"Kenapa kau menolongku?"
“Bukannya aku peduli, hanya saja...”
Si surai brunette itu menggantungkan kalimatnya, bingung memilih frasa yang tepat untuk menggambarkan perasaannya sementara si lawan bicara di hadapannya menatapnya penuh rasa penasaran.
“Kau apa?”
“Ugh... Aku hanya membantumu karena aku tak ingin melihat tubuh tak bernyawa di depanku.”
Si lawan bicara terkekeh mendengar jawaban itu.
“Aku tahu kau lebih perhatian daripada itu, Eric.”
Pemuda yang dipanggil Eric itu hanya memandang si gadis yang terduduk santai, pipinya bersemu karena rasa malu. Aria—gadis itu masih terkekeh walaupun mendapat tatapan tidak suka.
“Jadi, apa yang kau inginkan?” tanya Aria selanjutnya.
“Hah?”
“Kau menyelamatkan nyawaku, jadi aku harus membalas jasamu, bukan?”
Eric sedikit terkejut mendengarnya, kemudian menetralkan wajahnya dan mengalihkan pandangannya. “Biar kupikirkan dulu. Jangan pergi kemanapun sebelum aku menentukan permintaanku.”
Aria tersenyum jahil, “Ah, Eric, apakah itu hanya pengulur waktu agar aku terus berada di sisimu?”
“Tentu saja tidak, bodoh! Jangan memikirkan hal aneh seperti itu!”
Pemuda berjaket coklat itu beranjak melewati Aria dan masuk ke pintu di belakangnya. Hatinya masih berkecamuk.
“Anehkah bila aku bersikap seperti itu padanya? Lagipula dia hanya orang bodoh yang memerlukan perlindungan. Melindungi yang lemah adalah tugas bagi yang kuat, kan? Lagipula, dia sedang terluka,” batin Eric dalam diam.
Tak lama, pemuda brunette itu kembali dengan sekotak obat-obatan. Dia menghampiri Aria yang duduk di sofa. Eric memandang gadis itu dengan sedikit rasa kasihan, sebab sofa yang diduduki Aria itu tak kelihatan lagi warnanya karena dibanjiri darah si gadis pirang.
Eric menelisik. Mata Aria terpejam, mungkin merenung, atau tidur. Si surai pirang itu daritadi hanya mengganggunya tanpa mempedulikan lukanya sendiri. Tangan kanan dan kedua kakinya terluka parah. Mustahil untuk menyembuhkannya dengan apa yang Eric punya saat ini. Setidaknya, dia harus mengambil beberapa obat di rumah sakit, namun, siapapun tahu bahwa tempat penyuplai obat bagi survivor sepertinya adalah sarangnya si pemakan otak dan penginfeksi.
“Aria,” panggil Eric pelan.
Merasa terpanggil, Aria membuka matanya perlahan. “Ada apa?”
Eric tak menjawab. Dia memperlihatkan kotak obat-obatan itu dan berjongkok di depan kaki Aria untuk mengobatinya lebih dulu.
“Kau beruntung karena kita hanya bertemu dengan survivor, meski mereka gila, tapi paling tidak, kau takkan berubah jadi monster 4 jam ke depan.”
Gadis itu tersenyum miris, “Dan lebih beruntungnya lagi, kau mau menolongku.”
Eric memutar matanya, lalu meneteskan antiseptik ke luka menganga di depannya itu. Aria meringis menahan sakit, sambil sesekali melihat wajah Eric yang berhati-hati mengobati lukanya.
“Kenapa kau tak istirahat dulu? Aku bisa mengurus luka-luka kecil ini.”
“Jika aku istirahat sekarang, Aria, ‘luka kecilmu’ ini akan membunuhmu dalam tiga hari jika kau tetap bersikeras merawatnya sendiri.”
“Kau adalah satu-satunya yang bisa menyerang sekaligus bertahan, Eric. Lebih baik bagimu untuk menyimpan tenagamu agar kau,” Aria menunjuk Eric, “dan aku,” lalu menunjuk dirinya sendiri, “bisa hidup," lanjutnya.
“Maksudmu kau menyuruhku membiarkan luka-luka sialan itu menggerogoti tubuhmu dari dalam?” Eric sedikit meninggikan suara, juga menekan kapas di luka Aria lebih keras, menyebabkan si empunya luka mengaduh kesakitan.
“Lihat, baru kutekan sedikit saja kau sudah kesakitan. Bisakah kau diam saja dan membiarkanku mengurus semua hal di sini, termasuk lukamu?”
“Apanya yang sedikit menekan, kau pasti memasukkan seperlima dari kekuatanmu untuk menekan kapas itu!” batin si pirang, namun yang keluar hanyalah anggukan pasrah. Memang hati dan pikiran kadang berkebalikan.
Eric menghela napas dan tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan kepalanya untuk mengembalikan ekspresi datarnya, tepat sebelum Aria menyadarinya.
“Ah, bagaimana dengan yang lain? Kudengar Darren dan Anna sedang mencari suplai. Bagaimana dengan Rick dan Johan?”
Eric menggeleng. “Aku belum mendengar kabar dari Rick dan Johan. Terakhir bertemu saat kami mencoba mencuri data dari laboratorium lama itu.”
“Laboratorium lama…. bukankah itu setahun yang lalu?”
“Hm…”
Pemuda datar itu menampakkan raut sedih. Tak hanya Rick dan Johan yang telah dianggap gugur. Alex, Abigail, April, dan Jack juga telah tiada.
Aria yang menyadari perubahan sikap Eric lekas mengganti topik bahasan. “A-ah, aku punya id—“
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba pintu kamar apartemen mereka digedor dengan keras. Tak hanya itu, geraman juga terdengar dari baliknya.
“Darren dan Anna pasti akan lewat atap tanpa menggedor pintu dan menggeram, ‘kan, Eric...?”
Mereka berdua menatap pintu yang terus berbunyi itu. Eric segera mendorong apapun yang bisa menghalangi pintu untuk terbuka, termasuk sofa yang tadinya diduduki Aria, membuat gadis itu reflek berdiri, lalu terjatuh karena melakukan gerakan yang tiba-tiba.
“Aria, maaf, tapi tolong bantu aku dengan menyiapkan ransel, bawa apapun yang berguna, jangan lupakan radio dan obatnya! Aku akan mengambil beberapa pisau dan pistol!”
Mereka bergerak dengan cepat, Aria memaksakan dirinya untuk bergerak, meski keadaan lukanya belum lima puluh persen tertutup perban. Saat hendak mengambil radio di atas meja, gadis itu kembali terjatuh, pendarahan terjadi lagi di kakinya. Tubuhnya melemas akibat kekurangan darah, pandangannya mulai berputar.
“Aria!”
Eric kembali dengan menenteng sebuah tas yang terlihat penuh, juga senapan yang tersampir di bahunya.
“Tenanglah, aku tidak apa-apa. Maaf, sepertinya aku hanya menjadi bebanmu di saat seperti ini.”
Eric bergegas membantu Aria, tangannya dengan cepat mengambil perban dan melilitkannya secara tergesa di kaki dan tangan si pirang yang belum terbungkus dengan kain putih itu.
“Hei, Eric, kupikir... sebaiknya kau pergi lebih dulu. Aku yakin, setidaknya dalam setengah hari kedepan, zombie-zombie itu takkan bisa masuk kemari. Dalam jeda itu, aku pastikan aku sudah keluar dari sini.”
“Keluar dari sini dengan jiwamu tanpa badanmu, maksudnya? Jangan bodoh! Aku takkan meninggalkanmu sendirian!”
Geraman dan gedoran pintu makin keras terdengar. Sepertinya suara yang keras mengundang zombie lain hingga jumlahnya terus meningkat.
“Selesai. Aria, kau bawa satu ransel, aku yang akan bawa sisanya.”
“Tinggalkan aku yang hanya akan jadi bebanmu, Eric. Kau harus bisa pergi melalui garis merah, memberitahu Para Dewan tentang keadaan di sini, kumohon…”
Pemuda itu mendecih, “Sifat keras kepalamu datang di waktu yang menyebalkan, Aria. Aku akan memaksa. Permintaanku, tetaplah hidup dan ikutilah aku kemanapun, hanya itu. Kau takkan menjilat lidahmu sendiri, bukan?”
Aria tersenyum miris. Dengan perasaan sedih dan haru dalam hatinya, dia berkata, “Kau terlalu baik, Eric…”
Si surai brunette memandang Aria dengan kesal. “Apakah sulit untuk mempercayaiku, Aria?!”
Si pirang menggeleng lemah. “Gila saja, kau adalah orang yang paling kupercayai.”
“Nah, sekarang, maaf saja bila aku tidak melakukan apa keinginanmu, kepala batu, tapi aku tak akan meninggalkanmu sendiri.”
Eric mengambil tangan gadis itu, menyampirkannya di bahu sebelah kanannya, lalu membantunya itu melangkahi tangga menuju rooftop. Meski Aria merasa enggan, namun mau tak mau dia harus menghormati usaha Eric. Dia menyeret salah satu ransel dan memaksa kakinya melangkah lebih cepat, mengingat suara dari balik pintu yang kian ramai.
Beberapa kali Aria terjatuh, namun untunglah Eric selalu menahan ambruk tubuhnya itu. Perjalanan menuju rooftop tak pernah terasa selama dan semenegangkan ini. Baru setengah jalan, geraman menguar dari ruangan yang barusan mereka tinggalkan.
“Sialan,” umpat Eric pelan.
Mereka mempercepat langkah. Tinggal menunggu waktu bagi para zombie itu untuk menemukan dua orang yang sedang menyelamatkan diri itu. Lalu sayangnya lagi, Aria kembali tersandung, menyebabkan keduanya jatuh dengan suara gedebug yang lumayan keras tanpa bisa ditahan oleh Eric yang kurang memperhatikan.
“Pergilah duluan! Aku mungkin bisa mengulur waktu!” seru Aria yang mulai panik.
“Kita sudah berdebat tentang ini, bodoh! Kita berdua pergi, sekarang!”
Eric lantas berdiri, membopong Aria di pundak. Gadis itu tak bisa menyembunyikan wajahnya yang terkejut, dirinya tak mengira bahwa Eric dapat menggendongnya secepat itu. “Seret ranselnya, Aria!” Karena reflek dan terkejut, dia langsung menyeret salah satunya, sementara senapan masih berada di bahu pemuda itu.
Mereka berdua mendengar langkah kaki berat yang semakin mendekat. Satu, dua, tiga, entahlah, Aria maupun Eric tak bisa memprediksi. Saat ini, mereka harus fokus untuk menyelamatkan diri dulu.
“Sedikit lagi—“ ujar Eric, sambil membuka pintu rooftop itu.
Aria melirik ke belakang, beberapa pemakan otak itu berjarak tujuh langkah di bawah mereka. “GAWAT!” batinnya.
Eric akhirnya berhasil membuka pintu itu, namun tubuhnya didorong oleh Aria sehingga terjatuh di lantai dengan tas yang mendarat tepat di sebelahnya.
"Maafkan aku! Setidaknya biarkan aku melindungimu saat ini! Teruslah hidup demiku!” teriak gadis itu dengan suara parau sebelum suara terkunci dari pintu tembaga itu masuk ke pendengaran Eric.
“ARIAAA!!!”
Eric menghampiri pintu itu, menggedor-gedornya. Terdengar suara kesakitan yang menyayat hati, juga beberapa suara dentuman dari dalam.
“PER—GILAHGHH, ERIC!!”
“BODOH, AKU TAKKAN MEMBIARKAN ORANG YANG KUCINTAI MATI!”
“Aku juga—mencintaimu. Pergilah, dan hiduplah demik—“
Suara Aria terpotong, geraman kembali memenuhi pendengaran Eric. Tangannya gemetaran setelah merasakan getaran dari pintu bagian bawah, yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Aria.
“Ini bohong 'kan…”
Pandangan Eric menjadi kosong, tubuhnya merosot ke bawah, seolah kakinya tiba-tiba kehilangan kekuatan. Dengan latar belakang geraman dari para zombie, pemuda itu meneteskan air mata.
“Kenapa…Aria? Kita bahkan baru saling menyatakan perasaan masing-masing, ‘kan? Kenapa…?”
Pemikiran untuk membuka pintu pembatas antara dirinya dan monster itu sempat menghampiri Eric. Namun, pesan terakhir gadis itu terngiang di kepalanya, “Hiduplah.”
Dengan cepat, Eric menghapus air matanya dan menenteng tas di bahunya. Kakinya dipaksakannya untuk berdiri, lalu meloncati gedung demi gedung yang tak terlalu berjarak itu.
"Andai aku lebih kuat. Andai aku lebih andal. Andai aku lebih siaga. Andai aku… lebih jujur… ARGH, SIALAN!"
Eric terus melompat dan berlari, hingga sampai di gedung terakhir yang juga menjadi bangunan paling dekat dengan garis merah, meski tetap terpisah sejauh 150 meter.
"Gedung ini... tempat kita pernah bertemu... Benar ‘kan, Aria...?”
Tanpa terasa, cairan bening itu mengalir kembali dari matanya, menatapi bekas darah di salah satu pagar pembatasnya yang rusak, darah si pirang
---0---
“Aku tak apa, sungguh!”
“Lihatlah keadaanmu bodoh!”
“Geh, ini bukan apa-apa, aku bersumpah!”
Eric kembali menatapi pemuda itu, lantas menyentuh luka yang ada di lengannya, hingga membuat si empunya berseru kesakitan. Eric menatapnya lagi, "Tuh, ‘kan."
Aria meringis, “Baik, maaf! Tapi aku masih bisa bertahan!”
Pemuda itu memutar mata dan mengambil lengan Aria yang satunya, “Kau tak punya pilihan, jangan melawan.”
Aria hanya bisa menurut, aura intimidasi dan absolut milik Eric menguar, tidak membiarkannya menolak perintahnya.
“Ah, ngomong-ngomong, siapa namamu?” tanya Aria sambil menatap Eric yang bersiap melompat.
“Eric.”
“Nama yang bagus," puji gadis itu sambil tersenyum.
Eric kembali memutar mata, “Aria—setidaknya perhatikan pertemuan survivor, kita sering bertemu di sana bukan?”
Gadis itu terkekeh, “Maaf, aku terlalu acuh untuk memperhatikan sekitar”
Mereka melompat bersama, masih dengan Eric yang membantu Aria. Setelah beberapa lama, sampailah mereka di gedung yang Eric anggap sebagai rumah—karena bagaimanapun juga, tempat inilah yang paling nyaman untuk ditinggali, dan sedikit terasa hangat akibat memori yang didapatkannya. Tempatnya bersenda gurau dengan Darren, Anne, Rick, dan teman-temannya, yang mana sekarang tinggal dia sendiri yang bertahan di sana, menunggu kepulangan para saudara seperjuangan yang kemungkinan besar takkan pernah kembali.
“Duduklah dulu,” ucap Eric sesampainya di ruang tengah.
“Un, terima kasih…”
Hening menyelimuti mereka, hingga Aria lebih dulu membuka mulutnya,
“Jadi… kenapa kau mau menolongku?”
---0---
Eric mendengus. “Karena aku sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu, bodoh.”
---0---
Setelah Eric meninggalkan ruangan untuk mengambil obat, Aria lebih dulu beranjak, mengambil pena dan selembar kertas yang lecek karena tertekuk-tekuk di saku bajunya. Jarinya bergerak cepat tanpa suara.
---0---
Sepucuk surat jatuh dari kantong ransel yang kurang tertutup itu. Eric menatapnya heran, lantas mengambil dan membaca isinya.
“Eric,
Bukannya aku tak mengingatmu selama ini, bukan. Jujur, kaulah yang selalu membuatku acuh pada keadaan. Bukan dalam artian buruk, tapi kau selalu mengambil perhatianku dalam pertemuan itu. Aku terkejut saat kau mau menolongku, dan sungguh, aku sangat bahagia, terima kasih. Umm… aku tak terlalu pandai dalam menulis surat, jadi aku hanya ingin mengucapkan terima kasih dan maaf, kurasa aku takkan bisa menepati permintaanmu. Kuharap, kita bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Pastikan bahwa dirimu jatuh cinta padaku saat pertemuan selanjutnya, ya?
Aria.”
Air mata yang kian menderas mengiasi wajah tampan penuh debu itu. Beberapa tetes air matanya malah membuat kertas dalam genggaman tangannya yang bergetar basah, lantas sedikit mengaburkan tinta yang terbubuh di atasnya.
“Bodoh. Sempat-sempatnya kau menulis surat ini…”
Eric menatapi kembali kertas itu untuk terakhir kalinya, lantas menyimpannya di saku celana setelah menghapus jejak-jejak air matanya.
“Lantai bawah penuh zombie, sementara lantai atas terkunci dan kuncinya dibawa oleh Johan. Lewat tangga darurat hanya akan membawa gelombang monster itu mendekat. Keadaannya sama dengan gedung lainnya, huh?”
Eric memilih mengeluarkan pisau, kakinya melangkah cepat—nyaris berlari menuruni tangga darurat. Masa bodoh dia dihampiri oleh sekumpulan zombie, pemuda itu hanya akan melawan mereka, lalu keluar dari zona merah itu dan menemui dewan—seperti permintaan Aria. Namun sebelumnya, dia menuliskan sebuah surat, berjaga-jaga jika suaranya tidak terdengar oleh mereka, setidaknya, tulisannya telah mewakilinya.
—0—
.
.
.
“Sebuah surat?” seorang perempuan berambut hitam sebahu meraih kertas itu. Ia mengenakan pakaian formal yang senada dengan rambutnya.
Sebenarnya, berjalan di dekat perbatasan zona merah adalah hal yang berbahaya, tapi entah kenapa, kakinya telah lebih dulu melangkah kemari.
Dia mulai membaca kertas itu. “Tulisannya berantakan,” gumamnya. Setelah mengerutkan dahi berkali-kali, perempuan itu akhirnya dapat memahami seluruh isinya.
Dia membuka ponselnya, memotret surat itu, lantas menekan beberapa angka.
“Halo?” ucap suara di seberang telpon.
“Hei, Darren.”
“Nona Amber, ada apa?”
”Aku menemukan sesuatu yang penting tentang zona merah. Selenggarakan pertemuan dewan, SE.KA.RANG!”
“Ba-baik!”
—0—
.
.
.
“Perlawanan dewan dengan virus yang mengancam ini membuahkan hasil. Demikian adalah pendapat dari salah satu anggota dewan, Darren Smith” ujar si pembawa acara.
Tak lama, wajah seorang pria yang kira-kira berusia 60-an dengan rambut memutih muncul di layar dengan tulisan “Darren Smith, anggota dewan” di bagian bawahnya.
“Ah, sebenarnya, saya dan rekan yang kini menjadi istri saya, Anne Smith adalah salah satu survivor. Kami berhasil keluar dari zona merah dan segera melakukan penelitian untuk menciptakan sebuah obat untuk menghadapi para zombie itu.
Kira-kira 2 tahun lalu, saya mendapat surat dari rekan yang berada di zona merah. Namun sayangnya, nyawanya tidak dapat kami selamatkan.”
“Jika kami boleh tahu, apa isi surat tersebut?”
“Surat itu tak bernama, tapi saya yakin siapapun yang menulisnya, ia adalah seorang jenius. Di dalamnya tertulis keadaan zona merah, juga hasil pengamatannya terhadap para zombie itu. Karena itulah, kami bisa membuat vaksin, juga gas beracun yang dapat membunuh mereka. Sayangnya setelah pembersihan, tidak ditemukan survivor yang selamat.”
“Ah, sayang sek—“
Ptass.
"Aku bosan dengan berita ini... Ibu, aku main ke rumah Iris!"
"Baiklah, ingat untuk pulang sebelum jam 3, Dave," jawab suara dari dapur.
Dave, bocah sepuluh tahun itu mengangguk. Dirinya segera keluar dan berlari, tak sabar menemui Iris, gadis sepantarannya yang baru pindah ke kompleks rumahnya seminggu yang lalu. Dia adalah gadis ceria dan keras kepala, tetapi sangat perhatian padanya.
Dave senang bermain dengannya, tapi entah kenapa, Iris selalu mengingatkan anak itu akan mimpi aneh dimana dia berada di tengah kepungan zombie bersama seorang gadis pirang dan lagi, panggilannya adalah Eric. Dave bertambah bingung. Dia tak pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi kenapa dia dipanggil demikian?
Lalu jujur saja, Dave kerap kali merasakan perasaan rindu dan sedih saat berjumpa dengan tetangga barunya itu. Itu adalah perasaan yang aneh, sangat aneh bagi bocah yang baru berusia 10 tahun.
.
.
.
.
.
[TAMAT]