Namaku Reny Ayunda, umurku 25 tahun. aku bekerja disebuah kafe Coffe sebagai kasir disana.
Aku duduk termenung di sebuah kursi halte bus, angin semilir menerpa kulit ku yang sangat dingin sampai ke tulang. Aku menunggu mobil bus sedari tadi yang tak datang-datang. Aku heran dengan hari ini, padahal jam masih menunjukan pukul 21:00 WIB belum terlalu malam. Tetapi mengapa terlihat sangat sepi sekali.
Aku bangkit dari duduk ku dan berjalan menyusuri trotoar mencari sebuah kendaraan umum untuk ku pulang. Hari ini aku sangat lelah karena setelah pulang dari tempat kerjaku.
Ketika aku sedang berjalan menyusuri trotoar, tiba-tiba saja sebuah angkot berhenti di hadapanku. Aku awalnya terkejut, tetapi aku menepisnya mungkin angkot itu hanya mencari penumpang seperti biasanya. Aku menaiki angkotan umum itu, dan aku melihat ada beberapa penumpang, seorang perempuan paruh baya, satu orang perempuan yang kira-kira sebaya denganku.
Dan satu orang laki-laki yang terlihat kurus. Tetapi yang aku bingungkan, mengapa mereka terlihat pucat dan juga menatap ke arah depan dengan tatapan yang kosong. Aku merasa sedikit merinding, tetapi aku berusaha menetralkan diri dan menyibukan diri dengan memainkan handphone.
Ketika aku sedang asik dengan handphone ku, tiba-tiba saja seorang perempuan paruh baya yang ada di hadapanku memegang tanganku. Sontak saja itu membuatku terkejut, apalagi yang aku rasakan tangan nya begitu dingin seperti es. Aku menatapnya dan perempuan paruh baya itu menanyakan sesuatu pada ku dengan wajah datar.
"Kau mau kemana?" ucap perempuan paruh baya itu.
"A... Aku ingin pulang" jawabku sambil berusaha tersenyum padanya, walaupun dia hanya menatapku dengan datar tanpa ekspresi yang membuat ku sedikit takut.
"Pulang kemana?"
"Kerumah ku lah bu... Masa ke kuburan" candaku yang berusaha mencairkan suasana. Tetapi tidak dijawab oleh perempuan paruh baya itu. Dia hanya menatapku saja yang tangan masih memegang sebelah tangan ku.
"Kalo ibu mau kemana? apa mau pulang juga?" tanya ku padanya.
"Kenapa aku harus pulang, rumah ku disini"
"Ma... Maksudnya?... Oh aku tahu, ibu orang sini yah? Dan kenapa ibu tidak turun dari mobil?"
Dia hanya diam saja, dan terus menatap ku. Aku menjadi semakin bingung dengan suasana ini, aku akhirnya melihat kesekeliling ku dan alangkah terkejutnya, aku melihat didepan mobil angkot itu terpampang sebuah TPU(Tempat Pemakaman Umum). Aku menongok kearah samping yang terdapat seorang perempuan yang sebaya dengan ku itu berubah menjadi sesosok yang menyeramkan dengan wajah yang rata dipenuhi oleh darah disana. Aku menelan saliva ku dengan susah payah.
Aku melihat juga kearah seorang pria yang duduk disamping perempuan paruh baya itu, ia juga berubah menjadi sesosok yang menyeramkan dengan badan yang tadi aku melihatnya dengan kurus, sekarang semakin kurus yang terlihat hanya kulit dan tulang saja yang dipenuhi oleh belatung yang merayap di sekujur tubuhnya.
Dan yang terakhir, aku melihat perempuan paruh baya tepat didepan ku berubah juga dengan tampang yang sangat seram yang kini wajah nya di penuhi oleh darah dan terlihat sangat rusak. Badan ku gemetar seketika, dan aku tak tahu harus apa.
Aku meyakinkan diriku bahwa apa yang aku lihat tadi hanya khayalanku saja. Aku mencubit pipi ku yang kiranya aku saat ini hanya bermimpi. Tetapi ini bukan mimpi!.
Aku langsung keluar dari angkot dan berlari terbirit-birit sambil menangis karena ketakutan. Aku lari dan terus berlari, mencari keramaian. Dan akhirnya aku menemukan sebuah taman yang sangat ramai oleh orang-orang disana.
Aku duduk di sebuah kursi taman, dan menangis membayangkan apa yang terjadi padaku tadi. Ketika aku sedang duduk sambil menangis, tiba-tiba saja sesosok anak kecil menghampiri ku.
"Kakak, kenapa kakak menangis?" tanya seorang anak perempuan itu pada ku.
Aku mengalihkan pandangan ku padanya yang tepat berada dihadapan ku. Aku menebak ank perempuan ini baru berumur 5th.
"Aku ingin pulang" lirih ku pada nya.
"Jika kakak ingin pulang, kenapa kakak disini dan menangis. Bukan kah jika kakak ingin pulang, kakak harus pulang kerumah kakak?"
"Aku tersesat" ucapku dengan spontan.
"Jika kakak tersesat, ikut saja dengan ku. Aku sekarang ingin pulang bersama mamihku"
"Bolehkah?"
"Tentu saja, ayo"
Anak kecil itu mengulurkan tangannya padaku dan aku membalas nya dan mengikuti langkahnya.
"Mamih..."
"Clara, ayo kita pulang... Ini sudah malam" ucap seorang ibu itu.
"Iya mih. Eh iya, Mih kakak ini katanya tersesat dan aku mengajaknya bersama kita. Kasihan dia, kita antar yah Mih?"
Aku melihat raut wajah seorang ibu itu terlihat bingung dan sedikit terlihat ketakutan diwajahnya. Ia tak menghiraukan ucapan anaknya, dan langsung masuk kedalam.
"Ayo kak, masuk"
Aku menganggukan kepala ku dan langsung masuk kedalam mobil. Aku duduk di kursi penumpang, sedang kan anak perempuan itu duduk di kursi delan bersama ibunya yang menyetir.
"Kak, dimana rumah kakak? Biar Mamihku bisa mengantarkan kakak" ucap anak kecil itu dengan menoleh kearah ku.
"Rumahku di jalan XXX"
"Mih, alamat rumah kakak ini di jalan XXX antarkan dia ke keluarga nya ya Mih"
"Tapi nak, ini... " ucap gantung ibu itu.
"Aku mohon Mih, kasihan kakak ini"
"Huftt... Baiklah"
Anak kecil itu tersenyum padaku dan aku pun membalasnya.
Setelah aku sampai didepan rumah ku, yang telah diantarkan anak dan ibu ini. Aku melihat banyak sekali orang-orang berlalu lalang berada di rumahku. Aku bingung sekali, ada acara apa disana?.
"Mengapa rumah ku begitu ramai? Apa ibu mengadakan acara?" lirih ku.
"Kak, rumah kakak ramai sekali... Apakah aku boleh pergi kesana?" tanya anak kecil itu padaku.
"Boleh, dan terimakasih atas tumpangan nya"
Aku pun menuruni mobil dan menuju ke rumah ku yang diikuti oleh anak kecil dan seorang ibu ini.
Kami disambut oleh Ibu dan Ayah ku, tetapi tidak dengan senyuman melainkan sebuah kesedihan. Aku semakin bingung dibuatnya.
"Ibu, Ayah, kalian kenapa menangis?" tanyaku tetapi tidak dihiraukan oleh kedua orang tua ku, yang seolah-olah mereka tak melihat keberadaan ku.
"Silahkan masuk" ucap ibu pada kami sambil terisak nangis.
"Bu, kalo boleh tau ada apa yah?" ucap ibu dari anak kecil itu.
"Hiks... Hiks... Kami baru saja kena musibah" tangis ibuku dan lalu dipeluk oleh Ayahku. Aku semakin bingung dengan sikap kedua orang tua ku.
"Bu... Ada apa ini!! Musibah apa yang ibu maksud?" ucapku yang mulai meneteskan air mata. Lagi-lagi kedua orang tua ku tidak menghiraukan ku lagi.
"Kenapa bu?" tanya seorang ibu dari anak kecil itu.
"A... Anak ku baru saja meninggal. Karena kecelakaan tadi... Hiks... Hiks... Dia anakku satu-satunya... RENY"
DEG
Aku sangat terkejut dengan apa yang dikatakan ibuku.
"Apa!! I... Ini tidak mungkin... A... Aku..." Aku sangat terkejut dan air mata ku tak bisa dibendung lagi. Aku menangis, melihat kearah tubuh ku dan ternyata, aku melihat tubuh ku yang sudah terlihat kotor dan banyak sekali darah.
"TIDAKK!! INI TIDAKK MUNGKIN!!! Ibu, Ayah, aku belum meninggal... Aku masih hidup!!! Aku berada disini bu, yah... Hiks... Hiks..." teriak ku.
"Om, tante... Kak Reny ada disini" ucap anak kecil itu sambil menunjuk ku. Sontak saja semua orang melihat arahan dari anak kecil ini, dan terlihat di wajah mereka sangat ketakutan.
"A... Apa? Kamu jangan bercanda" ucap ibu ku yang menangis dengan histeris.
Aku melihat nya dengan rasa yang amat sakit di hatiku. Rasanya ini seperti mimpi.
"Anak saya tidak bercanda bu, anak saya ini mempunyai kelebihan. Dia bisa melihat makhluk tak kasap mata." jelas nya.
"Re... Reny?" lirih ibu
"Ibu... Aku disini... Maafkan aku bu... Hiks... Hiks... Aku tak percaya dengan semua ini... Aku ingat sekarang, bahwa setelah pulang bekerja tadi, aku menyebrang ingin menuju ke halte. Tetapi, aku malah tertabrak oleh truk... Hiks... Hikss"
"Tante, om, kak Reny meminta maaf. Dan ia baru menyadari jika dirinya sudah tidak ada" jelas anak kecil itu.
"RENNYY HIKS... HIKS... jangan tinggalkan ibu nak..." teriak ibuku sambil menangis begitu histeris.
"Ikhlas kan Reny sayang, ikhlaskan kepergian dia hiks..." ucap Ayah ku dengan menenangkan ibuku.
"Ibu... Reny mohon... Ikhlaskan Reny yah, supaya Reny bisa tenang"
"Kak Reny bilang, tolong ikhlaskan kak Reny. Ia ingin tenang di alam sana"
Ibuku semakin menangis histeris.
"Hiks... I... Iya, ibu mengikhlaskan mu Ren... Ibu menyayangimu, sangat menyayangimu... Hiks... Hiks..."
"Iya Ren, ayah dan ibu mu sudah mengikhlaskan mu... Kamu pergilah dengan tenang yah sayang. Kami selalu mendoakan mu..." lanjut Ayah.
Aku sedikit lega dengan apa yang dikatakan oleh ibuku dan ayahku. Tiba-tiba saja, sebuah cahaya yang sangat terang sampai menyilaukan mataku itu tiba-tiba saja muncul. Aku yakin, itu malaikat yang akan menjemput ku. Hati ku nmsangat hancur kali ini, yang ternyata aku bukanlah seorang manusia.
"Aku sangat menyayangi kalian... Selamat tinggal"
END
#Cerita ini hanya khayalan kegabutan author saja...