Namaku Salma, Hari ini aku pindah kerja di sebuah kota yang ada di daerah antara perkotaan dan desa. Karena hari ini aku telah dipindah tugaskan oleh perusahaan ku untuk menangani cabang perusahaan tempat aku bekerja.
Aku diberi fasilitas berupa apartemen, Tentu saja aku bahagia mendapatkan apartemen itu. aku tidak sendirian, aku bersama 2 temanku yang bernama Lily dan Lila. kedua gadis kembar itu satu kamar denganku. Karena aku memang tidak mau hidup sendirian di tempat asing itu, akhirnya bos di perusahaanku memberikan aku apartemen itu secara cuma-cuma. dan dia memberikan aku 2 teman tersebut.
Dua gadis kembar itu memang adalah gadis yang ceria, hingga Aku menyukai mereka. Mereka berdua adalah bawahanku, hari ini kami telah sampai di sebuah apartemen yang mempunyai nomor 103.
Entah mengapa aku memang sangat benci dengan angka 103, namun sialnya Hari ini aku harus mendapatkan kan nomor tersebut untuk kutinggali.
"Kenapa Mbak, berhenti di depan sini?" tanya Lyla Dan Lili kepadaku. jujur saja Aku begitu sangat tidak suka dengan nomor apartemen yang aku tinggali.
"Mengapa harus 103, ini adalah nomor sial ku," aku yang menggerutu dalam hati. saat melihat nomor yang tertera di depan pintu kamar apartemen ku.
"Mana kuncinya, biar aku buka!" seru Lily dan Lila kepadaku.
Akhirnya aku memberikan kunci apartemen kepada Lila dan Lili. aku tidak berniat untuk memasuki apartemen itu, terasa enggan atau apa yang jelas aku tidak begitu suka dengan nomor tersebut.
Saat aku baru memasuki kamar tersebut, tiba-tiba aura kamar itu begitu menyayat kulit ku. Jujur saja aku bisa merasakan aura dari dunia lain, aku mempunyai indra keenam yang membuatku bisa melihat para makhluk-makhluk tak kasat mata.
Saat aku memasuki kamar tersebut, tiba-tiba mataku menatap dan terkunci pada sosok yang sedang terduduk di sofa apartemenku.
"Ya.. kan, mereka ada di sini juga," ucapku yang sedikit it pelan. Karena aku tidak ingin mereka berdua mendengar perkataanku
Saat aku melangkahkan kakiku. Entah mengapa tiba-tiba ada tangan yang memegang pundakku, sontak hal itu membuatku langsung berhenti melangkahkan kakiku. nafasku terasa sesak, karena yang aku tahu.. tangan yang memegang pundakku itu terasa dingin, sangat dingin, bahkan sangat dingin. Apalagi saat kulirik tangan itu, tangan itu sangat pucat. berwarna kebiruan dan sedikit ada bau Anyer.
"Ya kan, begini lagi," gumanku dalam hati. Saat merasakan beberapa makhluk tak kasat mata itu, sesaat kemudian.. apa yang aku takutkan benar-benar terjadi.
Tiba-tiba muncul sosok pria tua dengan wajah yang sangat menyeramkan. mungkin dia adalah korban kecelakaan atau pembunuhan. Kondisinya sangat menakutkan, wajahnya remuk dengan tubuh yang penuh darah dan salah satu tangannya hampir terputus. seketika aku langsung mual karena mencium bau amis darah.
"Mbak kenapa?!" seru Lila dan Lili kepadaku.
Karena mereka yang melihatku tiba-tiba muntah di dalam apartemen.
"Ambilkan air, Carikan aku air!" seruku kepada Lila dan Lili.
Belum selesai dengan satu hantu yang menampakan dirinya padaku. Tiba-tiba ada hantu wanita yang yang muncul dengan posisi duduk di sofa dan wajah yang sangat menakutkan. salah satu matanya tidak ada, mulutnya sobek sangat besar, dan usus yang terurai. bukan saja aku muntah. Bahkan aku langsung pingsan di tempat.
Hal itu membuat Lila dan Lili langsung terkaget, karena tiba-tiba aku pingsan. akhirnya mereka berdua membopongku ke tempat tidur, malam telah berganti menjadi pagi yang bersinar kan matahari hangat, yang membuat semilir angin masuk di dalam jendela yang ada di apartemen.
Aku membuka mataku dan menatap ingatanku mengenai kejadian tadi malam. kulihat Lila dan Lili tertidur di sofa yang berukuran 1 kasur sedang. kedua gadis itu ternyata menjagaku semalaman, aku membangunkan mereka karena hari ini aku harus membawa mereka untuk melihat perusahaan yang akan dibangun di tempat ini.
Aku mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke luar.
"Mbak, kita makan di mana?" tanya Lily dan Lila padaku.
"Kita cari warteg saja, biar hidup kita berumur panjang. kalau kita makan di restoran hidup kita akan semakin pendek. karena bos pelit itu memberikan kan uang yang seukuran dengan body kalian," jawab ku sambil meraih tas yang ada di kasur.
Karena benar saja, bos di perusahaan ku memberikan tunjangan untuk kami hidup di tempat asing ini tidak besar. mungkin besar tapi tidak terlalu besar untuk hidup di kota yang lumayan metropolitan ini. Aku dan kedua gadis kembar itu pergi untuk melihat bangunan yang akan menjadi anak cabang perusahaan kami.
Memang bangunan itu hanya berlantai empat, kulihat bangunan itu terlihat sedikit menyeramkan. Entah berapa lama bangunan itu terbengkalai, yang jelas kata bosku aku harus bisa membuat bangunan itu di lirik oleh banyak investor.
"Kalau bangunan begini dilirik investor, bukannya investor yang melirik bangunan ini. Ini malah para hantu yang ingin menghuni tempat ini," gerutuku sambil melihat bangunan yang ada di depanku.
Sedangkan dua gadis kembar itu nampak mereka berdua menikmati makanan yang kami beli.
"Mbak, kenapa sih mobilnya panas banget?" tanya Lyla Dan Lili padaku.
"Bilang pada bosmu untuk memasang AC pada mobil itu," jawabku dengan nada yang sedikit agak kesal.
"Gitu aja kok marah, Mbak," ujar Lili padaku.
"Jangan banyak bicara," jawab ku.
Akhirnya aku menyeret kedua Gadis itu memasuki anak perusahaan tersebut. di sana Aku lihat beberapa orang berseliweran, dan para tukang bangunan yang masih memperbaiki tempat itu.
"Mbak Salma!" ya seru mandor yang mendapat kuasa untuk bangunan tersebut.
"Iya," jawabku.
"Mbak, kenapa bangunan ini harus dipakai sih?" tanya mandor kepadaku.
"Nggak tahu," jawab ku.
"Apa Mbak nggak tahu, kalau bangunan ini adalah sarangnya para hantu," ujar pria tersebut.
Saat mendengar perkataan itu, sontak aku Lily dan Lila langsung terkejut, sedangkan kedua Gadis itu yang masih memakan makanan yang ada di tangan mereka.. mereka langsung menjatuhkan makanan mereka. karena hal itu membuat mereka langsung ketakutan.
"Yang bener pak!" seru Lili kepada pak mandor.
"Benar mbak, tempat ini sangat angker lho. kami saja Kalau bekerja harus membaca doa-doa dan ayat-ayat kursi agar terhindar dari para hantu yang ada di sana," Jawab pak mandor.
"Sudah apartemennya berhantu, malah perusahaan yang akan dibuka ini juga berhantu," gerutuku saat melihat bangunan tersebut.
"Bicara apa, Mbak?" tanya Lili kepadaku.
"Kamu Uda dengar, jadi nggak perlu tanya lagi," jawab ku.
akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke apartemen. Karena aku telah melihat penampakan sesuatu yang seperti dikatakan oleh para pekerja tersebut.
"Ayo pulang, dari pada kita celaka di sini," ujarku kepada Lili dan Lila.
Akhirnya kami kembali ke apartemen. saat kami berada di apartemen, nampak jelas ada seorang wanita tua berdiri di depan pintu apartement.
"Apa yang Nenek lakukan di sini?* tanyaku kepada Nenek tua tersebut.
"Aku mencari suamiku," ucap nenek tua tersebut.
"Maaf nek, ini adalah tempat kami. Mengapa Nenek mencari suami nenek di tempat ini?" tanya Lyla Dan Lili kepada nenek tua tersebut.
"Apakah kalian tinggal di sini?" tanya Nenek tua kepada kami.
"Iya Nek,'' jawab Lili.
"Memangnya Nenek mencari Siapa di sini?" tanyaku kepada Nenek tua tersebut.
Setelah mendengar perkataan kami, akhirnya nenek tua itu meremas tanganku dan memintaku untuk meninggalkan apartemen tersebut. Aku bingung dengan perkataan nenek tua tersebut, dan akhirnya nenek tua itu hanya mengatakan untuk Kami bertiga segera meninggalkan apartemen tersebut.
Kami bersikukuh tidak mau, walaupun aku sendiri ingin meninggalkan permen tersebut. Akhirnya Nenek tua itu memintaku untuk mengikutinya, di sana kulihat nenek itu ternyata tinggal di apartemen yang aku tinggali.
Sedikit cerita..
Nenek itu mengisahkan tentang dirinya dan keluarganya yang tinggal di apartemen 103, Nenek tua juga menceritakan kalau apartement 103 adalah apartemen yang penuh dengan kutukan. siapapun yang tinggal disana, mereka semuanya akan mati. jelas Aku tidak percaya dengan kata-kata itu. Tapi kalau aku lihat dari para arwah yang ada di sana, Aku juga yakin kalau apartemen itu adalah apartemen yang menakutkan.
Mungkin singkat cerita.. antara percaya dan tidak. Aku hanya mendengarkan perkataan Nenek tua itu, namun akhirnya aku kembali ke kamar 103 bersama Lila dan Lili. sebuah kejadian yang tidak pernah kukira. tiba-tiba Lili berteriak dengan suara yang keras, matanya melotot dan membanting semua barang-barang yang ada di kamar tersebut.
Aku dan Lila ketakutan karena melihat Lili yang menakutkan seperti itu.
"Mbak kenapa Lili begitu?" tanya Lyla kepadaku.
"Lily kerasukan," jawab kepada Lila.
"Yang benar Mbak," Lila yang terkejut karena mendengar perkataanku.
"Sudah, sebaiknya kita cari pak ustad atau pak kyai untuk meruqyah gadis ini,"
Saat kami hendak keluar dari tempat kamar tersebut, tiba-tiba pintu kamar langsung terkunci dan tidak bisa terbuka. Lily seperti seorang wanita gila, dia terus mengejarku dan Lila. semua barang-barang dilemparkan ke arahku dan Lila.
Hingga membuat Lila terbentur barang perabotan dan pingsan. aku yang sendirian waktu itu begitu takut, berapa lama kemudian.. pintu kamarku tiba-tiba terbuka. terlihat di sana ternyata Nenek tua itu membawa 2 orang pria.
Kemudian mereka membacakan ayat-ayat Suci, untuk mengusir para arwah tersebut. keadaan di kamarku begitu menakutkan, barang-barang berterbangan seperti seperti yang ada di televisi televisi.
Setelah kejadian itu, akhirnya aku lebih memilih untuk pulang bersama Lila dan Lili. karena kami masih ingin nyawa kami selamat, aku sangat berterima kasih kepada nenek tua yang telah menolong Kami bertiga. kalau tidak nyawa kami akan melayang di kamar apartemen 103.
*** END ***