Zara yang dipertemukan dengan saudari kembarnya (Zora) dan juga ibu kandungnya. Iya merasa menjadi orang yang paling bahagia. Karena Ibu kandungnya, yaitu mama Zahra yang dikatakan telah meninggal saat ia masih bayi oleh Ayah kandungnya, ternyata masih hidup. Bahkan ia terkejut saat mengetahui jika Zara memiliki saudari kembar bernama Zora.
Mama Zahra meminta Zara agar ia mau ikut tinggal bersama dengannya, karena mama Zahra berpikir bahwa Ayahnya Zara alias mantan suaminya itu bukanlah ayah yang baik untuk Zara.
Zara sebenarnya sangat senang, tapi ia tidak bisa meninggalkan ayahnya. Karena meski bagaimana pun, Zara sejak kecil tumbuh besar bersama ayahnya. Zara sangat menyayangi ayahnya karena saat kecil, sebelum ayahnya menikah kembali dan akhirnya Zara memiliki ibu dan saudara tiri. Ayah Zara adalah sosok ayah yang baik dan sayang pada Zara.
Zara sangat ingin membahagiakan ayahnya suatu saat nanti, mungkin dengan begitu Zara akan mendapatkan kembali kasih sayang dari ayahnya seperti saat kecil dulu.
Waktu sudah berlalu selama 3 tahun setelah pertemuan Zara bersama Zora. Zora juga sudah bertemu dengan ayah kandungnya namun tidak bisa dipungkiri Zora yang membenci ayah kandungnya selalu bersikap dingin jika bertemu.
Lalu ibu tiri Zara dan Rio yang awalnya terkejut oleh kemunculan Zora. Kini sudah terbiasa dengan kedatangan Zora kerumah yang hendak menemui Zara sekedar untuk mengajak Zara jalan-jalan. Hubungan Zora bersama merekapun terbilang tidak baik, mengingat perlakuan mereka terhadap Zara dulu sangatlah tidak baik.
***
"Ayo Zara kita berangkat sekarang." ajak Zora yang tidak betah berlama-lama diam dirumah Zara.
"Iya sebentar Zora aku pamit dulu sama ayah ya." ujar Zara tersenyum kecil lalu masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian Zara keluar dari rumah dan ternyata Ayahnya pun ikut menyusul keluar rumah. Ayah Zara terlihat tidak sehat, terlihat dari wajahnya yang sedikit pucat.
"Kami pergi dulu ya yah." Zara mencium tangan Ayahnya.
"Iya kalian hati-hati ya di perjalanan, uhuk! Semoga jalan-jalan kalian menyenangkan." ucap Ayahnya sambil tersenyum kecil.
Sebelum pergi Zora mencium tangan ayahnya tanpa tersenyum juga tidak mengatakan sepatah kata apapun. Kemudian ia segera masuk ke dalam mobil. Zara pun memyusul Zora masuk ke dalam mobil, dan mereka pun berlalu dari pandangan ayahnya.
"Sepertinya Zora amat sangat membenciku, tapi itu memang wajar. Aku memang bukanlah ayah yang baik untuk kalian. Sejujurnya ayah menyesali perbuatan ayah pada ibu kalian yang dulu tidak bisa membahagiakannya, hingga ia ingin bercerai dan meninggalkanku."
"Tapi aku bersyukur kini Zara bisa hidup lebih baik, karena Zahra (ibu kandung Zara) mau menguliahkan Zara. Dia juga selalu memenuhi kebutuhan materi Zara. Walaupun Zara menolak untuk tinggal bersama Zahra. Kamu sungguh beruntung Zahra, bisa mendapatkan suami yang sangat baik dan bisa membahagiakanmu dan juga Zora. Tidak seperti aku yang justru menikah dengan istri yang hanya mementingkan kebutuhan dirinya dan anak kandungnya saja." ucap Ayah Zara dalam batinnya.
***
"Ayah sedang sakit?" tanya Zora saat masih dalam perjalanan menuju mall.
"Iya, Sudah 3 hari ini ayah tidak enak badan. Mungkin kecapaian karena sering lembur. Ayah harus lebih giat bekerja untuk membiayai kuliahnya Rio. Ibu tiriku selalu ngomel jika ayah memberinya gaji yang kecil." jelas Zara sedih.
"Itu salah ayah sendiri kenapa mau menikah dengan wanita ular seperti itu?!" ujar Zora jengkel.
"Hmm... aku juga tidak mengerti kenapa dulu ayah mau menikahi ibu tiriku itu? Padahal sudah jelas dia bukanlah wanita yang baik."
"Paling juga wanita itu menggoda ayah, hingga ayah tertipu dengan akal bulusnya. Tapi sepertinya wanita itu juga tertipu dengan wajah tampannya Ayah. iya berpikir wajah tampan bisa membahagiakan hidupnya, ternyata kenyataannya nihil." Zora tersenyum kecut.
"Mungkin saja." Respon Zara. "Sebenarnya dulu sebelum ayah menikah kembali, waktu aku masih duduk di kelas 2 sd. Kehidupanku dan ayah sangat baik walaupun kami hidup dengan sederhana tapi kami bahagia menjalani hari-hari saat itu. Aku pikir ayah juga sangat menyesali keputusannya, karena aku sering melihat ayah merenung seorang diri."
Zora terdiam mendengar hal itu.
"Oleh karena itu Zora, kamu jangan membenci ayah ya. Aku tahu kamu sangat membenci ayah kan, aku melihat dari sikap dinginmu jika bertemu dengan ayah." mohon Zara.
Zora menghela nafas sejenak, "Iya maafkan aku Zara, aku hanya butuh waktu. tolong kamu mengerti aku ya. Mungkin suatu saat aku bisa memaafkan ayah. Dan saat itu tiba aku berjanji padamu, aku akan bersikap lebih baik pada ayah."
Zara tersenyum senang, "Makasih ya..."
Zora mengangguk dan membalas senyuman Zara sambil menyetir.
"Sebentar lagi kita akan sampai di mall tujuan kita."
"Memang ada sesuatu yang akan kamu beli Zora. Aku pikir kamu sudah banyak memiliki barang pribadi?" tanya Zara heran.
"Iya kali ini berbeda, aku harus mencari pakaian baru untuk aku tampil di audisi nanti. Aku pernah cerita kan jika aku akan ikut audisi untuk menjadi penyanyi terkenal, di salah satu program tv nasional." jelas Zora.
"Ah iya aku ingat, jadi sudah waktunya ya. Semoga kamu berhasil lolos audisi ya dan menjadi penyanyi terkenal seperti apa yang kamu cita-citakan."
"Iya thanks Zara"
Setelah sampai di mall, mereka pun lansung pergi mencari apa yang Zora butuhkan. Zora juga membelikan Zara beberapa pakaian baru untuk Zara. Walaupun Zara sudah menolaknya, Zora yang cukup keras kepala berhasil membujuk Zara.
Setelah berhasil mendapatkan apa yang Zora butuhkan, Zora mengajak Zara untuk makan siang sejenak. Karena perutnya sangat lapar setelah berkeliling cukup lama di mall.
Zara memperhatikan Zora yang senyum-senyum sendiri memandang layar hp nya. Di sela makan siang mereka.
"Zora, tidak baik lho kamu menganggurkan makanan yang ada di depan kamu itu." ujar Zara.
"Ups! sory hehe. Tadi lagi asik chatingan dengan Putra jadi lupa deh."
"Oh gitu, pantesan. Tidak menyangka ya hubungan kalian akan bertahan lama hingga saat ini." ujar Zara tersenyum kecil.
"Iya aku juga tidak menyangka, padahal sebelumnya aku hanya bisa bertahan lama pacaran itu hanya beberapa bulan saja. Putra itu sangat spesial untukku, dia berbeda dengan mantan-mantanku sebelumnya. Dia cowok yang sangat romantis dan gak ngebosenin. Dia sudah membuatku jatuh cinta hingga saat ini." jelas Zora seraya tersenyum senang.
Zara yang melihat itu pun ikut tersenyum, "Aku ikut senang mendengarnya."
"Kamu gak cemburu padaku kan Zara?" tanya Zora tiba-tiba.
"Emm?! kenapa harus cemburu?" tanya Zara.
"Ya karena kamu kan lebih dulu mengenal Putra daripada aku, kalian juga teman dekat sejak kecil."
Zara tertawa kecil, "Aku dan Putra memang teman sejak kecil, tapi gak ada perasaan khusus diantara aku dan Putra. Kami sekarang hanya berteman baik walaupun pernah renggang saat SMA dulu."
"Syukurlah. Oh ya bagaimana dengan Randi? Aku dengar dari Putra, Randi masih suka mendekati kamu." tanya Zora.
"Begitulah, dia itu masih sering mengganggu aku. Tapi bukan membuli, dia lebih suka cari perhatian. Apalagi aku dan dia satu jurusan di kampus. Karena dia sering berada di dekatku, semua teman di kampus mengira jika kami itu pacaran."
"Lalu kenapa kalian gak pacaran aja, Randi sudah pernah menyatakan perasaannya sama kamu kan?"
"Itu memang benar, tapi aku ingin fokus kuliah untuk saat ini. Aku ingin lulus kuliah agar aku bisa menggapai cita-citaku untuk menjadi seorang dokter. Jadi aku belum bisa menjawab perasaan Randi padaku."
"Belum bisa menjawab? itu berarti kamu juga sebenarnya suka sama Randi hanya belum bisa pacaran, begitu kan?"
Zara terkejut dengan pertanyaan Zora, "Entahlah, aku masih bingung. Aku sendiri masih gak percaya Randi menyukaiku. Kamu tahu kan Randi saat SMA sering membuliku bersama Rio."
Zora tertawa kecil, "Ya tentu saja, aku kan sering melaporkan kenakalan mereka pada kesiswaan. Waktu aku berperan menggantikan kamu yang saat itu koma."
Zara ikut tertawa kecil.
Zora masih bercerita, "Tapi Randi memang pernah mengatakan padaku jika dia menyukaimu sejak di SMA. Dia hanya salah cara untuk mendapatkan perhatianmu saja. Kini Randi sudah semakin dewasa, dia pasti sudah mengerti bagaimana caranya memberi perhatian pada gadis yang dia suka. Seperti sekarang ini, dia terus berada di dekatmu karena dia ingin melindungi dan menjaga kamu."
Mendengar hal itu hati Zara berdebar dan membuat dia teringat pada perhatian-perhatian Randi selama ini di kampus.
"Mereka datang juga akhirnya!" seru Zora, membuat Zara tersadar dari lamunannya.
Zora melambaikan tangannya pada seseorang. Zara ikut menoleh ke arah Zora memandang. Ia terkejut saat melihat Randi yang datang bersama Putra. Seketika itu juga dada Zara berdebar saat melihat Randi berjalan sambil tersenyum kearahnya. Randi terlihat sangat tampan hari ini.
Deg!...Deg!...Deg!
"Ini ada apa sebenarnya?" tanya Zara tidak mengerti.
"Aku meminta Putra dan Randi datang kesini. Aku ingin menonton film di bioskop. Tapi akan lebih seru jika menonton dengan lebih banyak teman kan." jawab Zora sambil tersenyum kecil.
Zara sebenarnya tidak siap untuk bertemu dengan Randi tapi mau tidak mau ia harus siap karena Randi sudah berada di hadapannya.
"Hai ra...Kamu.. cantik sekali hari ini." bisik Randi di telinga Zara, membuat Zara terkejut dan tersipu malu.
Zora dan Putra yang melihat itu tersenyum geli melihat tingkah Randi yang membuat Zara tersipu malu.
***
Setelah selesai menonton, Zara pulang bersama Randi. Karena Zora masih akan melanjutkan kencan berdua bersama Putra.
"Kamu beneran mau langsung pulang ra?" tanya Randi sambil fokus menyetir.
"Iya, memang mau kemana lagi? lagian aku gak bisa lama keluar rumah, aku harus merawat ayah."
"Ayah kamu memang kenapa?"
"Ayah sedang sakit, karena kecapean bekerja."
"Begitu, sudah dibawa kerumah sakit?" tanya Randi.
Zara menggeleng, "Ibu tiriku tidak mengijinkan ayah kerumah sakit karena akan mengeluarkan biaya yang sangat besar. Oleh karena itu aku yang merawat ayah sendiri. Aku membelikan ayah obat di apotek sesuai resep yang aku pelajari saja di kampus."
"Aku bawa ayah kamu ke rumah sakit ya."
"Tidak Randi, aku tidak mau merepotkan orang lain."
"Tapi aku bukan orang lain kan, aku orang yang peduli padamu." Randi terdian sejenak. "Tidak, lebih tepatnya orang yang mencintai kamu."
Mendengar hal itu dada Zara berdebar kembali.
"Thanks... Ran. Maafkan aku ya karena aku belum bisa menjawab perasaan kamu."
Randi tersenyum, "Its Ok! Aku ngerti, ak akan sabar menunggu ko."
Sesampainya dirumah Zara, Randi pun langsung membawa Ayah Zara pergi ke rumah sakit bersama Zara.
***
Waktu saat audisi Zora menjadi penyanyi terkenal pun tiba. Tapi tak disangka ternyata salah satu saingannya saat itu adalah Susan. Gadis yang dulu pernah satu sekolah dengan Zara dan suka membuli Zara sebelum Zora datang dan berperan menjadi Zara.
"Ups! Siapa ini? Zara kah?" sapa Susan dengan angkuh.
"Sayang sekali aku bukan Zara tapi Zora." jawab Zora tegas.
"Ah gitu, jadi aku bertemu kembali dengan kembaran Zara yang dulu pernah menipu kami semua saat di SMA."
"Jadi.. kamu salah satu peserta audisi juga, tidak kusangka orang seperti kamu pintar bernyanyi juga."
Susan tampak kesal, "Apa maksud ucapanmu?"
"Tidak... hanya aku pikir orang seperti kamu yang suka melabrak dan membuli orang lain itu lebih cocok jadi preman daripada penyanyi." ucap Zora.
"Apa?" Susan hendak melayangkan tangannya untuk menampar Zora, tapi dia urungkan mengingat mereka sedang berada di tempat audisi.
"Awas saja ya, aku akan membuat kamu menyesal karena berani mengataiku." Susan pun pergi meninggalkan Zora.
Zora hanya geleng-geleng kepala dan mengelus dadanya, menahan emosi.
Beberapa saat kemudian Zara, Randi, putra, bersama kedua orang tua Zora yang datang untuk menonton dan mendukung Zora pun tiba. Acara sudah hampir dimulai.
"Aku pergi menemui Zora dulu ya di belakang panggung. Kalian tunggu di kursi penonton saja." ujar Putra.
"Ok!" jawab Zara dan Randi berbarengan.
"Kompak sekali..." kata Putra sambil tersenyum, lalu beranjak pergi.
Zara dan Randi saling bertatapan sebentar. Hal itu membuat mama Zahra ikut tersenyum, karena Mama Zahra mengetahui tentang kedekatan Zara dan Randi dari Zora. Walaupun mereka belum menjalin hubungan yang serius.
"Kita duduk disini aja ya." kata mama Zahra.
"Iya mah..." respon Zara.
Setelah menunggu beberapa saat kemudian, Putra pun kembali dan menghampiri kursi dimana Zara dan yang lainnya duduk.
"Gawat..." ujar Putra.
"Apa yang gawat putra?" tanya Mama Zahra.
"Zora tidak ada di belakang panggung tante, tadi juga panitia mencarinya. Aku sudah menghubungi no hp Zora, tapi Nomornya tidak aktif." jelas Putra.
"Apa?" Zara dan mamanya terkejut.
"Bagaimana ini pah? Ini kan audisi yang sangat penting untuk Zora. Mama khawatir terjadi sesuatu pada Zora."
"Mama tenang ya, papa akan berusaha mencari Zora. Mungkin Zora sedang ke toilet."
"Ayo Put, kita berpencar mencari Zora lagi." ajak Papa tiri Zora pada Putra.
"Baik om!"
"Aku akan bantu mencari juga." ujar Randi beranjak berdiri.
Mereka semua pun pergi, sementara Zara duduk menemani mamanya yang merasa cemas.
"Zora pasti baik-baik saja, mama tenang ya." ujar Zara. Dalam hatinya Zara merasa tidak tenang, Zara merasakan perasaan tidak nyaman saat memikirkan Zora.
***
"Dan kita panggilkan Zora! untuk tampil menghibur kita di panggung ini." seru sang host saat acara sudah berlangsung selama 1 jam. Dan tiba giliran Zora untuk tampil setelah penampilan Susan.
Saat itu juga Susan yang berpas-pasan dengan Zora terkejut melihat Zora yang berjalan menuju panggung.
"Bagaimana mungkin, bukankah aku sudah menyuruh Rio untuk menyekap Zora?!" ujar batin Susan. Setelah berada di belakang panggung Susan mencari tempat sepi untuk menelpon Rio.
"Rio! Apa Zora kabur?" tanya Susan setengah berbisik. "Apa pintu gudangnya masih terkunci? lalu siapa yang...." Susan teringat bahwa Zora dan Zara itu kembar. Ia memutuskan panggilannya.
"Jadi yang sekarang berada di panggung adalah Zara. Lagi-lagi mereka bertukar peran. Memangnya Zara bisa bernyanyi?"
Susan memerhatikan dari layar yang berada di belakang panggung. Zara mulai bernyanyi dan ternyata Zara mempunyai bakat bernyanyi. Suaranya sangat merdu. Susan terbelalak menonton penampilan Zara dari balik layar.
Semua penonton memberi tepuk tangan meriah untuk penampilan Zara yang dikenal sebagai Zora oleh semua penonton dan juri. Susan sangat kesal dengan hal itu, dia merasa suara Zara lebih bagus darinya.
Audisi berjalan dengan lancar dan berkat Zara, Zora masuk peringkat 10 besar, sedangkan Susan dia gagal dan tereleminasi.
Randi yang hendak memberi ucapan selamat pada Zara datang ke belakang panggung. Tapi ia malah melihat Susan yang sedang menelepon seseorang. Dan Randi yang berada tepat di belakang Susan mendengar percakapan itu. Randi terkejut karena Susan menyebut nama Zara dan Zora. Ternyata dalang atas hilangnya Zora adalah Susan. Akhirnya Randi tau dimana Zora berada dan Zara pun kini dalam bahaya.
Randi segera menelpon Putra dan memberitahunya bahwa Zora disekap oleh orang suruhan Susan di gudang. Sedangkan Randi iya pergi mencari Zara menuju area parkir. Karena ia mendengar jika orang suruhan Susan itu membawa Zara ke area parkir. Entah apa yang akan mereka lakukan pada Zara.
Randi yang sudah sampai di area parkir mencari-cari Zara. Hingga Randi melihat sesuatu yang mencurigakan di dalam sebuah mobil sedan berwarna merah. Randi terkejut saat melihat ternyata Zara yang berada di dalam mobil itu, bersama dengan Rio. Zara terlihat ketakutan dan memberontak saat Rio mencoba menyentuhnya. Pakaian Zara di bagian bahunya pun robek.
"Brengsek!!" Randi membuka pintu mobil sedan merah itu lalu menarik kerah baju Rio. Dan Randi langsung menghajar Rio habis-habisan hingga Rio babak belur.
"Sialan! apa yang hendak lo lakukan
pada saudari tiri lo sendiri? brengsek!"
Randi meninju Rio hingga Rio tersungkur dan sudah tidak berdaya.
"Sory,,,gua...gua hanya menjalani apa yang Susan suruh. Gua kepaksa melakukannya... Karena gua butuh uang..."
Randi hendak meninju Rio kembali tapi Zara menghentikannya.
"Jangan Randi! sudah cukup, kamu sudah membuatnya babak belur. Itu sudah cukup untuk membalaskan perbuatannya padaku." ujar Zara sambil menangis.
Randi melepaskan cengkramannya pada kerah baju Rio menahan emosi.
Randi melepas jaket kulitnya, setelah itu ia pakaikan pada Zara. Randi mengusap sedikit darah dari sudut bibir Zara yang terluka, karena Rio menamparnya saat Zara memberontak.
Randi menatap mata Zara sejenak setelah itu Randi memeluk Zara erat. "Maafkan aku, karena aku tidak berada disampingmu dan membuat kamu mengalami kejadian ini."
"Ini bukan kesalahan kamu, jangan berkata seperti itu. Aku masih beruntung Rio tidak melakukan hal yang lebih dari ini padaku. Tapi aku benar-benar sangat takut."
"Jika Rio sampai melakukan hal yang lebih dari tadi padamu. Saat itu juga aku akan membunuhnya, aku tidak peduli jika aku harus dipenjara."
Zara terkejut dan merasa terharu, dengan kata-kata Randi yang singkat namun penuh makna berarti untuknya.
***
Akhirnya setelah kejadian itu Susan dan Rio di jebloskan ke dalam penjara. Karena mereka merencanakan suatu kejahatan yang merugikan orang lain. Dan ayah Zara menceraikan Istrinya itu karena ia sudah tidak sanggup menghadapi kelakuan istrinya yang semakin keterlaluan dan tidak pantas menjadi seorang istri dan ibu bagi Zara.
Saat itu tiba juga pertunangan antara Zara dan Randi setelah mereka lulus kuliah. Dan mereka telah menggapai cita-cita mereka menjadi seorang dokter. Begitupun Zora, ia kini sukses menjadi penyanyi terkenal. Orang tua mereka sangat bahagia dengan hal itu. hubungan Zora dan ayahnya pun berubah membaik seiring berjalannya waktu.
***
"Sayang... kapan kamu akan siap menikah denganku?" tanya Randi saat bersender pada mobil sambil melihat pemandangan ke arah pantai,
Setelah mereka selesai melangsungkan pertunangan dan mereka diijinkan untuk jalan-jalan sejenak oleh orang tua mereka.
"Kita kan baru bertunangan..." ujar Zara.
"Emang kenapa? setelah bertunangan kita kan boleh-boleh saja jika ingin segera cepat menikah. Karena orang tua kita sudah merestui kita berdua."
Zara menatap Randi, "Memang kenapa sih kamu ingin cepat menikah, aku kan gak akan pergi kemana-mana."
Randi tersenyum sambil menarik tubuh Zara mendekat ke arahnya.
"Tentu saja aku ingin segera memilikimu seutuhnya. Aku ingin tinggal satu rumah bersamamu, dengan begitu aku bisa melihat kamu setiap hari kan. Kita akan bahagia hidup bersama anak-anak kita kelak."
Zara tersenyum sambil mencubit hidung mancungnya Randi. "Sabar ya... hari itu pasti akan datang ko. Aku juga ingin segera menikah denganmu. Hanya saja menikah kan butuh persiapan yang lebih matang."
"Ok..."
Randi tersenyum lalu tiba-tiba mengecup bibir Zara, membuatnya terkejut.
"Ih... Kamu ko nakal sih main nyosor." canda Zara.
"Gak apa-apakan aku tunangan kamu. Jadi bolehkan kalau hanya kiss..."
Zara tersipu lalu mengangguk, Randipun melanjutkan kembali mengecup bibir Zara lebih lama. Zara yang terbawa suasana membalas dan menyambut kecupan itu dengan rasa cinta yang sangat membahagiakan.
~the end~