Merasa menjadi beban keluarga aku pergi meninggalkan rumah dan pada akhirnya aku menjumpai sebuah tempat yang dimana akan menjadi kehidupan ku selanjutnya.
Saat itu aku mendengar ayah dan ibuku bertengkar, aku tau aku hanyalah anak bodoh yang hanya bisa mengandalkan jawaban teman. Ayahku begitu marah hingga dia memasuki fase yang sangat amukan. Ibuku seorang yang temperamental tidak bisa mempertahankan hubungan keharmonisan ini. Aku sebagai anak aku sadar pertengkaran mereka jelas karena ulahku, aku berinisiatif pergi dan menjauh dari kehidupan mereka. Karena aku hanyalah anak angkat!
Sampailah aku pada pelabuhan kota, aku menyusup memasuki sebuah peti angkut disana. Setelah seminggu terombang ambing aku mulai lapar dan membutuhkan cahaya. Aku membuka peti kemas ini dengan kedua tanganku .
“ Oh ya ampun! Dimana ini?”
Aku hanya bisa menangis meratapi kepergian kedua orang tuaku beserta kapal yang mengangkut barang sudah pergi. Ternyata barang yang mereka bawa akan dibuang ditengah laut!
Dua Minggu masih terombang-ambing di dalam peti yang mulai rusak, aku senantiasa berdoa kepada sang pencipta agar dipertemukan dengan daratan. Bibirku mulai kering dan makanan pun sudah tidak ada. Aku tidak bisa meminum air laut secara terus menerus, aku merasa mual dan akhirnya pingsan!
Malam yang sangat dingin membangun kan diriku yang masih plin plan dengan arah gelombang laut membawa. Percikan air laut kala itu semakin dingin dan seperti salju yang menusuk ke dalam relung hati, suara gemuruh air laut membuat ku takut akan terjadi badai. Lebih khawatir tentang peti yang aku jadikan penumpang hidup sudah mulai rusak dan kemungkinan besar dalam waktu dekat akan tenggelam. Badai pun datang!Aku yang sedari tadi berada dalam peti hanya bisa berdoa dan berdoa!
Paginya kepalaku terasa sakit seakan terbentur benda yang amat keras, aku terbangun sambil mengerang kesakitan! Betapa bersyukurnya hidupku aku telah sampai disebuah pulau yang masih asri dan hijau. Aku memuji diriku sendiri sambil menguatkan hati agar tidak mengingat kedua orang tuaku di dunia sana!
“ Syukur Alhamdulillah, aku masih selamat!”
“ waou! Erika kau sangat hebat, bisa hidup setelah sebulan dalam peti sampah itu. Usia 16 hanyalah omong kosong belaka, lihatlah kau masih hidup dan bernapas!”
Gumanku berbicara pada bayangan yang berada dalam ombak pendek tepi pantai.
Setelah menyusuri kedalam hutan sampailah aku disebuah gubuk yang beratap daun kelapa itu dengan senang. Aku mencoba masuk dan meminta sedikit makanan.
“ Permisi, apa ada orang. Umm,, pak! Bu! Bisakah aku mendapat sebuah makanan. Aku sangat lapar!”
Ujarku melihat lihat sekitar tapi tiada seorang pun disana.
Dari arah belakang terlihat seorang lelaki muda yang tampan, berjalan menghampiri ku dengan memikul balokan kayu mangga di belakang pundaknya. Tanpa pikir panjang aku berlari membantu nya dan mengobrol dengannya.
“ Em,, boleh aku membantu membawa rating kayu tersebut?” tawarku sambil mengulurkan tangan.
“ Hah?” jawabnya melongo.
Akhirnya aku memaksa dan membatu membawa nya sampai di gubuk kelapa tadi.
Setelah lama berbicara kami mulai akrab dan memutuskan untuk tinggal bersama karena dipulau itu tiada seorang pun yang hidup, kecuali Nathan anak laki-laki yang nasibnya sama sepertiku!
Aku menjalani kehidupan ku dengan baik dan lancar, kami mencari ikan bersama, mengelilingi pulau, berenang, dan membuat cerita bersama. Aku dan Nathan kala itu sedang mencari sebuah kerang di sore hari, tapi dari arah kejauhan nampak sebuah kapal pesiar besar akan melintas. Dengan cekatan aku mengambil daun kelapa besar dan melambaikan nya keudara berharap kapal itu berhenti dan membawa kami pulang ke kota lagi.
Nyatanya kehidupan dipulau sendiri tanpa orang tua itu tidak enak seperti ekspetasiku, aku menyesal dan aku ingin kembali ke rumah ku yang sempit dulu!
Kapal pesiar itu pergi menjauh, aku merasa sangat sedih. Dengan rasa kemanusiaan yang masih ada Nathan memelukku dan mencoba menenangkan ku. Aku merasa begitu nyaman dan tenang dalam dekapannya hingga sampai akhirnya kami melakukan hal itu.
Setahun penuh aku berada dipulau itu bersama Nathan, kami menjalani kehidupan layaknya manusia pada umumnya, mencari makan dan mengurus keluarga.
Sesuai jadwal angin, bulan November kala itu pulau kami dilanda Badai yang amat begitu besar hingga memporak porandakan gubuk kami, aku begitu ketakutan begitu juga dengan EMI anak perempuan kami.
Kematian memang tidak bisa dielakkan, Memang sudah menjadi takdir alam siapa yang akan menjadi penghuni tanah lembab itu. Pohon kelapa yang besar terhuyung roboh oleh angin menimpa gubuk kami dan mengakibatkan Nathan mengorbankan dirinya demi menyelamatkan ku dengan Emi.
Aku begitu terpukul , aku tidak bisa berfikir dengan jernih, sampai pada suatu hari aku menemukan sebuah ide. Dimana EMI akan aku hanyut kan ke laut agar mencapai daratan kota dan mendapat Keluarga baru disana.
Aku mulai merakit sebuah sampan dari beberapa lembar kayu yang kubuat seperti peti yang membawaku dulu, setelah itu aku memasukkan Emi kedalam peti itu dan mendorongnya kearah ombak laut.
Aku berharap semoga EMI mendapat keluarga yang bisa menyayanginya dengan baik. Aku menangis sendu menatapi kepergian peti kelapa itu yang mulai menjauh dari pulau.
“ Baiklah, aku akan menjalani kehidupan terakhir ku disini. Menemani Nathan dan memberi harapan besar pada anakku supaya menjadi anak yang baik.”
.....
Dilain sisi, di bibir pantai seorang nelayan menemukan sebuah peti mengapung dan membukanya.
“ Aduh, anak siapa ini?”
,” ululu Lulu..cup cup. Ikut bapak kerumah ya nak, mungkin ibumu sedang banyak masalah.”
.......Dan cerita pun berakhir.....