"Halah..! Bilang aja lo nggak berani kan terima tantangan dari kita?" Remeh Reya dan teman-temannya yang selalu mngganggu ketenanganku dengan membully-ku. Sebenarnya aku sama sekali tidak takut terhadap mereka, aku hanya malas saja meladeninya. Daripada aku meladeni mereka, lebih baik aku belajar untuk ujian sekolah nanti.
"Oke, gue terima! Tapi kalian harus janji bakal berhenti mengganggu hidup gue, kalau gue berhasil menyelesaikan tantangan dari kalian. Gimana?" Jawabku yang sudah muak dengan segala ocehan mereka yang berisik.
"Oke, gue setuju!" Reya mengulurkan tangan kanannya kearahku yang kemudian aku jabat dengan mantab.
"Deal! Bagi siapa yang bisa lebih dulu keluar dari labirin ini, dialah pemenangnya." Reya mengatakan aturan permainannya.
Sebuah labirin batu/tembok raksasa membentang luas dihadalan kami. Labirin yang menjulang tinggi itu katanya bisa berubah-ubah bentuk susunannya setiap berapa menit sekali. Unik dan menantang bagiku yang memang suka petualangan. Tapi curangnya, mereka berlima membentuk satu tim untuk masuk ke dalamnya. Sedangkan aku, hanya seorang diri. "Sebenarnya siapa yang pengecut disini?" Ejekku pada Reya dan teman-temannya.
Reya mendelik, begitupun dengan temannya yang lain yang tak terima dengan kalimat ejekanku. Aku tersenyum sinis, senang juga rasanya membuat mereka jengkel. Sekalian saja aku acungkan ibu jariku menghadap kebawah.
"Lo bener-bener ya!" Teriak Sesil teman Reya.
"Kenapa? Lo nggak terima?" Aku bersedekap dada. "Emang kenyataan kan kalian itu looser!" Ucapku dengan angkuh, habis sudah kesabaranku terhadap mereka. Tangan Reya melayang hendak menamparku, tapi dapat kutepis dengan mudah. "Jangan macem-macem kalian sama gue!" Peringatku sambil memelintir tangan Reya.
"Kalau emang kalian bukab looser, buktiin! Masuk sendiri-sendiri, bukan kroyokan kayak gini. Gue aja sendiri kok.." Tantangku dengan mendorong tubuh Reya dengan kencang hingga menabrak geromobolannya. "Oke!" Teriak Sesil yang kelihatan paling tersulut emosi dengan tantangan dariku, sedangkan yang lain menelan ludah kasar, ketakutan.
Pasalnya, labirin itu terkenal sebagai labirin menyesatkan. Yang bisa membuat orang tersesat hingga tak bisa keluar lagi setelah memasukinya. "Baik, kita mulai sekarang juga. Sebelum semakin siang." Ucapku.
Meskipun di pagi hari, keadaan di tempat ini begitu mencekam. Gelap karena berada di tengah hutan yang ditumbuhi banyak pohon-pohon raksasa, mungkin itu pohon jaman purbakala.
Kami semua sudah menyiapkan perbekalan kami masing-masing dari rumah, karena Reya sudah menantangku sejak kemarin. Setelah kupikirkan matang-matang semalam, akhirnya aku menerima tantangannya karena sudah sangat muak dengan segala bentuk gangguan dari mereka.
Aku menggenggam obor di tangan kananku, sebuah ransel berukuran sedang juga melekat sempurna di punggungku.
"Kita buktikan siapa looser yang sebenarnya." Ucap Reya. Lalu ia menekan tuas yang ada di pintu masuk. Dinding batu yang merupakan pintu masuk itu mulai terbuka perlahan, suaranya menggema ke seluruh penjuru hutan, seakan sudah sekian lama tak pernah terbuka. Lagian siapa juga yang mau masuk ke tempat terkutuk seperti ini? Kalau bukan demi ketenangan, mungkin aku juga tak akan sudi.
Hawa pengap dan dingin mulai terasa kala kami baru saja di mulut pintu labirin. "Gu.. gue nggak ikut aja deh Re kayaknya.." ucap salah satu teman Reya. "Kita juga." Sahut dua temannya yang lain lagi. "Apa kalian bilang?" Teriak Reya tak terima. "Jadi kalian bener-bener pengen jadi looser seperti apa yang dibilang si culun ini tadi?" Tunjuk Reya padaku.
"Heh! Lo nggak ngaca siapa disini yang culun?" Jawabku santai.
"Gue nggak mau tau ya.. kalian semua mesti ikut! Masak kita kalah sama dia sih.." Reya kembali melirik kearahku. Alhasil mereka semua terpaksa ikut juga. Aku dapat menangkap getar ketakutan dari ketiga orang tersebut.
"Nggak usah banyak drama deh kalian.. buruan masuk." Aku mulai melangkahkan kakiku kedalam terlebih dahulu, mereka mengikutiku dibelakang. Secara tiba-tiba, pintu batu tadi tertutup dengan sendirinya. Kami terjingkat kaget, dan ketiga teman Reya juga Sesil berteriak histeris.
"Reyaa.. Sesil.. kita takut," ucap salah satunya, "Iya Re, kita mau keluar lagi aja!" Yang satunya lagi mulai menangis. "Cemen banget sih kalian!" Bentak Sesil. "Terserah kalian mau sebut kami apa, kami nggak peduli! Yang penting kami bisa pergi dari sini. Titik." Aku tersenyum mendengar perdebatan mereka. Cih! Pertemanan macam apa itu, gumamku dalam hati.
"Coba aja kalau bisa.." Aku berbalik menghadap mereka. "Mungkin kalian tadi nggak baca tulisan yang di depan, bahwa kita nggak bakalan bisa keluar dari pintu masuk itu lagi. Jalan satu-satunya adalah kita harus lewat pintu keluarnya."
"Mending kita cepet-cepet jalan, daripada semakin lama disini, jalannya akan menjadi semakin sulit." Sahut Reya.
Aku sudah tak memperdulikan mereka lagi, yang terpenting bagiku, aku bisa dengan segera keluar dari sini. Terbebas dari tempat ini dan juga mereka. Baru sepuluh meter aku berjalan lurus, mulai terlihat jalan bercabang. Ternyata pintu tersebut itu berganti setelah 10 menit terbuka, aku menghitungnya melalui jam digital di pergelangan tanganku.
Aku mengambil kompas yang aku letakkan pada saku samping ranselku, memang agar aku mudah untuk menjangkaunya. Kompasku menunjuk pada afah barat, oke.. aku melangkah pada dinding batu yang baru saja terbuka. Angin berhembus dari dalamnya, obor yang kupegang bergerak tak beraturan, aku meindungi dengan tanganku agar rak mati.
Sepuluh menit kemudian lorong berikutnya mulai terbuka, kompasku mulai tak bisa diajak kerjasama. Aku menaruhnya kembali pada kantung ransel dan mencoba memakai instingku saja. Aku memilih kearah kanan, tapi baru dua langkah kakiku memasukinya, aku mencium bau amis, darah? Apa iya? Kalau iya darah apa? Aku melihat sekeliling sambil terus berjalan. Terlihat ada cairan yang mengalir dari atas dinding hingga kelantai, karena minimnya pencahayaan jadi aku tak tau. Aku mencoba tetap santai dan tak memperdulikannya, tapi lama kelamaan cairan itu semakin banyak mengalir dilantai. Hingga aku mengangkat kakiku tinggi-tinggi untuk dapat melewatinya.
Aku merasa lega saat ruangan selanjutnya terbuka. Tapi apa ini? Sesuatu cairan yang lebih banyak langsung menyambutku, mengguyur tubuhku begitu saja. Untung obor yang aku pegang tinggi tak terkena, aku mendekatkan obor pada bagian tubuhku yang terkena cairan tadi. Darah? Ini benar? Tubuhku mulai meremang. Bau amis bercampur busuk menjadi satu, membuatku mual. Aku meraih masker yang sedari tadi masih setia menggantung dieherku dan memakinya segera. Di lantai cairan tersebut mulai meninggi hingga sebatas lutut, dengan berat aku memaksa kakiku tetap melangkah. Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan dari dinding di sebelahku, sebuah suara teriakan ketakutan. "Itu suara teman Reya tadi kan, kenapa dia?" Gumamku.
Darah pada lantai dibawahku semakin meninggi, hingga sebatas pinggang. "Ayolah.. cepat terbuka dinding selanjutnya!" Seruku sambil mencoba mempercepat langkah. Tapi aku merasa ada sesuatu yang memegang kakiku. "Shit!" Umpatku. Aku menyeret paksa kakiku meski sulit, tetapi cengkraman pada kakiku semakin erat. Kemudian terdengar dinding mulai tergeser, ada sedikit kelegaan kurasakan dalam beberapa detik.
Tapi pada saat dinding itu terbuka lebar, aku menganga tak percaya dengan apa yang aku lihat dihadapanku. Mayat hidup? Zombie benar-benar ada? Dengan jumlah yang banyak, apa yang harus akau lakukan sekarang. Mereka asyik menjilati darah yang mengalir dari ruangan yang kutempati baru saja. Aku berjalan mengendap-endap menempel pada dinding sebelum mereka menyadari keberadaanku. Tetapi sosok yang sedari tadi memegang kakiku masih setia berada dibawah sana. Aku menendangnya dengan satu kakiku yang lain sekuat tenagaku. Sosok itu terlepas dan mengenai pasukan zombie hingga membuat mereka menyadari keberadaanku. Aku segera berlari mencari dinding yang terbuka lainnya.
Musathil. Semua ruangan yang ada dipenuhi dengan makhluk menjijikkan itu. Bau amis darah dan busuk dari bangkai para zombie itu semakin menyeruak di hidungku. Apalagi tubuhku juga dipenuhi oleh darah yang amis, sehingga membuat mereka swmkain tertarik terhadapku. Aku terus berlari dengan menyodorkan oborku pada makhluk yang ada disekitarku.
Kembali kudengar teriakan dari teman Reya yang satunya. Teriakan kesakitan? Kenapa lagi dia? Mataku membulat sempurna melihat pemandangan yang ada, teman Reya tadi tertangkap oleh salah satu zombie dan langsung digigitnya. Ia berteriak sekencang yang ia bisa, tak lama kemudian semakin melemah dan ia mulai kejang-kejang dan mata melotot. Apakah dia mati? Para zombie yang lain mulai mengerubunginya dan memperebutkannya, mereka menarik ke sembarang arah. Aku sempat melihat tangannya terputus dan terlepas dari tubuhnya sebelum aku memalingkan wajah.
Jantungku terasa berhenti berdetak, tak menyangka jika permainan ini akan memakan korban nyawa. Dipojok ruangan aku sempat menangkap sosok Reya yang menangis ketakutan melihat temannya menjadi korban zombie. Aku menggeleng.. otakku memerintahkan untuk segera pergi, hatiku meminta untuk menolong, tubuhku lemas dan ingin berhenti. Kesadaranku berkata tidak. Aku berjalan mundur perlahan. Sebelum makhluk tanpa peredaran darah itu kehabisan korbannya, aku harus segera keluar dari sini.
Aku terus berlari tak tentu arah, setiap ada dinding yang terbuka aku langsung memasukinya. Nafasku terengah, aku berhenti sebentar untuk berfikir. Seakan tak membiarkan aku bernafas, makhluk itu mucul juga dari arah dinding atas. Aku kembali berlari menjauh dari makluk itu, mereka mengikutiku dengan langkah yang terseok-seok dibelakangku. Tetapi di depanku muncul lebih banyak lagi zombie dengan rupa yang menjijikkan. Seketika itu juga aku memuntahkan sesuatu yang bergejolak dari dalam perutku, yang sudah sejak tadi aku tahan. Lega.. "O-oow.. sorry ya, om, pakdhe, kakek" ucapku lirih, takut-takut ngeri dengan keadaan tubuh mereka. Lalu aku segera kabur kearah yang lainnya.
Tiba-tiba.. bruuuk. "Aaaww.." teriak orang yang aku tabrak. "Sesil?" Tebakku mendengar suaranya, aku meraih obor yang terjatuh. "Lo lihat temen-temen gue?" Tanyanya dengan nafas yang terengah-engah juga. Sepertinya hal yang sama terjadi padanya juga. "Mending lo nggak usah tau." Jawabku dan segera masuk ke ruangan yang baru saja terbuka untuk menghidari zombie yang mengepung, Sesil mengikutiku.
Ruangan apalagi ini? Baunya aneh. Terdengar suara desisan, lalu sesuatu menetes di kepalaku, aku menyentuhnya dan mendekatkan pada oborku. "Lendir apa ini?" Gumamku. Sesil mengarahkan senter yang di pegangnya kearah suara itu, ternyata seekor ular raksasa dengan bentuk yang aneh muncul diatas kami. Reflek kuacungkan obor kearah ular itu, ia sedikit menjauhkan kepalanya. Aku terus mengacungkan oborku untuk mengulur waktu hingga dinding selanjutnya terbuka. Sesil menempel kearahku ketakutan. Ternyata dia pengecut juga, pikirku.
Dinding yang berada di belakang ular itu terbuka, aku berjalan perlahan memutar menuju ruangan itu. Setelah dekat pada dinding yang terbuka, aku segera berlari untuk melewatinya hingga lupa dengan Sesil yang menggenggam erat tanganku. Aku tertarik oleh Sesil, tapi aku kembali menariknya juga. Ular raksasa itu tak membiarkan kami lolos begitu saja, dengan gesitnya ia mendekat, kembali kuacungkan oborku untuk menakutinya. Aku berhasil melewati dinding, tapi Sesil tertinggal. Ular tersebut berhasil meraih kaki Sesil dengan ekornya yang sangat panjang. Sesil berteriak histeris meminta tolong padaku, senter yang ia pegang terlempar mengenai kepala ular dan membuatnya semakin marah. Aku menarik paksa tanganku yang masih erat dipegang Sesil sebelum aku ikut tertarik oleh ular itu juga. Dinding mulai menutup kembali dengan perlahan, mataku sempat menangkap mulut ular raksasa itu terbuka lebar hendak melahap Sesil. "Tidaaaaaaaaakk...." pekikku tak kuasa melihatnya.
Kakiku melemas dan terduduk begitu saja saat dinding tertutup dengan sempurna. "Apa ini yang kalian inginkan Sesil? Reya? Kalian ingin bunuh diri ditempat terkutuk ini?" Teriakku dengan tangis yang pecah. Tau akan begini jadinya, lebih baik aku pindah sekolah. Tak apa kalian menganggapku apa, asal aku tak melihat hal seperti ini. Aku memang tak menyukai mereka semua, tapi aku bukan orang jahat yang suka melihat orang lain menderita bahkan kehilangan nyawa di depanku. Terlambat, semuanya sudah terjadi. Kini aku harus mencari cara untuk keluar dari tempat ini, aku harus bisa! Aku pasti bisa!
Kuraih ranselku, kuambil botol minum dan kuminum isinya hingga tandas. Juga senter kepala kupasang dikepalaku, aku juga mengambil tambang yang kukaitkan pada ransel. Aku memutuskan untuk menaiki dinding agar bisa melihat jalan keluarnya. Aku segera melempar tambangku keatas dinding, dengan percobaan berkali-kali akhirnya pengait pada ujung tambangku bisa berhasil mencengkeram dinding raksasa itu.
Aku mulai memanjat dinding dengan tambang, dinding berlumut juga berlapis darah itu membuatku kesulitan menapakinya. Belum sampai separuh dinding, aku merasa tenagaku hampir habis. Bagaimana ini? Apa aku harus menyerah dan menjadi santapan zombie atau ular raksasa itu? Tidak! Jangan sampai itu terjadi, aku tak mau hidupku sia-sia dan mati konyol hanya karena sebuah tantangan.
Kembali kubangkitkan semangatku dengan mengingat kedua orang tuaku, kalau sampai mami tau keadaanku saat ini, beliau pasti sudah menangis histeris. Aku tak akan membiarkan beliau swdih dengan kemantianku yang mengenaskan. Dinding di seberangku mulai terbuka, nampak tangan-tangan berlumuran darah mulai muncul. Aku panik dan mulai memanjat lagi dengan sisa tenaga yang ada. Sedikit lagi aku mencapai ujung tembok, desisan ular kembali terdengar ditelingaku. Aku berhenti, nafasku memburu, jantungku berdetak kencang. Apa ini akhir hidupku? Apa aku harus mati dengan cara tidak terhormat seperti ini?
Aku menggeleng. Aku harus memikirkan cara. Lalu kulilit tambang dengan kedua kakiku juga pada bagian tangan kiriku. Kemudian aku merogoh saku samping celanaku dan kuambil belati dari sana. Ini satu-satunya cara yang terlintas di otakku dalam keadaan panik. Kusiapkan belati pada tangan kanan, kupasang mode siaga.. kupanjat sekali lagi tambangku, bersamaan dengan ular yang ada dihadapanku. Aku menutup mata dan ku ayunkan belati di genggaman tanganku bertubi-tubi dan membabi buta kearah ular itu. Tak lama berselang kudengar suara, blugg.. kubuka mataku dan melongok pada seberang dinding, syukurlah.. ular itu sudah mati.
Kemudian aku naik keatas dinding yang lebarnya seukuran guling itu, dan duduk untuk sekedar menetralkan nafasku. Lalu aku mulai merayap pada permukaan dinding, dapat kulihat dibawah sana zombie yang jumlahnya tak bisa kuhitung lagi. Aku terkejut saat dinding yang kududuki bergeser, dengan segenap keberanianku aku melompat pada dinding seberangnya sebelum semakin jauh. Tanganku terpeleset, hampir saja aku menjadi santapan zombie kelapan itu. "Akh.." pekikku saat tanganku terluka.
Aku memberanikan diri untuk berdiri diatas dinding, kulihat jalan keluar. Sedikit lagi aku akan terbebas dari sini, senyum tipis tersungging di bibirku. Matahari hampir terbenam, bagaimana juga aku akan keluar dari hutan ini nantinya. Pikirkan itu nanti, yang penting sekarang keluar dari labirin laknat ini. Pikiran dan hatiku berkecamuk.
Darah yang menetes dari lukaku membuat para zombie menggila, mereka saling menumpuk diri untuk bisa meraihku. Kubalut lukaku yang menganga dengan syal yang ku kenakan. Lalu aku mempercepat rangkakku dengan satu tangan. Ayo.. sedikit lagi! Aku menyemangati diriku sendiri.
Tetapi dari kejauhan arah kananku, ular raksasa yang sepertinya menyerang Sesil tadi muncul lagii. Kembali kuraih ranselku, kukeluarkan asal barang didalamnya. Aku mencari sesuatu yang bisa memusnahkannya. Petasan banting? Bom molotof? Aku mengernyit. Ini pasti pekerjaan Reya dan lainnya, tapi ini akan berguna untukku. Untung saja ada korek api di saku samping kiri celanaku, yang kugunakan untuk menyalakan obor tadi. Ular itu semakin mendekat kearahku, kunyalakan bom ditanganku lalu segera kulemparkan pada ular yang sedang membuka mulutnya dengan lebar hendak melahapku. Lalu..
Duaaaarrr. . .
Ular raksasa itu meledak dan menimpa pasukan zombie dibawahnya. Dengan segera aku menuruni dinding, tubuhku terkulai lemas saat tiba dibawah. Aku tergeletak begitu saja diatas tanah berlumpur, mataku terpejam. Kesadaranku hilang.
Saat aku terbangun, aku berada pada ruangan putih. Tanganku sudah terbalut perban rapi, infus tertancap pada tanganku yang satunya. Bahkan selang oksigen juga terpasang pada hidungku. Aku melihat sekeliling, banyak terdapat alat-alat yang aku tak tau apa itu. Lalu aku menoleh kearah lain, terpampang layar LCD besar bertuliskan HAFEL THE WINNER. Tak lama kemudian layar itu beralih menjadi video, menampakkan punggung kursi kebesaran.
"Selamat Hafel..! Kamu adalah satu-satunya pemenang pada permainan LABIRIN MAUT itu." Ucap orang misterius itu, lalu layar tersebut kembali pada tulisan yang tadi.
.
.
TAMAT