Aku sudah terbiasa dengan nilai yang harus tinggi dari yang lain dan peringkat kelas.
Belajar dengan keras sudah menjadi teman baik diriku.
Aku seorang perfeksionis yang tidak bisa dikatakan begitu juga.
Aku sering merasa stress bahkan depresi karena tuntutan kedua orang tua ku dirumah.
Mereka selalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Ayah yang selalu pulang malam dari kantor. Ibu, lebih mementingkan butiknya daripada aku.
Kejadian ini sudah aku rasakan sejak usiaku tujuh tahun, Ibu percaya bahwa aku sudah bisa mandiri.
Karena kepercayaan itu aku terpaksa untuk hidup lebih dewasa diusia itu.
Aku jarang dirumah, aku ingin bermain dengan teman-teman.
Pernah aku gagal dalam ujian, padahal nilainya bekrurang satu angka dari semester sebelumnya yaitu sembilan puluh delapan menjadi sembilan puluh tujuh.
Tubuhku tidak lagi bersih, banyak bekas luka disana.
Banyak hal hal lain yang membuat kedua orang tuaku seperti itu kepadaku.
Kini Aku sudah berada dikelas dua sekolah menengah atas.
Sejujurnya sejak aku Sekolah Menengah Pertama tidak memiliki teman, hingga sekarang pun hanya dua orang saja.
Hari ini pembagian raport ujian tengah semester, aku mendapatkan peringkat dua dari tiga puluh enam orang dikelas.
Aku ragu untuk pulang, rasanya enggan dan penuh rasa takut.
Tidak masalah, aku terbiasa.
Ketika aku tiba dirumah memarkirkan motorku dibagasi.
Ayah dan Ibu sudah menunggu didepan pintu.
"Dapat berapa?" tanya Ayah penuh tekanan.
Aku menyerahkan selembar kertas tersebut.
Ketika Ayah melihatnya, lembar an itu sudah tidak utuh lagi.
Aku menahan tangisan yang sudah berkumpul dipelupuk mataku.
Aku tertunduk.
"TIDAK BISAKAH KAU PERTAHANKAN NILAIMU?! " Ayah berteriak frustasi.
Ibu menginjak robekan kertas didepanku.
"Belajar dari kakakmu, dia saja bisa masuk Universitas bergengsi di German dan mendapatkan beasiswa penuh" ucap Ibu meninggalkan Aku.
Aku menangis kesakitan, badanku sudah memar.
Bekas dua minggu lalu saja belum hilang, hari ini bertambah lagi banyaknya.
Aku berusaha berdiri, menggapai dinding.
Aku berjalan dengan tangan didinding, hanya ini yang bisa membuatku bisa keluar menuju kamar.
Ku lihat Kakak ku sedang menangis melihat ke arahku.
Aku menggeleng dan tersenyum, aku tidak ingin dia mendekati Aku hingga membuat Ayah marah.
Aku masuk kedalam kamar.
Diatas meja belajar sudah terdapat kotak obat.
"Terima kasih Kak Leona"
Nama Ku Alea, anak bungsu dirumah ini.
Kak Leona sudah memasuki semester enam kuliahnya. Ibu dan ayahku semakin bangga karena itu.
Aku mengambil kunci didalam tasku, membuka satu laci paling bawah.
Aku mengambil beberapa obat-obatan, hal ini sudah aku lakukan sejak sekolah dasar.
Aku datang menemui dokter dan meminta obat pereda nyeri, obat tidur, pusing, mimisan dan masih banyak lagi .
Aku tidak disarankan untuk mengkonsumsinya sekaligus.
Tapi karena rasa nyeri ditubuh ku lebih berat, aku memilih meminum semuanya. Lalu, aku bisa tertidur.
Begitu kehidupanku selama ini, mereka tidak tahu dan tidak pernah tahu.
Saat sekolah menengah pertama, aku mendapatkan hal hal buruk sejak SMP. Tubuhku sudah tidak lagi sehat karena terlalu sering mengkonsumsi obat.
Terkadang, Aku disuruh berdiam diri didalam toilet hingga berhari-hari.
Guru pun tidak ingin ikut campur, mereka terlalu percaya akan kata-kata ayah. Bahwa, meskipun aku terluka dan menangis jangan dibantu atau sekolah ini akan diruntuhkan.
Ayahku pemilik sekolah tersebut.
Sayangnya, mereka sama sekali tidak mengetahui Aku menjadi korban kekerasan. Dirumah dan diluar rumah.
Kak Leona memilih diam, dia pun tidak berani menghadapi Ayah.
Aku tidak memiliki tempat untuk bercerita, aku bagaikan robot yang siap di nonaktifkan setiap waktu, dan aku bak gunung berapi yang siap meledak kapan saja.
Aku tidak marah kepada Tuhan,
Aku hanya marah kepada diriku yang tidak mampu menghentikan meminum obat-obatan ini.
Aku marah pada diriku yang selalu menangis, harusnya aku lebih kuat lagi.
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan terus berusaha menjadi kuat dan kuat hingga akhirnya kekuatannya ku sudah tidak bisa lagi dikerahkan.