"Mari pulang..marilah pulang..marilah pulang bersama sama..."
Sore itu, kami baru saja selasai melakukan pendakian dari puncak gunung.
Nyanyian dan gelak tawa kami , terdengar riang ,termasuk juga aku. Dan kini kami mulai melakukan perjalanan turun dari puncak ,menuju base camp penginapan.
" ...eh beneran..tadi sempat ngeri juga, waktu naik tadi,. gila...gak ada tongkat ...sampe aku merangkak agar mencapai atas....." ujarku, menceritakan kembali ketegangan yang ku alami tadi.
" Untungnya ada aku kan...." sambar Ratih, sedikit membanggakan diri.
" Iya...benar sekali...makasih Ratih, kalau ndak ada kamu, entah apa yang terjadi.." sahutku , sangat berterima kasih pada Ratih.
" Makanya..serunya ikut anak PA( pendaki alam) seperti ini, . saling membantu dalam kesulitan..." lanjut Ratih, membanggakan komunitas pendaki nya ,dan aku mengangguk membenarkan pernyataannya.
Ini adalah pertama kalinya, aku mengikuti kegiatan pendakian alam ini, setelah seringnya aku menolak ajakan mereka, teman temanku saat itu, yang kebanyakan dari mereka adalah anak (PA) pencinta alam, termasuk juga Ratih.
" Agak cepetan yuk..kita sudah lumayan jauh dari rombongan!" Ujar Ratih dengan tergesa gesa melangkahkan kakinya ,menyusul rombongan. Begitupun aku, dengan langkah setengah berlari menyusul Ratih, karena aku belum terbiasa menyeimbangkan langkah kaki Ratih, yang sudah terbiasa bergerak dengan cekatan.
***
Tak lama kemudian, kami melintasi jalan setapak, sehingga kami beruntun membentuk barisan horisontal, menyambung ke belakang.
" Hati hati..di depan ada jurang.!" teriak anak laki laki yang berada paling depan.
" Ada jurang ya?" tanyaku pada Ratih , di depanku.
" Iya...hati hati aja nanti, tidak usah panik" jawab Ratih.
Aku diam, sebetulnya aku mulai panik, karena aku paling takut dengan ketinggian.
" Aduh..gimana nih, kenapa mesti ada jurang.." bathinku mengeluh, langkahku menjadi ragu, ketika kudapati sebuah jembatan kayu, dan hanya itu jalan satu satunya yang harus kami lalui.
Ketika jarakku semakin dekat dengan jembatan itu, langkahku mulai melambat, itu terjadi begitu saja.
"Inne...ayo cepetan!, kita tertinggal jauh dari mereka" teriakan Ratih , menyuruhku lebih cepat, padahal aku takut untuk melintasi jembatan itu.
" Ii..iya..." jawabku dengan terbata bata.
Ratih mulai berjalan melintasi jembatan itu, sedangkan Aku, masih ragu dan hanya mematung , belum sama sekali mulai mengayunkan kakiku.
Ratih mulai jauh, dan suara anak anak rombongan juga sudah sayup sayup terdengar.
" Inne....ayo buruan. ....!" suara Ratih mengema di telingaku.
" Iii..ya...." sahutku ,sambil berteriak karena Ratih sudah selesai melintasi jembatan tersebut.
Kulangkahkan kaki ku satu langkah, menginjak jembatan, dan jembatan itu mulai bergoyang. Aku mundur lagi ke belakang, karena takut.
" Inne....kamu takut ya" Gema suara Ratih terdengar lagi.
Aku hanya diam, tidak menjawabnya.
" Inne...jangan takut,...aku menunggumu di sini, lakukan saja pelan pelan, jangan ragu....kamu pasti bisa....." Suara Ratih , terus bergema menyemangatiku.
" Ii..ya..." jawabku kini, berusaha menumbuhkan keberanian pada diri sendiri.
***
Aku mulai berjalan pelan, mulai melintasi jembatan. Hari mulai gelap, tapi aku tetap berusaha untuk tidak takut. Suara Ratih sudah tidak terdengar lagi, aku mulai panik, dan seketika ku panggil namanya.
" Ratiiihhh....tih..tih...tih....,kamu masih menunggukukan..kan..kan..kan..."
" Iya....aku masih di sini...ni..ni..." sahut suara yang aku yakin ,itu adalah Ratih.
Aku sedikit lega, maka aku mulai mengayunkan kakiku dengan percaya diri. Kini aku sudah berada ditengah jembatan, dan tiba tiba saja, jembatan mulai berguncang, seperti ada seseorang yang berjalan juga melintasi jembatan ini.
" Eh.." pekikku kaget, dan langsung menghentikan langkahku, kemudian berpegangan pada tali jembatan.
Tetapi gunjangan semakin bertambah hebat,
" Hei..pelan pelan kalo berjalan..." teriakku seketika ,memperingatkan.
Tidak ada suara apapun yang menyahutku. Aku menunggu dengan masih tetap berpegangan pada tali, menunggu seseorang mendekat ke arahku, atau menunggu sampai dia tidak lagi melintasi jembatan. Tetapi malah orang itu sepertinya sengaja melompat lompat, sehingga gunjangan bertambah hebat.
" Hentikan...hentikan...." teriakku dengan sangat panik.
Gunjangan tidak juga berhenti, dan tidak ada suara yang menyahut. Badanku mulai limbung karena tidak seimbang.
" Berhenti...aku mohon berhenti..." teriakku lantang, sambil mulai menangis. Siapapun itu ,dia adalah makhluk yang akan paling aku benci, karena sengaja melakukan hal ini, dia malah sengaja membuat gunjangan semakin bertambah hebat, kemudian seakan ada tangan yang mendorongku ke bawah.
deg...
Aku terbelalak dan sangat panik juga ketakutan, aku melayang di udara ,dan bergerak kebawah.
" Tidaaaaaakkkkk" teriakku.....
***
Aku terbangun tetapi seketika terkejut, sebab kini berada di sebuah hutan liar.
" Dimana aku...." ucapku, sambil mengedarkan pandanganku. Sesaat aku diam dan termenung. Aku teringat, bahwa aku tadi jatuh, karena ada yang mendorongku.
Airmata mulai keluar dari mataku, karena sekarang aku sangat ketakutan. Bagaimana aku bisa pulang.
Aaaaoooommmm...
suara aoman dari hewan pemangsa terdengar dekat olehku.
Aku segera waspada, dan berusaha membuat mataku terbuka.
Aaaaooommmm..
Aaoman itu terdengar lagi, kulihat rumput di depanku bergoyang, menyusul kemudian dua kaki berbulu , hingga muncullah seekor singa yang besar dan terlihat liar dan ganas.
Hah
Aku terbelalak ngeri, dan juga ketakutan. Aku segera mundur , berusaha lari dari tempat ini. Kemudian berlari dari tempat itu, tapi malahan singa itu mengejarku dengan cepat.
Hahhhhhhhhhhhhh
Nafasku sudah ngos ngosan aku panik ,takut dan bingung , bagaimana caranya aku mempertahankan hidupku. Keselamatanku sudah di ujung tanduk.
Aku terus berlari, dan kini bersembunyi di balik rerumputan, bahkan aku menunduk dan setengah berbaring telungkep, agar tidak terlihat oleh singa itu.
" Aaaaaaoooommm" suara itu terdengar dekat denganku...
" Astaga.....", pekikku kaget, singa itu sekarang di depanku, dan memandangku dengan tatapan rakus.
Aku membawa badanku mundur, dengan pandanganku tidak lepas dari singa itu. Mulutku tidak berhenti memanjatkan doa, agar Tuhan menyelamatkanku.
Aku cukup lega, singa itu hanya memandangku saja. Setelah jarak lumayan jauh, aku bangun dan berdiri, lalu segera kabur mencari tempat perlindungan bagi nyawaku.
Hhhhhhh...
Nafasku masih ngos ngosan, di saat aku memutuskan berhenti, karena aku merasa sangat lelah. Tetapi aku tidak berani begitu saja berhenti di tempat ini, karena aku yakin, singa itu pasti akan datang karena hidungnya sangat tajam, mengendus mangsanya.
Aku mengedarkan pandanganku, dengan berusaha mengembalikan pernafasanku agar normal, menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya secara perlahan, dan rupanya itu cara yang efektif.
Kini pernafasanku seperti biasanya. Otakku masih berpikir, bagaimana caranya mengelabuhi singa itu ,sehingga tidak bisa mengendus bau ku.
Aku berjalan dengan mata yang terus mencari cari tempat yang aman.
Kruyuk..kruyuk....
Perutku juga sekarang berbunyi, aku lapar, tapi aku tidak berani lengah, karena bisa saja, singa itu tiba tiba muncul, seperti tadi.
Sekian lama aku mencari tempat sambil berpikir, hingga akhirnya ku temukan tanah berawa di tempat ini.
Aaaaoooommm
Seperti dugaanku, singa itu berhasil menemukan keberadaanku. Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke tanah rawa itu. Lebih baik aku mati tenggelam di tanah rawa, dari pada mati di makan singa.
***
Aku menenggelamkan seluruh badanku di tanah rawa ini, sambil diam berusaha tidak menggerakkan badanku sedikitpun. Karena semakin aku bergerak, tanah rawa ini akan menarikku ke dalam. Lama kelamaan, aku tidak kuat, dan ku putuskan menjulurkan kepalaku ke permukaan.
Kulihat singa itu tak ada lagi di sana, maka aku putuskan untuk keluar dari tanah rawa ini, dengan bergerak sangat pelan. Hingga aku berhasil keluar dari tanah rawa itu ,berpijak ditanah yang berumput. Tetapi kini ,badanku sepenuhnya terbalut lumpur.
***
Kruyuk..kruyukkk
Lagi lagi perutku berbunyi, tapi aku tak tahu, dengan apa aku mengganjal rasa laparku ini. Tidak ada pohon buah buahan di hutan ini, yang ada hanya pohon pohon besar, berdaun lebat dan tinggi.
Aku harus mencari sungai, siapa tahu ada ikan yang hidup di sungai , sehingga aku bisa memakannya , mengisi perutku. Otakku seketika berpikir demikian.
***
Aku sangat bersyukur, akhirnya ku temukan sungai yang airnya mengalir, serta jernih. Aku segera berlari ke sungai itu, lalu mandi ,membersihkan badanku yang tertutup lumpur. Kutemukan juga ikan ikan yang hidup dan besar besar. Kutangkap ikan itu, walaupun untuk itu, memerlukan waktu yang lama , untuk aku berhasil menangkap ikan tersebut.
Cukup lama aku memproses semuanya, membuat ikan itu matang, lalu ku gunakan untuk mengisi perutku.Tadi aku mencari dua buah batu, lalu aku gesekkan berulang ulang, agar tercipta api, supaya bisa membakar ranting ranting pohon yang kering, yang tadi aku kumpulkan.
***
Hhhhhhhh
Aku menarik nafas lega, sambil berbaring diatas tanah. Ini adalah sebuah hidup yang sangat mendebarkan dalam hidupku,..aku tidak tahu, sampai kapan akan hidup seperti ini. Lamunku saat ini, hingga begitu saja mataku terlelap. Dan saat aku bangun, aku sudah berada di pundak seseorang.
Aku terkejut, dan segera berteriak..
" Hei...turunkan aku...kamu siapa...hei..." teriakku meronta.
" Diam..atau ku makan kau sekarang..." balas seseorang yang memikulku di pundaknya.
Dengan terpaksa aku diam, menuruti perintah orang yang membawaku ini. Hingga tibalah aku di sebuah gubug, dan begitu saja badanku di lemparkan ,seolah aku ini hanyalah sebuah buntalan ringan.
Sosok yang menjulang tinggi dan berbadan besar, ternyata makhluk di hadapanku sekarang adalah Raksasa , dengan wajah yang mengerikan.
Aku menyusut dan beringsut mundur...
" Tolong..jangan makan aku...." rintihku ketakutan.
" Aku tidak akan memakanmu selama kamu mematuhi perintahku..." balas raksasa itu.
" Iiii...iiii..iiiyaaa...aku akan me..me..mematuhi perintahmu" sahutku dengan terbata bata karena ketakutan.
Aku akan patuh padanya, demi keselamatanku,...karena hanya itu yang bisa aku lakukan, demi mempertahankan hidupku.
tamat
***