang lima belas juta.
Pedagang itu kegirangan bukan main dan Derek hanya tersenyum melihatnya. Derek akhirnya melanjutkan perjalanan pulang ke istana. Ia berharap bisa mengenalkn gadis pilihannya pada ayahnya.
"Akhirnya kau pulang juga nak." Raja memeluk Derek dan melepas rindu.
"Ayah, aku akan hadir di pesta dengan syarat aku akan memilih pasanganku sendiri." Derek berlalu meninggalkan ayahnya didepan pintu masuk.
Keesokan harinya, Derek berangkat sangat pagi sekali dengan membawa undangan pesta untuk Cinduy. Ia juga berharap Cinduy akan datang di pestanya. Dengan motor yang sama, ia mengendara laju menuju rumah Cinduy dan benar saja, Cinduy masih mencuci seperti biasa.
"Cinduy.. ssssttt Cinduy.. " Derek memanggil Cinduy yang asyik mencuci.
"Aku? ada apa sih kamu kesini. Nanti ibu tiriku marah." Cinduy memasang wajah cemberut.
"Nih. Datang ya." Derek memberi undangan pesta lalu pergi.
Cinduy yang senang menyembunyikan surat undangan itu dibalik bajunya karena takut ketahuan ibu tirinya.
Malam pun tiba. Loly dan Moly sudah membeli baju untuk ke pesta dan meminta Cinduy memasangkan pernak pernik serta merias juga menata rambut mereka. Ibu tirinya mengantar keduanya ke pesta dansa dan berharap salah satu anaknya bisa berdansa dengan pangeran.
Cinduy yang tak punya baju hanya terdiam duduk di meja rias usang di kamarnya. Lalu ia melihat kotak musik yang sedikit berdebu dan mengambilnya. Ia berharap bisa ikut menghadiri pesta dansa. Dan ketika ia memutarnya, seberkas cahaya keluar dan berubah menjadi ibu peri.
"Hallo.. sayangku.." ibu peri itu menyapanya sambil memberi hormat.
"Apa aku bermimpi?" Cinduy melongo dan merasa bahwa ia sedang bermimpi.
"Tidak anakku.. tampaknya kau sedang bersedih.. ada apa?" ibu peri iba dan meminta Cinduy bercerita.
"Sebenarnya aku ingin sekali ikut pesta dansa. Tapi ibu tiriku tidak memberiku baju bagus. Dan melarangku ikut." Cinduy tertunduk sedih.
"Baiklah aku akan membantumu." Ibu peri menggoyangkan tongkatnya.
"Benarkah.." Cinduy sangat senang sampai ia meloncat.
"Tapi kau harus mencarikanku labu yang besar, dua tikus dan satu kucing." pinta ibu peri.
Akhirnya Cinduy mengambil labu di dapur dan mengajak tikus serta kucing temannya ke hafapan ibu peri. Dan seketika semuanya berubah menjadi kereta berkuda. Serta baju lusuh Cinduy yang berubah menjadi gaun biru yang cantik.
"Woah.. indah sekali. Tapi ada yang kurang." ia mengangkat gaunnya dan menunjukkan sandal jepitnya.
Dengan satu sentuhan, sandal jepit itu berubah menjadi sepatu kaca.