Hai..... ceritaku kali ini tidak terlalu menenganggkan, tapi aku tidak tahu pendapat kalian bagaimana? Aku kalian harap suka.
Namaku Anna, umur 10 tahun. Seorang anak pramuka. Pada saat penjelajahan alam terbuka, aku dan temanku Beca tidak sengaja tersesat. Ini karna aku juga sih. Aku melihat seekor kupu-kupu sapho long wing. Spesies ini termasuk kedalam salah satu kupu-kupu yang cukup langka. Aku dan Beca mengejar kupu-kupu itu dan tampa menyadari kami masuk kedalam hutan. Hal ini disadari oleh Beca ketika ia mengetahui bahwa kami sudah sangat jauh dari rombongan.
Aku tidak panik karna aku..... Oh tidak aku melupakan peraturan penting dalam menjelajah, yaitu selalu tinggalkan tanda saat memasuki kawasan baru. Beca mulai merasa ketakutan dan cemas. Aku mencoba menenangkannya. Aku memberi saran untuk menyelusuri perlahan-lahan jalur yang kami lalui. Tapi sepertinya kami malah tambah masuk kedalam hutan. Semak belukar memenuhi sisi kiri dan kanan. Pohon-pohon menjulang tinggi menembus awan. Tidak sampai deh. Aku dan Beka beristirahan sebentar di salah satu batang pohon yang memiliki akar menyumbul dari tanah.
Kami berdua tidak membawah bekal hanya membawah makanan ringan dan masing-masing sebotol air mineral yang tinggal sedikit. Untung hutan ini tidak terlalu rimbun cahaya matahari yang menyengat masih bisa menembus masuk. Aku berencana untuk membuat api menggunakan kaca pembesar yang untung aku bawah. Asap dari api ini akan memberi sinyal pada rombongan kami. Mungkin saat ini mereka sudah menyadari kalau aku dan Beda menghilang.
Kami melanjutkan perjalanan menyelusuri hutan secara berhati-hati. Tentu saja ini alam liar, berbagai macam bahaya bisa ditemukan. Api yang sebelumnya aku buat sudah aku padamkan untuk mencegah kebakaran hutan. Tidak apa, setidaknya tim pencari mengetahui kalau kami pernah ada disana dan jalur yang mereka lalui benar.
Sepanjang perjalanan kami sedikit beruntung menemukan buah liar seperti Blackberry memiliki nama latin Rumus Fruitecosus. Cabang merah berduri seperti batang mawar. Daun berwarna hijau lebat bergerigi dan buah seperti anggur tapi lebuh kecil berwarna hitam. Rasanya manis dan bisa dimakan. Selain itu adah buah Ederbecies memiliki nama latin Sambucus. Daun panjang, bulat dan sedikit bergerigi. Buah berwarna ungu gelap seperti anggur bulat kecil dan bergerombol.
Hari semakin gelap. Aku dan Beka masih belum bisa keluar juga dari hutan ini. Untuk keamanan malam yang panjang. Kami memanjat pohon setinggi apa yang bisa kami jangkau, mengikat kaki kami ke dahan tempat kami duduk sambil bersandar di batang pohon. Hal ini bertujuan agar kami tidak jatuh saat tertidur. Tali yang kami gunakan adalah tanaman rambat yang kami temukan di sepanjang jalan. Untuk lebih aman lagi kami secara bergantian berjaga.
Pagi yang cerah sinar matahari menerpa. Astaga aku ketiduran saat berjaga. Bukan sinar mentari yang membangunkan ku tapi suara babi hutan yang tepat di bawah kami. Rombongan babi hutan tepatnya. Jumlah mereka ada 7, dua berukuran besar dan sisanya berukuran kecil. Aku membangunkan Beca yang tertidur lelap di samping ku.
"Beca bangun Beca," kataku dengan suara pelan sambil mengguncang tubuh Beca. Ia akhirnya bangun.
"Oaam..." aku segera menutup mulut Beca menggunakan tanganku.
"Stt... Diam. Lihat kebawah," pintak ku.
"Em... Em..." Beca panik melihat segerombolan babi hutan itu. Aku melepaskan tanganku. "Bagaimana ini Anna?"
"Tenang mereka tidak bisa memanjat pohon. Kita tunggu saja sampai mereka pergi."
Cukup lama kami menunggu akhirnya segerombolan babi hutan itu pergi. Kami menghelan nafas lega. Aku dan Beca turun dari atas pohon dan melanjutkan perjalanan berlawanan dengan arah babi hutan tadi.
"Bagaimana ini Anna? Apakah kita bisa menemukan jalan pulang?" tanya Beca sepertinya ia mulai putus asa.
"Tenang saja selama kita mengikuti arah matahari terbit kita akan menemukan jalan keluarnya. Aku ingat kemarin tempat perkemahan berada di arah matahari terbit," jelas ku memberi semangat pada Beca.
"Berarti kita hanya punya waktu pagi ini saja."
"Lumut solusinya. lumut paling tebal selalu mengarah ke barat."
Kami terus menyelusuri hutan, mengikuti arah matahari terbit. Tapi kesialan masih menghampiri kami. Aku dan Beka secara kebetulan bertemu dengan beruang. Beruang besar berwarna hitam menatap kami. Aku dan Beca berjalan mundur perlahan. Beruang itu menggeram memperlihatkan giginya. Kami berlari sekuat tenaga ketika beruang itu mulai mengejar. Ups... Jalan buntu. Kami terjebak. Ada jurang di belakan kami dan beruang di depan. Aku melihat ke bawah jurang ada sungai mengalir di sana. Aku melirik ke Beca yang gemetar ketakutan. Tangannya menggegam erat tanganku.
"Beca bisa berenang?"
"Apa?!"
Aku menarik tangan Beca terjun bebas ke sungai. Kami berenang ketepian. Aku lihat beruang itu pergi. Sepertinya ia hanya menggertak kami. Ini akhirnya baju kami basa tapi kami beruntung dapat selamat. Aku mengisi botol air meneralku dengan air sungai untuk bekal perjalanan. Dari pada kehausan kenapa tidak.
"Perutku lapar sekali," rintih Beca.
"Apa kau dengar itu?" tanyaku.
"Dengar apa?"
"Itu sepertinya suara air terjun. Hewan apa yang suka air terjun?"
"Oh.... Aku mengerti maksudmu."
Kami menyelusuri pinggiran sungai berlawanan arus. Tidak sampai lima menit air terjun kecil sudah kelihatan. Dan seperti yang di harapkan Beberapa ikan salmon melompat keluar dari air, bermain dengan arus yang deras.
"Bagaimana cara menangkapnya?" tanya Beca.
"Aku dengar kau sangat pandai bermain baseball," kataku sambil menenteng kayu seukuran tongkat baseball.
"Wah....!! Dari mana kau mendapatkan kayu itu?"
"Tadi sepanjang jalan."
Aku menyodorkan kayu itu pada Beka. Ia mengambilnya. Beca bertugas memukul ikan yang melompat sedangkan aku akan menangkap ikan yang sudah dipukul. Walau ikannya kembali masuk ke air setelah dipukul tapi setidaknya memudahkan untuk menangkapnya. Dua ekor ikan sudah didapatkan, api sudah menyala. Menu hari ini adalah ikan bakar. Selesai makan kami melanjutkan perjalanan. Hari semakin siang, aku dan Beca beristirahat sebentar mengumpulkan tenaga. Sampai suatu ketika...
"Aawww.....!"
"Ada apa Beca?"
"Ada yang menggigit ku."
Aku melihat ke bawah mencari tahu apa yang menggigit Beca. "Astaga Beca itu ular!!!"
Aku menangkap ekor ular itu dan langsung memukulkanya ke batang pohon. Masih hidup. Aku melemparkannya kesemak-semak. Ako merobek bajuku dan melilitkannya pada kaki Beca yang digigit ular. Aku menghisap luka Beca untuk mengeluarkan bisa ular tadi.
"Ular apa tadi Anna?"
"Itu adalah ular tanah (Calloselasma Rhodostoma) aktif di malam hari. Bentuk kepala segitiga, bercorak mirip tanah. Bisa ular ini sangat mematikan jika terlambat mendapat pertolongan," jelas ku sambil membuat api.
Aku mengasapi kaki yang terkena gigitan ular tadi atas api. Hal ini bertujuan untuk mengeluarkan bisa ular. Setidaknya begitulah yang di katakan kakek ku. Aku tidak menyangka akan mempraktekkannya disini. Semoga saja apa yang dikatakan kakek ku benar.
Aku membopong Beca berjalan mencari pertolongan. Aku berteriak minta tolong harap-harap ada seseorang yang mendengar. Seperempat jam berjalan. Tubuh Beca semakin lemah. Tiba-tiba aku mendengar suara bu Marry memanggil kami berdua. Suara yang pelan tapi terdengar jelas.
"Bu Marry......!!!!" teriakku. Tidak ada jawaban. Apa aku salah dengar?
"Anna! Dimana kau!!!" balas bu Marry.
Ternyata aku tidak salah dengar. Aku kembali berteriak memberi tahu lokasi kami. Akhirnya. Akhirnya Baca dapat selamat. Dari ke jauhan aku melihat bu Marry berlari menghampiri kami dengan beberapa orang di belakangnya. Wajahnya begitu senang melihat kami begitu juga dengan ku. Tapi pendanganku kabur, rasa pusing menyerang kepalaku. Aku jatuh tersungkur ketanah.
Kami berdua di larikan ke rumah sakit terdekat. Beca segera mendapatkan perawatan medis yang ia butuhkan. Kondisinya sudah membaik dan jauh dari bahaya. Aku turut senang melihatnya. Setidaknya salah satu dari kami selamat.
Aku meregang nyawa karna bisa ular yang aku keluarkan dari luka Beca menggunakan mulutku masuk melalui gigiku yang tanggal kemarin. Penyebaran bisa itu jau lebih cepat ke organ vital dan membunuhku sebelum sampai di rumah sakit.
............TAMAT............