Hari ini aku akan melakukan uji coba bersama teman-temanku. Aku pergi ke suatu bangunan yang sangat angker di wilayah sekitaran Bandung.
Hari ini aku dan teman-teman sudah membuat janji untuk bertemu di rumahku saat malam tiba. Aku berdebar seperti seorang gadis yang akan bertemu dengan kekasihku, padahal Hari ini aku akan melakukan sesuatu yang belum pernah aku lakukan.
"Tia, Apakah kau sudah siap melakukan permainan ini?" tanya Asti kepadaku.
"Tentu saja aku siap, lalu di mana Doni dan Dion?" tanyaku kepada Asti.
"Sebentar lagi mereka akan datang," jawab Asti.
Akhirnya aku dan ketiga temanku pergi ke tempat angker tersebut. Doni dan Dion membawa peralatan yang diperlukan untuk melakukan uji nyali tersebut. kami membawa beberapa barang. diantaranya dupa, wewangian dan lain-lain untuk membuat para makhluk itu keluar dari sarangnya.
Bisa di bilang kalau aku menjadi seorang wanita yang gila karena melakukan hal tersebut. Setelah melalui kesepakatan.. Akhirnya kami telah sampai di rumah itu. Dion mulai mempersiapkan alat-alatnya dan membakar dupa itu di rumah angker yang dipilih.
Belum sampai 5 menit wewangian itu menyeruak ke seluruh rumah angker itu. Hal itu membuat suara-suara aneh yang ada di rumah itu nampak keluar semuanya.
1000 suara keluar dari rumah tersebut, suara teriakan, suara erangan suara minta tolong dari rumah itu, membuat bulu kudukku merinding. Aku yang tadinya begitu berani, tiba-tiba menjadi ketakutan, nyaliku menciut seketika. saat mendengar suara langkah kaki namun tidak terlihat wujudnya.
Badanku terasa meriang, panas dingin karena tiba-tiba aura yang ada di rumah itu menjadi sangat aneh. Asti yang bersamaku langsung memeluk erat tubuhku, sedangkan Dion dan Doni langsung memakai ancang-ancang menyenter ruangan itu.
Percuma membawa senter, karena suara yang ada di ruangan itu tidak berwujud. Hal itu membuat kami berempat panik seketika, bukan ini yang kami inginkan, tiba-tiba pintu yang ada di rumah itu beserta jendela yang tadinya terbuka langsung terkunci dengan sendirinya.
"Aaa!!"
Aku berteriak dengan sekeras-kerasnya, karena terkejut dan langsung berlari ke depan pintu yang ada di rumah itu. nampak pintu itu terkunci dan tidak bisa terbuka.
"Teman-teman, pintunya terkunci!" seru Asti kepada teman-teman.
"Bagaimana bisa terkunci," jawab Kami semuanya.
Akhirnya aku dan Doni berlari ke depan pintu itu, aku mencoba membuka pintu itu namun gagal.
"Pintunya benar-benar terkunci," ucapku kepada ketiga temanku.
"Bagaimana bisa terkunci, tadi kan terbuka. bahkan pintu ini tidak ada kuncinya!" seru Doni yang terlihat panik.
Sesaat kemudian, nampak suara tangisan yang merintih-rintih.
"Suara apa itu!" seruku kepada ketiga temanku.
"Suaranya semakin mendekat!" seru Asti kepadaku.
Benar yang dikatakan oleh Asti, tiba-tiba suara itu semakin mendekat dan tak ayal kami menjerit dengan sekeras-kerasnya.
"Kya!!"
Teriak Kami berempat saat melihat sebuah tangan tanpa tubuh telah bertengger di pundakku dan pundak Doni.
"Tolong..."
Suara rintihan itu terus bergema, sesaat kemudian... setelah penampakan tangan tanpa tubuh itu, terlihat jelas di hadapan kami seorang pria tanpa kepala berdiri dengan tubuh yang berlumuran darah. dan membawa pisau di tangan kanannya dan tangan kiri yang menenteng kepala.
"Kya!!" kami berteriak dengan histeris. karena melihat pemandangan itu, Doni sebagai seorang pria nampak dia tidak bisa melihat hal itu. tiba-tiba Doni langsung pingsan di tempat. Aku dan Dion mencoba untuk menolong Doni.
Namun sesuatu terjadi, sebuah bayangan berkelebat di hadapan kami. dan tiba-tiba membawa tubuh Dion.
"Dion!" seru Kami bertiga.
Kami melihat tubuh Dion menghilang entah kemana. Kami bertiga semakin panik melihat hal itu. Sedangkan Asti, nampak sesak nafasnya langsung kumat saat melihat kejadian itu.
"Kenapa kita harus ke tempat ini!" seru Asti kepada Doni.
"Aku tidak tahu, kalau rumah itu angker!" seru Doni kepada kami berdua.
Belum selesai penampakan itu, aku yang ketakutan dengan tubuh yang bergetar. nampak melihat sesosok wanita dengan rambut yang terurai sangat panjang dan memakai pakaian putih. berdiri di pojok ruangan yang tidak jauh dari kami.
"Demi Tuhan, aku tidak mau melakukan hal ini lagi," ucapku kepada Doni dan Asti..
"Aku takut!" seru Asti kepadaku..
"Tenanglah!" seru Dion.
Saat kami dilanda kepanikan, tiba-tiba kami mendengar suara Doni yang meminta tolong. suara itu terus bergema dan membuat kami semakin merinding.
"Tolong-tolong," suara Doni terus menggema.
Namun kami tidak bisa melihat dimana keberadaan Doni, aku dan Dion beserta Asti menenangkan diri kami. kami tidak ingin kehilangan teman kami, akhirnya Kami bertiga mengelilingi rumah angker itu. penampakan demi penampakan muncul di hadapan kami, hingga salah satu hantu wanita yang ada di tempat itu malah menjambak dan menarik tubuhku hingga membentur tembok.
"Ya Tuhan, tolonglah hambamu ini. kirimkanlah seseorang untuk menolong kami," ucapku dalam hati sambil berdoa kepada Tuhan. agar mengirimkan seseorang kepada kami.
Aku mulai lemas dan merasakan pusing di kepalaku karena benturan yang aku alami. entah berapa lama kami berkeliling di rumah itu. saat kami sudah tidak bisa berjalan lagi karena lemas dan ketakutan. Tiba-tiba ada suara rintihan dan tawa yang sangat menakutkan.
"Ini adalah kesalahan kita, jadi kita harus menerima apa akibatnya," ucap Asti dan Doni.
Aku tidak bisa mengatakan sesuatu, aku hanya mengangguk saja. suara rintihan dan tawa itu begitu menakutkan. Kami bertiga pasrah, entah dimana keberadaan Doni.
Namun sesaat kemudian..
Ada seorang pria tua yang tiba-tiba datang sebagai seorang penolong.
"Apa yang kalian lakukan di tempat ini!" seru pria tua kepada kami. kami membuka mata karena kami takut kalau suara itu adalah suara hantu yang ada di rumah angker. saat aku membuka mataku, terlihat pria itu langsung menarikku dan Asti.
"Segera tinggalkan tempat ini, kalau tidak! nyawa kalian tidak akan bisa kembali!" seru pria tua.
Akhirnya pria tua itu membawa kami keluar dari rumah yang sangat angker itu. kami tidak tahu bagaimana nasib Doni. Dion yang ketakutan mengalami depresi yang berat, sedangkan Asti sesaknya mulai kambuh. pria tua itu selalu mengatakan padaku agar menjaga diri dan tidak mengusik makhluk yang berbeda dengan kami.
Hampir dua minggu, akhirnya nya Doni di temukan, namun kondisinya sangat memprihatikan, karena dia mengalami depresi seperti Dion. Aku bersyukur kepada Tuhan, karena aku baik-baik saja. namun para makhluk tak kasat mata itu, mereka begitu menakutkan.
*** END ***