Kota Hell merupakan kota dengan angka kemiskinan tertinggi di negara Suka-suka. Pejabat pemerintahannya menerapkan pajak yang sangat tinggi untuk rakyatnya. Mereka juga gemar berfoya-foya.
Di kota ini, hanya ada dua golongan status sosial. Yaitu, golongan kelas atas (terdiri dari orang-orang kaya) dan golongan kelas bawah (terdiri dari orang-orang miskin). Tidak ada golongan kelas menengah.
Setiap tahunnya, pejabat pemerintah kota Bonanza menyelenggarakan sebuah turnamen, yang disiarkan ke seluruh penjuru kota. Seluruh masyarakat boleh mendaftar dan ikut serta. Hadiahnya berupa harta yang berlimpah. Akan tetapi, hanya akan ada satu pemenang saja. Sedangkan peserta lain yang tidak menang, akan mati.
Bagi mereka kalangan kelas bawah, lebih baik mati daripada hidup susah. Sehingga setiap tahunnya, hanya orang-orang kalangan kelas bawah saja yang mendaftar turnamen ini. Mereka berharap dapat mengubah nasib mereka, jika berhasil menang. Karena faktanya memang demikian, orang-orang yang sebelumnya menang pada turnamen ini, mereka berhasil mengubah nasib mereka berkat hadiah yang melimpah dari pemerintah.
Bahkan sepuluh tahun belakangan, para pemenang diberikan aset untuk tinggal di luar negeri. Para pemenang hidup bahagia dan tak pernah kembali lagi ke kota Hell.
****
Harold merupakan seorang pejabat kepolisian di kota Hell. Ia tumbuh dan dibesarkan dari kalangan kelas atas. Akan tetapi, berbeda dengan kalangan kelas atas lainnya, yang umumnya cuek dengan keadaan sosial masyarakat sekitar, terlebih kepada kalangan kelas bawah. Harold mempunyai perhatian lebih terhadap lingkungan sekitarnya.
Khususnya sekarang. Perhatiannya benar-benar tersita oleh berita turnamen yang akan segera di selenggarakan. Yang membuat turnamen ini menarik atensi Harold adalah, dari mana para pejabat mendapatkan dana yang sangat besar untuk menyelengarakan turnamen tersebut, ditambah iming-iming hadiah untuk para pemenang yang terbilang sangat besar. Sedangkan setiap harinya mereka hobi sekali menghamburkan uang.
Hal lain yang menganggu Harold adalah sepuluh tahun belakangan, para pemenang yang mendapatkan hadiah dan dikirim ke luar negeri, tak pernah lagi terdengar kabarnya. Mungkin saja, mereka menikmati kehidupan mewah mereka di sana. Tapi, tetap saja hal itu tetap menganjal di benak Harold.
Harold pun memutuskan untuk menyelidiki kasus ini.
****
Harold mendaftarkan dirinya dalam turnamen tahun ini. Untuk pertama kalinya, setelah satu abad turnamen ini diadakan, ada seorang dari kalangan kelas atas yang ikut serta. Turnamen kali ini diikuti oleh setidaknya dua ratus orang penantang.
****
"Selamat pagi, para peserta tercinta," terdengar suara narator dari pengeras suara. Para peserta bersorak-sorai mendengar sambutan tersebut.
"Babak pertama, cukup mudah. Jika, para peserta menggunakan otaknya untuk berlogika," kata sang narator.
Terdengar helaan nafas sang narator. Ia lalu menambahkan, "para peserta di berikan sebuah pistol dengan dua peluru. Kalian diberi kesempatan untuk menembakkan peluru tersebut ke kedua kaleng. Dengan catatan harus ada satu peluru yang tertahan di dalam salah satu kaleng. Jika, kalian gagal maka kalian akan dibuang ke bawah."
Di hadapan mereka di susun dua buah kaleng yang terbuat dari almunium dan disusun sejajar dengan posisi menyamping.
Lantai tempat mereka berdiri sekarang, terbuat dari kayu. Jika mereka gagal, lantai tersebut akan terbuka dan mereka yang gagal akan jatuh ke bawah, yang entah kemana akan membawa mereka. Hal yang sudah pasti diketahui oleh Harold adalah, jika ia gagal maka sudah pasti ia akan mati.
"Para peserta di beri waktu tiga puluh detik untuk menembakkan pistolnya. Dimulai dari sekarang."
Semua orang yang menonton turnamen secara langsung, bersorak sorai di luar area turnamen.
Satu persatu peserta yang gegabah, segera menembakkan pistolnya. Mereka gagal, karena tak ada satu pun peluru yang berhasil tertahan di salah satu kaleng. Seluruh peluru menembus dan melewati kaleng-kaleng yang mereka tembak. Satu persatu peserta pun mulai berjatuhan ke bawah, ketika lantai yang mereka pijak terbuka.
Harold mengedarkan pandangannya. Jumlah peserta semakin sedikit. Mungkin hanya sekitar sepuluh atau sebelas orang. Waktunya juga kian menipis. Ia hanya memiliki waktu sekitar sepuluh detik.
Harold menatap dua kaleng di hadapannya. Ia maju ke depan untuk mengubah posisi kaleng yang awalnya sejajar dengan poisisi bersampingan, menjadi sejajar dengan posisi depan-belakang. Tidak ada peraturan yang melarang mengubah posisi kaleng bukan?
Harold menembakkan satu peluru dari pistolnya ke arah kaleng di hadapannya. Cukup satu peluru. Kaleng pertama akan memperlambat laju peluru yang berhasil menembusnya. Sehingga peluru tersebut akan berhenti tertahan di kaleng kedua, karena tingkat kelajuannya tak lagi sama seperti pertama kali ia menembus kaleng pertama.
Harold berhasil menyelesaikan babak pertama, karena lantai di bawah kakinya tak terbuka dan menjatuhkannya. Beberapa peserta lain yang belum menembakkan peluru, segera mengikuti aksi Harold. Akan tetapi, naas. Karena waktu hanya tersisa lima detik, beberapa pesrta tak berhasil menyelesaikan misinya, dan harus dijatuhkan.
****
"Selamat datang para peserta terpilih. Di babak kedua. Jika babak sebelumnya mengenai logika. Maka babak kali ini mengenai kecepatan," suara narator kembali terdengar.
Sekarang, tujuh orang peserta yang tersisa, sedang berdiri di depan sebuah danau yang berlapis es tipis. Mereka harus melewati danau tersebut dengan cepat sebelum es yang mereka pijak pecah, dan mereka akan tenggelam di dalam air yabg membeku.
'Aku harus berada di urutan pertama, agar aku bisa melewati es yang masih utuh,' pikir Harold. Karena jika ia melewati es yang sudah di pijak oleh peserta lain, maka ia akan mendapatkan pijakkan yang sudah retak. Hal tersebut beresiko membuatnya memecahkan es yang dapat menenggelamkannya ke air es yang akan membunuhnya.
Terdengar suara pistol ditembakkan. Para peserta segera berlari. Harold yang sudah terlatih berlari, karena ia merupakan anggota kepolisian, mendapatkan urutan terdepan. Ia berhasil melewati danau dengan selamat.
Harold menoleh ke belakang. Beberapa peserta memecahkan lantai es, dan terjatuh ke dalam danau. Mereka pun mati membeku ke dalamnya. Harold menelan salivanya, saat menatap kematian di hadapannya.
Hanya tersisa dua orang yang maju ke babak terakhir. Yaitu Harold dan Max.
****
Babak tetakhir di mulai. Harold dan Max ditempatkan di sebuah ruangan kosong dengan satu pintu. Kali ini tidak ada perintah apapun. Hanya sebuah intruksi yang mengatakan bahwa hanya satu orang yang boleh melewati pintu tersebut, dan orang yang melewati pintu tersebut dianggap sebagai pemenangnya.
"Dengar. Aku tidak ingin membunuhmu. Jadi, ijinkan aku untuk melewati pintu itu," kata Harold kepada Max sambil menunjuk pintu di sudut ruangan. "Ada yang harus kucari tau, dan untuk itu aku harus menjadi pemenang," imbuh Harold masih berusaha berbicara baik-baik.
"Tak akan kubiarkan kau melewati pintu tersebut! Kau berasal dari kalangan kelas atas! Apalagi yang kau inginkan! Apa hartamu masih tidak cukup?" bentak Max sambil berusaha memukul Harold.
Harold menghindari pukulan Max. "Tujuanku bukanlah harta. Ada sesuatu yang perlu kuselidiki. Kumohon mengertilah," kata Harold sambil menghindari serangan-serangan yang diberikan Max.
Max tersenyum meremehkan. "Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan hadiah yang seharusnya menjadi milikku! Aku tak peduli dengan alasan apapun yang kau miliki, yang jelas aku harus menang. Karena itu satu-satunya cara agar aku bisa mengubah nasibku," kata Max, menolak berdiskusi lagi dengan Harold. Ia lalu menyerang Harold secara membabi-buta.
Harold yang awalnya hanya menghindari serangan Max, tak punya pilihan lain. Ia ikut menyerang Max. Hingga akhirnya Max terkapar di lantai.
Harold memeriksa denyut nadi di leher dan tangan Max. Max masih hidup. Harold segera berlari menuju pintu kemenangan. Sebelumnya, ia memeriksa bahwa kamera yang ia pasang di bajunya, telah aktif. Rekaman dari kamera itu secara otomatis tersiar ke seluruh penjuru negeri.
****
Setelah menang, Harold dibawa ke sebuah ruangan serba putih. Harold sudah menduga sebelumnya, bahwa ada yang tidak beres dari turnamen ini. Tiba-tiba ada yang memukul belakang kepala Harold hingga ia pingsan. Harold segera di seret ke ruangan operasi. Bajunya yang tertempel kamera perekam, disampirkan ke sebuah kursi oleh salah satu petugas yang sekarang sedang melakukan pembedahan ke tubuh Harold. Ia tidak tau bahwa ia sedang direkam dan ditonton oleh semua orang.
Seluruh negeri pun akhirnya tau. Bahwa, seluruh peserta turnamen tersebut organnya diambil dan dijual, hasil penjualan dipakai untuk memberi makan para pejabat pemerintah. Tak terkecuali sang pemenang, mereka tak pernah dikirim ke luar negeri seperti rumor yang beredar.
****
Akhirnya perdana mentri negara Suka-suka pun memutuskan untuk membersihkan pejabat pemerintah kota Hell. Semuanya di hukum mati. Sistem kelas sosial pun di hapuskan.
Selesai/End.
Note: Maafkan ini cerita pasti garing banget 😂 dan juga cerita ini hanya fiksi belaka dan murni khayalan penulis. Tidak bermaksud menyinggung pihak manapun.