Namaku Dinda. Lengkapnya Adinda Wulandari. Sekarang ini aku hendak masuk ke dalam rumah hantu yang ada di sebuah taman bermain.
Ini adalah rumah hantu terpanjang dan terluas di dunia. Di dalamnya ada banyak labirin yang di lukis dengan gambar-gambar hantu.
Selain itu, ini juga adalah rumah hantu terseram, karena hantu di sini mau menarik-narik tangan pengunjung.
Aku tahu semua fakta itu dari website taman bermain ini sendiri. Dan ini adalah kali pertamanya aku datang ke sini.
Taman ini masih tergolong baru. Baru diresmikan tiga bulan yang lalu.
Saat ini adalah hari Senin pukul sepuluh pagi. Kalau biasanya rumah hantu akan buka malam, maka rumah hantu ini buka dari pagi hingga malam.
Karena ini adalah jam kerja, maka pengunjung sangat sepi sekali.
Sebuah kamera pocket berada di tangan kananku. Aku suka sekali dengan yang berbau horor. Dan aku juga suka sekali main ke wahana rumah hantu dan mendokumentasikannya.
Aku sendirian saja. Aku anak tunggal. Kedua orang tuaku sibuk bekerja. Dan aku juga tidak memiliki teman atau sahabat. Jadi tidak ada yang bisa aku ajak saat ini.
Aku melangkahkan kakiku mantap. Saat pertama kali masuk, aku mencium bau anyir darah. Beberapa orang zombie datang menyambutku. Mereka menarik-narik tanganku.
Aku tidak takut pada zombie ini, karena aku tahu ini adalah manusia. Maka aku biasa saja saat ditarik-tarik olehnya. "Kakak yang baik hati, nariknya jangan berlebihan, dong! Saya masih mau menyusuri ruangan ini," ujarku sambil menghalau tangan beberapa zombie.
Setelah lepas dari zombie, aku terus saja berjalan. Sekarang ini aku sudah memasuki sebuah labirin dengan tembok yang dilukis gambar-gambar hantu.
Sebenarnya disini ada dua pilihan. Mau masuk labirin atau tidak. Jika tidak, tinggal jalan di luar labirin saja. Karena aku anaknya suka tantangan, maka aku memutuskan untuk masuk ke dalam labirin.
Namun aura di dalam labirin ini berbeda. Tiba-tiba saja bulu kudukku meremang tinggi saat mataku bertemu tatap dengan sesosok hantu berkepala buntung.
Eh, apa? Hantu berkepala buntung?
Oh, no! Kalau ini, fix hantu asli. Kalau manusia tidak mungkin buntung.
Dengan langkah gemetar, aku terus berjalan tanpa arah. Hantu kepala tadi terus mengikutiku. Bau hantu tersebut sangat tajam sekali. Ya, hantu itu bau kencur.
"Please, jangan ikutin aku terus!" ujarku dengan suara bergetar. Aku bicara sambil menatap kamera. Namun kata-kataku tersebut ditujukan untuk hantu menyeramkan itu.
Bau pengap dan pencahayaan yang minim membuat aku kesulitan untuk berkonsentrasi. Akibatnya aku hanya muter-muter tidak jelas.
Duh!
Kepalaku dan kepala buntung tersebut terantuk. Dia yang mengantukkan kepalanya di kepalaku.
Aku mundur dengan dada yang naik turun karena detak jantung yang tak karuan. Semur hidup aku, inilah pengalaman terseram selama di rumah hantu, pasalnya selama ini aku tidak pernah bertemu dengan hantu sungguhan.
Aku mundur dengan keringat yang sudah sebesar biji jagung. "Ja-jangan dekat-dekat!" teriakku.
Aku menoleh ke kanan-kiri. Mencari-caru sesuatu. Tiba-tiba saja hantu itu sudah berada persis di belakangku. Bau kencur yang menyengat menusuk ke dalam hidungku.
Aku yang kaget, langsung berlari tunggang langgang tak tentu arah.
Gubrak!
Aku menabrak dinding labirin dengan keras. Hantu kepala buntung bertambah lagi jumlahnya. Sekarang ada tiga kepala.
Jantungku berdetak kencang sekali. Nafasku juga sudah tidak halus lagi. "Ak-aku mohon! Jangan ganggu aku!" lirihku dengan suara terbata-bata.
Hantu tersebut semakin mendekatiku. Bau kencur yang menyengat itu hampir membuat aku muntah.
Ketika tiga hantu itu hampir dekat denganku, aku langsung berlari ke sembarang arah. Namun lagi-lagi aku masih terjebak. Tidak kutemukan jalan keluar sama sekali.
Tiga hantu tadi sudah kembali dekat denganku.
Aku melafalkan do'a apa saja yang aku ingat. Ayat kursi, surah pendek. Pokoknya semua yang aku ingat, aku baca.
Bukannya kepanasan, tiga hantu tersebut malah semakin mendekatiku. Mungkin dia adalah jin muslim, sehingga tidak takut dengan ayat Al-qur'an.
Aku kembali berlari ke sembarang arah. Nafasku sudah mulai terengah-engah. Keringat membanjir tubuhku tanpa ampun.
Aku berhenti sebentar, mengatur nafas yang semakin tidak karuan.
Bau kencur menyengat lagi. Saat aku mengangkat wajahku, satu hantu berada tepat di depanku. Hantu itu menatapku dengan tajam. Aku yang sudah kelelahan. Terduduk lemas begitu saja.
"Kamu tidak akan bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup! Ahahaha...." Tawa hantu itu menyeramkan sekali. Suara dan tawanya berat. Persis suara laki-laki. Mungkin dia memang hantu laki-laki.
Hantu itu semakin mendekat ke arahku. Setelah ia sangat dekat denganku, ia memuntahkan banyak darah di atas kepalaku.
Bau anyir membuatku nyaris muntah. Aku duduk memeluk lutut sambil mengusap wajahku yang terkena tetesan darah.
Dua hantu yang lain datang lagi. Sekarang posisiku satu lawan tiga. Aku ingin berlari, tapi tidak bisa karena saat ini kakiku sudah sangat lemas sekali.
Aku lalu menunduk dalam-dalam sambil terus membaca do'a. Aku tak mencium aroma kencur lagi. Dengan pelan, aku mengangkat kepalaku.
Aku menghembuskan nafas lega. Tiga hantu kepala tadi telah tidak ada di depanku.
Aku menyesal masuk dalam labirin ini. Harusnya tadi aku lewat luar labirin saja. Aku ikhlas ditarik-tarik zombie dan hantu lain asalkan tidak bertemu hantu asli seperti ini.
Kamera pocket-ku sudah kumasukkan ke dalam tas sejak tadi. Aku sudah tidak ingin untuk membuat video lagi.
Setelah nafasku sudah lumayan teratur, aku berdiri. Mencoba untuk kembali mencari jalan keluar.
Aku melangkahkan kakiku dengan pelan. Namun, tiba-tiba saja tiga kepala berada tak jauh dari tempatku berdiri.
Tiga kepala itu lalu mendekatiku. Aku yang kesal, lalu memukul tiga kepala tadi menggunakan sepatu. Aku memukulnya membabi buta. Saat sedang seperti ini, aku sampai lupa kalau mereka itu hantu. Tentu mereka tidak akan merasakan sakit sama sekali.
Setelah puas memukul, aku berlari sekencang-kencangnya mencari jalan keluar. Namun lagi-lagi aku masih terjebak di tempat sialan ini.
Aku kembali mencium bau kencur yang sangat menyengat. Ketika aku menoleh, tiga kepala buntung itu sudah ada di belakangku. Jaraknya sangat dekat.
Kali ini aku tidak mau lagi memukul tiga kepala ini. Aku lantas berlari lagi tanpa arah dan tujuan.
Dan kali ini, aku berhasil. Kakiku menginjak pintu keluar.
Dengan seluruh anggota tubuh yang lemas, aku terseok-seok keluar dari rumah hantu sialan ini. Setelah sampai di luar, aku terduduk lemas di tanah begitu saja.
Nafasku masih ngos-ngosan. Detak jantungku masih tidak karuan.
Namun lagi-lagi, bau kencur masih saja datang. Ketika aku mengangkat kepala, aku mendapati tiga kepala tadi.
Kali ini aku mengerutkan keningku dalam-dalam. Ternyata tiga kepala buntung tadi memiliki kaki. Sepertinya mereka menggunakan pakaian canggih. Sehingga pakaian mereka itu tidak terlihat saat tadi di dalam labirin.
"Mbak, kira-kira dong kalau mukul. Liat nih! Wajah saya ungu!" protes salah satu hantu.
"Iya, Mbak. Kami di sini mau cari makan. Jangan di aniaya," protes yang lainnya lagi.
Aku yang tadi ketakutan sontak saja ingin tertawa terbahak-bahak. Namun aku menahannya. Kasihan juga tiga kepala ini.
"Maaf," ujarku lirih. "Saya nggak tau kalau Mbak dan Mas ini manusia. Saya kira hantu beneran. Sebagai ganti rugi, gimana kalau saya kasih uang untuk berobat aja?" tawarku.
"Nggak!" jawab salah satu kepala. "Kami cuma mau Mbak nggak usah ke sini lagi. Kami masih sayang badan kami sendiri!"
Setelah mengatakan itu, mereka bertiga kembali masuk ke dalam rumah hantu itu.
Aku terbengong di tempatku. Aku janji, ketika nanti aku masuk ke dalam rumah hantu dimanapun itu, aku tidak akan melakukan kekerasan lagi. Aku harus ingat kalau mereka itu manusia, bukan hantu.
Setelah tiga hantu buntung palsu itu kembali masuk ke dalam rumah hantu, aku mengecek kepalaku yang tadi dimuntahi darah. Setelah aku pegang, ternyata ini bukan darah sungguhan.
Tapi... Tunggu!
Ini tadi dimuntahi? Oh, no!
Aku langsung berlari menuju kamar mandi untuk mencuci kepalaku. Dan untung saja, di dalam kamar mandi ini ada shampo sachet. Jadi aku bisa keramas. Mungkin ini memang tujuan taman bermain ini, mereka mengotori pengunjung supaya hantu mereka terlihat nyata.
Tapi selain itu, mereka juga menyiapkan shampo dan juga sabun wajah sachet untuk pengunjung membersihkan diri.
Menarik sekali.
S E L E S A I